NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KLARIFIKASI DI BAWAH TEKANAN

Suara bising di luar pagar utama rumah kian memekakkan telinga. Desakan para wartawan, kilatan lampu kamera yang menembus celah ventilasi, serta riuh rendah suara jemaah yang menuntut kejelasan membuat suasana di dalam ruang tamu serasa terisolasi di tengah kepungan badai.

Umi Khadijah perlahan mendudukkan tubuhnya di sofa, dibantu oleh Nabila. Tangan wanita paruh baya itu masih mengusap dadanya pelan, mencoba meredakan gejolak kekecewaan yang belum sepenuhnya surut. Sementara Nabila berdiri mengawasi kami dengan mata berair pandangan sahabat sebayanya itu masih sarat akan rasa terkejut dan sedikit terkhianati atas rahasia besar yang baru saja terkuak.

Ammar memutar tubuhnya menghadapku. Jemari tegapnya meremas lembut kedua bahuku, menyalurkan kehangatan dan keheningan di tengah kepanikan yang melanda.

"Aisyah, kamu dan Ibu masuk ke kamar atas dulu bersama Awan," bisik Ammar halus, memotong kepanikanku. "Jangan keluar atau melihat ke jendela sampai situasi terkendali."

"Tapi, Mas Ammar..." tegasku bergetar, memegang lengan kemejanya. "Di luar banyak orang. Bagaimana kalau mereka..."

"Percaya sama suami kamu," potong Ammar mantap, menatap lurus ke dalam manik mataku dengan pendar keteguhan yang tak tergoyahkan. "Saya yang membawa kamu ke dalam kehidupan saya, maka saya juga yang akan memastikan tidak ada satu pun batu yang bisa melukaimu."

Ia mengecup keningku singkat namun sarat akan perlindungan. Dengan berat hati, aku mengajak Ibu dan Awan untuk naik ke lantai dua, meninggalkan ruang tamu yang kini menjadi medan pertarungan nama baik dan harga diri keluarga.

Di lantai bawah, Ammar berjalan mendekati ibunya. Ia berlutut di hadapan Umi Khadijah, merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan sang ibu.

"Umi... Ammar mohon ridho dan restu Umi," tutur Ammar parau. "Ammar tahu Ammar salah karena tidak mengabari Umi sejak awal. Tapi Ammar tidak pernah menyesali pernikahan ini. Aisyah adalah wanita sholehah yang dikirimkan Allah untuk Ammar. Hari ini, Ammar harus keluar menemui mereka untuk meluruskan semuanya. Ammar mohon doa dari Umi."

Umi Khadijah menatap putra kesayangannya itu dengan mata berair. Segala kemarahan yang tadi membakar perlahan meluluh begitu melihat keteguhan hati dan ketulusan di mata Ammar. Bagaimanapun, Ammar adalah darah dagingnya seorang ulama muda yang selama ini dikenal memegang teguh prinsip kebenaran.

Dengan tangan bergetar, Umi Khadijah mengusap kepala Ammar. "Pergilah, Nak... Luruskan niatmu karena Allah. Jaga kehormatan keluargamu dan wibawa agamamu."

"Terima kasih, Umi." Ammar mencium telapak tangan ibunya dengan takzim, lalu bangkit berdiri.

Ia menoleh ke arah Nabila yang masih terdiam di samping sofa. Nabila memalingkan wajahnya tipis, namun matanya memancarkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan untuk sang kakak.

"Nabila," panggil Ammar pelan. "Aisyah tidak pernah bermaksud membohongimu. Dia hanya berusaha melindungimu dari rumitnya masalah ini. Jangan benci dia."

Nabila menghembuskan napas panjang di balik niqabnya, memilih tidak menjawab namun anggukan tipisnya menjadi pertanda bahwa dinding pertahanannya mulai goyah.

Ammar mengancingkan jas koko hitamnya, lalu melangkah mantap menuju pintu depan didampingi oleh Ustaz Ridwan dan Pengacara Lukman.

Begitu pintu kayu tebal itu terbuka dan Ammar melangkah keluar menuju teras, gemuruh riuh seketika pecah dari balik pagar besi!Puluhan kamera wartawan terangkat, memancarkan kilatan lampu blitz yang bertubi-tubi.

"Habib Ammar! Apakah benar Anda membatalkan perjodohan dengan Syarifah Zahra secara sepihak?!"

"Bagaimana dengan kabar pernikahan siri Anda dengan wanita misterius ini?!"

"Apakah berita di portal media pagi ini benar, Habib?!"

Seruan-seruan bernada provokatif itu bersahutan memecah udara pagi.

Ammar berjalan tenang melintasi halaman, berdiri tepat di balik pagar besi yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan kompleks dan pengurus pesantren. Wajah tampannya memancarkan wibawa yang amat dingin dan tegas, membuat kerumunan wartawan perlahan-lahan menurunkan volume suara mereka.

Ammar mengangkat satu tangannya, meminta ketenangan.

"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh," suara bariton Ammar menggelegar tenang namun mengintimidasi melalui pengeras suara kecil yang dipegang Ustaz Ridwan.

Suasana mendadak hening.

"Terkait pemberitaan yang beredar liar sejak tadi malam," lanjut Ammar dengan pandangan lurus menatap kamera-kamera di hadapannya. "Saya berdiri di sini untuk menyampaikan konfirmasi resmi agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih luas di tengah jemaah dan masyarakat."

Para wartawan mendekatkan mikrofon mereka ke celah pagar.

"Pertama, mengenai hubungannya dengan keluarga Kyai Dahlan dan Syarifah Zahra," ujar Ammar lugas. "Tidak pernah ada ikatan pernikahan maupun pertunangan resmi di antara kami. Rencana perjodohan yang selama ini beredar hanyalah wacana inter internal yang belum mengikat secara hukum maupun agama. Maka, tidak ada istilah pembatalan sepihak atau pengkhianatan."

Bisik-bisik mulai terdengar di antara para wartawan.

"Kedua," Ammar memberi jeda sejenak, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menegaskan statusku di mata dunia. "Mengenai wanita yang bernama Aisyah... beliau adalah benar istri sah saya."

BOM!

Suasana kembali gempar! Kamera-kamera mengambil foto wajah Ammar dari berbagai sudut.

"Kami telah menikah secara sah menurut syariat Islam beberapa waktu lalu," tegash Ammar tanpa keraguan sedikit pun. "Dan keberadaan pihak KUA serta pengacara pagi ini adalah untuk mendaftarkan proses isbat nikah agar pernikahan kami tercatat resmi di mata hukum negara Republik Indonesia."

Seorang wartawan memberanikan diri berteriak menanyakan hal sensitif. "Habib Ammar! Beredar rumor bahwa latar belakang istri Anda bukan dari kalangan keluarga terpandang atau habaib! Apakah ini yang membuat pernikahan Anda dilaksanakan secara tertutup?!"

Ammar menatap wartawan tersebut dengan sorot mata yang tajam dan dingin.

"Islam tidak pernah mengukur kemuliaan seseorang dari harta, tahta, atau garis keturunan semata, melainkan dari ketakwaan dan kebersihan hatinya," jawab Ammar menohok, membuat wartawan itu bungkam seketika. "Aisyah adalah wanita pilihan saya, kehormatan saya, dan takdir yang dikirimkan Allah untuk melengkapi hidup saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan atau mengusik kehidupan pribadi istri saya."

Ammar memutar tubuhnya, membelakangi kerumunan media yang masih terperangah oleh ketegasan suaraku.

Dari balik jendela kaca lantai dua, aku menyaksikan seluruh kejadian itu dengan air mata bahagia yang menetes deras. Di hadapan ratusan pasang mata dan kamera media, Ammar telah mempertaruhkan nama besarnya untuk mengakui dan melindungiku sebagai istrinya. Badai di luar sana mungkin belum sepenuhnya usai, namun benteng yang dibangun Ammar pagi ini terlalu kokoh untuk diruntuhkan oleh sekadar prasangka manusia.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!