### KARIR MINGGUAN
Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.
**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**
Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.
Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.
Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.
Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.
Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.
**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**
Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada yang Mau Membeli
Hari kedua, sesuai janjinya kemarin, Rendy mengajak Reyhan ikut serta dalam kunjungan ke salah satu klien korporat yang sedang dia follow up sebuah perusahaan retail menengah yang butuh puluhan unit televisi untuk cabang baru mereka.
"Inget ya, Mas, perhatiin aja dulu gimana saya presentasi. Jangan ikut komentar kalo belum diminta," pesan Rendy sebelum mereka masuk ke ruang pertemuan klien.
"Siap, Mas Rendy."
Di dalam ruangan, seorang manajer operasional bernama Pak Hendarto menyambut mereka dengan raut wajah datar, terlihat sudah terbiasa menerima banyak penawaran dari berbagai sales.
"Jadi, apa yang beda dari penawaran Anda dibanding kompetitor lain, Mas Rendy?" tanya Pak Hendarto, langsung ke inti tanpa banyak basa-basi.
Rendy tersenyum tenang, membuka presentasinya dengan gaya yang jauh berbeda dari yang Reyhan bayangkan bukan langsung menjelaskan spesifikasi produk, melainkan bertanya balik.
"Sebelum saya jelasin produk, boleh saya tau dulu, Pak, tantangan terbesar cabang baru Bapak nanti apa? Biar penawaran saya bener-bener sesuai kebutuhan, bukan cuma jual barang doang."
Pak Hendarto terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi akhirnya menjawab lebih terbuka. "Sebenernya kami khawatir soal daya tahan alat, Mas. Cabang lama kami sering ganti TV display karena cepat rusak, biayanya jadi bengkak."
"Nah, ini menarik, Pak," jawab Rendy, mengangguk-angguk sambil membuka laptopnya. "Produk yang saya tawarin ini punya garansi khusus untuk penggunaan komersial, jauh lebih tahan lama dibanding tipe rumahan biasa. Saya bisa tunjukin datanya."
Reyhan memperhatikan dengan seksama, menyadari betapa berbedanya pendekatan Rendy dibanding caranya sendiri kemarin yang langsung menawarkan produk tanpa memahami kebutuhan calon pembeli terlebih dahulu.
Setelah presentasi selesai, Pak Hendarto tampak jauh lebih tertarik dari awal pertemuan. "Coba kirim proposal lengkapnya, Mas. Saya bahas dulu sama tim."
"Siap, Pak. Saya kirim besok pagi."
Keluar dari ruang pertemuan, Reyhan tidak bisa menahan rasa kagumnya. "Mas Rendy, itu keren banget caranya. Beda banget sama yang saya lakuin kemarin."
"Kuncinya itu, Mas. Orang nggak suka dijualin, mereka suka dibantu. Jadi sebelum jual produk, cari dulu masalah mereka, baru kasih solusi yang pas."
"Wah, noted banget itu, Mas."
"Sekarang giliran kamu coba sendiri. Ada janji ketemu klien lain nggak siang ini?"
Reyhan memeriksa daftar kliennya. "Ada, Mas. Toko elektronik kecil yang lagi mau upgrade stok mereka."
"Ya udah, coba sendiri, terapin apa yang tadi kamu liat. Saya nunggu di sini aja."
Reyhan mendatangi toko elektronik itu dengan perasaan campur aduk antara gugup dan bersemangat mencoba pendekatan baru. Pemiliknya, seorang bapak paruh baya bernama Pak Joko, menyambutnya dengan ramah meski terlihat sibuk.
"Selamat siang, Pak. Saya Reyhan dari PT Sinar Abadi Elektronik," katanya, mencoba mengingat pola presentasi Rendy. "Sebelum saya tawarin produk, boleh saya tau dulu, Pak, kira-kira tantangan terbesar toko Bapak sekarang apa?"
Pak Joko mengangkat alis, terlihat sedikit heran dengan pendekatan yang berbeda itu. "Wah, jarang ada sales yang nanya gitu, Mas. Biasanya langsung nawarin produk doang."
"Saya pengen bener-bener paham dulu, Pak, biar penawaran saya nggak asal-asalan."
Pak Joko tampak mempertimbangkan, akhirnya menjawab jujur. "Sebenernya, stok kami kurang variatif dibanding toko sebelah, Mas. Pelanggan sering komplain pilihannya itu-itu aja."
Reyhan mengangguk-angguk, mencoba mengingat produk mana yang paling cocok dengan kebutuhan itu. "Kalo gitu, Pak, kebetulan kami punya lini produk baru yang belum banyak beredar di toko lain. Bisa jadi pembeda buat toko Bapak."
Ia menunjukkan katalog produk terbaru, menjelaskan keunggulannya dengan lebih percaya diri dibanding hari sebelumnya. Namun setelah beberapa menit penjelasan, Pak Joko justru menggelengkan kepala pelan.
"Menarik sih, Mas, tapi harganya kemahalan buat toko kecil kayak saya. Margin saya nggak akan cukup kalo ambil produk ini."
Reyhan terdiam sejenak, tidak menyangka penolakan akan datang setelah presentasi yang menurutnya sudah cukup baik. "Oh, gitu ya, Pak. Ada budget kisaran berapa kira-kira yang cocok?"
"Paling maksimal setengah dari harga yang Mas tawarin tadi."
"Baik, Pak, saya coba cariin alternatif yang lebih sesuai budget, nanti saya kabarin lagi."
Reyhan keluar dari toko itu dengan perasaan campur aduk senang karena berhasil membangun percakapan yang lebih baik dari kemarin, tapi juga kecewa karena tetap belum berhasil menutup penjualan. Ia kembali ke tempat Rendy menunggu, menceritakan hasilnya dengan jujur.
"Gagal lagi, Mas. Tapi setidaknya saya dapet informasi soal budget mereka."
Rendy mengangguk. "Itu udah progress, Mas. Nggak semua closing di percobaan pertama. Yang penting kamu udah dapet data buat follow up berikutnya."
"Susah juga ya ternyata, Mas, jualan barang mahal gini."
"Emang susah, makanya reward-nya juga gede kalo berhasil. Sabar aja, ini baru hari kedua."
Reyhan menghela napas, mencoba tetap optimis meski progresnya masih jauh dari target. Sepanjang sore, ia mencoba menghubungi beberapa klien lain dari daftar yang diberikan Anton, tapi hasilnya masih serupa beberapa tertarik tapi belum deal, beberapa lagi langsung menolak tanpa banyak alasan.
Menjelang malam, Reyhan duduk di meja kerjanya yang mulai sepi ditinggal karyawan lain, menghitung ulang seluruh percakapan hari itu di buku catatannya. Ia membuka layar holografik sistem sebentar, memastikan kantor benar-benar sudah sepi.
> [Progres Misi: Rp0 / Rp500.000.000]
> [Sisa waktu: 5 hari, 20 jam.]
Angka nol itu masih terasa berat dilihat, terutama mengingat sisa waktu yang terus berkurang. Namun berbeda dari rasa putus asa di hari pertama, kali ini Reyhan merasa lebih tenang dia mulai memahami pola yang perlu dia kuasai, meski belum berhasil menerapkannya sampai closing.
Ia menutup layar itu, merapikan mejanya, dan bersiap pulang dengan tekad untuk mempelajari lebih dalam teknik-teknik yang sudah dia amati dari Rendy hari ini, berharap besok bisa jadi hari pertama dia berhasil menutup penjualan pertamanya di dunia sales yang jauh lebih menantang dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.
Sebelum benar-benar pulang, Anton menghampiri meja Reyhan, memeriksa laporan hasil hari kedua dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Gimana, Mas? Rendy cerita katanya udah mulai lumayan presentasinya."
"Alhamdulillah, Pak. Tapi belum ada yang closing."
"Nggak apa-apa, dua hari pertama emang biasanya masa penyesuaian. Coba besok fokus follow up yang udah nunjukin minat, jangan buang energi ke yang jelas-jelas nolak dari awal."
"Siap, Pak. Ada saran klien mana yang paling potensial buat difollow up besok?"
Anton memeriksa catatan di layarnya. "Coba hubungi lagi Pak Hendarto yang tadi pagi, biasanya perusahaan sebesar itu butuh waktu buat internal approval, tapi kalo emang tertarik, closing-nya bisa gede sekaligus."
"Noted, Pak. Makasih."
Reyhan berjalan pulang malam itu, melewati jalanan kota yang mulai ramai dengan lampu-lampu toko yang menyala. Ia berhenti sejenak di depan sebuah etalase toko elektronik besar, memperhatikan berbagai produk yang dipajang dengan pencahayaan menarik.
Ia teringat kembali percakapan dengan Pak Joko siang tadi, tentang bagaimana toko kecil sepertinya kesulitan bersaing dengan variasi produk yang terbatas. Sebuah ide kecil mulai terbentuk di kepalanya bagaimana kalau dia bisa menjadi jembatan antara produk-produk besar dari perusahaannya dengan kebutuhan spesifik toko-toko kecil seperti milik Pak Joko, bukan sekadar menjual produk semahal mungkin, tapi mencari solusi yang benar-benar pas untuk skala mereka.
Ia mencatat ide itu di buku catatannya sebelum melanjutkan langkah pulang, merasa bahwa pengalaman hari ini, meski belum menghasilkan penjualan, telah memberinya wawasan baru tentang bagaimana dunia bisnis sesungguhnya bekerja jauh lebih kompleks dari sekadar menjual barang, melainkan memahami kebutuhan orang lain dan mencari cara terbaik untuk memenuhinya.
Sesampainya di kos, Reyhan duduk sejenak di lantai kamar, membuka kembali buku catatannya untuk merapikan semua yang sudah dia pelajari sepanjang dua hari terakhir ini. Ia menuliskan tiga poin penting: pertama, bertanya sebelum menawarkan, kedua, sesuaikan solusi dengan kemampuan klien, bukan memaksakan produk termahal; ketiga, closing butuh waktu dan follow up, bukan hasil instan.
Ponselnya bergetar sekali, sebuah pesan masuk dari nomor yang belum dia simpan. Ternyata dari Pak Joko, pemilik toko elektronik yang dia kunjungi siang tadi.
*"Mas Reyhan, saya udah diskusi sama istri saya soal penawaran tadi. Kalo ada opsi yang lebih murah tapi kualitasnya masih oke, kami tertarik coba pesan beberapa unit."*
Reyhan tersenyum lebar membaca pesan itu, meski belum benar-benar closing, setidaknya ini tanda pertama bahwa usahanya hari ini tidak sepenuhnya sia-sia. Ia membalas pesan itu dengan semangat, berjanji akan mencarikan opsi terbaik besok pagi sebelum jam kerja dimulai.
Malam itu ditutup dengan perasaan lebih optimis dari yang dia rasakan sepanjang hari, sebuah tanda kecil bahwa meski dunia sales terasa keras dan penuh penolakan, kesabaran dan pendekatan yang tepat perlahan mulai membuahkan hasil.
Keesokan paginya, sebelum berangkat kerja, Reyhan sempat menghubungi bagian gudang perusahaan untuk menanyakan opsi produk yang lebih terjangkau sesuai permintaan Pak Joko semalam.
"Halo, saya Reyhan dari tim sales, mau tanya, ada nggak ya produk TV atau kulkas dengan harga menengah ke bawah tapi kualitasnya masih layak buat toko retail kecil?"
Petugas gudang di seberang telepon memeriksa sebentar. "Ada, Mas, kebetulan kami punya line produk lama yang masih bagus tapi udah nggak jadi fokus promosi utama. Harganya jauh lebih murah dari line terbaru."
"Wah, pas banget! Boleh minta daftar lengkap sama harganya?"
"Nanti saya kirim ke email Mas ya."
Reyhan menutup telepon dengan perasaan lega, merasa menemukan solusi yang tepat untuk kebutuhan Pak Joko, sebuah kepuasan kecil yang jauh berbeda dari rasa cemas yang mendominasi dua hari terakhir. Ia bergegas menuju kantor dengan langkah lebih ringan, membawa harapan bahwa hari ketiga ini akan menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya sebagai sales minggu ini sebuah awal kecil yang, jika berhasil, bisa jadi pembuka jalan menuju closing-closing yang lebih besar di hari-hari berikutnya.