Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Fahri yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk sopan. “Terima kasih, Bu.”
Perempuan itu tersenyum. “Saya juga baru tahu rumah ini sudah ditempati. Kemarin saya lihat lampu menyala, tapi belum pernah ketemu orangnya.”
Tira tertawa kecil. “Iya, Bu. Kami memang jarang di rumah.”
“Kalian kerja dua-duanya?”
“Iya, Bu.”
“Pantes.” Perempuan itu mengangguk-angguk. “Kalau begitu, kapan-kapan main ke rumah saya. Biar kenal dengan keluarga.”
“Siap, Bu,” jawab Fahri.
Namun sebelum perempuan itu berbalik pergi, Tira tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh kepada Fahri, lalu kepada tetangganya. “Bu. Akhir pekan nanti Ibu sama keluarga makan siang di rumah kami, ya.”
Fahri langsung menoleh kepada istrinya. Tira tidak menyadarinya.
“Makan siang?” tanya perempuan itu.
“Iya, Bu. Sekalian kami kenalan resmi.”
Perempuan itu langsung tersenyum lebar. “Wah, boleh sekali!”
“Ajak suami dan anak-anak, Bu. Kalau ada yang lain juga boleh.” Fahri akhirnya ikut tersenyum.
"Kalau suami saya sudah nggak ada, di sini saya tinggal sama dua anak saya, tapi akhir pekan nanti biasanya anak sulung saya pulang. Saya ajak sekalian ya."
“Silakan, Bu. Kami senang kalau Ibu sekeluarga datang.” Setelah perempuan itu berpamitan dan berjalan menuju rumahnya, Tira baru menyadari Fahri sedang menatapnya. “Kenapa?” tanyanya polos.
Fahri mengangkat alis. “Bukannya kita punya acara akhir pekan?”
Tira mengangguk. “Punya, rencananya mau pulang ke rumah orangtuaku, tapi kita undur hari Minggu saja ya.”
“Terus yang masak siapa?”
Tira terdiam. Ia baru sadar bahwa undangan itu keluar dari mulutnya begitu saja. “Ya...” Tira berpikir cepat. “Kita masak.”
Fahri tertawa. “Kita? Kamu bisa masak sebanyak itu?”
Tira langsung tersinggung. “Bisa.”
“Menu apa?”
Tira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Belum tahu.”
Fahri tertawa semakin lebar. “Berarti tadi mengundang dulu, mikir belakangan.”
Tira memukul lengannya pelan. “Yang penting niatnya baik.”
“Betul.” Fahri mengambil tas Tira.
Mereka masuk ke rumah sambil masih memperdebatkan menu makan siang akhir pekan. Setelah pintu tertutup, Tira meletakkan makanan pemberian tetangga di meja makan. Ia memandang rumah yang beberapa waktu lalu terasa begitu asing. Sekarang perlahan mulai ada suara tawa, ada makanan dari tetangga, ada rencana menjamu orang, dan ada dua orang yang sedang belajar menjadi bagian dari lingkungan baru. “Bang,” panggil Tira.
“Hmm?”
“Kayaknya kita harus mulai kenalan sama tetangga satu-satu.”
Fahri mengangguk. “Iya.”
Tira tersenyum. “Biar nggak dianggap rumah kosong.”
“Boleh.” Fahri membuka wadah makanan tadi. “Tapi malam ini kita makan ini dulu.”
Tira mengangguk antusias. “Setuju.”
Fahri mengambil piring. “Dan mulai besok, kamu belajar masak.”
Tira langsung menatap tajam. “Kenapa aku?”
Fahri tertawa. “Karena kamu yang mengundang.”
Tira menghela napas panjang. “Aku mulai menyesal.”
“Terlambat.” Tawa mereka kembali pecah di ruang makan. Di rumah yang masih baru itu, kehidupan mereka pun perlahan bertambah satu demi satu.
***
Akhir pekan akhirnya tiba. Sejak pagi, rumah kecil mereka di Depok sudah dipenuhi aroma masakan. Sebenarnya Tira sempat berniat membeli makanan matang saja. Lebih praktis dan tidak perlu membuat dapur berantakan.
Namun Fahri dengan santai menyanggupi untuk menjadi chef dadakan demi menjamu tetangga yang sudah lebih dulu datang menyambut mereka beberapa hari lalu. Kini semua hidangan sudah tersaji rapi di meja makan.
Ada aneka seafood yang dimasak dengan bumbu pilihan Fahri, lengkap dengan sayur sup yang menjadi kesukaan Tira.
Tira berdiri di depan meja sambil memperhatikan satu per satu hidangan itu. Matanya berbinar. “Wow. Kalau makanannya kayak begini mah kita nggak akan malu menjamu tamu. Khas restoran bintang lima.
” Fahri yang baru saja meletakkan piring terakhir menoleh sambil tersenyum tipis. “Hmm, rupanya kamu sudah jago ngegombal, ya.”
Tira tertawa kecil. “Aku cuma berkata jujur.” Ia mengambil sedikit makanan untuk mencicipi, lalu mengangguk puas.
Fahri hanya menggeleng melihat istrinya yang kini terlihat jauh lebih antusias dibanding ketika pertama kali diajak membantu di dapur. Padahal kontribusi Tira pagi itu tidak banyak. Ia sempat mencuci beberapa sayuran, memotong bahan seadanya, lalu lebih sering berdiri di samping Fahri sambil mengawasi. Bahkan dua kali Fahri harus mengambil alih pisau karena potongan sayuran buatan Tira terlalu besar. Meski begitu, Fahri tidak mempermasalahkannya. Baginya, memasak untuk dua orang saja sudah menyenangkan, apalagi kali ini mereka akan berbagi makanan dengan tetangga baru.
Tira kemudian merapikan piring dan gelas di meja. Sesekali ia mencuri pandang kepada Fahri yang sedang memastikan semuanya siap. Ada rasa bangga yang sulit ia sembunyikan. Dulu ia membayangkan kehidupan setelah menikah akan terasa kaku dan penuh kewajiban.
Ternyata bersama Fahri, hal-hal sederhana seperti menyiapkan makan siang pun bisa terasa menyenangkan. Belum sempat mereka duduk, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Tira spontan menoleh kepada Fahri. “Tamu kita datang.”
Fahri mengangguk. Tira segera membetulkan kerudungnya, sementara Fahri mengusap tangannya dan memastikan meja makan sudah siap.
Ketika pintu dibuka, senyum Tira langsung lenyap. Di depan rumah berdiri Bu Fatma bersama Dimas dan kedua adiknya. Tira seketika terdiam. Fahri yang berada di sampingnya ikut tertegun. Dimas pun tidak kalah kaget. Rupanya rumah yang baru ditempati Fahri dan Tira ternyata tepat di sebelah rumah keluarganya. Tidak ada yang menyangka pertemuan mereka akan sedekat ini.
“Ayo, masuk, Bu,” akhirnya Tira mempersilakan dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Bu Fatma masih tampak bingung melihat Tira dan Fahri, lalu menoleh kepada Dimas. “Lho, kalian saling kenal?” tanyanya polos.
Tidak ada yang langsung menjawab. Fahri kemudian mempersilakan mereka masuk dan membantu membawa beberapa hidangan ke meja makan. Suasana ruang tamu terasa canggung. Tira berusaha bersikap biasa, sementara Dimas beberapa kali mencuri pandang kepadanya.
Bu Fatma yang belum memahami hubungan rumit di antara mereka justru tampak senang mengetahui putranya ternyata sudah mengenal pasangan baru di sebelah rumah. “Tuh lihat, Mas Fahri sama Mbak Tira sudah nikah. Semoga kamu juga cepat dapat jodoh, ya, Dim.”
Tira tertegun. Kalimat itu sederhana, tetapi justru membuat pikirannya kembali pada masa lalu. Ibu Dimas ternyata ingin putranya segera menikah. Lalu mengapa selama delapan tahun Dimas selalu menghindari pembicaraan tentang pernikahan? Mengapa ketika Tira meminta kepastian, lelaki itu justru membiarkannya pergi? Tira segera menepis pertanyaan itu. Semua sudah berlalu.
Mereka kemudian duduk di meja makan. Hidangan buatan Fahri akhirnya disantap bersama. Aneka seafood memenuhi meja, lengkap dengan sayur sup kesukaan Tira.
Bu Fatma beberapa kali memuji masakan Fahri dan suasana perlahan mencair. Tira bahkan mulai bisa berbincang santai dengan kedua adik Dimas. Hanya saja, beberapa kali Dimas hampir mengacaukan keadaan.