NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Hampir Berciuman

Hujan sore itu turun begitu deras, seolah langit tiba-tiba membuka seluruh penampungannya. Naira berdiri di dekat jendela ruang desain, menatap tetesan air yang deras menghantam kaca. Sudah pukul tujuh malam, dan hujan tidak menunjukkan tanda akan reda.

"Masih di sini?"

Suara Mikael terdengar dari pintu. Naira menoleh dan melihatnya berdiri di sana dengan jas yang sudah digenggam di lengan, kemejanya sedikit kusut di bagian lengan yang digulung.

"Hujan terlalu deras," jawab Naira sambil menunjuk ke luar. "Belum ada taksi yang bisa aku pesan."

Mikael melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku juga tertahan. Sepertinya kita terjebak di sini berdua."

Naira tertawa kecil. "Sepertinya begitu."

Suasana di ruangan itu terasa hangat dan tenang. Hujan di luar justru membuat kebersamaan mereka di dalam terasa semakin istimewa, seolah-olah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Mikael berjalan mendekat, berhenti di samping Naira, ikut menatap ke luar jendela.

"Kamu tahu," katanya pelan. "Aku sebenarnya tidak terlalu keberatan terjebak di sini bersamamu."

Naira menoleh sedikit, cukup untuk melihat profil wajahnya yang disinari cahaya lampu ruangan yang remang-remang. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Kamu selalu saja bisa membuat seseorang merasa istimewa dengan kata-katamu."

"Itu bukan pura-pura, Naira." Mikael menoleh, dan tiba-tiba jarak di antara mereka begitu dekat. Napas mereka seakan menyatu. "Setiap kata yang aku ucapkan semuanya tulus."

Naira menelan ludah. Ia menatap bibir Mikael sekilas lalu kembali ke matanya. Di sana, di dalam manik mata itu, ia melihat sesuatu yang membuatnya lupa cara bernapas. Kerinduan. Kejujuran. Dan sesuatu yang begitu dalam hingga menakutkan.

Mikael perlahan mengangkat tangannya. Ujung jarinya menyentuh pipi Naira dengan sentuhan yang begitu lembut, seolah-olah takut perempuan itu akan hancur atau menghilang. Naira memejamkan mata secara tidak sadar, mencondongkan wajahnya sedikit ke arah sentuhan itu.

"Mikael..." bisiknya namanya begitu pelan, hampir seperti desahan.

"Kamu begitu indah," bisik Mikael, wajahnya semakin mendekat. Hidung mereka hampir bersentuhan. "Sangat indah hingga rasanya tidak nyata."

Naira membuka matanya perlahan. Tatapan mereka bertemu, dan di detik itu, tidak ada lagi sandiwara. Tidak ada lagi aturan. Hanya dua hati yang saling mencari, dua jiwa yang saling tertarik tanpa mampu menahannya.

Bibir mereka hampir bersentuhan. Naira bisa merasakan kehangatan napas Mikael di bibirnya. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia yakin pria itu bisa mendengarnya. Ia menutup matanya kembali, menunggu momen yang akan mengubah segalanya.

Tiba-tiba suara guntur menggelegar sangat keras dan kuat. Lampu di seluruh ruangan berkedip sekali, lalu mati total. Ruangan itu seketika gelap gulita.

Naira tersentak kaget dan mundur dengan cepat. "Ah!"

"Naira, hati-hati!"

Mikael meraih lengannya, tapi karena keduanya sama-sama terkejut, keseimbangan Naira terguncang. Ia tersandung kaki meja di belakangnya dan jatuh ke bawah. Mikael mencoba menahannya, namun ikut tertarik jatuh bersama.

Naira mendarat di atas karpet yang tebal, dan sesaat kemudian, tubuh Mikael menindihnya dengan lembut. Tidak berat. Tidak menyakitkan. Tapi posisi mereka begitu intim, begitu dekat, sehingga napas mereka tertahan di saat yang sama.

Dalam kegelapan yang hanya diterangi sedikit cahaya dari lampu gedung di luar jendela, mereka bisa melihat siluet wajah satu sama lain.

Mikael menopang berat tubuhnya dengan kedua lengan di samping kepala Naira, sehingga tidak benar-benar menindihnya. Wajahnya hanya beberapa sentimeter di atas wajah Naira.

Detak jantung mereka berdua terdengar jelas di keheningan malam itu.

"Mikael..." bisik Naira, suaranya bergetar.

"Maaf," bisik Mikael. "Aku tidak bermaksud..."

"Aku tahu." Naira menelan ludah. "Aku juga tidak bermaksud..."

Namun tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bangkit. Mereka berdua hanya diam di sana, saling menatap dalam kegelapan, menyadari betapa tipisnya batas antara pura-pura dan kenyataan. Bibir mereka masih sangat dekat. Satu gerakan kecil saja dan semuanya akan berubah selamanya.

Mikael menurunkan wajahnya sedikit lagi. Naira menutup matanya. Kali ini tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Hanya penerimaan.

Dan tepat saat bibir mereka hampir menyentuh... lampu menyala kembali.

Kedua orang itu tersentak sekaligus. Mikael segera bangkit dan menarik tangannya secepat mungkin, seolah-olah ia baru saja menyentuh sesuatu yang panas. Naira juga duduk dengan cepat, merapikan rambut dan pakaiannya dengan tangan yang gemetar.

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan itu. Suara hujan di luar tiba-tiba terdengar terlalu keras, seolah mengejek kegugupan mereka berdua.

"Aku... aku harus periksa jendela," kata Naira tiba-tiba, suaranya terlalu tinggi dan tidak alami. Ia berjalan cepat menuju sisi lain ruangan, membelakangi Mikael. Padahal jendelanya sudah tertutup rapat sejak tadi.

Mikael berdiri di tempatnya, menatap punggung Naira. Tangannya masih terasa hangat karena menyentuh pipi perempuan itu. Dadanya terasa sesak.

Ia hampir melakukannya. Hampir saja ia menciumnya. Dan yang paling menakutkan... ia tidak menyesal. Ia hanya menyesal bahwa momen itu terhenti.

"Naira..." suaranya terdengar berat.

Naira tidak menoleh. Ia memegang dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu liar. "Kita... kita hampir melanggar batas, Mikael."

"Batas apa?" Mikael bertanya pelan namun tegas. "Batas yang kita buat sendiri? Atau batas yang sebenarnya sudah tidak ada lagi?"

Naira berbalik perlahan. Matanya berkaca-kaca, bingung dan takut. "Kita punya perjanjian. Semua ini hanya sandiwara. Kita tidak boleh sampai terlibat perasaan yang sebenarnya."

"Apakah kamu menyuruhku berhenti?" Mikael melangkah selangkah mendekat. "Apakah kamu benar-benar ingin aku berhenti berpura-pura?

 Karena kalau begitu... aku tidak bisa melakukannya lagi, Naira. Aku tidak bisa lagi bersandiwara bahwa aku tidak menginginkanmu. Aku tidak bisa lagi bersandiwara bahwa kehadiranmu tidak berarti segalanya bagiku."

Naira terdiam. Kata-kata itu menembus hatinya. Ia ingin berteriak bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Bahwa setiap sentuhan, setiap tatapan, setiap kata Mikael membuatnya semakin jatuh cinta.

Tapi ketakutan itu masih ada. Ketakutan bahwa ini semua hanyalah ilusi. Bahwa pada akhirnya, ia akan ditinggalkan lagi.

"Aku tidak tahu," akunya jujur, suaranya pecah. "Aku takut, Mikael. Aku takut kalau ini semua hanyalah bagian dari peranmu. Aku takut kalau suatu hari nanti kamu akan bangun dan menyadari bahwa kamu tidak benar-benar mencintaiku. Dan saat itu terjadi, aku akan hancur. Lebih hancur dari sebelumnya."

Mikael menatapnya dengan mata yang lembut namun penuh tekad. Ia melangkah mendekat lagi, namun berhenti saat Naira mundur selangkah. Ia menghormati jarak itu, meskipun hatinya berteriak untuk memeluk perempuan itu.

"Aku tidak akan menjanjikan apa-apa selain kebenaran," katanya pelan namun tegas. "Dan kebenarannya adalah, aku tidak pernah memperlakukanmu sebagai sandiwara.

Setiap kali aku memegang tanganmu, setiap kali aku menatapmu, setiap kali aku memanggil namamu, semuanya nyata. Hatiku nyata. Perasaanku nyata. Dan kalau kamu ragu, ambillah waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Aku akan menunggu. Aku tidak akan ke mana-mana."

Naira menatapnya. Air mata menetes di pipinya tanpa disadari. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Kenapa kamu membuat semuanya begitu sulit untuk dilupakan?"

"Karena kamu berhak diperlakukan dengan baik," jawab Mikael lembut. "Dan karena kamu layak dicintai dengan tulus, bukan dengan syarat atau sandiwara."

Mereka berdiri di sana, terpisah jarak yang pendek namun terasa jauh. Aturan yang mereka buat sendiri kini terasa seperti tembok yang menghalangi mereka.

Sandiwara yang dimulai sebagai kebohongan kini telah berubah menjadi penjara yang indah, di mana mereka berdua saling mencintai namun takut untuk mengakuinya.

"Hujan sudah mulai reda," kata Naira akhirnya, mengusap air matanya dengan cepat. "Sepertinya aku bisa pulang sekarang."

Mikael mengangguk pelan. Ia tahu Naira butuh waktu. Ia tahu ia tidak boleh menekannya. "Aku akan mengantarmu."

"Terima kasih, El."

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang canggung. Tidak ada candaan. Tidak ada tatapan panjang. Hanya dua orang yang duduk berdampingan, masing-masing dengan pikirannya sendiri, masing-masing dengan perasaannya yang tumbuh namun belum berani diucapkan.

Sesampainya di depan rumah Naira, Mikael mematikan mesin mobil. Mereka duduk dalam kegelapan lampu luar.

"Naira," panggil Mikael pelan. "Tentang tadi, aku minta maaf kalau aku terlalu jauh melangkah."

Naira menatapnya. "Kamu tidak salah. Karena aku juga tidak menolaknya."

Kalimat itu terbang di udara, berat namun melegakan.

"Tapi aku butuh waktu," tambah Naira. "Untuk memastikan. Untuk percaya lagi."

"Aku mengerti." Mikael tersenyum lembut, senyum yang penuh pengertian. "Pintu hatiku selalu terbuka untukmu. Kapan pun kamu siap, aku akan ada di sana. Tidak akan ke mana-mana."

Naira tersenyum tipis, lalu membuka pintu mobil. "Selamat malam, Mikael."

"Selamat malam, Naira."

Naira masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar pada pintu itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan... aku hampir saja menciumnya," bisiknya sendiri, jantungnya masih berdebar kencang. "Dan aku tidak menyesal."

Di dalam mobil, Mikael masih duduk di sana menatap pintu rumah itu. Ia menyentuh bibirnya dengan jari, seolah-olah masih bisa merasakan kehadiran Naira di sana.

"Aku menunggumu, Naira," bisiknya ke keheningan mobil. "Selama yang dibutuhkan. Aku tidak akan terburu-buru. Tapi aku juga tidak akan melepaskanmu."

Malam itu, keduanya terbaring di tempat tidur masing-masing, memikirkan momen yang hampir terjadi. Dan keduanya menyadari satu hal yang sama, aturan yang mereka buat sendiri sudah tidak berlaku lagi. Yang tersisa hanyalah perasaan yang nyata, ketakutan yang nyata, dan cinta yang tumbuh lebih cepat dari yang bisa mereka kendalikan.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!