NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas kesabaran

Setelah cukup lama menangis sendirian di dapur. Aku merasa sedikit lega. Sesak di dada yang aku rasakan sedikit menghilang. Namun, bukan berarti masalah juga ikut hilang. Hanya mengurangi beban yang aku rasakan.

Aku mengusap wajahku pelan, lalu beranjak dari tempat duduk ku. kemudian aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi aku akan menunaikan ibadah shalat ashar.

Dengan sholat semua beban terasa jauh lebih ringan. Ku panjatkan doa-doa, supaya Allah senantiasa selalu memberiku kesabaran dan kekuatan.

Setelah mandi dan juga sholat. Aku keluar kamar, lalu menyempatkan diri melihat kedua anak ku yang sedang berada di ruang tengah bersama sang Nenek.

Kulihat Aira sedang duduk di samping Neneknya sambil mulutnya berceloteh menceritakan sesuatu kepada Sang Nenek. Sementara Aldi, duduk di sofa sambil menonton tv, tubuhnya bersandar, terlihat masih lemas.

Aku tersenyum melihat mereka. Kemudian aku berjalan menuju dapur, untuk menyiapkan makan malam. Sebelum aku melangkah. Suara Ibu mertua terdengar memanggilku. Aku langsung menghentikan langkahku.

"Jasmine.!!" Seru beliau.

"Iya, Bu?" Tanyaku.

"Tolong ambilkan Ibu air putih." Jawabnya.

Aku pun mengangguk dan segera mengambilkan segelas air putih untuk beliau.

"Ini, Bu." ucapku seraya meletakkan gelas di atas meja.

"Ya, terimakasih." ucap Bu Lastri singkat.

Aku hendak langsung kembali ke dapur. Namun, suara Ibu terdengar kembali, mencegah langkahku.

"Jasmine, kamu itu setiap kali Ibu datang pasti selalu sibuk sendiri. Tidak bisakah kamu menemani Ibu mengobrol. Kalau ada tamu datang kerumah, harus nya di temani, bukan malah di diamkan." Ucap Bu Lastri halus ,namun kata-katanya begitu menusuk.

"Jasmine minta maaf, Bu. Seharian ini pekerjaan rumah banyak yang belum Jasmine selesaikan." Jawabku.

"Pekerjaan rumah tidak akan pernah habis, Jasmine." Ucap Beliau.

Aku terdiam. Kalimat yang di ucapkan Ibu barusan benar adanya. Setiap hari pekerjaan rumah tidak akan pernah ada habisnya. Tapi jika aku tidak mengerjakannya, siapa lagi yang akan mengerjakan?

"Iya,Bu. Jasmine tau. Tapi sekarang Jasmine mau menyiapkan makan malam dulu. Nanti kalau sudah selesai, Jasmine akan menemani Ibu. Sekarang Biar Abang sama adik yang menemani Ibu dulu." Jawab ku pelan.

"Kenapa kamu jadi membantah terus ucapan Ibu, dari tadi Ibu bicara, tapi kamu selalu menjawab terus. Mau kamu itu apa?" ucap Bu Lastri, nadanya meninggi.

"Jasmine tidak ada niatan sama sekali membantah ucapan Ibu. Niat jasmine adalah memberikan yang terbaik untuk Ibu, supaya Ibu merasa nyaman disini." Kataku dengan nada halus, berharap Ibu bisa memahami setiap Ucapanku.

Namun, ternyata aku salah. Ibu malah semakin tidak terima.

"Kamu mulai lagi, terus saja menjawab perkataan Ibu. Siapa yang mengajarimu seperti ini. Tidak sopan sama orang tua." Seru Ibu mertuaku sambil menunjuk ke arahku.

"Maaf, Bu. Niat jasmine baik. Bukan niat Jasmine untuk tidak sopan." ucapku.

Aku menundukkan kepala, tapi bukan karena merasa bersalah, melainkan karena aku tidak mau Ibu dan kedua anak ku melihat kedua mata ku mulai berkaca-kaca.

Aku sudah berusaha. Semenjak pagi aku sudah berusaha. Aku bangun pagi. Aku memasak untuk suami dan anak-anak ku. Aku membersihkan rumah. Mengurus Aldi yang sakit. membersihkan kamar tamu. Menyambut Ibu mertuaku dengan ramah.

Dan sekarang, saat aku hanya mengatakan ingin menyelesaikan masakan untuk makan malam Ibu dan keluarga, justru aku di anggap membantah.

Nada bicara Ibu yang semakin meninggi membuatku menatap ke arah Aldi dan juga Aira. mereka berdua terlihat terdiam dengan wajah sedikit ketakutan. Tanpa menunggu waktu, langsung saja ku raih tangan kedua anakku, lalu membawanya kekamar. Aku tidak ingin kedua anak ku mendengarkan perkataan yang tidak baik yang diucapkan neneknya. Jadi , bukan maksudku untuk menjauhkan mereka dari sang Nenek, tapi justru aku ingin mereka tetap selalu menghormati dan menyayangi neneknya.

"Abang sama Adik, ayo ikut Mama kekamar." Ucapku seraya menggandeng tangan kedua anak ku sisi kiri dan kanan.

Mereka berdua langsung menganggukkan kepala. Dan berjalan bersamaku menuju kamar.

"eh Jasmine, mau di bawa kemana cucu-cucuku. Ibu belum selesai bicara. Dasar menantu tidak sopan." Seru nya.

Aku tidak mempedulikan perkataan Ibu mertuaku. Aku terus saja berjalan bersama aldi dan Aira menuju kamar.

Begitu sampai di dalam kamar. Aku menutup pintu secara perlahan. Kemudian aku berjongkok di depan kedua anak ku.

"Abang sama Adik, kalian berdua main di kamar dulu, ya. Mama mau bicara sama nenek dulu sebentar." Kataku pelan.

"Mama, kenapa nenek tadi marah-marah sama Mama.?" Tanya Aldi polos.

Petanyaan Aldi membuatku terdiam sejenak. Aku tidak ingi salah bicara, aku tidak ingin mereka menilai buruk tentang nenek nya.

"Nenek tidak marah, sayang. Memang begitu nada bicara nenek. Nenek itu sayang sama kita semua. Nenek juga sayang sama Mama." Jawabku , mencoba menjelaskan kepada Aldi.

Aldi menganggukan kepala, seolah mengerti dengan ucapanku. Ku usap lembut kepala mereka bergantian. Kemudian melangkah keluar kamar untuk menemui Ibu lagi.

Tak terasa air mataku menetes. Buru-buru aku langsung mengusapnya.

Ketika sampai diruang tengah, terlihat beliau sedang duduk di sofa dengan raut wajah yang terlihat masih kesal.

Beliau melihat ku yang datang lagi sendirian, tanpa Aldi dan Aira.

"Lho, dimana cucu-cucku?" Tanya nya kepadaku.

"Mereka dikamar, Bu." Jawab ku pelan.

Wajah Ibu mertuaku seketika berubah.

"Kamu ini , Jasmine.. Ada nenek nya disini. Kamu malah mengurung mereka di dalam kamar. Kamu cuma menganggur dirumah saja sudah berani kurang ajar sama Ibu, apa lagi kalau kamu bisa cari uang sendiri, pasti sombong kamu sama Ibu." Ucap Ibu mertuaku dengan nada yang semakin tinggi.

"CUKUP, BU. JASMINE MOHON IBU DIAM!!" Teriaku kepada beliau.

Kali ini aku benar-benar sudah tidak mampu lagi menahannya. Entah keberanian dari mana yang aku dapatkan, sehingga aku berani berkata seperti itu kepada Ibu mertuaku. Mungkin karena hari ini aku sudah benar-benar lelah untuk terus diam dan mengalah.

Ibu mertuaku seketika langsung terdiam setelah mendengar teriakanku. Selama 10 tahun lebih aku menjadi menantunya, baru kali ini aku berani berteriak kepadanya. Biasanya aku selalu diam, patuh dan menurut dengan semua yang beliau perintahkan. Namun kali ini, aku sudah tidak sanggup.

"Saya mohon sama Ibu, cukup. Saya hanya ingin Ibu bisa mengerti sedikit saja. Saya ini bukan malaikat, bu. Saya itu hanya manusia biasa, yang punya batas kesabaran. Tidak ada niatan dalam diri saya untuk merugikan Ibu atau pun Mas Rama. Selama ini saya hanya ingin menjadi sosok istri, menantu, dan Ibu yang baik. Saya tidak meminta balasan apapun, Saya hanya minta...dihargai. Tapi kenapa semua yang saya lakukan selalu saja salah. Ibu selalu mencari kesalahan saya. Tolong, bu pahami Jasmine sedikit saja." Ucapku di selak isak tangis.

Perasaan ku merasa sedikit lebih lega, karena sanggup mengeluarkan beban yang selalu kutahan.

Aku adalah seorang perempuan biasa yang pasti akan merasa lelah, akan merasa terluka jika tidak pernah di hargai.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Jangan lupa follow, yaa 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!