Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 - epilog
Waktu bergulir laksana riak air yang mengalir tenang, meninggalkan jejak-jejak masa lalu yang kelam di belakang. Tujuh tahun telah berlalu sejak malam mencekam di mana lorong dimensi Pangilon runtuh, dan rumah kolonial tua di Yogyakarta kini telah menjadi saksi bisu dari tumbuh kembang sebuah kehidupan baru yang teramat indah.
Siang itu, matahari bersinar cerah menembus kanopi dedaunan hijau di sebuah lembah terpencil yang terletak jauh di pedalaman lereng gunung. Tempat itu adalah sebuah curug atau air terjun tersembunyi yang jalurnya tidak akan pernah bisa ditemukan oleh manusia awam. Dinding-dinding batu alamnya ditumbuhi lumut hijau yang subur, dan airnya yang sejernih kristal jatuh bebas dari ketinggian belasan meter, menciptakan gemercik air yang menenangkan serta kabut tipis yang memantulkan kilauan pelangi kecil di udara.
Di atas sebuah batu sungai raksasa yang permukaannya rata dan berlumut tipis, dua sosok dewasa duduk berdampingan.
Cindy bersandar nyaman pada dada bidang Damian, penampilannya tidak banyak berubah, justru aura keibuannya membuat wajah rubahnya memancarkan kecantikan yang semakin matang. Ia mengenakan terusan kain katun kasual berwarna putih. Di sampingnya, Damian merangkul pinggang Cindy dengan pose protektif yang tidak pernah berubah sejak hari pertama mereka terikat mati. Damian mengenakan kemeja linen tipis berwana abu-abu dengan lengan yang digulung, wajah aristokratnya yang setampan porselen kini tidak lagi memancarkan aura kematian yang pekat, melainkan kedamaian mutlak seorang ayah.
Pandangan kedua pasang mata berbeda warna itu tertuju lurus ke arah kolam alami di bawah air terjun.
Di sana, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun sedang tertawa riang. Helena Van Der Ven. Gadis cilik itu tumbuh dengan luar biasa cantik; kulitnya seputih porselen seperti ayahnya, rambut hitam lebatnya yang panjang dikuncir kuda seperti ibunya, dan yang paling memukau adalah sepasang manik matanya yang berwarna biru malam yang jernih, memancarkan aura magis yang agung namun penuh keceriaan anak-anak.
"Hahaha! Piko, ayo kejar aku! Jangan sampai kena airnya!" seru Helena dengan suara cemprengnya yang teramat imut.
ROARRR...
Sebuah geraman rendah yang sangat lembut terdengar membalas seruan itu. Dari balik riak air terjun, muncul sosok Harimau Putih Raksasa pelindungnya yang kini dipanggil Helena dengan nama 'Piko'. Bulu putih keperakannya berpendar halus di bawah sinar matahari.
Mahluk khodam agung itu merendahkan tubuh besarnya di atas permukaan air yang ajaibnya tidak membuat tubuh gaibnya basah. Helena dengan cekatan langsung melompat dan menaiki punggung lebar sang harimau putih, mencengkeram bulu lehernya yang tebal dengan tangan mungilnya.
"Ayo terbang, Piko! Ke atas sana!" perintah Helena riang sambil menunjuk ke arah puncak air terjun.
Dengan satu lompatan megah, harimau putih itu melesat naik ke udara. Karena Helena berada di atas punggung khodamnya, tubuh gadis cilik itu ikut terbawa melayang dengan anggun ke sana kemari di udara, berputar-putar di antara kabut air terjun seolah-olah dia memiliki sayap peri tak kasat mata yang sedang mengepak indah. Suara tawa renyah Helena menggema, memenuhi seluruh lembah terpencil itu dengan energi kebahagiaan yang murni.
Cindy yang menyaksikan pemandangan itu menyunggingkan senyuman yang teramat lebar. Guratan kebahagiaan sejati tumbuh subur di wajahnya. Ia meraih tangan dingin Damian yang melingkar di perutnya, lalu membawanya ke dalam genggaman hangatnya.
"Lihat anakmu itu, Damian," bisik Cindy lembut, mendongak menatap rahang tegas suaminya. "Baru berumur tujuh tahun, tapi kelakuannya sudah seperti penguasa langit. Piko benar-benar memanjakannya."
Damian menundukkan kepalanya, mengecup pelipis Cindy dengan lumatan yang hangat-dingin dan penuh kelembutan. Sepasang mata birunya yang menatap Helena di udara memancarkan rasa takjub dan kepuasan maskulin yang tiada tara.
"Dia adalah putri dari Damian Van Der Ven, mijn liefde," sahut Damian dengan suara berat dan parau yang kini terdengar jauh lebih tenang dan santai. "Tentu saja dia memegang kendali penuh atas khodamnya. Darah manusiamu yang suci dan inti es saya melebur sempurna di dalam jiwanya. Dia tumbuh lebih kuat dari yang saya perkirakan."
Cindy terkekeh kecil, menyandarkan kepalanya lebih dalam pada ceruk leher Damian, menghirup aroma mint dan tanah basah yang selalu menjadi candu baginya. "Aku masih ingat waktu dia bayi, sayapnya tiba-tiba menghilang dan kamu bilang baru akan tumbuh saat dia dewasa. Tapi sekarang, tanpa sayap pun dia sudah bisa terbang ke sana kemari berkat Piko."
"Itu karena Piko tahu cara menjaga tuannya dengan baik," kata Damian, jemari pucatnya bergerak mengelus helai rambut hitam Cindy yang tertiup angin lembah. "Sama seperti saya yang selalu tahu cara menjaga ibunya di rumah ini."
Cindy membalikkan sedikit tubuhnya, menatap lumat-lumat wajah tampan di depannya. Tangan manusianya naik, mengusap pipi Damian yang dulu pernah terluka parah dan mengeluarkan darah hitam akibat pertempuran sebulan penuh di masa lalu. Kini, kulit itu sudah kembali mulus dan sempurna, terbebas dari segala kutukan masa lalu.
"Terima kasih ya, Damian," ucap Cindy tulus, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang membuncah. "Terima kasih karena waktu itu kamu memilih untuk bertahan dan pulang ke rumah. Terima kasih karena sudah memberikan kehidupan yang seindah ini untukku dan Helena. Logika manusiaku dulu mungkin menganggap ini gila, tapi hatiku tahu... berada di sisimu adalah takdir terbaikku."
Damian tertegun sejenak. Tatapan sendunya yang dulu pernah ada saat ia pulang dalam keadaan compang-camping kini telah sepenuhnya melenyap, digantikan oleh binar kepemilikan mutlak yang dipenuhi rasa cinta yang tak terbatas. Ia meraih kedua tangan Cindy, mengecup telapak tangan hangat istrinya satu per satu dengan khidmat.
"Jalanku sudah selesai berkelana di kegelapan sejak saya menemukan sukmamu, Cindy," balas Damian rendah, suaranya bergetar penuh emosi abadi. "Saya yang harus berterima kasih karena manusiamu tidak pernah menyerah pada hawa dingin saya. Rumah kolonial itu, lembah ini, dan seluruh keabadian yang saya miliki... semuanya tidak akan ada artinya jika tidak ada kamu dan Helena di dalamnya."
"Bunda! Papa! Lihat aku!"
Suara lengkingan Helena memecah obrolan intim kedua orang tuanya. Di atas sana, Helena dan Piko sedang melayang turun dengan perlahan. Gadis cilik itu melompat dari punggung harimau putihnya tepat saat kakinya menyentuh air kolam yang dangkal di dekat batu besar tempat Damian dan Cindy duduk. Ciprat! Air dingin terciprat ke mana-mana, mengenai ujung gaun Cindy dan daster katunnya.
Helena berlari kecil dengan kaki-kaki mungilnya yang basah, lalu memanjat batu besar tersebut dan langsung menghambur ke dalam pelukan hangat Cindy dan dekapan dingin Damian. Piko, sang harimau putih, perlahan melangkah mendekat dan merebahkan tubuh raksasanya di bawah batu, bertindak sebagai penjaga setia yang tak terpisahkan.
"Tadi di atas sana tinggi banget, Pa! Aku bisa lihat seluruh hutan dari atas!" ucap Helena bersemangat dengan mata birunya yang berbinar-binar, tangannya bergerak-gerak heboh memperagakan gerakannya di udara. "Terus Piko bilang, nanti kalau aku sudah besar, aku bisa terbang sendiri tanpa bantuan Piko!"
Damian terkekeh rendah, sebuah tawa gaib yang sangat seksi dan jantan. Ia mengulurkan tangannya yang besar, mengacak rambut hitam putrinya dengan gemas sebelum membawanya ke dalam pangkuannya. "Tentu saja, Helena. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau di jagat ini. Papa dan Bunda akan selalu memastikan jalanmu aman."
Cindy ikut memeluk raga kecil Helena dari samping, mengecup pipi bulat putrinya yang merona kemerahan karena kelelahan bermain air. "Tapi sekarang, anak cantik harus istirahat dulu, ya? Minum susu dan makan bekal yang sudah Bunda siapkan."
"Siap, Bunda!" jawab Helena patuh, menyandarkan tubuh kecilnya di antara dada hangat ibunya dan lengan kokoh ayahnya.
Matahari sore perlahan mulai condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang hangat dan temaram di atas lembah curug tersembunyi tersebut. Angin gunung bertiup lembut, membawa kedamaian mutlak yang mengunci seluruh sudut tempat itu ke dalam keabadian.
Dua dunia yang berbeda antara dunia manusia yang fana dan penuh kehangatan, serta dunia gaib yang abadi dan sedingin es kini tidak lagi memiliki batas di antara mereka. Di atas batu sungai itu, dalam dekapan yang saling mengunci dan tawa anak kecil yang menghidupkan suasana, kisah panjang tentang perjuangan, air mata malam Satu Suro, kutukan dimensi Pangilon, dan penantian sebulan penuh yang menyiksa akhirnya bermuara pada satu titik akhir yang sempurna.
Mereka telah menemukan rumah mereka yang sesungguhnya. Bukan pada bangunan kolonial tua yang megah, melainkan pada raga dan sukma yang saling memiliki hingga akhir waktu. Dan di lembah hijau yang tersembunyi dari dunia luar ini, kisah cinta beda alam antara Damian dan Cindy, bersama putri kecil mereka Helena, resmi abadi dalam kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diusik oleh siapa pun lagi.