Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 : Terlihat Kecewa
Keesokan harinya...
Seperti biasanya, matahari baru saja naik ketika Winarsih mengayuh sepedanya menuju Puskesmas Sekar Sari. Di bagian depan sepedanya, sebuah keranjang berisi roti pesanan puskesmas tersusun rapi.
Meski berusaha terlihat biasa, pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Dokter Arga semalam.
Sesampainya di halaman puskesmas, Winarsih memarkir sepedanya. Ia mengangkat keranjang roti, lalu melangkah masuk. Entah mengapa, tanpa sadar matanya langsung menyapu ke segala arah.
Biasanya, di jam seperti ini Arga sudah terlihat memeriksa pasien atau berbincang dengan para perawat. Namun kali ini... sosok pria itu sama sekali tidak terlihat. Winarsih mencoba mengabaikan rasa kecewa yang tiba-tiba muncul di hatinya.
"Mungkin sedang memeriksa pasien," gumamnya pelan.
Saat itulah ia melihat Dessi, salah seorang perawat puskesmas, sedang membawa kantong sampah menuju tempat pembuangan di samping gedung.
Begitu melihat Winarsih, Dessi langsung tersenyum lebar. "Eh, Mbak Winarsih!"
Winarsih membalas senyumnya. "Selamat pagi, Suster Dessi."
"Itu pasti pesanan roti untuk puskesmas, ya?"
Winarsih mengangguk pelan. "Iya, Sus."
Dessi memperhatikan wajah Winarsih beberapa saat. Ia kemudian mengikuti arah pandangan wanita itu yang sesekali mengarah ke ruang pemeriksaan.
Senyum jahil langsung terukir di bibirnya. "Jangan-jangan..." katanya sambil menyipitkan mata.
Winarsih menoleh.
"Mbak ke sini bukan cuma mau mengantar roti... tapi juga mau cari Dokter Arga, ya?"
Mendengar godaan itu, wajah Winarsih langsung memerah. "B-bukan begitu, Sus."
"Oh ya?" Dessi terkekeh pelan.
"Saya memang cuma mau mengantar roti."
"Iya, iya... cuma ngantar roti," goda Dessi sambil menahan tawa.
Winarsih semakin salah tingkah. "Kalau begitu... saya permisi dulu, Sus."
Baru saja ia hendak melangkah pergi, Dessi kembali memanggilnya. "Oh iya, Mbak Winarsih."
Winarsih berhenti dan menoleh.
"Dokter Arga semalam sudah kembali ke kota."
Winarsih langsung tertegun. "Kembali ke kota?" ulangnya pelan.
Dessi mengangguk. "Iya. Katanya ada urusan yang harus segera diselesaikan. Jadi... untuk sementara dokter Arga digantikan oleh dokter lain."
Jantung Winarsih seakan berhenti sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka Arga pergi secepat itu. Tanpa sadar, tatapannya kembali mengarah ke ruang praktik yang kini tampak kosong.
"Oh... begitu ya," ucapnya lirih.
Dessi yang melihat perubahan ekspresi Winarsih hanya tersenyum kecil. "Mungkin beberapa hari lagi baru kembali."
Winarsih memaksakan senyum. "Semoga urusannya lancar."
"Iya, semoga begitu."
Winarsih mengangguk pelan. "Kalau begitu saya pamit dulu, Sus."
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
Winarsih segera membawa langkahnya keluar dari halaman puskesmas. Begitu duduk di atas sepedanya, ia terdiam beberapa saat. Entah mengapa, mendengar Arga pergi tanpa sempat berpamitan membuat dadanya terasa kosong.
Namun ia segera menggeleng pelan, seolah ingin mengusir perasaan itu. "Aku tidak boleh memikirkan dia terus," bisiknya lirih.
Winarsih pun mulai mengayuh sepedanya perlahan meninggalkan puskesmas, tanpa menyadari bahwa dari balik jendela ruang administrasi, Dessi masih memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Hmm... Mbak Winarsih memang bilang tidak mencari Dokter Arga," gumam Dessi pelan. "Tapi wajah kecewanya tadi... tidak bisa berbohong."
Tiba-tiba...
Tring... tring...
Ponsel di saku seragamnya berdering.
Dessi segera mengeluarkannya. Begitu melihat nama yang tertera di layar, matanya langsung membulat.
"Dokter Arga?" Ia spontan tersenyum.
Lalu ia mengangkat telepon itu, tanpa sadar ia berbicara, "duh Dokter... panjang umur banget. Baru aja diomongin, eh langsung nelepon."
"Dessi." Suara Arga terdengar jelas dari seberang. "Gimana keadaan di puskesmas?"
"Alhamdulillah baik, Dok."
Arga terkekeh pelan. "Tadi kamu bilang baru saja ngomongin saya?"
Dessi langsung menepuk dahinya sendiri. "Eh... Dokter dengar, ya?"
"Iya, saya dengar."
"Hehe... bukan begitu, Dok."
"Lalu bagaimana?"
Dessi tersenyum jahil. "Tadi saya habis bertemu Mbak Winarsih."
Mendengar nama itu, Arga langsung terdiam.
Dessi melanjutkan, "Dia datang seperti biasa mengantar roti."
"Hmm."
"Terus Mbak Winarsih sempat melihat ke arah ruang praktik Dokter."
Arga mendengarkan tanpa menyela.
"Saya bilang kalau Dokter kembali ke kota beberapa hari."
"Lalu?"
Dessi tersenyum tipis. "Wajah Mbak Winarsih langsung kelihatan kecewa, Dok."
Beberapa detik tidak ada jawaban.vDi seberang sana, Arga hanya terdiam. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
"Begitu ya..." gumamnya pelan.
Dessi yang mengenal Arga cukup lama langsung menangkap perubahan nada suaranya. "Nah, kan..."
"Apa?"
"Dokter pasti lagi senyum-senyum sendiri kan?"
Arga langsung berdeham kecil. "Sudahlah. Jangan bicara macam-macam."
Dessi terkikik pelan. "Oh iya, Dok. Dokter lama di kota?"
"Mungkin sekitar satu minggu."
"Selama itu?"
"Iya."
"Memangnya ada urusan penting?"
"Saya ingin mengurus perpanjangan surat tugas dulu. Sekalian ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan."
"Oh, begitu."
Arga kemudian bertanya, "Oh ya, Dokter Fatur sudah datang belum?"
"Belum, Dok. Mungkin sebentar lagi datang. Pasien juga belum banyak."
"Baiklah, kalau begitu saya tenang. Saya cuma ingin memastikan kondisi puskesmas."
Dessi tersenyum jahil lagi. "Yakin cuma itu saja yang Dokter ingin tanyakan?"
Arga mengernyit. "Maksud kamu?"
"Hehe... Dokter tidak mau tanya kabar Mbak Winarsih sekalian?"
"Hush." Arga tertawa kecil. "Kamu ini ada-ada saja."
"Kan saya cuma nebak, Dok."
"Sudah, sana kerja yang benar."
"Siap, Dok."
"Ikuti semua arahan Dokter Fatur selama saya tidak ada."
"Baik, Dokter."
"Kalau semua urusan di kota sudah selesai, saya akan kembali kesana."
"Siap, Dok."
"Terima kasih, Dessi."
"Sama-sama, Dok."
Sambungan telepon pun berakhir.
Dessi menurunkan ponselnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dokter Arga memang aneh," gumamnya sambil tersenyum. "Katanya cuma mau memastikan keadaan puskesmas."
Ia lalu melirik ke arah gerbang yang tadi dilewati Winarsih. "Padahal begitu dengar Mbak Winarsih, Dokter pasti seneng tuh.." Dessi terkekeh pelan. "Semoga saja kalian berdua segera jujur dengan perasaan masing-masing."
***
Sementara itu...
Di Kota Jakarta.
Dokter Arga baru saja tiba di apartemennya yang sederhana. Setelah menutup pintu, ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu melepas jas putih yang sejak pagi dikenakannya.
Ia berjalan menuju kamar.
Begitu pintu kamar terbuka, Arga langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua tangannya disilangkan di bawah kepala, sementara pandangannya menatap langit-langit kamar.
Namun pikirannya sama sekali tidak bisa beristirahat. Ucapan Dessi beberapa menit yang lalu terus terngiang di telinganya.
"Wajah Mbak Winarsih langsung kelihatan kecewa, Dok."
Tanpa sadar, sudut bibir Arga kembali terangkat membentuk senyum tipis. "Jadi... dia benar-benar mencariku pagi ini."
Ia mengembuskan napas pelan. "Tapi kenapa, Mbak?" gumamnya lirih. "Kalau memang ingin menjauhiku... kenapa justru terlihat kecewa saat tahu aku pergi?"
Semakin dipikirkan, Winarsih justru semakin sulit dipahami. Di satu sisi, wanita itu selalu berusaha menjaga jarak. Namun di sisi lain, Arga bisa melihat dengan jelas bahwa Winarsih sebenarnya tidak benar-benar ingin menghindarinya.
Arga memejamkan mata. Bayangan wajah Winarsih yang menahan tangis semalam kembali terlintas. Saat itu, ia benar-benar ingin bertanya lebih banyak.
Ingin mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan Clarissa kepada wanita desa itu. Namun ia memilih menahan diri.
"Aku tidak boleh memaksanya," gumamnya. "Kalau memang belum siap bercerita, suatu saat nanti pasti dia akan jujur."
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi.
Ting...
Arga segera mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Matanya langsung tertuju pada nama pengirim pesan.
Kenji Sato.
Arga segera membuka pesan itu.
Kenji: Arga, aku sudah mulai mendapatkan sedikit informasi. Ada seorang pekerja bernama Benni Ardiansyah yang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di Prefektur Aichi. Tapi aku masih harus memastikan apakah dia orang yang sama dengan yang sedang kamu cari.
Mata Arga langsung berbinar. "Benni Ardiansyah..."
Nama belakang itu sama persis dengan yang pernah ditunjukkan Winarsih. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia segera membalas pesan tersebut.
Arga: Tolong pastikan identitasnya. Kalau memang orang yang sama, aku ingin mengetahui kondisi dan alamat tempat tinggalnya.
Tak sampai satu menit, balasan kembali masuk.
Kenji: Baik. Beri aku waktu dua atau tiga hari. Setelah itu aku kabari.
Arga mengembuskan napas lega.
"Semoga benar dia."
Kalau pria itu benar Benni, Makasih pasti akan sangat senang, karena dia tidak perlu lagi mengemis nomer telpon Benni pada mantan mertuanya yang menyebalkan itu.
Arga meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Tatapannya kembali mengarah ke langit-langit kamar. Namun kali ini, yang memenuhi pikirannya bukan hanya Benni. Melainkan juga seorang wanita desa yang selalu berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum sederhana.
"Mbak Winarsih..." bisiknya pelan. "Tunggu sebentar lagi. Aku akan mencari Benni... agar semua beban yang selama ini Mbak pikul bisa segera menemukan titik terang."
Di luar jendela apartemennya, hiruk-pikuk Kota Jakarta masih terasa sibuk seperti biasa. Namun di balik keramaian itu, pikiran Arga tetap tertinggal di Desa Sekar Sari, kepada seorang wanita yang diam-diam mulai mengisi ruang di hatinya.