NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3. Amnesia??

“Astaghfirullah, Allahu Akbar!! Suamiku mas Yudha siang tadi baik-baik saja, jadi nggak mungkin kecelakaan.”

Tubuh Kinanti sedikit terhuyung ke belakang ketika orang yang dari balik telpon berbicara dan menjelaskan bahwa suaminya Yudha Manggala mengalami kecelakaan dan kondisinya kritis.

“Bapak pasti salah orang, itu pasti bukan suamiku,” cicitnya Kinanti ketika memungut ponselnya yang sempat terjatuh.

“Kalau ibu tidak percaya silahkan segera datang ke rumah sakit,” balas pria yang menghubungi Kinanti.

Air matanya menetes membasahi pipinya, dia tak ingin mempercayai ucapan dari pria yang menelponnya memberikan kabar kalau suaminya mengalami kecelakaan di tol.

Bi Mina yang mendengar pembicaraan itu ikut shock dan terkejut mendengar berita majikannya mengalami insiden kecelakaan.

Bi Mina memeluk Kinanti,” nyonya harus tenang jangan banyak pikiran aneh-aneh.”

Mang Dede yang baru muncul ikut keheranan melihat sikap kedua perempuan itu.

“Bi Mina, apa yang terjadi dengan nyonya Kinanti?” Tanyanya yang cukup penasaran.

“Mang Dede,cepat ambil air putih kasihan nyonya Kinanti,” pinta Bi Mina.

Mang Dede tanpa berbicara gegas berjalan cepat ke arah pantry dapur untuk mengambil air putih.

“Minumlah nyonya,” ucapnya bi Mina.

Kinanti minum air putih itu sampai tandas saking terkejutnya sehingga dia kehausan.

“Mang Dede tolong cepat siapkan mobil, suamiku ada di rumah sakit!” Titah Kinanti kemudian berjalan ke arah kamarnya.

“Gimana dengan si kembar nyonya?” tanyanya bi Mina.

Kinanti menolehkan kepalanya ke arah bi Mina,” Bibi temani mereka, jangan biarkan mereka tahu kalau papanya dirawat di rumah sakit.”

Bi Mina terheran-heran mendengar perintah dari Kinanti sehingga dia berniat menyanggahnya, tapi kalimat sanggahannya belum diucapkan, Kinanti langsung berbicara.

“Aku nggak mau anak-anakku sedih bi, nantilah kalau kondisi papanya baikan barulah disampaikan kepada mereka,” ujarnya.

“Baiklah Nya, saya akan menjaga si kembar dengan baik. Nyonya fokus menjaga tuan Yudha saja,” timpalnya lagi.

Bi Mina penuh harap agar majikannya itu cepat sembuh dan selamat dari keadaan kritis.

“Tuan Yudha baik kepada kami, tolonglah ya Allah lindungilah dan selamatkan nyawa tuan Yudha,” bisiknya bi Mina sebelum menaiki tangga.

Kinanti tergesa-gesa mengambil dompetnya dan menuju garasi mobilnya dimana Mang Dede sudah menunggu kedatangannya.

“Bismillahirrahmanirrahim,” gumamnya sebelum memasuki kendaraannya.

Kinanti tak pernah putus berdoa dan berharap kepada sang Maha Kuasa agar suaminya selamat. Hal itu terlihat dari bibirnya yang tak berhenti bergumam.

“Ya Allah, berikanlah kekuatan pada tubuhnya. Kurangi rasa sakit yang ia rasakan, mudahkan setiap proses perawatannya, dan bimbinglah tangan para dokter serta perawat yang menanganinya.”

Kinanti sesekali menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti.

“Jika dia sedang ketakutan, tenangkanlah hatinya. Jika dia sedang kesakitan, berikanlah kesabaran dan kekuatan kepadanya. Jangan biarkan dia merasa sendirian.”

Doa-doa terbaik lirih terucap dari bibir mungilnya diiringi dengan tetesan air matanya yang seolah tak ada habisnya.

“Aku percaya pada pertolongan-Mu. Maka, tolonglah dia, Ya Allah. Sembuhkanlah suamiku dan kuatkanlah hatiku sampai aku tiba di sisinya.”

Walaupun perlakuan suaminya selama mereka menikah teramat menyakitkan tapi hatinya tak bisa berpaling dan berhenti mencintai dan menyayangi Yudha.

Mang Dede sesekali melirik ke arah belakang untuk melihat kondisi Kinanti.

“Saya yakin Tuan Yudha pasti selamat, nyonya jangan putus asa dan teruslah berharap kepada Allah SWT akan pertolonganNya,” ucap Mang Dede sembari mengemudikan mobil.

“Nggak apa-apa mang, aku baik-baik saja, fokus pada jalanan saja,” ucapnya.

Berselang beberapa menit kemudian, Kinanti dan Mang Dede sudah sampai di depan ruang unit gawat darurat. Yudha belum dioperasi karena harus menunggu persetujuan dan tanda tangan dari Kinanti mengingat kedua orang tuanya Yudha sudah lama meninggal dunia.

“Dokter bagaimana kondisi suamiku?” Tanyanya ketika melihat seorang dokter berjalan ke arah luar UGD.

Dokter itu tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan tersebut.

“Maaf nama pasiennya siapa? Karena ada beberapa korban kecelakaan,” ujarnya.

“Namanya Yudha Manggala umurnya 35 tahun dokter,” jawabnya kemudian.

“Oh pak Yudha Manggala, ibu sudah lama ditunggu, kalau begitu silahkan tanda tangani berkas persetujuan operasinya dan silahkan urus administrasinya secepatnya,” jelasnya lagi dokter tersebut.

Kinanti cepat-cepat mengambil alih sebuah berkas dari dalam genggaman tangannya dokter itu dan tanpa membaca terlebih dahulu langsung membubuhkan tanda tangannya.

Kinanti sampai memegang tangan dokter itu,” Dokter ku mohon berikan perawatan terbaik untuk suamiku, berapapun biayanya akan saya bayar.”

Dokter itu mengurai pegangan tangannya Kinanti,” ibu tenang saja, itu sudah tugas kami akan menolong pasien sampai sembuh dan ibu tidak perlu memohon kepada kami karena itu sudah tanggung jawab dan tugas kami.”

Kinanti kemudian berjalan ke arah ruangan administrasi untuk menyelesaikan pengurusan administrasi proses pengobatan Yudha.

Kondisi Yudha cukup memprihatinkan, beberapa tulang dikakinya ada yang patah dan paling parah luka di kepalanya.

Mulutnya Kinanti terus komat-kamit melafalkan doa-doa terbaik untuk sang suami tercinta.

Kinanti saat ini tidak lagi mengingat perlakuan kasar suaminya, baginya saat ini adalah keselamatan dan kesembuhan Yudha.

Kinanti mondar mandir di depan pintu ruang operasi sedang Mang Dede hanya bisa berusaha tenang dan tetap terus berdoa untuk kebaikan majikannya.

“Ya Allah… Tuan Yudha memang terkadang kasar kepada nyonya Kinanti,tapi jangan biarkan Tuan Yudha meninggal ya Allah… berikanlah dia kesempatan dan waktu untuk menerbitkan hubungannya dengan nyonya Kinanti,” batinnya Mang Dede.

Lampu ruang operasi masih menyala, pertanda bahwa operasi Yudha belum selesai. Kinanti tak kuasa menahan suara isak tangisnya.

Berkali-kali ia mengusap air mata yang membasahi pipinya, tetapi air mata itu seolah tidak mau berhenti mengalir dan pikiran buruk terus menghantuinya.

Kinanti tidak sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada suaminya, yang mengalami kecelakaan di jalan tol ketika pulang dari tempat kerja.

“Ya Allah, selamatkan suamiku. Jangan biarkan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya. Aku mohon, Ya Allah,” lirih Kinanti dengan tangan yang masih menggenggam erat jemarinya sendiri.

Ia hanya bisa berdoa dan menyerahkan keselamatan Yudha kepada Allah SWT. Tidak ada hal lain yang mampu dilakukannya selain menunggu dengan penuh kecemasan di depan ruang operasi.

Beberapa jam kemudian, lampu ruang operasi akhirnya mati. Pintu ruangan tersebut terbuka dan beberapa perawat keluar sambil mendorong brankar rumah sakit. Di atasnya, Yudha masih terbaring tak sadarkan diri setelah menjalani operasi di hampir sekujur tubuhnya.

Kinanti segera berdiri dan menghampiri suaminya. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Yudha yang terlihat pucat.

“Alhamdulillah… Ya Allah, terima kasih karena Engkau masih memberikan kesempatan kepada suamiku untuk tetap bersamaku,” ucap Kinanti lirih dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.

Tak henti-hentinya Kinanti mengucap syukur ke hadirat Allah SWT karena telah menyelamatkan suaminya dari marabahaya.

Sejak saat itu, Kinanti merawat Yudha dengan penuh kasih sayang dan ketulusan. Ia selalu memastikan kebutuhan suaminya terpenuhi. Bahkan, terkadang Kinanti tidak peduli dengan waktu istirahat maupun waktu makannya sendiri.

Baginya, melihat Yudha perlahan-lahan membaik adalah kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Hari-hari berlalu dengan penuh kesabaran. Kinanti tetap setia berada di sisi Yudha, menemaninya melewati masa pemulihan. Setiap kali melihat suaminya terbaring lemah, hati Kinanti terasa sesak, tetapi ia selalu berusaha tegar.

Beberapa jam kemudian...

Kinanti baru saja selesai melaksanakan salat Zuhur. Setelah merapikan mukena, ia duduk dengan tenang sambil menundukkan kepala.

Bibirnya masih bergerak melantunkan doa-doa untuk kesembuhan suaminya.

Sementara itu, Bi Mina dan Mang Dede baru saja pulang ke rumah bersama kedua anak mereka, Naufal Aydin dan Naura Azalia.

Suasana rumah sakit yang semula begitu sunyi perlahan kembali terdengar suara langkah kaki dan percakapan kecil dari orang yang berlalu lalang di koridor ruangan perawatan.

Namun, Kinanti tetap khusyuk dengan doanya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa saat lalu, ada sosok seorang pria yang masih terbaring lemah tidak jauh darinya.

Pria itu terdiam, akan tetapi tatapannya terus tertuju kepada satu orang saja yaitu Kinanti yang masih duduk dengan tenang setelah menunaikan kewajibannya.

Ada sesuatu dalam tatapan pria tersebut yang sulit untuk ditebak. Ia hanya berdiri di tempatnya, memperhatikan Kinanti dengan seksama, seolah sedang memastikan sesuatu yang selama ini mengusik pikirannya.

Kinanti yang masih larut dalam doa sama sekali tidak menyadari kehadiran pria itu.

Ia hanya berharap, setelah semua ujian yang datang silih berganti, Allah SWT kembali memberikan kebahagiaan dan kesembuhan untuk orang yang paling dicintainya.

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!