Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Maut di Stasiun Tua
Matahari terbit keesokan harinya tanpa membawa secercah ketenangan pun di dalam hatiku. Udara pagi yang biasanya terasa sejuk di lingkungan rumahku mendadak berubah menjadi begitu menyesakkan.
Semalaman suntuk aku nyaris tidak memejamkan mata. Bayangan pesan singkat dan foto ancaman dari Raka terus berputar di dalam kepala, menghadirkan teror psikologis yang luar biasa tajam.
Saat aku melangkah keluar kamar menuju ruang tamu, Mama dan kedua adik kembarku tampak sedang menikmati sarapan pagi dengan tenang. Gwen dan Glenn tertawa riang membicarakan PR sekolah mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa semalam nyawa mereka nyaris berada di ujung tanduk iblis berdarah dingin.
"Gisel, kamu kenapa? Wajah kamu pucat banget, Nak. Kurang tidur?" tanya Mama penuh cemas saat meletakkan semangkuk nasi goreng di atas meja.
Aku memaksakan seulas senyum tipis, menggelengkan kepala perlahan. "Gak apa-apa, Ma. Cuma semalam agak susah tidur gara-gara tugas kuliah numpuk."
Sebelum Mama sempat bertanya lebih jauh, suara deru knalpot motor berkapasitas besar terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Aku melirik lewat celah tirai jendela. Seorang pemuda berjaket hitam dengan logo bintang di lengannya, salah satu anggota bodyguard Starlit yang menyamar mengenakan topi tukang pos, tampak berdiri berjaga di dekat pos ronda sudut gang. Varro benar-benar menepati janjinya untuk mengerahkan benteng pertahanan mutlak demi melindungi keluargaku.
Namun, rasa aman semu itu sama sekali tidak bisa menenangkan gemuruh di dadaku. Jarum jam terus berputar, mendekati pukul sepuluh malam. Pukul sepuluh malam di mana Varro harus berjalan sendirian menyerahkan diri ke dalam sarang macan di bangunan pabrik tua stasiun lama.
Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi! tekadku bulat di dalam hati.
Sementara itu, di sebuah tempat persembunyian rahasia di kawasan Jakarta Selatan, suasana di dalam ruangan tampak jauh lebih tegang dari biasanya.
Varro berdiri di dekat meja besar yang dipenuhi peta layout bangunan pabrik tua stasiun lama. Di hadapannya, Brandon dan Marcel menatap sang ketua dengan tatapan penuh penentangan keras.
"Al, lo bener-bener udah gila ya?!" bentak Marcel dengan nada tinggi, menepis meja dengan telapak tangannya. "Lo mau datang sendirian ke sarangnya Raka?! Itu sama aja kayak lo melompat ke dalam kandang singa tanpa senjata!"
Varro tetap berdiri tenang, meski rahangnya mengeras kaku. Ia mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi jaket kulit kebanggaannya dengan lambang Starlit tersemat di dada. "Gue gak punya pilihan lain, Cel. Raka ngincer keluarga Gisel. Kalau gue bawa pasukan besar masuk ke sana malam ini, nyawa Glenn sama Gwen jadi taruhannya."
Brandon membetulkan posisi kacamata tipisnya, menghela napas berat. "Kita ngerti alasan lo, Al. Tapi Raka bukan tipe orang yang main jujur. Dia pasti udah nyiapin puluhan anggota Viper buat menyergap lo begitu lo masuk ke pintu utama."
"Makanya gue butuh kalian buat pegang kendali dari luar," potong Varro dengan suara bariton yang tegas dan mutlak. "Begitu gue masuk dan pastikan Gisel aman dari ancaman jarak jauh, kalian berdua gerak masuk lewat jalur belakang pabrik. Hajar sisa anak buah Raka, tapi prioritas utama tetap keselamatan Gisel kalau-kalau cewek itu nekat bikin ulah."
Marcel membelalakkan mata kaget. "Maksud lo apa? Emangnya Gisel tahu soal rencana malam ini?"
"Gue gak kasih tahu dia," jawab Varro dingin. "Tapi gue tahu betul watak Gisel. Cewek itu keras kepala dan pemberani. Kalau dia tahu gue dalam bahaya, dia bisa saja nekat datang ke sana."
Brandon terdiam sejenak, meresapi setiap keputusan yang diambil sahabatnya. "Baiklah, Al. Kita bakal bagi tim jadi dua regu. Tapi ingat... kalau keadaan mendesak, jangan ragu buat mundur atau panggil bantuan kita."
Varro menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan. Ia menyambar kunci motor sport-nya di atas meja. "Gue gak bakal mundur sebelum Raka berlutut di hadapan gue."
Waktu menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit malam.
Suasana di kamar kecilku terasa senyap. Mama dan kedua adikku sudah tertidur lelap di kamar masing-masing. Dengan gerakan sangat hati-hati, aku mengenakan jaket denim tebal, memasukkan ponsel baru pemberian Varro ke dalam saku, lalu mengenakan sepatu kets hitamku.
Aku menuliskan secarik kertas kecil di atas meja belajar untuk Mama, lalu membuka jendela kamar perlahan-lahan. Dengan mengandalkan keberanian dan rasa cinta yang kian membuncah di dada, aku menyelinap keluar lewat halaman samping rumah, menghindari pos pengawasan anak-anak Starlit di ujung gang.
Aku menyetop sebuah taksi online di jalan raya utama, menyebutkan satu destinasi yang membuat sang sopir menatapku curiga lewat kaca spion: “Kawasan pabrik tua dekat stasiun lama, Pak.”
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, jantungku berdegup kencang tak beraturan. Udara malam terasa dingin menusuk tulang, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis. Aku tahu tindakan ini sangat bodoh dan gegabah. Aku bisa saja memperumit keadaan Varro. Tapi membiarkan pria itu pergi menghadapi maut seorang diri adalah hal yang paling tidak sanggup kulakukan di dunia ini.
Pukul sembilan lewat lima puluh lima malam.
Taksi berhenti di tepi jalan raya utama, sekitar dua ratus meter sebelum memasuki kawasan stasiun lama yang gelap dan terbengkalai. Aku membayar ongkosnya, lalu melangkah berjalan kaki menyusuri jalan setapak berkerikil yang dikelilingi semak belukar tinggi dan deretan rel kereta api tua yang berkarat.
Dari kejauhan, bangunan pabrik tua berarsitektur kolonial itu tampak menjulang menyeramkan di bawah pendar cahaya bulan sabit yang tertutup awan mendung. Di halaman depan pabrik, terparkir belasan sepeda motor besar milik anggota geng Viper. Lampu sorot dari beberapa motor menyala terang, memecah kesunyian malam yang mencekam.
Aku mempercepat langkahku, menyembunyikan tubuh di balik tumpukan kontainer kosong yang berkarat, tepat di dekat dinding samping bangunan pabrik yang memiliki jendela kaca pecah.
Tepat pukul sepuluh malam.
Sebuah suara raungan mesin mobil sport yang amat kukenal menderu memasuki halaman pabrik. BMW M8 Coupe hitam milik Varro berhenti tepat di tengah-tengah lapangan pabrik yang berdebu.
Pintu pengemudi terbuka. Varro melangkah keluar dari dalam mobil.
Pria berpostur 183 sentimeter itu berdiri seorang diri di bawah temaram lampu sorot. Tidak ada pasukan Starlit di belakangnya. Tidak ada senjata api di tangannya. Hanya ada postur tubuh tegap, tatapan mata yang dingin bagai es, dan aura dominasi mutlak seorang ketua geng yang berjalan menantang maut demi melindungi orang yang dicintainya.
Dari balik jendela kaca pabrik yang pecah, sorak-sorai dan tawa meremehkan dari puluhan anggota geng Viper langsung menggema keluar.
"Wah, wah... Lihat siapa yang datang! Pahlawan kesiangan kita akhirnya muncul juga!" teriak suara serak Raka dari dalam gedung.
Pintu utama pabrik yang terbuat dari besi besar terdorong terbuka lebar. Raka melangkah keluar bersama sepuluh anak buah utamanya yang memegang balok kayu dan rantai besi. Di tangan Raka, sebuah pemukul baseball diayun-ayunkannya santai.
Varro berdiri tanpa gentar sedikit pun. Tangannya yang mengenakan jaket kulit Starlit terbenam santai di dalam saku celana. "Gue udah datang sesuai janji lo, Raka. Sekarang, mana bukti kalau adik-adik Gisel aman?" tanya Varro dengan suara bariton yang dingin dan menusuk.
Raka tertawa terbahak-bahak, menikmati momen di mana ia merasa berada di atas angin. "Tenang aja, Al! Bocah-bocah itu masih tidur nyenyak di rumahnya. Tapi nasib lo malam ini... ditentukan di sini!"
Dari tempat persembunyianku di balik kontainer tua, napasku tertahan di tenggorokan. Aku melihat Raka memberi gestur tangan, dan seketika puluhan anggota Viper lainnya keluar mengepung Varro dari segala penjuru!
Ini jebakan total! Mereka mengeroyoknya! teriakku dalam hati penuh kepanikan.
Aku merogoh saku jaket denimku, hendak mengeluarkan ponsel untuk menelepon Brandon dan Marcel. Namun, sebelum jemariku sempat menyentuh tombol panggilan darurat...
SRET!
Sebuah tangan kekar yang kasar tiba-tiba membungkam mulutku dari belakang secara paksa. Sebuah lengan berotot mengunci leherku rapat-rapat, membuat ponsel di tanganku terlepas dan jatuh membentur tanah berdebu.
"Mau kemana lo, Cewek Manis?" bisik suara parau yang amat mengerikan tepat di dekat telingaku. "Bos Raka sudah nungguin lo dari tadi buat gabung di pesta dansa ini."
Mataku membelalak lebar dalam ketakutan yang teramat sangat. Aku telah tertangkap. Dan kehadiranku di sini justru akan menjadi senjata paling mematikan untuk menghancurkan Varro sepenuhnya.
Bersambung……