NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terhubung

Pagi setelah acara pertunangan yang gagal.

Suasana Verion Group masih ramai membicarakan kejadian semalam.

Karyawan membicarakan Henry, Alika, Video, dan pertunangan Ravenzo yang batal.

Zevanna dan Tisha ikut mendengar obrolan itu.

"Gue masih nggak percaya kejadian semalam, tiba-tiba banget cuy!" Kata Tisha.

"Gue juga. Rasanya kayak dikasih kejutan dadakan, dan kejutan ini bukan sembarangan!” Ucap Zevanna.

Tapi pikiran Zevanna bukan lagi tentang Alika.

Ia justru teringat pesan semalam.

Jangan mengira semuanya sudah selesai, Zevanna.

Tisha menatap sahabatnya yang tiba-tiba melamun. "Zev, lo kenapa?"

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak papa, gue cuma kurang tidur aja."

Tisha langsung menyipitkan mata. "Lo kalau bohong mukanya ketahuan banget."

Zevanna terdiam sejenak lalu terkekeh. "Apaan sih lo? Nggak percayaan banget sama temen sendiri. Nih, liat mata gue. Ada panda-panda kan?"

Tisha menatap mata Zevanna. "Iya sih, tapi lo kebiasaan begadang terus. Nggak capek apa?"

Zevanna menguap lebar. "Gue capek kalau nggak begadang," jawabnya jujur.

Tisha mendelik. "Dih, bisa gitu lo! Aneh banget, masa capek kalau nggak begadang."

"Ya soalnya mata gue udah tau mau tidur jam berapa kalau malam tuh, kalau mata gue ngantuk jam dua belas malam ya, yaudah gue tidur. Kalau mata gue ngantuk-nya jam satu malam, ya tidurnya jam satu." Jelas Zevanna.

Tisha geleng-geleng kepala mendengar kalimat Zevanna. "Astaga, pantesan lo sering kecapean, Zev. Nanti kalau lo sakit karena kurang tidur gimana?"

"Nggak mungkin sakit. Gue cewek strong!" Kata Zevanna percaya diri.

"Eleh, strong apaan? Orang waktu itu aja lo tumbang." Dengus Tisha.

Zevanna mendelik tajam. "Itu karena gue makan makanan dari Mas Andrew. Kalau gue nggak makan mungkin gue sehat-sehat aja."

"Ya lagian lo asal makan aja, udah dibilangin kalau dia itu mencurigakan." Ucap Tisha.

"Ya mana gue tau kalau dia kayak gitu, kalau gue dikasih makanan ya gue makan masa gue buang atau gue kasih ke kucing sih?!" Dengus Zevanna.

Tiba-tiba, suasana di depan gedung sedikit berubah ketika sebuah mobil berhenti di depan lobby kantor.

Ravenzo keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke kantor.

Suasana karyawan langsung sedikit canggung karena kejadian semalam.

Ravenzo bersikap profesional dan memerintahkan semua orang kembali bekerja.

Zevanna melihatnya dari jauh.

Ia sadar Ravenzo kelihatan tenang, tetapi jelas masih memikirkan kejadian semalam.

Pasti dia sedih banget pas malem tadi.

Zevanna langsung menggelengkan kepalanya.

Apaan sih lo, Zev. Ngapain lo kasian sama tuh cowok yang sok cool itu.

Zevanna kembali menatap layar komputernya, mencoba fokus bekerja, tetapi pikirannya terus terbayang soal pesan semalam.

Gue masih penasaran apa maksud pesan itu ya? Apa kasus kak Zoyya belum selesai gitu?

Jari tangan Zevanna mengetuk meja.

Gue kan baru dapet beberapa bukti belum dapet bukti utamanya apa. Kalau gue udah dapet bukti itu, pasti orang itu udah gue laporin ke polisi.

Zevanna terdiam sejenak.

Berarti tinggal Mas Bisma, Mbak Hesa, Mbak Meisya, Mbak Elsa, Mbak Vera, Mbak Fika dan Mas Arvin yang masih di sini, tapi kalau pelakunya Pak Ravenzo gimana ya?

Zevanna menggelengkan kepala.

Nggak mungkin Pak Ravenzo pelakunya, kan dia waktu itu ada di luar negeri.

Tapi bisa aja dia, kan waktu itu dia bilang jangan ke lantai enam sendirian. Pasti di lantai enam itu ada sesuatu yang nggak boleh gue cari tau.

Di ruangan, Ravenzo menatap layar laptopnya. Ia menghela napas panjang.

Pintu diketuk dan Arvin masuk.

"Rav, gue udah cek hasil awal pemeriksaan sistem proyektor." Sahut Arvin. "Video Alika dan Henry tidak berasal dari komputer utama ballroom. File tersebut masuk dari perangkat lain, nama perangkatnya tidak muncul dengan jelas."

Ravenzo menatapnya datar. "Bisa dilacak?"

"Masih gue cari." Jawab Arvin.

Saat melewati ruangan Ravenzo, Zevanna tanpa sengaja mendengar ucapan Arvin.

"Perangkatnya terhubung ke jaringan lama perusahaan."

Zevanna berhenti.

Jaringan lama?

Ia langsung teringat.

MAINTENANCE-03.

Zevanna buru-buru kembali ke meja kerjanya.

Zevanna membuka catatan kecil tentang kasus Zoyya.

Ia menulis.

Bisma — akses lantai 6.

Hesa — akses lantai 6.

VIDEO_04 — terkunci.

CCTV_BACKUP — MAINTENANCE-03.

Ia menatap keempat poin tersebut.

Kayaknya gue selama ini nyari orangnya... bukan hubungan antar petunjuknya.

Zevanna mulai berpikir.

Kalau MAINTENANCE-03 memang perangkat lama perusahaan, mungkin perangkat itu pernah digunakan sebelum Zoyya meninggal.

Zevanna menoleh ke arah Tisha yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke bagian IT.

Ia sampai di ruangan IT.

"Maaf, Pak. Saya mau mengecek perangkat lama," kata Zevanna.

Petugas tersebut mengerutkan kening, bingung. "Maksud Mbak apa ya?"

"Maksudnya saya, saya mau mengecek MAINTENANCE-03." Jawab Zevanna.

"Oh perangkat lama itu?" Kata petugas tersebut.

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak."

"Tapi, Mbak, MAINTENANCE-03 itu salah satu perangkat yang pernah dipakai untuk pemeliharaan sistem gedung. Tapi perangkat tersebut sudah dipindahkan dari lokasi awalnya." Jelas petugas itu.

Zevanna mengerutkan kening. "Dipindahkan kapan, Pak?"

Petugas membuka data lama. "Sekitar periode waktu setelah insiden di lantai 6."

Zevanna terdiam sejenak. "Insiden? Kalau boleh tahu emang ada insiden apa ya, Pak. Di lantai 6?"

Petugas itu terdiam, ia menelan ludah tercekat. "O-oh itu... saya kurang tau, Mbak. Saya cuma disuruh buat pindahin beberapa perangkat yang nggak digunakan."

Zevanna masih menatap petugas IT itu dengan tatapan penuh rasa penasaran.

“Jadi perangkat itu dipindahkan setelah kejadian di lantai enam?” tanya Zevanna memastikan.

Petugas IT mengangguk pelan.

“Iya, Mbak. Tapi saya benar-benar nggak tahu soal insidennya. Saya cuma mengurus pemindahan perangkat.”

Zevanna mengangguk kecil.

Berarti pemindahan perangkat itu memang terjadi setelah insiden lantai enam.

Tapi kenapa perangkat itu harus dipindahkan setelah kejadian tersebut?

“Pak, kalau boleh saya lihat data pemindahannya?” tanya Zevanna.

Petugas IT kembali membuka komputer dan mencari data lama tersebut.

Beberapa detik kemudian, sebuah catatan pemindahan muncul di layar.

Zevanna mendekat.

“Yang ini, Pak?”

“Iya. Itu data pemindahan MAINTENANCE-03.”

Zevanna membaca informasi yang tertera di layar.

DEVICE: MAINTENANCE-03

STATUS: MOVED

DATE: 21 September 2023

EMPLOYEE CODE: VG-047—

DIGITAL SIGNATURE: DAMAGED

Zevanna mengerutkan kening.

Kok kode pegawai doang?

Ia memperhatikan bagian nama.

Tidak ada nama lengkap.

Hanya kode pegawai dan tanda tangan digital yang sebagian tidak terbaca.

“Pak, nama pegawainya nggak ada?” tanya Zevanna.

Petugas IT menggeleng. “Data lamanya memang rusak sebagian. Yang tersisa cuma kode pegawai dan tanda tangan digital.”

Zevanna semakin penasaran. “Kalau begitu, ada catatan lain yang lebih lengkap nggak, Pak? Misalnya dokumen pemindahannya yang asli?”

Petugas IT berpikir sebentar. “Kemungkinan ada. Dulu pemindahan perangkat juga dicatat secara fisik.”

Zevanna langsung menoleh. “Di mana, Pak?”

“Coba Mbak cek ke bagian arsip administrasi. Dokumen lama biasanya disimpan di sana.”

Zevanna mengangguk. “Oke, Pak. Makasih.”

Ia pun meninggalkan ruangan IT.

Namun baru beberapa langkah berjalan, Zevanna kembali membuka catatannya.

MAINTENANCE-03—dipindahkan setelah insiden lantai 6.

Ia menatap tulisan itu beberapa detik.

Kalau dokumen fisiknya masih ada, mungkin nama orang yang memindahkan perangkat ini juga ada di sana.

Zevanna menggenggam catatannya.

Dan kalau gue bisa tahu siapa orangnya... gue bisa tahu kenapa MAINTENANCE-03 dipindahkan.

Zevanna pergi ke ruang arsip.

Ia mencari dokumen pemindahan MAINTENANCE-03.

Setelah beberapa saat, ia menemukan map lama.

Tapi sebagian dokumen di dalamnya hilang.

"Hah? Hilang? Serius ini?" Gumamnya.

Dari map itu hanya tersisa satu lembar.

Ada beberapa paraf.

Salah satu nama yang masih terbaca—Meisya.

Zevanna terdiam. "Mbak Meisya?" Ia menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin dia pelakunya."

Namun, ia teringat percakapan Meisya dengan Elsa waktu itu.

"Kalau dia terus mencari tahu, gimana?"

Zevanna mulai menghubungkan keduanya.

Tapi ia sadar, Meisya bisa saja hanya tahu sesuatu tentang urusan perusahaan, bukan kematian Zoyya.

Zevanna bergegas kembali ke area kantor.

Ia mencari Meisya.

Tapi Meisya tidak berada di mejanya.

"Mbak Zevanna cari Mbak Meisya ya?" Kata karyawan lain.

Zevanna mengangguk. "Iya, Mbak. Dia kemana ya?"

"Mbak Meisya sedang menuju ruang penyimpanan dokumen lama."

"Oh makasih mbak." Zevanna langsung mengejarnya.

Dari ujung koridor, Zevanna akhirnya melihat Meisya.

Meisya berdiri di depan ruang penyimpanan sambil memegang sebuah map.

Zevanna menghentikan langkahnya dan menatapnya.

Meisya tampak seperti sedang mencari sesuatu. Lalu ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Meisya langsung terlihat terkejut. "Zevanna?"

Zevanna melangkah maju. "Mbak Meisya... lagi ngapain di sini?"

Meisya buru-buru menutup map. "Cuma cari dokumen lama."

“Mbak, saya mau nanya. Mbak tau soal MAINTENANCE-03, nggak?” tanya Zevanna.

Meisya tersentak, namun ia mencoba terlihat biasa saja.

“Dari mana kamu tahu soal itu?”

Zevanna langsung sadar kalau reaksinya berbeda dari sebelumnya.

“Saya cuma nanya aja, Mbak. Soalnya tadi saya nemu dokumen itu di bagian arsip.”

Meisya terdiam.

Tatapannya sempat beralih ke dokumen yang ada di tangan Zevanna, lalu kembali menatap wajahnya.

“Dokumen apa?” tanyanya.

“Dokumen pemindahan perangkat itu.”

Meisya tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia menghela napas pelan.

“Zevanna, kamu nggak perlu tahu terlalu banyak soal perangkat lama perusahaan.”

Zevanna mengerutkan kening.

“Kenapa? Saya cuma penasaran. Lagian perangkat itu dipindahkan setelah kejadian di lantai enam, kan?”

Meisya kembali terdiam. Kali ini ekspresinya terlihat lebih serius.

Zevanna semakin yakin kalau Meisya memang mengetahui sesuatu.

“Berarti Mbak tahu soal pemindahan perangkat itu?” tanya Zevanna lagi.

Meisya menatap Zevanna cukup lama. “Kenapa kamu terus bertanya soal itu?”

“Karena saya nemu sesuatu yang bikin saya penasaran.”

Meisya tidak menjawab. Ia hanya merapikan beberapa dokumen di tangannya, lalu berkata singkat. “Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan hal yang sudah lama terjadi.”

Zevanna masih menatapnya.

Namun sebelum Zevanna sempat bertanya lagi, Meisya sudah berbalik.

Zevanna memperhatikan langkah Meisya yang semakin menjauh.

Ini aneh.

Kalau dia benar-benar nggak tahu apa-apa, kenapa reaksinya kayak gitu?

Zevanna menggenggam dokumen di tangannya.

Apa sebenarnya yang Mbak Meisya tahu tentang MAINTENANCE-03?

"Mbak—"

Zevanna baru saja hendak memanggil Meisya lagi ketika perempuan itu tiba-tiba berhenti.

Meisya menoleh. “Zevanna.”

“Hm?”

Meisya berjalan kembali mendekat. Tatapannya kali ini jauh lebih serius.

“Jangan terlalu jauh ikut campur.”

Zevanna mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena ada beberapa hal di perusahaan ini yang lebih baik nggak kamu cari tahu.”

Zevanna terdiam. “Kenapa Mbak ngomong kayak gitu?”

Meisya tidak menjawab. Ia hanya menatap Zevanna beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Zevanna masih berdiri di tempatnya.

Peringatan?

Atau ancaman?

Ia menggeleng pelan.

“Semakin dilarang, semakin bikin gue penasaran.”

Zevanna kembali melihat dokumen MAINTENANCE-03 yang masih berada di tangannya.

Kalau Meisya memang tahu soal perangkat ini, berarti dia mungkin tahu sesuatu tentang kejadian waktu itu.

Tapi hubungannya apa?

Zevanna memasukkan dokumen tersebut ke dalam map.

“Gue harus cari tahu sendiri.”

Namun kali ini, Zevanna sadar satu hal.

MAINTENANCE-03 bukan sekadar perangkat lama.

Ada seseorang yang jelas-jelas tidak ingin dirinya menemukan sesuatu dari perangkat itu.

Setelah Meisya pergi, Zevanna masih berdiri beberapa saat.

Ia kemudian melihat kembali dokumen yang dibawanya dari arsip.

Ia membalik beberapa lembar dan menemukan satu halaman yang sebelumnya tidak terlalu ia perhatikan.

Di bagian atas tertulis:

DATA PEMINDAHAN PERANGKAT

Di bawahnya terdapat:

MAINTENANCE-03

STATUS: MOVED

Zevanna mengerutkan kening. “Ini pasti catatan yang tadi dicari.”

Ia membaca bagian bawah dokumen. Namun informasi tentang orang yang melakukan pemindahan tidak lengkap. Yang terlihat hanya kode pegawai dan sebagian tanda tangan digital.

Zevanna mendecih. “Serius? Nama orangnya malah nggak ada?" Ia kembali memeriksa lembar tersebut.

Di bagian paling bawah terdapat keterangan lokasi tujuan perangkat.

DESTINATION: STORAGE B

Zevanna terdiam. “Storage B?”

Ia segera mengambil ponselnya dan membuka catatan kasus Zoyya.

Ia tidak menemukan nama Storage B di catatan sebelumnya. Namun satu hal membuatnya penasaran.

Maintenance-03 dipindahkan setelah insiden lantai enam.

Berarti ada alasan kenapa perangkat itu dipindahkan.

Zevanna memasukkan informasi tersebut ke catatannya.

MAINTENANCE-03—STORAGE B

Ia menatap tulisan itu beberapa saat.

“Kalau perangkatnya pernah ada di Storage B, berarti gue harus cari tahu sebenarnya Storage B itu apa.”

Zevanna menutup map.

Kali ini gue nggak boleh asal menyimpulkan.

Gue harus cari tahu dulu siapa yang punya akses ke tempat itu.

Zevanna kembali berpikir.

HP Kak Zoyya ditemukan di gudang lantai empat.

Di dalam HP itu ada CCTV_BACKUP Dan backup tersebut menyebut MAINTENANCE-03.

Sekarang gue tahu perangkat itu pernah dipindahkan ke Storage B.

Berarti... ada hubungan antara perangkat itu dengan kejadian yang terjadi waktu itu.

Zevanna menatap catatannya.

Tapi hubungan pastinya apa? Gue masih belum tahu.

***

Pukul delapan malam, Zevanna kembali membuka HP Zoyya.

Ia menatap VIDEO_04 — LOCKED.

kali ini ia tidak mencoba menebak password. Ia memilih menu informasi file.

Ternyata ada satu keterangan kecil.

Created: 18 September 2023

Zevanna membeku.

“Video ini dibuat sebelum Kak Zoyya meninggal...”

Ia menatap tanggal tersebut beberapa saat.

18 September 2023.

Tanggal itu hanya beberapa hari setelah tanggal yang pernah ia temukan di dokumen proyek lama.

15 September 2023.

Zevanna terdiam.

Berarti waktu itu Kak Zoyya masih bekerja di Verion Group.

Dan tiga hari setelah dokumen itu dibuat... Kak Zoyya merekam video ini.

Zevanna menggenggam ponsel tersebut.

Apa yang sebenarnya Kak Zoyya lihat waktu itu?

Zevanna mencoba membuka bagian preview file.

Video tetap terkunci.

Tapi sistem HP berhasil memutar beberapa detik suara yang tersimpan di preview, tanpa memperhatikan isi sensitif apa pun.

Terdengar suara Zoyya yang sangat pelan.

"Kalau kamu menemukan ini... berarti sesuatu sudah terjadi."

Lalu suara itu berhenti.

Zevanna langsung terdiam.

Beberapa detik kemudian, HP Zevanna menerima pesan anonim.

Ting!

Unknown: Jangan buka VIDEO_04.

Zevanna langsung membelalak.

Berarti...

Seseorang tahu ia sedang mencoba membuka file itu.

Zevanna mematikan layar HP.

Ia melihat sekeliling kamarnya.

Tidak ada siapa-siapa.

Tapi sekarang ia sadar.

Orang yang mengancamnya kemungkinan mengetahui apa yang sedang ia lakukan.

Dan itu berarti kasus ini jauh lebih dekat daripada yang ia kira.

Zevanna membuka kembali catatan tentang Meisya.

Ia mencoret nama Meisya sebagai "Tersangka."

Kemudian menulis.

Cari Storage B.

Zevanna menatap catatannya. "Kalau MAINTENANCE-03 pernah dipindahkan ke sana, mungkin masih ada sesuatu yang tersisa."

***

Keesokan harinya, Zevanna datang ke storage B sebelum jam kerja ramai.

Ia membuka pintu perlahan.

Di dalam terdapat berbagai barang lama perusahaan.

Zevanna melihat sebuah rak kecil.

Di belakang beberapa kotak, ada sebuah benda lama milik sistem keamanan perusahaan dengan label— MAINTENANCE-03.

Zevanna mendekat. "Apa ini?"

Namun sebelum ia sempat menyentuhnya—

Terdengar suara pintu ditutup dari belakang.

Ceklek.

Zevanna langsung menoleh.

Di ambang pintu berdiri—Meisya.

Meisya menatap Zevanna dengan wajah serius. "Kamu ngapain di sini?"

Bersambung…

1
PengGeng EN SifHa
masa depan lebih penting drpd ego egeeee
PengGeng EN SifHa: semangat untuk berkarya thooorrr✊️✊️✊️✊️
total 2 replies
lannn_019
/Smile/
PengGeng EN SifHa
zoyya kah
PengGeng EN SifHa
bener² misterius
lannn_019: makasih sudah membaca😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!