Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pernikahan 07.
Aroma kopi luwak yang pekat bercampur dengan wangi kayu manis dari pemanggang di sudut Coffee & Beyond. Kafe ini sengaja dipilih oleh Langit karena letaknya yang cukup jauh dari area sekolah mereka—hampir tiga puluh menit perjalanan dengan motor jika memotong jalur tikus. Di sudut paling belakang, terhalang oleh pot besar tanaman monstera, Langit duduk melipat tangan di atas meja kaca.
Seragam putih-abu-abunya masih melekat, hanya saja dasinya sudah dimasukkan ke dalam saku celana dan dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka.
Matanya lurus menatap pintu masuk. Setiap kali lonceng pintu berdenting, rahangnya mengencang.
Pukul 16.15. Dia terlambat lima belas menit.
Saat Langit hampir memutuskan untuk berdiri dan pergi, sosok itu muncul.
Ulfa berjalan dengan langkah tergesa-gesa, tas ransel hitamnya menyampir di satu bahu. Rambut kuncir kudanya sedikit berantakan karena angin sore. Wajahnya pucat, tipikal Ulfa yang selalu terlihat seperti menanggung beban seluruh dunia di pundaknya yang ringkih.
Ulfa menangkap pandangan Langit, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi di hadapan Langit dan duduk.
"Macet," kata Ulfa singkat. Suaranya agak serak. Dia tidak repot-repot meminta maaf.
Langit hanya menaikkan satu alisnya. "Gue pikir lu sengaja mau kabur."
"Gue nggak pernah lari dari masalah, Langit. Lu tahu itu," balas Ulfa dingin. Matanya yang bulat menatap tajam, mencoba menutupi getaran halus pada jemarinya yang kini bertumpu di pangkuan.
Keheningan canggung sempat merayap di antara mereka. Pelayan kafe datang, menerima pesanan ice americano dari Langit dan hot chamomile dari Ulfa, lalu kembali pergi.
Kehadiran pihak ketiga yang singkat itu seperti memberi jeda bagi keduanya untuk menata detak jantung masing-masing.
"Jadi," Langit membuka percakapan setelah pelayan mengantarkan minuman mereka. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan selembar kertas polio bergaris dan sebuah pulpen gel hitam. "Lu yang minta ketemuan. Lu bilang lu punya solusi."
Ulfa menatap kertas itu, lalu menatap mata Langit. Ada kilat keputusasaan yang berusaha disembunyikannya di balik tatapan tegas itu. "Kita berdua tahu kita nggak bisa nolak kemauan kakek lu dan bokap gue. Bulan depan, setelah ujian tengah semester, mereka mau kita nikah legal. Gila, kan?"
"Sangat," sahut Langit datar, meski tangannya yang memegang pulpen sedikit mengetat. "Tapi lu tahu posisi gue. Aset gue bakal ditahan sama kakek kalau gue ngebangkang."
"Gue juga nggak punya pilihan, Langit. Bokap gue butuh suntikan dana dari perusahaan kakek lu buat perusahaan keluarga gue," suara Ulfa melembut di ujung kalimat, ada retakan emosi yang nyata di sana. Ia menunduk, menatap cangkir tehnya yang mengepul. "Kita dijebak oleh keadaan."
Ulfa mengembuskan napas panjang, lalu menegakkan punggungnya. Ia menarik kertas polio di depan Langit ke arahnya. "Makanya, kita butuh aturan main. Kalau kita harus masuk ke neraka ini, setidaknya kita pakai baju pelindung."
"Maksud lu?"
"Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak," ucap Ulfa jelas, setiap suku kata terasa berat namun mantap.
Langit mendengus, hampir tertawa sinis. "Lu kebanyakan nonton drama, Ulfa. Ini dunia nyata."
"Justru karena ini dunia nyata, Langit!" potong Ulfa, suaranya naik satu oktav namun buru-buru ia tekan agar tidak menarik perhatian meja lain. Ia memajukan badannya. "Di dunia nyata, orang bisa saling menyakiti kalau nggak ada batasan. Lu punya kehidupan lu. Gue punya ambisi gue. Gue mau kuliah kedokteran, dan gue nggak mau mimpi gue hancur cuma karena status 'istri' di umur 18 tahun. Kita buat kesepakatan tertulis. Di depan orang tua kita, kita akting. Di belakang mereka, kita asing."
Langit terdiam. Ia memperhatikan garis wajah Ulfa. Gadis di depannya ini ketakutan—ia bisa melihatnya dari cara Ulfa menggigit bibir bawahnya hingga memutih—tapi ia juga luar biasa keras kepala. Apa yang dikatakan Ulfa masuk akal. Tanpa batasan, pernikahan paksa ini akan menjadi penjara yang saling menghancurkan mereka.
"Oke," kata Langit akhirnya. Ia merebut kembali pulpen hitamnya. "Kita tulis sekarang. Lu yang sebutin pasalnya, gue yang tulis."
Ulfa mengangguk. Matanya berkejaran dengan pikiran di kepalanya. "Pasal satu. Tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Lu bebas pergi sama siapa aja, pulang jam berapa aja, dan gue nggak akan pernah nanya atau ngelarang. Begitu juga sebaliknya."
Langit menuliskan kalimat itu dengan tulisan tangannya yang besar dan tegas. "Pasal dua," timpal Langit sambil menulis. "Batasan fisik. Di luar rumah, kalau di depan orang tua atau publik yang kenal kita, kita boleh pegangan tangan atau sewajarnya buat formalitas. Di dalam rumah... kita tidur di kamar terpisah. Jangan pernah lewatin batas pintu kamar masing-masing."
Ulfa menelan ludah. Kata-kata 'tidur di kamar terpisah' membuat dadanya berdenyut aneh. Kenyataan bahwa mereka akan tinggal satu atap mendadak terasa begitu riil dan menakutkan. Namun ia mengangguk setuju. "Setuju.
Pasal tiga. Rahasia mutlak. Perjanjian ini, dan semua konflik di dalam rumah tangga kita nanti, nggak boleh diketahui oleh siapa pun. Termasuk sahabat lu Gio, atau temen-temen dekat gue."
"Gue nggak sebodoh itu buat cerita ke Gio," gumam Langit. Pulpennya terus menggores kertas, menciptakan bunyi gesekan yang ritmis di antara keheningan mereka. "Ada lagi?"
"Pasal terakhir," Ulfa menatap Langit lurus-lurus, mencoba mencari sisa-sisa kemanusiaan di mata cowok itu. "Jangka waktu. Kontrak ini berlaku selama satu tahun sejak hari pernikahan. Setelah itu, kita cari alasan yang logis buat cerai secara baik-baik di depan keluarga. Tanpa ada yang dirugikan."
Gerakan tangan Langit terhenti sejenak mendengarkan kata 'cerai'. Di umurnya yang baru tujuh belas tahun, merencanakan perceraian terasa sangat surealis. Namun, ia menyelesaikan tulisan itu dengan titik yang ditekan kuat.
Langit memutar kertas tersebut ke arah Ulfa. Di bagian bawah kertas, ia sudah menuliskan dua kolom nama mereka untuk tanda tangan.
"Lu yakin sama ini?" tanya Langit, suaranya mendalam, kehilangan nada sinisnya yang biasa. Matanya menatap Ulfa dengan kilatan emosi yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, ada rasa kasihan, dan ada ketidakberdayaan yang sama besarnya.
Ulfa menatap lembar kertas itu. Tulisan tangan Langit yang rapi merangkum masa depan mereka yang terenggut.
Jemarinya gemetar saat mengambil pulpen dari tangan Langit. Dinginnya kulit mereka sempat bersentuhan selama satu detik, mengirimkan sengatan asing yang membuat Ulfa refleks menarik napas.
"Gue nggak punya pilihan lain, Langit," bisik Ulfa.
Dengan satu tarikan napas berat, Ulfa membubuhkan tanda tangannya di atas nama Ulfa Apriyani. Setelah selesai, ia menggeser kertas itu kembali. Langit tidak ragu. Dengan gerakan cepat, tanda tangan Langit Pradipta terukir di sana.
Kertas itu kini resmi menjadi ikatan suci—atau kutukan—bagi mereka. Langit melipat kertas itu menjadi empat bagian, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam almamater sekolahnya yang tergantung di sandaran kursi.
"Urusan kita selesai di sini," kata Langit sambil berdiri. Ia meletakkan selembar uang seratus ribu di atas meja untuk membayar minuman mereka. "Sampai ketemu di sekolah besok. Dan ingat... jangan lihat gue seolah-olah kita kenal di koridor."
Ulfa tidak menjawab. Ia hanya memandang punggung Langit yang berjalan menjauh, menembus tirai lampu kafe yang mulai menyala sore itu. Begitu punggung cowok itu menghilang di balik pintu kaca, Ulfa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata erat-erat membiarkan satu tetes air mata yang sejak tadi ditahannya, luruh melewati pipinya yang dingin.
Remaja lain seusia mereka sedang sibuk memikirkan ekskul, turnamen game, atau menyatakan cinta di lapangan sekolah. Sementara mereka baru saja menandatangani surat perjanjian untuk akhir dari masa remaja mereka sendiri.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳