Serenity Martinez adalah seorang gadis cantik yatim piatu yang menjalani kerasnya kehidupan sejak kecil. Berasal dari keluarga miskin, berantakan dan berakhir tragis. Sempurna sekali kan. Mendiang ayahnya meninggal tertabrak truk ketika mencoba merampok truk tersebut. Sedangkan ibunya bunuh diri karena lelah dengan kehidupannya yang miskin dan menderita.
Ada sesuatu yang unik dari Seren yaitu dia memiliki mata heterochromia. Itu artinya dia memiliki 2 warna mata yang berbeda, tetapi dia memilih menutup kelebihannya itu dengan menggunakan softlens agar tidak mencolok.
Regan Riley Robert, seorang pria tampan dengan kehidupan yang sempurna tanpa cela. Dilahirkan di keluarga kaya raya dan bahagia. Menjalankan bisnis warisan sang ayah dan merupakan putra tunggal. Dan dikelilingi oleh wanita wanita cantik yang ingin menjadi pendampingnya.
Mereka dipertemukan oleh takdir dan dipisahkan pula oleh takdir..bagaimana kisah mereka? yuk Ikuti kisah mereka ya...
Semua novel otor minim konflik seperti biasanya...jangan suruh otor untuk bikin konflik berat ya..semua tergantung otor mau dibuat apa cerita dan endingnya..skip aja kalau ga suka ya gaees...
ig author @zarin.violetta
(sedang proses revisi puebi dll)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
"Seren keluar dari perusahaan dengan perasaan kecewa. Dia hanya orang dari kasta terendah di dunia ini, dan bertemu dengan CEO perusahaan ini? Itu sesuatu yang sangat mustahil.
Seren berjalan menuju halte bis dan memutuskan untuk langsung pergi ke toko Bibi Elen. Hari ini dia akan menjalankan tugas Albert. Setidaknya dia mendapat uang tambahan dari sana.
Seren mengendarai mobil kali ini karena dia akan mengantar pesanan ke pelanggan kelas atas Bibi Elen yang rumahnya masuk ke deretan lingkungan elite.
Seren belajar menyetir mobil dari Albert karena dia tahu bahwa keahlian ini pasti akan dibutuhkan. Bahkan Seren berpikir untuk menjadi sopir jika belum menemukan pekerjaan pengganti.
Seren memasuki halaman mansion besar yang berwarna putih dan bergaya Victoria classic. Ini adalah tujuannya terakhir. Dan pemilik rumah ini memesan sangat banyak susu karena akan membuat beberapa olahan susu dan kue.
Seren tidak terlalu menginginkan kemewahan dunia. Menjalani hidup yang flat saja itu sudah cukup baginya. Jadi dia melihat mansion mewah di depan matanya ini dengan biasa saja.
Tubuh Seren penuh keringat karena mengangkat banyak susu sejak siang.
Seren masuk ke bagian belakang rumah itu, dan keluarlah seorang pelayan laki-laki paruh baya yang memakai seragam.
"Kau mengantar susu? Di mana Albert?" tanya pria itu.
"Dia sedang cuti, jadi aku menggantikannya," jawab Seren datar.
"Oh... kau seorang gadis? Aku pikir kau anak laki-laki," pria itu tersenyum ramah.
Dengan rambut yang seluruhnya dimasukkan ke dalam topi, membuat Seren lebih seperti anak laki-laki ditambah dengan baju yang dipakainya. Sama sekali tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping.
"Masuklah... ada kue dan makanan... biasanya Albert yang membawanya," ajak pria itu.
Lalu Seren pun mengikuti laki-laki paruh baya itu.
"Panggil saja aku Raul," lanjutnya.
Seren duduk di kursi dapur dan menunggu Tuan Raul mengambilkan makanan untuknya.
"Raul... Raul..." teriak seorang wanita dari dalam.
Tampak seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik di usia senjanya.
Wanita itu tampak melihat Seren dengan memicingkan matanya.
Lalu Raul muncul dan mendatangi wanita itu.
"Iya, nyonya..." jawab Raul sembari menunduk.
"Siapa dia?" tanyanya.
"Dia pengganti Albert untuk sementara," jawab Raul.
Lalu Raul memanggil Seren untuk mendekat.
"Kemarilah, nona... ini Nyonya Agatha," kata Raul.
Seren pun menghampiri wanita yang ternyata pemilik rumah ini.
"Siapa namamu, nak?" tanya Agatha.
"Seren, Nyonya," jawab Seren dengan menunduk.
"Buka maskermu... apa kau tidak kepanasan?" kata Agatha.
Seren pun membuka maskernya.
"Kau cantik," kata Agatha.
Ketika bekerja, Seren lebih sering menggunakan masker karena memang peraturan dari tempat kerja dan akhirnya menjadi kebiasaan baginya untuk memakai masker meskipun di luar jam kerjanya. Itu memberikan kenyamanan padanya.
"Aku Agatha... senang bertemu denganmu, Seren," kata Agatha dengan senyum ramah dan mengulurkan tangannya.
Seren membuka sarung tangan lusuhnya dan menjabat tangan Agatha.
Agatha melihat jari-jari Seren yang lentik dan putih.
Tangannya terlalu bagus untuk ukuran seorang pekerja kasar seperti Seren. Itu yang ada di pikiran Agatha.
"Maaf, nyonya, tanganku kotor," kata Seren ketika Agatha melihat tangannya.
"Tidak, nak... tanganmu bersih... kemarilah ikut aku... Raul, masukkan semua susu itu ke dalam kulkas besar," kata Agatha.
Seren mengikuti sang nyonya dari belakang.
"Duduklah," kata Agatha.
Seren merasa tidak pantas duduk di sofa bagus dan mahal itu, jadi dia tetap berdiri di tempatnya.