Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRAHARA DAN LUKA PENYESALAN
# PELET LAKNAT 2
## Bab 31: Prahara dan Luka Penyesalan
Sementara di tempat lain—lebih tepatnya di kediaman Pak Kiai Abdullah di lingkungan pesantren—suasana duka nan pilu tengah menyelimuti seisi ruangan. Isak tangis pecah tanpa tertahankan saat kedua orang tua Kiki akhirnya tiba dan menyaksikan langsung kondisi mengenaskan putra mereka.
Ibu Kiki langsung bersimpuh di samping ranjang, merangkul erat tubuh anaknya seraya menumpahkan air mata histeris. Sang ayah hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu, menatap Kiki dengan raut wajah syok, kening berkerut dalam, dan dada yang naik-turun menahan sesak. Mereka tak pernah menyangka, anak laki-laki yang mereka banggakan kini harus menderita bisu secara mendadak tanpa kejelasan medis.
Kiki hanya bisa tertunduk lesu dengan mata sembap. Tangannya gemetar hebat meremas kain sarungnya sendiri hingga kusut. Mulutnya beberapa kali menganga lebar, lehernya mendongak berusaha keras memanggil ibu dan ayahnya, namun yang keluar hanyalah embusan napas berat dan erangan samar yang tak bertuan. Penyesalan atas perbuatannya selama ini menusuk-nusuk dadanya begitu tajam.
Tak berhenti sampai di situ, penderitaan Kiki seolah kian bertubi-tubi. Ayu—kekasih yang selama ini amat ia sayangi—bukannya memberikan penghiburan di kala Kiki tengah tertimpa musibah, ia justru berdiri kaku dengan menyilangkan tangan di dada. Tanpa keraguan, Ayu menyampaikan keputusan putus secara sepihak, lalu memalingkan wajahnya kaku seraya melangkah mundur. Ia sudah tak sudi lagi berhubungan dengan Kiki yang sekarang. Hal itu membuat hati Kiki makin perih; dadanya terasa dihantam beban berat, kian terpuruk di dalam dasar penderitaannya.
Kini, Kiki hanya bisa berkomunikasi lewat tulisan. Ke mana pun ia pergi, jemarinya harus selalu menggenggam erat sebuah buku catatan kecil dan pulpen, hanya untuk sekadar menyampaikan isi pikirannya.
"Ibu dan Bapak, mohon terima musibah ini dengan lapang dada. Mungkin ini ujian untuk keluarga kita agar lebih bertakwa lagi kepada Sang Pencipta," seru Pak Kiai Abdullah seraya menangkupkan kedua tangan di dada dan menatap lekat Ibu Siti yang kini masih memeluk erat anaknya.
"Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Ibu dan Bapak percaya itu, kan?" lanjut sang Kiai menenangkan, seraya mengangguk perlahan.
Mendengar itu, Ibu Siti mendongakkan kepalanya perlahan, mengusap pipinya yang basah dengan ujung selendang. Wanita paruh baya itu berbalik, menatap Pak Kiai dengan matanya yang masih sembap dan merah. "Iya, Kiai... kami mengerti. Tapi, apakah ada cara lain, Pak Kiai, untuk mengembalikan suara anak saya?" tanya Ibu Siti penuh harap, jemarinya meremas kain bajunya sendiri.
Mendengar pertanyaan itu, sang Kiai menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak mencoba mencari jawaban yang logis dan tidak menyakitkan bagi pihak keluarga Kiki.
"Soal itu kami tidak tahu, Bu. Kami di sini tidak bisa melawan takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Saya cuma bisa berdoa dan memohon untuk kesembuhan Nak Kiki, Bu," sahut sang Kiai dengan nada tegas namun tetap menenangkan, seraya menepuk pelan bahu Ustaz Ahmad di sampingnya.
Tiba-tiba, Kiki menyodorkan buku catatan kecil yang baru saja ia tuliskan sesuatu kepada ibunya. Tangannya yang gemetar menyodorkan kertas itu tepat di depan dada sang ibu. Dengan jemari gemetar, Ibu Siti menerima dan membaca tulisan tangan putranya:
(Bu... Ibu jangan sedih, Ibu yang sabar. Kiki tidak apa-apa begini, Kiki sudah ikhlas. Mungkin ini teguran buat Kiki dari Allah, Bu. Ibu jangan sedih lagi, ya.)
Setelah selesai membaca pesan singkat itu, air mata Ibu Siti kembali runtuh tak terbendung. Sang ayah yang sejak tadi mematung di ambang pintu tak sanggup lagi menahan gejolak dadanya. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri, berlutut, lalu merangkul erat tubuh putra semata wayangnya hingga kepalanya bersandar di dada sang ayah. Seketika, isak tangis pilu berbaur haru pecah memenuhi seluruh sudut ruangan.
"Alhamdulillah..." seru Pak Kiai Abdullah dan Ustaz Ahmad bersamaan, mengelus dada masing-masing seraya mengucap syukur melihat ketabahan dan keikhlasan yang kini tumbuh di dada Kiki.
Setelah suasana sedikit mereda, Kiki kembali menunduk, jemarinya menari cepat menuliskan sebuah pesan singkat pada kertas catatannya. Ia lalu menyerahkannya kembali kepada kedua orang tuanya dengan tatapan mata yang memohon.
(Bu... Pak... Kiki minta maaf, selama ini Kiki selalu menyusahkan Ibu dan Bapak. Kiki mau minta izin, mulai sekarang Kiki ingin tinggal di pesantren ini saja bersama Pak Ustaz dan Pak Kiai. Mudah-mudahan dengan bimbingan beliau-beliau ini, Kiki bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.)
Pak Jajang mengusap sisa air mata di pipinya, lalu memegang kedua pundak Kiki dengan erat. "Iya, Nak... Bapak izinkan kamu tinggal di pesantren ini. Jaga dirimu baik-baik di sini, jaga sikapmu ya, Nak!" seru Pak Jajang seraya kembali merangkul erat tubuh anaknya, disambut dekapan penuh kasih dari sang ibu yang mengelus lembut punggung Kiki.
"Alhamdulillah! Insyaallah, Ibu, Bapak, kami di sini akan berusaha membimbing Nak Kiki dengan sepenuh hati, asalkan Nak Kiki mau menaati semua petunjuk dan bimbingan kami," seru Pak Kiai dengan raut wajah haru sekaligus lega, mengangguk mantap ke arah keluarga tersebut.
Pak Jajang berdiri, memegang dada kanannya seraya membungkuk hormat. "Terima kasih, Pak Kiai, Pak Ustaz. Kami mohon tolong bimbing anak saya. Kami percaya penuh kepada Bapak-Bapak sekalian, saya serahkan anak saya kepada Pak Kiai dan Pak Ustaz," sahut Pak Jajang mantap dengan nada penuh rasa hormat.