NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Deg.

Kalimat itu jatuhnya pelan. Tapi menghantam sangat dalam. Sekarang saya juga ummi-mu…

Keira tidak langsung merespon, tubuhnya tetap diam. Tapi di dalam hatinya sesuatu bergerak, pelan. Seperti retakan kecil yang akhirnya terbuka… setelah lama tertahan. Matanya membesar. Bukan karena terkejut saja. Tapi karena ia tidak tahu harus menerima kalimat itu dengan perasaan seperti apa.

Ummi?

Untuk dirinya?

Yang bahkan belum tahu harus memanggil pria di belakangnya itu dengan sebutan apa?

Yang datang ke tempat ini tanpa rencana…

tanpa persiapan…

bahkan tanpa niat untuk tinggal?

Keira menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia ingin bicara. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya napas yang terasa sedikit bergetar.

Ummi Halimah tidak mendesak. Tidak bertanya lagi. Ia hanya tersenyum.

Senyum yang sama, senyum hangat dan tenang. Seolah tidak ada yang perlu dipaksa.

“Masuk dulu ya nak,” ucap ummi Halimah pelan. Tangannya turun dari kepala Keira, lalu memberi ruang.

Keira mengangguk kecil.

Dan akhirnya melangkah masuk.

Bagian dalam rumah itu sederhana.Tidak mewah.Tapi rapi dan sangat bersih. Aroma kayu bercampur wangi teh atau mungkin masakan yang sudah dimasak sejak tadi sore… menyambut perlahan. Lampu di ruang tengah menyala lembut. Tidak terlalu terang.

Tapi cukup membuat semua terlihat jelas.

Keira berdiri sebentar di ambang.

Seolah masih menyesuaikan diri.

“Duduk dulu, nak,” kata Ummi Halimah lagi.

Keira mengangguk. Ia duduk di sofa. Tangannya masih saling menggenggam.

Azizah duduk di sampingnya. "Mbak jangan tegang banget gitu, ummi nggak gigit kok." Bisik Azizah membuat Keira tersenyum malu-malu.

Sementara itu, Gus Zayn tidak langsung masuk.Ia berdiri sebentar di dekat pintu.

Lalu akhirnya melangkah masuk juga. Dan memilih duduk sedikit berjauhan. Seperti… menjaga sesuatu yang tidak terlihat.

Hening, beberapa detik. Ummi Halimah memperhatikan Keira lama, tapi tidak membuat tidak nyaman. Lebih seperti… memahami.

“Sudah makan?” tanya ummi Halimah.

Keira menggeleng kecil.

"Belum." Ia bahkan tidak ingat terakhir kali ia makan. Semuanya terjadi tiba-tiba, dan itu cukup membuat Keira syok. Ia seperti sedang bermimpi.

Ummi Halimah mengangguk pelan.

“Nanti kita makan ya,” ucapnya lembut.

"I-iya."

Malam itu berjalan pelan.Seolah waktu sendiri ikut menyesuaikan ritme hati Keira yang masih berusaha memahami semuanya.

Ia tidak banyak bicara. Sesekali menjawab… dengan singkat.

Dan Ummi Halimah tidak pernah memaksa lebih. Sampai akhirnya malam semakin larut.

Dan Keira dibawa ke sebuah kamar Gus Zayn tadi.

“Mbak tidur di kamar bang Zayn ini dulu ya,” kata Azizah.

Keira mengangguk.

“Terima kasih…” ucapnya pelan.

Azizah tersenyum. Lalu keluar.

Meninggalkan Keira sendiri. Dan saat pintu tertutup—sunyi kembali datang. Keira duduk di tepi kasur. Tangannya menyentuh kain sprei yang lembut. Berbeda jauh dari kekacauan yang ada di dalam kepalanya.

Ia menarik napas panjang.

*

Pagi datang menyambut, cahaya matahari menyelinap masuk melewati jendela kamar.

Lantunan ayat suci terdengar jelas.

Langkah kaki.

Bisik-bisik.

Dan suara santri yang mulai beraktivitas.

Keira membuka matanya perlahan.

Masih sedikit bingung.

Butuh beberapa detik untuk sadar—

di mana ia berada.

Dan saat ingatan itu kembali dadanya kembali berdebar.

Pelan, ia bangun dan duduk.

Tangannya meraih hijab yang diletakkan di samping.

Menatapnya sebentar.

Lalu menghela napas.

Dan mencoba memakainya.

Masih canggung.

Masih belum rapi.

Tapi… ia mencoba.

Di luar Azizah sudah menunggu.

“Mbak… pagi,” sapanya ceria.

Keira mengangguk kecil.

“Pagi…”

“Yuk keluar. Nanti banyak yang tanya,” ucap Azizah sambil tersenyum kecil.

Keira mengernyit.

“Tanya?”

Azizah tertawa kecil.

“Ya… santri.”

Dan benar saja saat mereka keluar—

beberapa santri perempuan langsung melirik.

Awalnya hanya satu dua.

Lalu… bertambah.

Tatapan penasaran.

Bisik-bisik pelan.

“Siapa itu?”

“Baru ya?”

“Temannya Ning Zizah?”

“Kayaknya bukan…”

Suara-suara itu tidak keras.

Tapi cukup terdengar.

Keira langsung merasa tidak nyaman.

Tangannya meremas ujung bajunya lagi.

Azizah tetap berjalan.

Seolah sudah biasa.

Tapi saat beberapa santri mendekat—

ia sedikit kaku.

“Ning Zizah…” salah satu dari mereka memanggil.

“Iya?”

“Itu siapa?” tanya yang lain, langsung tanpa basa-basi.

Azizah terdiam sejenak. Ia melirik Keira.

Lalu kembali ke mereka.

Bibirnya terbuka…

tapi tidak ada jawaban yang keluar.

Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

“Ini… mbak Keira,” jawabnya akhirnya.

“Keira siapa?” tanya lagi.

Azizah tersenyum kaku.

“Ya… mbak Keira aja,” katanya pelan.

Santri-santri itu saling pandang.

Masih penasaran.

Tapi tidak bertanya lagi.

Hanya…

menatap lebih lama.

Keira menunduk.

Tidak berani menatap balik.

Dan perasaan itu—

kembali datang.

Tidak nyaman.

Asing.

Seperti berada di tempat yang bukan miliknya.

Hari itu berjalan lambat.

Sangat lambat.

Keira lebih banyak diam.

Mengamati.

Belajar.

Tentang cara berjalan.

Cara berbicara.

Cara… menjadi bagian dari tempat ini.

Sampai sore ketika ia duduk sendirian di beranda.

Tangannya memainkan ujung hijabnya.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin… terlalu penuh.

“Keira.”

Suara itu membuatnya menoleh.

Gus Zayn.

Berdiri di sana.

Tidak jauh.

Keira langsung duduk lebih tegak.

“Iya…” jawabnya pelan.

“Ayo,” katanya singkat.

Keira mengernyit.

“Kemana?”

“Belajar.”

Satu kata itu—

membuat Keira terdiam.

Belajar?

Ia menatap pria itu.

Bingung.

Gus Zayn tidak menjelaskan panjang.

Ia hanya berbalik.

Dan berjalan.

Seolah yakin… Keira akan mengikuti.

Dan entah kenapa—

Keira benar-benar berdiri.

Lalu mengikuti.

Mereka berhenti di sebuah ruangan kecil.

Ada meja rendah.

Dan beberapa kitab.

Gus Zayn duduk.

Lalu mengambil satu buku tipis.

Iqra.

Ia meletakkannya di depan Keira.

“Mulai dari sini,” katanya.

Keira menatap buku itu.

Lama.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Ada rasa… ragu.

Malu.

Dan sedikit takut.

“Aku… nggak bisa,” ucapnya pelan.

Jujur.

Tanpa ditutup-tutupi.

Gus Zayn mengangguk.

“Saya tahu.”

Jawaban itu—

tidak menghakimi.

Tidak mengejek.

Hanya… menerima.

“Makanya belajar.”

Keira diam.

Beberapa detik.

Lalu perlahan—

tangannya meraih buku itu.

Membukanya perlahan..

Halaman pertama.

Huruf-huruf yang asing.

Bentuknya indah.

Tapi… tidak ia kenal.

Ia menelan ludah.

“Ini…” suaranya pelan.

“Alif,” kata Gus Zayn.

Keira mengangguk.

Pelan.

“Alif…” ulangnya.

Suara itu kecil.

Canggung.

Tapi nyata.

Gus Zayn tidak memotong.

Tidak menyela.

Ia hanya mendengar.

Dan membimbing pelan.

Seolah tidak ada yang perlu dikejar.

Tidak ada yang perlu dipaksakan.

Waktu berjalan.

Detik demi detik.

Huruf demi huruf.

Keira membaca.

Terbata.

Salah.

Berhenti.

Lalu mencoba lagi.

Dan setiap kali ia salah—

tidak ada teguran keras.

Hanya pembetulan.

Pelan.

Sabar.

Dan untuk pertama kalinya—

Keira tidak merasa bodoh saat belajar.

Ia hanya merasa…

memulai.

Dari nol.

Dan anehnya—

itu tidak menakutkan.

Malam mulai turun.

Suara adzan terdengar dari kejauhan.

Keira menutup buku itu perlahan.

Tangannya masih di atasnya.

Dadanya terasa hangat.

Bukan karena berhasil.

Tapi karena… mencoba.

Gus Zayn berdiri.

“Cukup hari ini,” katanya.

Keira mengangguk.

Pelan.

“Terima kasih…” ucapnya lirih.

Gus Zayn tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Keira sebentar.

Lalu—

mengangguk tipis.

Dan itu—

cukup.

Malam itu—

di tengah semua kebingungan…

semua perubahan…

Keira menemukan satu hal kecil.

Bahwa mungkin—

ia tidak sepenuhnya tersesat.

Karena perlahan…

ia mulai belajar berjalan.

1
Cah Dangsambuh
bacanya sampe nahan napas tapi aku bingung mo komen yg bagian mana pokoknya meleleh senyum tegang jadi satu makasih buat kak othor dah bikin aku kaya wong edan🤣🙏
𝐈𝐬𝐭𝐲
yah di gantung... makin bikin penasaran... lanjuut thor..
Cah Dangsambuh
hadeeeeehhhhhh gerah kak otor keyra lucu takut ga kuat jauhlah takut nangislah tapi yaaa memang begitulah cinta kadang suka bikin kita susah paham kaya aku udah berumah tangga selama 30 thn kalo salah satunya harus pergi 2 hari aja ujung ujungnya kaya keyra tarik ulur takut inilah itulah kaya abg kadang malu sendiri🙏🙏🙏 maaf kak jadi curhat wkwkwk
Julia and'Marian: wah nggak apa-apa kak, aku seneng loh dengerin kakka curhat...
total 1 replies
Cah Dangsambuh
amat sangat menegangkan
Cah Dangsambuh
ya allah buka aja semua kebusukan tiga abangmu key biar kamu tenang toh mama papamu udah menyadari kekeliruannya
Cah Dangsambuh
yogi sebenarnya apa sih yang kamu pwrbuat sampe sekeluarga kacau adik permpuan satu satunya trauma ,,abang ga jelas
𝐈𝐬𝐭𝐲
Keira kenapa gak jujur saja sih ma keluarganya...
𝐈𝐬𝐭𝐲
up lagi thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
iya kalo di bawa pulang aku takut Keira jadi disiksa ma kakak² nya..
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya bagus bgt thor aku suka😍😍
𝐈𝐬𝐭𝐲
jujur aja kei biar kakak² mu yg jahat kena hukuman...

semoga listriknya nyala lagi ya thor biar bisa up lagi ...
Julia and'Marian: aminn kak. makasih doanya...
total 1 replies
Della Nuri delima
double up thorrrrrrrr
𝐈𝐬𝐭𝐲
mama & papanya sudah tau rahasia anak anaknya kah🤔
𝐈𝐬𝐭𝐲
makin di bikin penasaran sebenarnya apaa yg terjadi di keluarga mereka...
Cah Dangsambuh
tabir keluarga akan terbuka segera kalau kak othornya sering up😆🙏
𝐈𝐬𝐭𝐲
up lagi dong thor makin penasaran nih..
Julia and'Marian
aku belum update kah?? kok lupa ya
Cah Dangsambuh
kepintaran tetap di bawah adap mbakyu afifaaaah keyra biarpun belum bisa ngaji tapi tetap menjaga adab lhaaa yu afifah yang menurutmu putri kiyai pintar lulusan pondok hafidhoh dan sebagainya tapi adabnya ga di pake dan khatam qur'annya hanya sekedar apal ga di makna yo kalah toh
𝐈𝐬𝐭𝐲
keira yg di panggil zaujati kok aku yg meleleh ya😂
Julia and'Marian: hehehe
total 1 replies
Cah Dangsambuh
allahu akbar alhamdulillah cuma mimpi,aku hampir ga mo baca liat judulnya(talak)karna aku dah cinta mati di cerita ini ga tanggung tanggung hati terlalu menjiwai tapi begitu ning nong ning gung menyusup kedalam rumah rangga gus zayn rasanya ga sanggup nerusin baca 🤣 🙏🙏padahal cuma cerita tapi seakan hadir nyata makasih kak othor dah ngaduk aduk rasa👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!