Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat di Antara Suapan Pertama
Clyrine keluar dari ruang ganti dengan pakaian sekolahnya yang sudah rapi kembali, meski kelelahan masih terpancar jelas dari raut wajahnya.
Damien yang sudah menunggu di dekat pintu utama berbalik menatapnya. "Ayo," katanya singkat seraya mengayunkan kunci mobil di jemarinya.
Clyrine mengangguk menurut dan mengekor di belakang langkah lebar Damien. Begitu keluar dari area sasana, udara dingin khas sore hari menyapa kulit mereka. Mereka masuk ke dalam sedan hitam milik Damien. Clyrine langsung menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk, menghembuskan napas panjang seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis.
Damien menyalakan mesin, lalu memasang sabuk pengamannya sebelum melirik ke arah Clyrine yang tampak lemas.
"Kak... laper," keluh Clyrine manja, memegangi perutnya yang mulai berbunyi seraya menatap Damien dengan binar mata memohon. "Tenaga gue benar-benar habis gara-gara push-up paksa tadi."
Damien menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya Alaric itu, tetapi sudut bibirnya tertarik tipis. "Yaudah. Mau makan apa sebelum gue antar pulang?"
"Apa aja asal enak dan kenyang, Kak! Gue udah nggak sanggup mikir," sahut Clyrine cepat, menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil.
Damien melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. "Oke, kita cari makan dulu."
Mobil sedan hitam milik Damien membelah jalanan kota yang mulai diterangi pendar lampu jalan. Alih-alih berhenti di kedai pinggir jalan biasa, Damien memarkirkan kendaraannya di depan sebuah bistro bergaya klasik Eropa dengan pencahayaan hangat dan interior bernuansa kayu yang menenangkan.
Clyrine melangkah masuk mengekor di belakang Damien. Aroma gurih daging panggang, mentega, dan rempah-rempah yang meresap di udara seketika membuat perutnya makin berbunyi nyaring.
"Selamat malam, Tuan Vance," sapa pelayan dengan ramah, mengarahkan mereka menuju meja bundar di sudut ruangan yang cukup privat dekat jendela besar.
"Gue sengaja ajak ke sini," ujar Damien seraya menarikkan kursi untuk Clyrine sebelum ia sendiri duduk di hadapannya. "Makanan di sini tinggi protein, bagus buat mulihin otot lo yang baru habis diperas."
Clyrine tersenyum lebar, menyandarkan dagunya di atas kedua telapak tangan. "Pokoknya malam ini gue mau makan banyak, Kak! Kakak yang bayar, kan?"
"Iya, makan sepuas lo," sahut Damien terkekeh pelan, menyerahkan daftar menu pada gadis di depannya. "Pilih apa aja."
Tanpa malu-malu, Clyrine memesan porsi steak daging sapi ukuran besar dengan mashed potato, ditambah pasta krim serta minum cokelat hangat. Damien sendiri hanya memesan sirloin steak medium dan segelas air mineral.
Sembari menunggu pesanan datang, Clyrine mengamati paras wajah Damien dari jarak dekat. Di bawah pendar lampu bistro yang temaram, garis rahang Damien tampak makin tegas dan menawan. Tidak ada lagi aura dingin nan intimidatif seperti saat di ruang BK tadi pagi—hanya ada kehangatan yang membuat Clyrine merasa begitu tenang.
"Kenapa ngeliatin gue gitu?" tegur Damien, menyadarkan Clyrine dari lamunannya seraya memiringkan kepala.
Pipi Clyrine mendadak terasa sedikit hangat. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Nggak ada! Cuma heran aja, Kak Damien yang biasanya lempeng banget kalau main ke rumah Kak Alaric, ternyata bisa perhatian juga."
"Gue bukan perhatian," pangkas Damien datar, walau matanya menatap lembut. "Gue cuma nggak mau adiknya sahabat gue pingsan gara-gara kelaparan habis gue latih."
"Alasan terus," cibir Clyrine, menyunggingkan senyum miring yang jahil. "Ngaku aja deh, Kakak sebenernya kasihan kan sama gue?"
Damien tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Clyrine dengan helaan napas pendek. "Gue cuma menghargai usaha lo, Clyrine. Gue tahu lo anak pintar. Cara lo nolongin temen-temen lo di sekolah itu tulus, cuma penyampaian lo aja yang berantakan."
Mendengar pujian tulus itu, senyum jahil di wajah Clyrine perlahan meluntur, digantikan tatapan haru yang jujur. Di rumahnya sendiri, tidak pernah ada yang memuji niat baiknya. Bagi orang tuanya, Clyrine hanyalah pengacau yang merusak nama baik Rexander.
"Makasih ya, Kak," bisik Clyrine lirih. "Nggak ada orang dewasa yang pernah ngomong begitu ke gue. Semua orang cuma ngeliat gue sebagai pembuat onar."
"Itu karena mereka cuma ngeliat dari luar," sahut Damien pelan, suaranya terdengar begitu dalam.
"Tapi sekarang lo udah janji mau belajar tahan emosi, kan? Jangan bikin bantuan gue tadi pagi jadi sia-sia."
"Iya, janji!" seru Clyrine mantap, memasang pose hormat dengan jarinya.
Tak lama kemudian, hidangan hangat yang melimpah diantarkan ke meja mereka. Clyrine yang sudah sangat kelaparan langsung menyambar pisau dan garpunya. Namun, karena tangannya masih gemetar hebat bekas push-up paksa tadi, jemarinya kesulitan memotong daging steak yang tebal.
Klek. Klek.
Pisau di tangan Clyrine terlepas pelan, menimbulkan denting canggung di atas piring porcelain. Clyrine meringis kesal menatap tangannya yang tak mau berkompromi.
Damien yang memperhatikan hal itu menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Damien meraih piring steak milik Clyrine, menggesernya ke hadapannya sendiri, lalu dengan sigap memotong-motong daging tebal itu menjadi ukuran-ukuran kecil yang pas untuk satu suapan.
Setelah selesai, Damien mengembalikan piring yang sudah rapi itu ke hadapan Clyrine. "Nih. Makan."
Clyrine terpana. Perlakuan kecil namun begitu manis itu sukses membuat dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup kencang—sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada pria mana pun.
"Makasih, Kak Damien..." gumam Clyrine malu-malu, mengambil garpunya dan menyuap potongan daging pertama ke dalam mulutnya. "Enak banget!"
Damien tersenyum tipis melihat binar bahagia di mata gadis remaja itu. "Makan yang banyak. Habis ini gue langsung antar lo pulang ke rumah."
Malam itu, di dalam bistro hangat membelah dinginnya kota, dinding perbedaan di antara mereka perlahan makin menipis—menyisakan keakraban manis yang tanpa mereka sadari, mulai menumbuhkan benih perasaan yang lebih dalam di hati Clyrine.
Clyrine menghabiskan suapan terakhir mashed potato-nya dengan wajah berbinar kenyang. Usai menyedot cokelat hangatnya hingga tandas, ia mengelap bibirnya menggunakan tisu seraya melirik Damien yang sedang menunggu tagihan.
Saat teringat bayangan rumah dan kemungkinan Alaric menunggunya di depan pintu, Clyrine mendadak memajukan tubuhnya ke arah Damien, berbisik pelan.
"Kak... hmm, nanti kalau Kak Alaric tanya dari mana atau kenapa pulang malam, jawab aja aku belajar pelajaran sekolah sama Kakak, ya?" pinta Clyrine dengan tatapan memohon yang menggemaskan.
Damien yang baru saja memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku jas melirik gadis di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat amat tipis.
"Hmm," gumam Damien pendek, memberi respons mengiyakan.
Clyrine menghembuskan napas lega, menyandarkan kembali punggungnya ke kursi dengan cengiran lebar. "Fuuuh... aman. Kak Alaric pasti nggak bakal curiga kalau sama Kakak."
Damien menatap Clyrine yang kelihatan sangat puas dengan kebohongan kecilnya itu. Pria itu menyilangkan kedua tangan di atas meja, menatap netra oranye-tembaga milik Clyrine dengan raut wajah teduh namun serius.
"Tapi," lanjut Damien dengan suara beratnya yang tenang, "kalau lo mau belajar beneran... boleh."
Clyrine tertegun. "Hah? Belajar... pelajaran sekolah?"
"Iya," sahut Damien santai seraya berdiri dari kursinya. "Gue bisa ngajarin lo materi sekolah selain ngajarin lo bertarung di ring. Biar nilai lo naik dan orang tua lo nggak ada alasan lagi buat nempatin lo di bawah bayang-bayang Claire."
Clyrine membeku sejenak di tempat duduknya, menatap punggung tegap Damien yang siap melangkah menuju kasir. Perhatian tulus yang terus-menerus disodorkan pria itu—mulai dari pasang badan di ruang BK, memotongkan daging steak, hingga menawarkan bantuan belajar—benar-benar sukses membuat dada Clyrine berdebar kencang tak beraturan.
"Ayo," tegur Damien berbalik menatapnya. "Nanti keburu makin malam."
"I-iya, Kak!" cicit Clyrine cepat-cepat berdiri, menyembunyikan wajahnya yang mendadak merona merah seraya menyusul langkah lebar Damien menuju luar restoran.