NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Dari seratus formulir, hanya dua puluh empat orang yang masuk angkatan pertama.

Pengumuman itu membuat grup pesan peserta langsung panas. Ada yang mengeluh AKN hanya mencari nama bagus untuk konten. Ada yang menuduh seleksi tidak adil. Ada pula yang bertanya apakah peserta tidak lolos tetap dapat sertifikat.

Bima membaca semua komentar tanpa emosi.

Hari pertama Akademi Talenta Arunika dimulai di ruang pelatihan kecil dekat gudang. Dua puluh empat kursi disusun rapi. Di atas meja masing-masing ada map, kartu nama sementara, jadwal, dan satu halaman yang judulnya membuat beberapa peserta mengerutkan kening.

Perjanjian Pelatihan, Bukan Kontrak Kerja.

Bima berdiri di depan.

"Sebelum kalian senang atau kecewa, baca halaman pertama."

Kursi berderit. Kertas dibalik. Wajah-wajah muda yang semula santai mulai serius.

"Program ini memberi tunjangan hadir, makan siang, asuransi kegiatan pelatihan, dan sertifikat internal jika lulus. Program ini tidak menjamin pekerjaan. Kalian boleh mundur. Kami juga boleh mengeluarkan peserta yang melanggar keselamatan, memalsukan absensi, atau mengganggu peserta lain."

Seorang peserta mengangkat tangan. "Berarti kalau selesai belum tentu kerja?"

"Benar."

"Lalu kenapa ikut?"

Bima menunjuk papan. "Karena kalian mendapat akses ke latihan nyata, umpan balik nyata, dan wawancara nyata. Kalau kalian hanya mau kertas tanpa diuji, ini tempat yang salah."

Tiga orang mundur sebelum istirahat pertama.

Bima tidak mengejar mereka. Ia hanya meminta mereka menandatangani formulir keluar, menerima tunjangan hari pertama, dan mengembalikan kartu akses.

Sari memperhatikan proses itu dengan mata lebar.

"Tidak dimarahi?" bisiknya kepada Farhan.

Farhan menggeleng. "Mungkin karena dari awal bukan penjara."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi Sari rasanya asing.

Sesi berikutnya dipimpin Hendra Wijaya. Ia datang adalah sepatu keselamatan, sarung tangan, dan satu kotak barang rusak.

"Kalau kalian ingin terlihat pintar, jangan mulai dari bicara. Mulai dari tidak membuat orang lain kehilangan jari."

Beberapa peserta tertawa. Hendra tidak.

Ia menunjukkan cara mengangkat kotak, membaca label, mengenali barang retak, dan batas area yang tidak boleh dimasuki peserta. Ketika seorang peserta bercanda ingin mencoba forklift untuk konten, Hendra membuatnya berdiri di depan garis kuning.

"Lihat garis ini?"

"Iya, Pak."

"Selama belum punya izin, garis ini lebih kuat daripada rasa penasaranmu."

Tidak ada yang tertawa lagi.

Sore itu, Dimas mengajar komunikasi pelanggan. Ia membuka dengan skrip promosi Saga yang menurutnya sudah ramah.

Sari mengangkat tangan setelah lima menit.

"Mbak Naya tidak ikut?" tanya Dimas, setengah bercanda.

"Saya mau tanya skripnya," kata Sari. "Kalimat ini seperti maksa orang tua merasa bersalah kalau tidak beli."

Dimas berhenti.

Di layar tertulis: Jangan biarkan anak Anda ketinggalan pengalaman teman-temannya.

Ruangan diam. Dimas membaca ulang kalimat itu. Setelah krisis Saga, kalimat seperti itu terasa seperti lubang yang hampir mereka injak lagi.

"Kamu benar," katanya akhirnya.

Ia menghapus satu baris di depan peserta. Lalu menulis baru: Pilih paket sesuai usia, kebutuhan, dan izin keluarga.

"Begini?"

Sari mengangguk pelan. "Lebih aman."

Dimas menatap kelas. "Catat. Tugas kalian bukan cuma menyerap. Kalau perusahaan salah, tunjukkan dengan alasan."

Di belakang ruangan, Bima mencatat nama Sari.

Malamnya, Sari tinggal lebih lama untuk membahas jadwal. Ia membawa buku kecil berisi kelas malam, perjalanan pulang, dan waktu membantu warung keluarganya. Bima melihat angka-angka itu seperti melihat rute pengiriman.

"Kamu tidak boleh ambil shift malam."

"Saya butuh uang lebih."

"Kamu butuh tidak tumbang sebelum bulan kedua."

Sari menggigit bibir. "Keluarga saya bilang kalau sudah dapat perusahaan, berhenti sekolah saja."

"Perusahaan tidak meminta itu."

"Tapi mereka bisa marah."

Bima mendorong kertas jadwal kepadanya. "Mereka boleh marah. Mereka tidak boleh menandatangani hidupmu."

Sari menunduk lama. Ketika ia mengangkat wajah, matanya merah tetapi suaranya lebih stabil.

"Saya pilih kelas malam tetap jalan."

"Baik. Kita buat jadwal yang mungkin, bukan jadwal heroik."

Farhan mendapat panggungnya pada minggu kedua.

Ia tidak membuat presentasi megah. Ia membawa gambar gudang yang digambar ulang dari ingatan dan observasi. Jalur barang masuk, titik scan, meja packing, rak sementara, dan pintu keluar diberi warna berbeda.

"Scan pertama di sini," katanya sambil menunjuk. "Tapi kotak harus dibawa ke meja sana untuk cek ulang. Setelah itu kembali ke rak sementara. Satu kotak jalan dua kali."

Hendra mengerutkan dahi. "Itu sudah biasa."

"Iya, Pak. Tapi kalau satu hari dua ratus kotak, langkah biasa jadi banyak."

Farhan menunjukkan hitungan waktu. Cukup jelas. Lima puluh detik per kotak berubah menjadi hampir tiga jam kerja hilang per hari.

Bima tidak langsung memuji. "Solusinya?"

"Pindahkan satu titik scan dekat packing, tapi barang yang belum dicek diberi warna kuning. Setelah cek, warna hijau. Kalau scanner error, tulis di kertas merah, jangan diingat-ingat."

Yusuf, yang ikut menonton, mengangkat kepala. "Kertas merah itu untuk audit?"

"Iya, Pak. Biar yang aneh tidak hilang di mulut."

Kalimat itu membuat Bima tersenyum tipis.

Farhan masuk kelompok praktik.

Hari pertama di gudang, aturan diulang lebih keras. Peserta hanya boleh mengamati, memindai di bawah pengawasan, dan mencatat. Tidak boleh mengemudi alat, tidak boleh membuka barang bersegel, tidak boleh masuk area bahan pembersih, tidak boleh memotret data pelanggan.

Beberapa peserta kecewa karena merasa tidak dipercaya.

Hendra berkata, "Kepercayaan bukan alasan mengabaikan keselamatan."

Menjelang pukul empat, latihan berubah jadi masalah sungguhan.

Stok Saga basic set dari rak B-3 harusnya tujuh belas kotak.

Sistem menunjukkan tujuh belas.

Kertas penerimaan menunjukkan tujuh belas.

Rak hanya berisi enam belas.

Seorang mentor muda langsung memandang peserta. Mata itu cukup untuk membuat udara berubah.

Satu peserta meremas kartu aksesnya. Yang lain mundur setengah langkah dari rak, seolah jarak bisa membuktikan tidak bersalah. Sari menatap lantai, wajahnya keras; ia tahu rasa dituduh sebelum diberi kesempatan menjelaskan.

"Jangan ada yang keluar dulu," katanya.

Sari memucat. Beberapa peserta saling melihat. Kata pencurian belum diucapkan, tetapi sudah berdiri di tengah ruangan.

Farhan mengangkat tangan.

"Pak, kunci pintu gudang boleh. Tapi jangan periksa badan."

Semua menoleh. Ia segera sadar memakai kata yang salah dari video luar negeri yang pernah ia tonton, lalu memperbaiki, "Maksud saya, jangan periksa tubuh atau tas orang sebelum jelas prosedurnya. Kita cek scan terakhir dulu."

Hendra membuka mulut, mungkin ingin menolak. Namun Bima sudah menatap Farhan seperti melihat sesuatu yang lebih penting daripada kotak hilang: anak itu menjaga prosedur bahkan saat semua orang ingin mencari pelaku.

Bima, yang baru tiba, menatap rak kosong itu.

"Kamu punya dua jam."

Farhan menelan ludah.

"Untuk apa, Pak?"

"Untuk membuktikan ini kehilangan barang, bukan kehilangan kepala dingin."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!