NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. obrolan keluarga whitmore

Di sisi lain, jauh dari kesederhanaan apartemen kecil di Camden, sebuah rumah bergaya klasik megah berdiri kokoh di kawasan elit Kensington, dikelilingi taman rapi dan pagar besi tinggi. Di dalam ruang makan yang dihiasi lampu gantung kristal dan meja kayu mahoni panjang, keluarga Whitmore sudah berkumpul untuk sarapan pagi seperti biasa.

Zara duduk di salah satu sisi meja, mengenakan gaun rumah sutra berwarna krem, rambut hitamnya masih tergerai lepas, jauh berbeda dari penampilan formalnya di kantor. Di ujung meja, ayahnya, Richard Whitmore, duduk sambil membaca surat kabar finansial, sesekali menyesap kopinya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman yang ia baca. Ibunya, Victoria Whitmore, duduk di seberang Zara, mengaduk tehnya perlahan dengan gerakan anggun yang sudah menjadi kebiasaan seumur hidupnya.

"Bagaimana perkembangan soal pertunangan kalian?" tanya Richard akhirnya, menurunkan surat kabarnya sedikit, menatap putrinya dengan alis terangkat. "Sudah ada kepastian tanggal pernikahan?"

Zara meletakkan cangkir tehnya perlahan, mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang. "Belum, Ayah. Alex bilang masih banyak urusan bisnis yang perlu diselesaikan dulu."

Richard mendengus pelan, kembali fokus ke surat kabarnya. "Selalu bisnis. Sudah dua tahun kalian bertunangan, Zara. Keluarga Nozer seharusnya sudah cukup mapan untuk tidak terus menunda hal seperti ini."

"Aku juga sudah bilang begitu padanya," jawab Zara, mencoba menyembunyikan kekhawatiran yang mulai menggerogotinya sejak semalam.

Victoria menatap putrinya dengan seksama, ibu mana pun bisa membaca kegelisahan di balik kata-kata Zara yang terdengar terlalu berhati-hati. "Ada yang mengganjal pikiranmu, Sayang? Kau tampak berbeda akhir-akhir ini."

Zara tersenyum tipis, berusaha menampik kekhawatiran ibunya. "Tidak ada apa-apa, Bu. Cuma sedikit lelah dengan pekerjaan belakangan ini."

"Kalau begitu, mungkin kau perlu memikirkan cara lain untuk mempercepat rencana pernikahan itu," kata Victoria, nadanya tetap lembut meski tersirat maksud tertentu di baliknya. "Kesepakatan antara keluarga kita dengan keluarga Nozer sudah berjalan terlalu lama tanpa kepastian. Kalau Alex terus menunda, mungkin kau perlu mendorongnya sedikit lebih keras."

"Aku mengerti, Bu," jawab Zara, menunduk sedikit menatap tehnya yang mulai dingin.

Richard melipat surat kabarnya, menaruhnya di sisi meja, menatap putrinya lebih serius kali ini. "Aku tidak ingin pertunangan ini terus mengambang tanpa kepastian, Zara. Kesepakatan bisnis antara keluarga kita dengan Nozer sudah disusun sejak lama, dan itu semua bergantung pada pernikahan kalian yang segera terlaksana."

"Aku mengerti, Ayah," jawab Zara, suaranya sedikit tertahan.

"Pastikan kau yang mengambil kendali," lanjut Richard, suaranya mengeras sedikit, nada khas seorang pengusaha yang terbiasa memastikan setiap kesepakatan berjalan sesuai rencananya. "Pernikahan ini bukan sekadar soal cinta, Zara. Ini soal masa depan perusahaan kita, gabungan kekuatan dua keluarga besar. Jangan biarkan apa pun mengacaukan semuanya, termasuk keraguan Alex sendiri."

"Aku tahu, Ayah," jawab Zara, suaranya lebih tegas kali ini, meski di dalam hatinya kekhawatiran itu justru semakin membesar.

 Membayangkan bagaimana caranya benar-benar memastikan tidak ada apa pun, termasuk seseorang yang belakangan ini mulai mengusik ketenangannya sendiri, sampai menjadi ancaman bagi rencana besar yang telah disusun sejak lama oleh kedua keluarga mereka.

Richard meletakkan cangkir kopinya, menatap putrinya lebih tajam dari sebelumnya, suasana ruang makan yang tadinya tenang mulai terasa berat. "Kau tahu betul, Zara, status kalian sekarang masih sebatas tunangan. Belum menikah. Dan tunangan bisa saja batal kapan pun, terutama kalau salah satu pihak mulai ragu."

Zara menegang mendengar itu, jemarinya mengetuk pelan cangkir teh di depannya. "Alex tidak akan membatalkannya, Ayah. Dia terlalu tahu betapa pentingnya kesepakatan ini bagi kedua keluarga."

"Jangan terlalu yakin," potong Richard, suaranya semakin tegas. "Aku sudah cukup lama berbisnis untuk tahu, kesepakatan sebesar apa pun bisa runtuh hanya karena satu keputusan mendadak. Dan kalau itu benar-benar terjadi, kau tahu apa akibatnya bagi keluarga ini?"

Zara terdiam, tidak berani menjawab, meski ia sudah cukup paham ke mana arah pembicaraan ini akan berlanjut.

"Investasi kita di tiga proyek besar Nozer Holdings sudah mencapai angka yang tidak sedikit," lanjut Richard, nadanya semakin dingin dan penuh perhitungan. "Belum lagi saham gabungan yang sudah kita tanamkan sejak awal pertunangan ini diumumkan. Kalau pernikahan ini batal, semua itu bisa runtuh dalam semalam. Reputasi keluarga kita di mata investor lain juga akan hancur, dianggap tidak cukup kuat untuk mempertahankan kesepakatan sebesar itu."

"Aku mengerti, Ayah," kata Zara, suaranya lebih pelan kali ini, beban di kata-kata ayahnya terasa semakin nyata di pundaknya sendiri.

"Belum lagi soal posisimu sendiri," tambah Richard, menatap putrinya lurus-lurus. "Kalau pertunangan ini gagal, jangan berharap ada keluarga sekelas Nozer lain yang mau menerimamu semudah itu. Dunia kita ini kecil, Zara. Kabar seperti itu menyebar cepat, dan kau akan jadi bahan pembicaraan di setiap acara sosial yang kau hadiri."

Victoria yang sedari tadi diam, akhirnya ikut bersuara, nadanya lebih lembut dibanding suaminya, tapi tetap menyiratkan kekhawatiran yang sama. "Ayahmu benar, Sayang. Ini bukan hanya soal perasaanmu. ini soal masa depan seluruh keluarga."

Zara menghela napas, mencoba menahan gejolak yang mulai bercampur aduk di dadanya, antara tekanan dari kedua orang tuanya dan kekhawatirannya sendiri soal Lauren yang terus mengusik pikirannya sejak semalam. "Aku akan pastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Ayah. Aku tidak akan membiarkan apa pun menghancurkan ini."

"Bagus," kata Richard, kembali meraih surat kabarnya, seolah percakapan berat itu baru saja selesai semudah membalik halaman koran. "Aku percaya kau cukup pintar untuk menangani ini semua dengan benar, Zara. Jangan sampai aku kecewa."

Zara mengangguk, meski di dalam hatinya, tekanan itu terasa semakin menghimpit, mendorongnya untuk bertindak lebih tegas, lebih cepat, sebelum semuanya benar-benar lepas dari kendalinya.

Ia menatap tehnya yang sudah sepenuhnya dingin, pikirannya kembali melayang ke sosok Lauren yang selama ini ia anggap sekadar gangguan kecil, tapi kini mulai terasa seperti ancaman yang jauh lebih nyata dari yang pernah ia bayangkan.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!