"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."
Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.
Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.
Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.
Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada Pilihan
Dua hari berlalu sejak pertemuan Kanaya dan Dinda di kafe siang itu.
Waktu berjalan sebagaimana mestinya, seolah tidak ada satupun hal yang berubah dalam kehidupan Kanaya. Ia tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Sesekali, Dinda masih menghubunginya hanya untuk memastikan bahwa sahabatnya itu tidak berubah pikiran dan tiba-tiba memutuskan untuk melarikan diri keluar negeri demi menghindari perjodohan yang terdengar seperti cerita dalam novel.
Kanaya hanya menanggapinya dengan tawa kecil.
Namun, ada satu hal yang tidak dapat dipungkiri olehnya.
Sejak siang itu, nama Dirga Atmajaya entah mengapa beberapa kali terlintas didalam benaknya. Bukan karena rasa penasaran yang berlebihan, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...masa depan yang selama ini telah ia susun dengan begitu rapi perlahan mulai melibatkan seseorang yang bahkan belum pernah di temuinya.
Dirga Atmajaya.
Pria yang disebut-sebut sebagai salah satu CEO muda paling berpengaruh di berbagai bisnis. Pria yang menurut Dinda terlalu sempurna untuk di jadikan bahan tebakan di sebuah meja kafe.
Kanaya masih mengingat dengan jelas bagaimana sahabatnya itu nyaris berteriak ketika menunjukkan foto Dirga dilayar ponselnya dua hari yang lalu.Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis mengingat hal tersebut.
Apa mungkin benar dia orangnya?
Pertanyaan itu kembali terlintas di benaknya untuk kesekian kali.
Namun, seperti biasanya...Kanaya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Karena menurutnya, siapa pun pria itu...keputusan akhirnya tidak akan berubah.
Jika memang itu adalah permintaan terakhir sang kakek, maka ia akan berusaha menjalankannya sebaik mungkin.
...****************...
Sore itu, suasana ruang keluarga kediaman Pradipta tampak begitu tenang. Cahaya matahari yang mulai meredup masuk melalui jendela-jendela besar di sudut ruangan, berpadu dengan aroma teh melati yang baru saja di sajikan oleh Bi Sumi.
Kanaya duduk di salah satu sofa tunggal dengan kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. Sementara itu, Tama dan Wina duduk berhadapan dengannya. Sejak beberapa menit yang lalu, pembicaraan mereka tidak pernah jauh dari surat wasiat yang di bacakan beberapa hari lalu.
Tama memandang putrinya lekat-lekat sebelum akhirnya membuka suara.
"Kamu yakin dengan keputusanmu itu, Naya?"
Kanaya yang sejak tadi menundukkan pandangannya perlahan mengangkat wajahnya. Sebuah senyum tipis terukir dibibirnya sebelum ia menganggukkan kepala pelan.
"Iya, Yah. Naya yakin."
Mendengar jawaban tersebut, Wina tak dapat menyembunyikan ekspresi lega di wajahnya. Namun, sebagai orang tua, keduanya tetap ingin memastikan bahwa keputusan itu benar-benar datang dari keinginan putri mereka sendiri.
"Naya..." Tama menghela napas pelan. "Ayah benar-benar senang mendengar kamu mau menerima perjodohan ini. Tapi... Ayah mau memastikan kalau kamu benar-benar tidak merasa terbebani dengan wasiat Kakek."
Kanaya terdiam beberapa saat. Pandangannya sempat jatuh pada cangkir teh di atas meja sebelum kembali menatap kedua orang tuanya.
"Tidak, Yah." Suaranya terdengar lembut, tetapi penuh keyakinan. "Naya menghormati permintaan terakhir Kakek. Ini juga sebagai bentuk balas budi Naya atas semua ynag sudah di lakukan Kakek untuk Naya semasa hidupnya."
Untuk sesaat, keheningan memenuhi ruangan.
Tama dan Wina saling bertukar pandang. Keduanya tahu betul seberapa dekat hubungan Kanaya dengan mendiang sang kakek. Maka, mendengar jawaban tersebut, tidak ada lagi yang perlu mereka pertanyakan.
"Kalau memang kamu bersedia menerima perjodohan ini," ujar Tama seraya menganggukkan kepalanya pelan, "....Ayah akan menghubungi keluarga Atmajaya nanti."
"Iya, Yah. Dan..." Kanaya menggantungkan ucapannya sejenak.
"Hmm? Ada apa, Sayang?" tanya Wina lembut.
Kanaya tampak ragu-ragu selama beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa... pria itu adalah Dirga Atmajaya?"
Pertanyaan tersebut membuat Wina spontan menoleh ke arah Tama. Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat, seolah tidak menyangka putri mereka telah mengetahui nama tersebut.
Tak lama kemudian, Tama dan Wina kembali mengalihkan pandangan mereka kepada Kanaya sebelum menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Iya, Naya." jawab Tama akhirnya.
Kanaya tampak terdiam sesaat. Tidak ada ekspresi terkejut ataupun panik di wajahnya. Ia hanya menganggukkan kepala pelan, seolah sedang membenarkan dugaannya sendiri.
"Hmm... ya sudah. Naya hanya ingin memastikan itu saja."
"Kamu sudah mengenalnya?" tanya Tama penasaran.
Kanaya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
"Tidak, Yah. Naya hanya sempat melihatnya sekilas di internet."
"Oh, begitu."
Tama tersenyum kecil sebelum mengulurkan tangannya dan mengusap lembut puncak kepala putri semata wayangnya itu.
"Kalau begitu, nanti Ayah akan menghubungi mereka."
Kanaya mengangguk pelan. Sementara di luar sana, langit perlahan berubah jingga, seolah menjadi pertanda bahwa satu babak dalam kehidupannya akan segera berakhir dan di gantikan oleh babak yang sama sekali baru.
Sementara itu, di kediaman keluarga Atmajaya, keadaan yang sama sekali berbeda justru tengah terjadi. Jika Kanaya memilih menerima dan menghormati amanat terakhir sang kakek, maka Dirga melakukan hal sebaliknya.
Selama dua hari terakhir, pembahasan mengenai surat wasiat itu tidak pernah benar-benar berakhir. Dan selama dua hari itu pula, jawaban Dirga Atmajaya tetap sama.
Ia tidak ingin dijodohkan.Ia tidak tertarik untuk bertemu dengan keluarga Pradipta.
Perdebatan demi perdebatan terus terjadi antara Dirga dan kedua orang tuanya. Namun, sekeras apa pun Laras dan Lukman mencoba membujuk, keputusan Dirga tidak pernah berubah.
Baginya, pernikahan adalah sesuatu yang seharusnya dipilih sendiri. Terlebih, ia telah memiliki seseorang yang selama ini ingin di jadikannya pendamping hidup.
"Aku tidak mengerti, kenapa kalian semua terus memaksaku menerima sesuatu yang jelas-jelas tidak kuinginkan," ucap Dirga untuk kesekian kalinya malam itu.
"Karena ini amanat terakhir kakekmu, Dirga," jawab Lukman dengan nada tenang yang mulai terdengar lelah.
"Dan aku sudah menghormatinya dengan mendengarkan isi surat wasiat itu sampai selesai."
"Kalau begitu, setidaknya temui keluarga mereka."
"Tidak."
Jawaban singkat itu kembali memenuhi ruangan.
Laras menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menundukkan pandangannya. Selama dua hari terakhir, ia merasa seolah sedang berbicara dengan tembok beton.
Sementara Lukman hanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu, Ayah tidak akan memaksamu lagi."
Untuk pertama kalinya sejak surat wasiat itu dibacakan, Dirga terdiam. Ia tidak menyangka sang ayah akan menyerah secepat ini.
"Terimakasih karena akhirnya mengerti."
Lukman bangkit dari duduknya sambil merapikan lengan kemejanya.
"Bukan, Dirga." ujarnya pelan sebelum melangkah meninggalkan ruang keluarga."Ayah hanya memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada orang yang memang di beri amanat untuk memastikan surat wasiat itu dijalankan."
Dirga mengernyitkan dahinya.
Namun, saat itu, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa keputusan yang baru saja di ambil oleh sang ayah akan menjadi awal dari berakhirnya seluruh penolakannya.