NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Terjebak Pernikahan Dengan Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:382.2k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Deg.

Kalimat itu jatuhnya pelan. Tapi menghantam sangat dalam. Sekarang saya juga ummi-mu…

Keira tidak langsung merespon, tubuhnya tetap diam. Tapi di dalam hatinya sesuatu bergerak, pelan. Seperti retakan kecil yang akhirnya terbuka… setelah lama tertahan. Matanya membesar. Bukan karena terkejut saja. Tapi karena ia tidak tahu harus menerima kalimat itu dengan perasaan seperti apa.

Ummi?

Untuk dirinya?

Yang bahkan belum tahu harus memanggil pria di belakangnya itu dengan sebutan apa?

Yang datang ke tempat ini tanpa rencana…

tanpa persiapan…

bahkan tanpa niat untuk tinggal?

Keira menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia ingin bicara. Ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya napas yang terasa sedikit bergetar.

Ummi Halimah tidak mendesak. Tidak bertanya lagi. Ia hanya tersenyum.

Senyum yang sama, senyum hangat dan tenang. Seolah tidak ada yang perlu dipaksa.

“Masuk dulu ya nak,” ucap ummi Halimah pelan. Tangannya turun dari kepala Keira, lalu memberi ruang.

Keira mengangguk kecil.

Dan akhirnya melangkah masuk.

Bagian dalam rumah itu sederhana.Tidak mewah.Tapi rapi dan sangat bersih. Aroma kayu bercampur wangi teh atau mungkin masakan yang sudah dimasak sejak tadi sore… menyambut perlahan. Lampu di ruang tengah menyala lembut. Tidak terlalu terang.

Tapi cukup membuat semua terlihat jelas.

Keira berdiri sebentar di ambang.

Seolah masih menyesuaikan diri.

“Duduk dulu, nak,” kata Ummi Halimah lagi.

Keira mengangguk. Ia duduk di sofa. Tangannya masih saling menggenggam.

Azizah duduk di sampingnya. "Mbak jangan tegang banget gitu, ummi nggak gigit kok." Bisik Azizah membuat Keira tersenyum malu-malu.

Sementara itu, Gus Zayn tidak langsung masuk.Ia berdiri sebentar di dekat pintu.

Lalu akhirnya melangkah masuk juga. Dan memilih duduk sedikit berjauhan. Seperti… menjaga sesuatu yang tidak terlihat.

Hening, beberapa detik. Ummi Halimah memperhatikan Keira lama, tapi tidak membuat tidak nyaman. Lebih seperti… memahami.

“Sudah makan?” tanya ummi Halimah.

Keira menggeleng kecil.

"Belum." Ia bahkan tidak ingat terakhir kali ia makan. Semuanya terjadi tiba-tiba, dan itu cukup membuat Keira syok. Ia seperti sedang bermimpi.

Ummi Halimah mengangguk pelan.

“Nanti kita makan ya,” ucapnya lembut.

"I-iya."

Malam itu berjalan pelan.Seolah waktu sendiri ikut menyesuaikan ritme hati Keira yang masih berusaha memahami semuanya.

Ia tidak banyak bicara. Sesekali menjawab… dengan singkat.

Dan Ummi Halimah tidak pernah memaksa lebih. Sampai akhirnya malam semakin larut.

Dan Keira dibawa ke sebuah kamar Gus Zayn tadi.

“Mbak tidur di kamar bang Zayn ini dulu ya,” kata Azizah.

Keira mengangguk.

“Terima kasih…” ucapnya pelan.

Azizah tersenyum. Lalu keluar.

Meninggalkan Keira sendiri. Dan saat pintu tertutup—sunyi kembali datang. Keira duduk di tepi kasur. Tangannya menyentuh kain sprei yang lembut. Berbeda jauh dari kekacauan yang ada di dalam kepalanya.

Ia menarik napas panjang.

*

Pagi datang menyambut, cahaya matahari menyelinap masuk melewati jendela kamar.

Lantunan ayat suci terdengar jelas.

Langkah kaki.

Bisik-bisik.

Dan suara santri yang mulai beraktivitas.

Keira membuka matanya perlahan.

Masih sedikit bingung.

Butuh beberapa detik untuk sadar—

di mana ia berada.

Dan saat ingatan itu kembali dadanya kembali berdebar.

Pelan, ia bangun dan duduk.

Tangannya meraih hijab yang diletakkan di samping.

Menatapnya sebentar.

Lalu menghela napas.

Dan mencoba memakainya.

Masih canggung.

Masih belum rapi.

Tapi… ia mencoba.

Di luar Azizah sudah menunggu.

“Mbak… pagi,” sapanya ceria.

Keira mengangguk kecil.

“Pagi…”

“Yuk keluar. Nanti banyak yang tanya,” ucap Azizah sambil tersenyum kecil.

Keira mengernyit.

“Tanya?”

Azizah tertawa kecil.

“Ya… santri.”

Dan benar saja saat mereka keluar—

beberapa santri perempuan langsung melirik.

Awalnya hanya satu dua.

Lalu… bertambah.

Tatapan penasaran.

Bisik-bisik pelan.

“Siapa itu?”

“Baru ya?”

“Temannya Ning Zizah?”

“Kayaknya bukan…”

Suara-suara itu tidak keras.

Tapi cukup terdengar.

Keira langsung merasa tidak nyaman.

Tangannya meremas ujung bajunya lagi.

Azizah tetap berjalan.

Seolah sudah biasa.

Tapi saat beberapa santri mendekat—

ia sedikit kaku.

“Ning Zizah…” salah satu dari mereka memanggil.

“Iya?”

“Itu siapa?” tanya yang lain, langsung tanpa basa-basi.

Azizah terdiam sejenak. Ia melirik Keira.

Lalu kembali ke mereka.

Bibirnya terbuka…

tapi tidak ada jawaban yang keluar.

Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

“Ini… mbak Keira,” jawabnya akhirnya.

“Keira siapa?” tanya lagi.

Azizah tersenyum kaku.

“Ya… mbak Keira aja,” katanya pelan.

Santri-santri itu saling pandang.

Masih penasaran.

Tapi tidak bertanya lagi.

Hanya…

menatap lebih lama.

Keira menunduk.

Tidak berani menatap balik.

Dan perasaan itu—

kembali datang.

Tidak nyaman.

Asing.

Seperti berada di tempat yang bukan miliknya.

Hari itu berjalan lambat.

Sangat lambat.

Keira lebih banyak diam.

Mengamati.

Belajar.

Tentang cara berjalan.

Cara berbicara.

Cara… menjadi bagian dari tempat ini.

Sampai sore ketika ia duduk sendirian di beranda.

Tangannya memainkan ujung hijabnya.

Pikirannya kosong.

Atau mungkin… terlalu penuh.

“Keira.”

Suara itu membuatnya menoleh.

Gus Zayn.

Berdiri di sana.

Tidak jauh.

Keira langsung duduk lebih tegak.

“Iya…” jawabnya pelan.

“Ayo,” katanya singkat.

Keira mengernyit.

“Kemana?”

“Belajar.”

Satu kata itu—

membuat Keira terdiam.

Belajar?

Ia menatap pria itu.

Bingung.

Gus Zayn tidak menjelaskan panjang.

Ia hanya berbalik.

Dan berjalan.

Seolah yakin… Keira akan mengikuti.

Dan entah kenapa—

Keira benar-benar berdiri.

Lalu mengikuti.

Mereka berhenti di sebuah ruangan kecil.

Ada meja rendah.

Dan beberapa kitab.

Gus Zayn duduk.

Lalu mengambil satu buku tipis.

Iqra.

Ia meletakkannya di depan Keira.

“Mulai dari sini,” katanya.

Keira menatap buku itu.

Lama.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Ada rasa… ragu.

Malu.

Dan sedikit takut.

“Aku… nggak bisa,” ucapnya pelan.

Jujur.

Tanpa ditutup-tutupi.

Gus Zayn mengangguk.

“Saya tahu.”

Jawaban itu—

tidak menghakimi.

Tidak mengejek.

Hanya… menerima.

“Makanya belajar.”

Keira diam.

Beberapa detik.

Lalu perlahan—

tangannya meraih buku itu.

Membukanya perlahan..

Halaman pertama.

Huruf-huruf yang asing.

Bentuknya indah.

Tapi… tidak ia kenal.

Ia menelan ludah.

“Ini…” suaranya pelan.

“Alif,” kata Gus Zayn.

Keira mengangguk.

Pelan.

“Alif…” ulangnya.

Suara itu kecil.

Canggung.

Tapi nyata.

Gus Zayn tidak memotong.

Tidak menyela.

Ia hanya mendengar.

Dan membimbing pelan.

Seolah tidak ada yang perlu dikejar.

Tidak ada yang perlu dipaksakan.

Waktu berjalan.

Detik demi detik.

Huruf demi huruf.

Keira membaca.

Terbata.

Salah.

Berhenti.

Lalu mencoba lagi.

Dan setiap kali ia salah—

tidak ada teguran keras.

Hanya pembetulan.

Pelan.

Sabar.

Dan untuk pertama kalinya—

Keira tidak merasa bodoh saat belajar.

Ia hanya merasa…

memulai.

Dari nol.

Dan anehnya—

itu tidak menakutkan.

Malam mulai turun.

Suara adzan terdengar dari kejauhan.

Keira menutup buku itu perlahan.

Tangannya masih di atasnya.

Dadanya terasa hangat.

Bukan karena berhasil.

Tapi karena… mencoba.

Gus Zayn berdiri.

“Cukup hari ini,” katanya.

Keira mengangguk.

Pelan.

“Terima kasih…” ucapnya lirih.

Gus Zayn tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Keira sebentar.

Lalu—

mengangguk tipis.

Dan itu—

cukup.

Malam itu—

di tengah semua kebingungan…

semua perubahan…

Keira menemukan satu hal kecil.

Bahwa mungkin—

ia tidak sepenuhnya tersesat.

Karena perlahan…

ia mulai belajar berjalan.

1
Bunda Dzi'3
kirain anak pak ustadz trs ketemu gitu...hehehee jdi halu dahh
Bunda Dzi'3
raka anak nya ustadz kah?
Bunda Dzi'3
mewekkkk😭😭😭😭
Bunda Dzi'3
maaf klu saya salah...bukan klu ayah kandung msh hdup yg wajib jdi wali yaa ntuk anak perawan...
Bunda Dzi'3
haaaa...syukurlah cuma mimpi..
makanya kok bsa brubah dratis bngt gus zyan
Bunda Dzi'3
astaghfirullah😭
Bunda Dzi'3
zyan suamiku di dunia nyata&Alhamdulillah punya 2 bujang+1krucil😍😍😍😍😍
Bunda Dzi'3
kerennnn yaa zyan😍
Bunda Dzi'3
yg bner gus kan sya hanya sekedar sepupuh kmu🤭
Bunda Dzi'3
gus zyan sabarrrr bngt sma si bocil
Bunda Dzi'3
yg bnr tuh...,zah biar abang aja yg ngajarin istrinya abang😍
Bunda Dzi'3
kaira kaget...hancur bngt pastinya tidak di akui suaminya sndri😭
Nda_Zlnt
lanjut 💪
Nda_Zlnt
next thor
Nda_Zlnt
lanjut thor
Nda_Zlnt
lanjut
Nda_Zlnt
lanjut thor
Nda_Zlnt
lanjut
Adelia Absyah
gus zayn selalu bikin hati meleleh
Nda_Zlnt
next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!