NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aluna Bekerja?

Aluna dan Rafa masuk ke dalam apartemen, Aluna kemudian berjalan dengan langkah penuh semangat mengikuti Rafa yang hendak meletakkan barang-barang belanjaan mereka.

***

Sementara itu disisi lain, Abra dan Kai tengah menikmati weekend disebuah cafe dengan pemandangan outdoor yang sangat menyejukkan mata.

"Jadi Lo mau cerita apa?." Tanya Abra bingung.

Ia dibuat penasaran dengan tingkah tidak biasa yang Kai lakukan diakhir pekan, biasanya ia sangat malas jika harus menggunakan hari libur singkatnya dengan percuma.

"Nanti aja. Ngomong-ngomong, tadi beneran adek Lo gak ada hubungan apa-apa sama cowok tadi?."

Bukannya menjawab pertanyaan Abra, Kai malah mengorek informasi hubungan Aluna dan Rafa.

"Gak ada. Mereka emang sedekat itu sih, Mama aja sampai gemes sama kedekatan mereka." Jelas Abra santai.

"Tapi yang gue lihat tatapan mata cowok itu ke adek lo beda deh." Ucap Kai mengutarakan pendapatnya.

"Iya kan? Gue juga notice kok." Jawab Abra tertawa kecil karena ia juga merasakan hal yang sama dengan Kai saat melihat Rafa menatap Aluna.

"Terus lo biarin adek Lo berduaan sama dia di apartemen?."

Abra yang tadinya tersenyum langsung menatap Kai heran.

"Tatapan Rafa sama Aluna emang beda, kentara banget dia cinta banget sama Aluna. Tapi, kalau Lo khawatir dia macam-macam sama Aluna...kepala gue jadi taruhannya."

Abra meyakinkan Kai kalau dia tidak harus waspada jika adiknya bersama dengan Rafa.

"Rafa bisa banget diandalkan dalam hal menjaga Aluna, gue yakin tuh anak udah lama banget simpan perasaannya buat adek gue dan gue juga yakin Rafa selalu menghormati adek gue sebagai perempuan." lanjutnya memuji Rafa secara terang-terangan.

Ia sangat yakin Rafa adalah orang yang sangat bisa dipercaya, terlebih lagi ia sudah mengenal Rafa dari mereka kecil.

"Lo sepercaya itu yah sama dia."

"Iyalah, sama kek gue sepercaya itu sama lo."

Mendengar ucapan Abra membuat raut wajah Kai berubah.

"Tapi gue udah gak jujur sama lo beberapa hari terakhir ini." Ucap Kai mulai membuka obrolan mereka mengenai tujuannya mengajak Abra bertemu hari ini.

"Soal apa?." Tanya Abra penasaran.

"Lo janji dulu sama gue gak akan marah, jujur gue berniat nge keep cerita ini sampai sebulan kedepan, tapi tiap hari gue merasa bersalah sama lo."

Kai mewanti-wanti Abra agar ia tidak marah setelah menceritakan semuanya padanya.

"Apaan sih emangnya?." Abra dibuat semakin penasaran

"Janji dulu Lo gak marah."

"Iya gue janji, kapan sih gue bisa marah sama lo."

Setelah itu Kai diam beberapa saat, ia berusaha mengatur kata-katanya agar Abra tidak langsung emosi.

"Oke. Jadi tuh Aluna, adek lo..." Ia menggantung kata-katanya sebentar

"Dia kerja diperusahaan gue, udah hampir seminggu." Lanjutnya

Kai melihat reaksi Abra terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.

"Awalnya gue mau tepati janji gue sama adek Lo untuk simpan rahasia ini sampai sebulan kedepan, tapi jujur gue gak tenang kalau harus sembunyikan ini dari lo." Ucap Kai sejujur mungkin.

Abra masih berusaha mencerna kata-kata dari Kai.

"Aluna kerja? Buat apa?." Tanyanya tidak mengerti.

"Katanya dia mau ngebuktiin kalau dia bisa berdiri dikaki dia sendiri." Jawab Kai yang langsung dihadiahi tatapan Abra yang mulai naik emosinya.

"Mau ngebuktiin ke siapa sih? Kita sekeluarga gak pernah nuntut dia buat bekerja loh."

Suara Abra yang tadi masih tenang sudah mulai dengan intonasi yang beda, terdengar jelas ia sangat kesal.

"Ini yang mau gue omongin sama lo."

"Udah tenang?." Tanyanya menunggu Abra lebih tenang dulu

"Lanjut aja." Jawab Abra yang masih berada dalam emosi yang sama.

"Adek Lo itu gak suka selalu dikhawatirkan secara berlebihan, dia capek terus-menerus dianggap sesuatu hal yang harus dijaga terus-terusan." Kai mulai membuka soal sesuatu yang dianggap "beban" oleh Aluna.

"Yah namanya juga anak perempuan satu-satunya, jelas lah dia selalu dikhawatirkan." Cibir Abra tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya.

"Gak bisa gini, gue harus balik ke apartemen Rafa dan bicara sama dia."

Abra sudah bersiap ingin menemui Aluna sekarang juga, tapi Kai langsung menahannya.

"Lo udah janji yah gak bakal marah." Kata Kai memperingatkan.

"Jelas marah lah. Ini baru gue yang tau yah, kalau Mama sama Papa juga udah tau, bisa dimarahi habis-habisan adek gue."

"Gue harus bicara sama adek gue buat segera mengundurkan diri sebelum hal ini sampai ke telinga orangtua gue."

Terlihat jelas raut wajah khawatir Abra, Kai pun semakin mengerti apa yang dimaksud oleh Aluna.

"Duduk dulu." Pinta Kai sembari menarik Abra agar kembali duduk ditempatnya.

"Bukan itu inti yang mau gue bahas sama lo."

"Masih ada lagi?." Tanya Abra yang masih dikuasai emosi.

"Abra. Lo coba mikir deh, kenapa adek Lo sampai ngotot mau kerja sendiri?." Ucapnya

"Cuma gabut doang dia tuh." Jawab Abra sangat yakin.

"Salah. Adek Lo mau belajar mandiri, kenapa harus ditekan sama keluarga lo? padahal Aluna cuma mau mencoba mandiri."

"Oke dia anak perempuan satu-satunya, dia punya segalanya ditangannya...tapi namanya takdir gak ada yang tau Abra, seenggaknya sekarang adek Lo punya satu hal yang ia sukai dan mati-matian ia pertahankan."

Kai terus berusaha mencoba membuat Abra mengerti dengan posisi adiknya.

"Dia gak harus kerja Kai! kalau kedepannya ada masalah dikeluarga kami yang gak di minta-minta, pasti kami akan terus berusaha untuk Aluna. Selamanya Aluna gak akan kesusahan hidupnya, gue sebagai kakaknya jamin itu." Ucap Abra penuh penekanan

"Gue percaya sama Lo, tapi Lo juga harus percaya sama adek lo dong."

Sebisa mungkin Kai tidak turut jatuh dalam emosi Abra, ia terus mengontrol dirinya agar tetap menghadapi Abra dengan tenang.

"Dia cuma mau hidup sesuai apa yang dia mau. Waktu adek lo mohon-mohon ke gue supaya gak kasih tau ke lo kalau dia kerja di tempat gue, gue bisa lihat dimatanya tuh penuh ketakutan kalau sampai Lo tau itu."

"Artinya apa? sekeras itu dia mau hidup sesuai apa yang dia mau. Dia bahkan bilang ke gue, dia baru saja ngelakuin hal yang dia suka dan kalau Lo tau itu, dia takut Lo bakal suruh dia berhenti."

Sebisa mungkin Kai mengetuk hati Abra agar ia mau memahami Aluna

"Tapi kenapa harus kerja sih Kai? Dia mau ngebuktiin ke siapa? Apa ke Andrew yang selalu mencibir dia? Dia gak perlu mikirin itu."

"Gak bisa gini, gue harus suruh dia berhenti sekarang juga."

Sekali lagi Abra bangkit dari tempat duduknya, tapi Kai kembali ikut bangkit dan menariknya duduk kembali ke tempatnya.

"Kantor aja masih libur, Abra." Cibirnya ditengah emosi Abra yang meluap-luap.

"Gue ada dipihak adek lo Abra, lo harus lihat dia dengan tegas mempertahankan argumennya, adek lo sekeren itu gak gampang terintimidasi karena dia yakin dia benar." Ucap Kai mengingat kejadian beberapa hari lalu dikantor.

"Tetap aja gak boleh."Kata Abra tetap pada pendiriannya.

Kai menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan kasar saat menghadapi ketegasan Abra.

"Oke gini aja, kali ini gue yang minta tolong sama Lo. Gue udah janji sama adek Lo bakal nyimpan rahasia ini sampai sebulan ke depan, tapi saking gue gak mau bohong sama lo, gue sampai ingkari janji gue."

"Sekarang gue minta sama lo, tolong lo simpan rahasia ini dari orangtua lo sebulan aja. Cukup sampai waktu yang adek Lo minta ke gue, dan..."

"Gue juga mau Lo sesekali datang dan lihat adek Lo bekerja, dia sesenang itu tau gak, matanya selalu berbinar seakan hal yang ia inginkan selama ini sudah ia dapatkan."

"So, sebulan kedepan gue gak akan larang Lo untuk semua hal yang akan lo lakuin ke adek lo. Mau lo suruh dia berhenti saat itu juga pun gue gak akan ikut campur, tapi untuk sekarang please kasih kesempatan ke adek lo buat menjalani apa yang sangat dia inginkan, setidaknya sebulan ini aja."

Abra menatap Kai dalam, ia bahkan tidak bisa lagi mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Kai barusan.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!