NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Pria Itu berbahaya!

Sebelum ibu-ibu berhasil meraih tangan Nara untuk ditariknya dengan kasar, Sagara dengan sigap menarik Nara ke belakang punggungnya. Ia juga tak segan menepis tangan ibu-ibu yang bergerak dengan brutal tersebut akibat hasutan Nurlela.

Pak RT ikut maju, kembali menjadi penengah setelah dirinya didorong oleh ibu-ibu sampai tubuhnya terjengkang.

"Tolong tenang Ibu dan Bapak, jangan main kasar seperti ini. Kita juga belum mendengar penjelasan dari Nara maupun Sagara," ujar Pak RT tegas.

"Penjelasan seperti apa lagi, Pak RT? Mereka sudah jelas-jelas kumpul kebo di kampung kita ini. Membawa kebiasaan kota mereka yang bebas di sana," sangga Nurlela lantang. Teman gengnya angguk-angguk setuju. "Kami juga melihat mereka tadi sedang berpelukan, di kamar mandi pula. Apa lagi namanya itu, kalau bukan mereka sedang ingin berbuat maksiat. Merusak nama baik lingkungan dan kampung kita!" lanjutnya dengan menggebu.

Saat Nara berteriak akibat kakinya yang tergelincir, ibu-ibu yang sedang bergosip di rumah Nurlela berbondong-bondong menghampiri, suara teriakan Nara begitu jelas terdengar di rumah tersebut yang memang berhadapan dengan bangunan kamar kosan. Beberapa penghuni kosan yang sedang libur ikut keluar untuk melihat situasi, belum lagi beberapa warga yang berada di teras untuk berteduh. Dan rombongan besar itu berakhir di depan kamar mandi seperti saat ini.

Sagara berdehem keras, menyugar rambut sebahunya ke belakang. "Mulut Ibu Nurlela ini sepertinya memang sering sekali membawa berita palsu, alias fitnah lebih tepatnya!" Manik kelam Sagara memandang tajam pada wanita gempal tersebut yang sejak tadi selalu menyulut warga dengan kata-kata tidak berdasarnya.

"Tolong Ibu Lela dan semuanya cermati dengan baik-baik! Jika saya dan Nara kumpul kebo di sini, mana mungkin saya tidak menutup pintu kamar kosan saya dan malah membiarkannya terbuka lebar seperti ini dan kalian semua bisa masuk dengan leluasa? Lagi pulang lihat situasinya, tadi airnya bercipratan kemana-mana membuat lantai licin. Nara yang ingin mematikan mesinnya, kakinya tergelincir sampai kepalanya hampir terantuk tembok. Saya refleks menolongnya agar tidak terjatuh, dan kalian semua masuk hanya melihat bagian saya memeluk Nara," jelas Sagara dengan suara tegasnya. Dalam hati ia bersyukur para warga tidak melihat adegan ciuman tidak sengaja mereka karena posisi yang membelakangi.

Para warga saling pandang, lalu menunduk karena telah menuduh dan mengatai yang tidak-tidak pada Nara dan Sagara. Nurlela selaku pemilik suara paling lantang sejak tadi, kini mulutnya ternganga.

"Benar, airnya tadi bercipratan. Itu ganggang kerannya patah, saya yang baru saja mematikan mesinnya," sahut seorang bapak yang kebetulan juga menyewa kamar kosan tersebut. Yang lain semakin menunduk dalam.

"Saya dan Nara ingin memperbaiki kerannya, sama sekali tidak menyangka akan seperti ini." Sagara menunjuk keran yang rusak, lalu pada peralatan yang dibawa oleh Nara dari rumahnya.

"T-tetapi tetap saja ini tidak bisa dibenarkan ..." ujar Nurlela yang masih tidak ingin menyerah.

"Maksud Bu Lela? Sudah jelas-jelas ini semua salah paham, tidak terjadi apa-apa antara anak saya dengan Nak Sagara," sela Ratna yang tidak tahan lagi, sejak tadi tetangganya ini selalu saja menyudutkan. Jelas sekali niatnya yang ingin merusak nama baik sang anak.

Nara yang sejak tadi menunduk, kini mengangkat kepala. Matanya memanas mendapatkan pembelaan dari sang ibu. Hatinya yang sejak tadi merasa resah, kini menjadi tenang dan hangat. Ibunya mempercayainya, ia tak butuh hal lain lagi.

Nurlela sedikit kelimpungan, mulutnya terbuka lalu terkatup kembali, begitu berulang kali. Sampai seringai licik tersungging di bibirnya. "Saya masih tidak percaya pria ini calon suaminya Nara yang katanya dari kota." Senyum liciknya semakin lebar.

Sagara memicingkan mata, alisnya tertaut. Apalagi yang akan di katakan wanita pendusta ini? gumamnya dalam hati. Nara di samping mulai kembali was-was, jarinya meremat membentuk kepalan.

"Ya bisa saja 'kan keduanya ini berbohong. Nara datang ke kampung sementara calon suaminya masih di kota, lalu di sini dia bersama dengan lelaki lain lagi. Apa namanya itu kalau bukan gadis gatal, peselingkuh?!" katanya, kembali mengulang dugaannya saat di rumah Pak RT. Tetapi dari semua itu, ia lebih yakin bahwa anak tetangganya ini tidak memiliki kekasih apalagi calon suami. Lihat saya dari tampilannya itu, siapa yang mau?

Pak RT menghela napas, bahkan sampai menepuk dahinya sendiri. "Astaghfirullah Bu ... bukankah ini merupakan tuduhan yang sama seperti tadi pagi. Dan A Sagara sudah mengakui bahwa dia yang merupakan calon suaminya, Neng Nara."

"Sagara memang calon suami saya," ujar Nara ikut menegaskan. Padahal dalam hati ketar-ketir dengan jantung yang berdebar kencang. Kebohongan berikutnya yang kembali ia lontarkan. Bahkan Sagara sampai menoleh ke arahnya dengan mulut sedikit ternganga.

"Siapa yang percaya? Kalian semua percaya, hah?!" tanya Bu Nurlela menatap ke sekelilingnya. Semuanya diam, tidak ada yang menyahut, apalagi menanggapi.

"Asal kamu tahu ya, tidak ada yang mau sama kamu. Bahkan para pemuda kampung pun di sini tidak ada, hanya Juragan dan duda anak satu di kampung sebelah saja yang mau sama kamu!" tunjuk Bu Nurlela kepada Nara. Kepala tanggung, ia akan menyelesaikannya. "Dan jika dia memang calon suamimu, kenapa disuruh menikah kalian malah tidak mau?!" tanyanya dengan salah satu alis menukik ke atas.

Tangan Nara semakin meremat, melihat ke arah Sagara. Pria itu memang pernah menawarkan menjadi calon suami sungguhannya, tapi maukah dia menikah dengannya? Dan dari tawarannya saja, bisa dilihat ada maksud lain di sana. Namun, Nara tidak tahu apa itu.

"Siapa bilang kami tidak mau? Kedatangan saya ke sini pun, selain untuk pekerjaan, juga untuk melamar Nara secara resmi kepada Ibunya. Hanya saja, karena beberapa insiden, saya dan Nara terlibat kesalahpahaman, dan saya berusaha mendapatkan maafnya. Bukan karena selingkuh atau apa pun pada diri Nara, karena saya menerimanya apa adanya. Tetapi, ini murni salah saya yang terlalu sibuk sampai mengabaikan Nara."

Sagara menatap Nara dengan lembut seraya meraih kedua tangan yang mengepal erat itu. Diusapnya dengan ibu jari besarnya sampai jari-jari mungil Nara mengendur, melepaskan ketegangan.

"Sayang, maafkan aku. Sudah marahnya, ya? Kalau kamu memang mau kita menikah sekarang, ayo, aku siap lahir batin."

Mata Nara seketika membulat, hatinya berdebar kencang. Bukan haru ataupun rasa syukur karena telah dibela, tetapi malah ketakutan. Pria ini berbahaya!

"Kalau memang begitu, sebaiknya memang di segerakan agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman seperti ini dan tidak memberi cela untuk tukang fitnah." Pak RT mengangguk takzim.

Warga juga ikut membenarkan, seraya juga meminta maaf pada keduanya. Hanya Nurlela yang mulutnya kini terkatup rapat. Kehabisan kata-kata.

"Benar kata Pak RT, Ibu setuju kalian menikah hari ini dan saat ini juga. Tidak usah menunggu lama lagi, pernikahan siri pun tak apa. Kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian secara hukum nanti, begitu pula dengan pestanya, asalkan sekarang sah dulu!" kata Ratna mutlak, terlanjur sakit hati dengan perkataan para warga terutama Nurlela. Anaknya dikatai perawan tua, tidak laku, dan sekarang malah tukang selingkuh, terlebih-lebih kumpul kebo.

Ibu mana yang tidak sakit hati dengan perkataan dan tuduhan kejam seperti itu?!

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!