NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pernyataan polos Bima membuat suasana di dalam kamar langsung mendadak hening.

​Pipi Clara memerah parah sampai ke ujung telinganya.

​"Kau ini bicara apa sih!"

​"Bagaimana bisa kau mengatakannya dengan wajah sedatar itu tanpa rasa malu sama sekali?"

​Clara langsung menarik selimut tebalnya sampai menutup setengah wajahnya yang merona.

​Pak Herman yang berada di sampingnya malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah putrinya.

​Sudah sangat lama dia tidak melihat Clara bisa bertingkah sehidup dan secantik ini.

​"Sudah-sudah, Nak Bima ini kan seorang tabib profesional."

​"Bagi seorang ahli medis, tubuh pasien itu sama saja dan tidak ada maksud mesum sedikit pun."

​"Papa ini malah membela dia melulu, aku ini kan perempuan!" seru Clara membantah ucapan ayahnya dari balik selimut.

​Bima hanya memiringkan kepalanya sedikit karena bingung melihat reaksi berlebihan dari gadis kota itu.

​"Di desa saya dulu, saya sering memijat paman dan bibi yang encok di seluruh badan."

​"Jadi Nona tidak perlu khawatir, saya tidak akan mengambil keuntungan apa pun dari posisi ini."

​Penjelasan lugu dari Bima bukannya meredakan suasana, malah membuat Clara makin gemas ingin melemparkan bantal ke arahnya.

​"Sudah, kamu keluar sana!"

​"Aku mau istirahat dan tidak mau melihat wajah polosmu itu dulu!"

​Bima mengangguk pelan tanpa protes sedikit pun.

​"Baik Nona Clara, istirahatlah yang cukup agar stamina Nona cepat kembali."

​Bima berbalik arah lalu melangkah keluar dari kamar mewah tersebut dengan santai.

​Pak Herman menyulut senyum misterius sebelum menyusul Bima berjalan ke luar ruangan.

​Srek.

​Pintu kamar Clara tertutup kembali dengan sangat rapat.

​Pak Herman menepuk pundak Bima dengan hangat saat mereka berjalan bersama menyusuri koridor.

​"Nak Bima, terima kasih banyak untuk hari ini."

​"Saya melihat perubahan besar pada kesehatan dan keceriaan anak saya."

​"Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai orang yang menolong, Pak Herman."

​"Mulai hari ini, kamu tinggal di rumah ini dan tidak perlu kembali lagi ke tempat proyek bangunan itu."

​"Semua kebutuhanmu, baju, makanan, dan apa pun yang kamu perlukan akan ditanggung oleh keluarga saya."

​Bima sempat ingin menolak karena merasa tidak enak hati menerima perlakuan berlebihan tersebut.

​Namun Pak Herman memotongnya sebelum Bima sempat mengucapkan kata-kata penolakannya.

​"Ini bukan imbalan, tapi bentuk penghormatan saya kepada seorang tabib penyelamat keluarga kami."

​"Lagipula, proses pengobatan Clara kan butuh waktu beberapa bulan seperti yang kamu katakan tadi."

​Bima akhirnya mengangguk mengiyakan tawaran tersebut karena alasan medis memang lebih utama.

​"Baiklah Pak Herman, saya menerima kebaikan Bapak."

​Siang harinya, Bima memanfaatkan waktu luangnya untuk mengelilingi area halaman belakang rumah mewah yang sangat luas itu.

​Di sana terdapat kolam renang berukuran besar dan taman bunga yang tertata sangat rapi.

​Rerumputan hijau dan pepohonan rindang membuat udara di halaman belakang terasa jauh lebih sejuk.

​Bima melepaskan alas kakinya lalu berjalan bertelanjang kaki di atas rumput yang masih basah oleh embun.

​Sret.

​Dia menghirup nafas dalam-dalam untuk merasakan aliran energi murni yang terpancar dari alam sekitar.

​"Kota ini memang dipenuhi polusi dan debu bangunan, tapi taman ini punya sedikit hawa spiritual yang bagus."

​Bima duduk bersila di bawah pohon beringin buatan yang cukup rindang di sudut taman.

​Dia memejamkan mata dan meposisikan kedua tangannya di atas pangkuan untuk mulai bermeditasi.

​BZZZT.

​Aliran tenaga dalam di dalam tubuh Bima yang sempat terkuras habis perlahan-lahan mulai terkumpul kembali.

​Titik-titik energi hangat mengalir dari telapak kakinya yang menyentuh tanah menuju ke pusat perutnya.

​Dari lantai dua, tepatnya dari balik jendela kaca kamar tidurnya, Clara sedang berdiri memperhatikan Bima.

​Gadis itu memegangi cangkir berisi teh hangat sambil menatap pemuda desa yang sedang duduk bersila di taman bawah.

​"Pria yang aneh sekali."

​"Kenapa dia malah bermeditasi di bawah pohon seperti pendekar di film-film kuno?"

​Clara bergumam pelan pada dirinya sendiri tanpa sadar memamerkan senyuman tipis di bibirnya.

​Dia mengingat kembali momen saat jemari Bima menyentuh pergelangan tangannya tadi pagi.

​Hawa hangat yang disalurkan pemuda itu terasa sangat nyata dan belum pernah dia rasakan dari dokter mana pun.

​"Apakah dia benar-benar punya ilmu gaib atau semacamnya?"

​"Atau jangan-jangan... dia memang manusia ajaib yang dikirim untuk menyembuhkanku?"

​Pikiran Clara terus berkelana membayangkan berbagai kemungkinan tentang latar belakang Bima.

​Sementara itu, di sebuah ruangan gelap di sudut lain kota Jakarta, Tante Vina sedang menelpon seseorang dengan wajah memerah marah.

​"Halo, aku butuh bantuanmu sekarang juga!"

​"Rencana kita untuk menghabisi Clara gagal total gara-gara seorang pemuda gembel sialan dari kampung!"

​Suara berat dan dingin membalas dari seberang telepon.

​"Bagaimana mungkin ramuan Racun Es Seribu Tahun itu bisa gagal?"

​"Dokter terbaik di negara ini saja tidak akan sanggup mendeteksi racun langka tersebut!"

​"Anak gembel itu memakai cara akupunktur dan jamu-jamuan aneh untuk mengeluarkan racunnya!" teriak Tante Vina berbisik panas.

​"Ancamannya sangat besar bagi rencana kita untuk menguasai aset perusahaan Herman."

​Pria di seberang telepon terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban yang sangat mengerikan.

​"Tenanglah Vina, kalau anak kampung itu menjadi penghalang, kita tinggal melenyapkannya saja."

​"Aku akan menyuruh orang-orangku untuk menyelidiki latar belakang anak itu dan memberinya pelajaran mematikan."

​Tante Vina tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban dari sekutunya tersebut.

​"Bagus, pastikan anak itu mati membusuk sebelum dia berhasil menyembuhkan Clara secara total!"

​Tuk.

​Sambungan telepon diputus secara sepihak.

​Di taman belakang, Bima perlahan membuka kedua matanya yang berkilat tajam.

​Intuisi tajamnya sebagai seorang ahli bela diri merasakan adanya hawa keberadaan niat jahat yang mengintip dari jauh.

​Bima menengadah menatap langit sore yang mulai berwarna jingga keemasan.

​"Aura membunuh yang cukup kuat... sepertinya tikus-tikus jahat itu mulai merasa terancam."

​Bima tersenyum tipis tanpa ada rasa takut sedikit pun di dalam hatinya.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!