NovelToon NovelToon
AMERICAN CROWS

AMERICAN CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kazeo24

Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 THE NEW ORDER

Angin sore di lapangan Wirasaba berembus makin kencang, membawa debu-debu kering yang membuat mata terasa perih.

Ryuka masih terpaku menatap ponsel Denza yang memuat berita tentang Oky Febrian yang naik tahta menjadi Ruler ketiga di Cikampek Barat.

Keheningan di lapangan itu terasa sangat menekan, seolah-olah seluruh wilayah Wirasaba ikut membeku setelah mendengar peta kekuatan kota berubah total dalam semalam.

"Kita harus cabut sekarang, Ka," ucap Denza dengan nada mendesak. "Kalau Oky udah resmi jadi Ruler, pasukan OKOM bakal mulai bergerak agresif. Kita nggak perlu kejebak di sini."

Ryuka mengangguk pelan, hendak melangkah menuju mobil. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti. Bulu kuduknya meremang.

Dari balik bayangan sebuah bangunan tua di ujung lapangan, sesosok pria melangkah keluar perlahan.

Ryuka membelalakkan mata. Jantungnya berdegup kencang. "Zela...?"

Itu benar-benar dia, Gazela Hanantastiwi. Namun, sosok yang berdiri di sana sama sekali berbeda dengan Zela yang dikenal Ryuka sebagai kawan bertarungnya yang dingin namun berhati murni.

Zela berjalan dengan langkah berat, kepalanya tertunduk sedikit. Begitu dia mengangkat wajahnya, Ryuka tersentak mundur.

Tatapan mata Zela sangat tajam, tapi bukan ketenangan yang terpancar, melainkan hawa penuh kebencian. Bagian hitam matanya tampak lebih gelap, seolah-olah dipenuhi oleh frustrasi yang amat mendalam.

Hawa keberadaannya yang biasanya terasa seperti "Cahaya Murni" kini berubah menjadi sesuatu yang menyesakkan.

"Zel! Lu ke mana aja, Bangsat?!" teriak Ryuka, mencoba menutupi rasa cemasnya dengan nada kasar. "Gua nyariin lu seminggu ini! Gua kira lu udah mati kagak kelihatan?!"

Zela tidak langsung menjawab. Dia terus berjalan mendekat. Ketika jarak mereka hanya tersisa dua meter, Zela berhenti.

Ryuka bisa merasakan tekanan yang luar biasa dari tubuh temannya itu—sebuah "hawa" yang bahkan membuat Denza dan Gilang secara refleks memasang kuda-kuda siaga.

"Minggir," ucap Zela. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan aura permusuhan yang tak terbendung.

Ryuka mengernyitkan dahi. Dia melangkah maju, mencoba meraih bahu Zela. "Zel, sadar! Lu kenapa? Lu gak kayak diri lu yang biasanya?!"

"Gua bilang... minggir, anjing," desis Zela lagi.

Ryuka tidak menyerah. Dia mencengkeram kerah jaket Zela, mencoba mengguncang tubuh temannya itu agar sadar. "Zel! Lihat gua, anjing! Lu kalau ada masalah bilang ke gua!"

BAM!!

Tanpa peringatan, Zela melayangkan pukulan lurus yang sangat cepat ke arah wajah Ryuka. Ryuka yang sedang tidak dalam posisi bertahan hampir saja terkena hantaman telak itu jika saja tidak ada tangan lain yang memotong.

TAK!

Gilang bergerak secepat kilat, menepis pukulan Zela menggunakan lengannya. Gilang berdiri di depan Ryuka dengan raut wajah yang sangat serius. "Zel, cukup. Ryuka cuma pengen bantu lu, asal lu tahu."

Zela menarik tangannya kasar. Dia menatap Ryuka dan Gilang bergantian dengan pandangan jijik.

"Ngebantu? Lu lupa, Ryuka? Sejak awal kita bertemu, lu itu musuh gua, dan gua nggak butuh bantuan dari orang luar kayak lu. Jadi, lu nggak usah ikut campur urusan orang lain, setan!!"

Zela berbalik badan, melangkah dengan tenang menuju sebuah gang gelap di pinggir lapangan. Di sana, sudah menunggu beberapa orang pria berwajah keras yang mengenakan atribut yang asing bagi Ryuka.

"Bang Denza, siapa mereka?" bisik Ryuka, matanya masih terpaku pada punggung Zela.

Denza menyipitkan mata, mengamati logo di jaket orang-orang itu. "Dilihat dari ciri-ciri dan lokasinya, kemungkinan besar itu adalah faksi lokal dari salah satu wilayah di Wirasaba. Mereka nggak terafiliasi sama Aliansi Slonong Boys ataupun OKOM."

"Zela, lu mau ke mana?! Lu gak tahu aja kalau Ryuka bela-belain nyari lu seminggu ini, apa balasan lu kayak gini, Zel?!" teriak Gilang.

"Gilang, ya? Sejak kapan lu jadi bawel gini?!" jawab Zela tanpa menoleh.

"Cukup, Lang. Kita balik," ucap Ryuka rendah. Kepalanya menunduk, menyembunyikan sorot mata yang penuh kekecewaan.

Langit di atas Cikampek sore itu tampak begitu berat, seolah-olah awan-awan kelabu di atas sana sedang menahan napas menyaksikan pergeseran besar yang akan terjadi di kota ini.

Ryuka, Gilang, dan Denza baru saja meninggalkan lapangan Wirasaba dengan perasaan campur aduk setelah pertemuan singkat yang menyesakkan dengan Zela.

"Zela bener-bener beda," gumam Ryuka sambil menatap telapak tangannya yang tadi sempat gemetar menahan amarah Zela. "Matanya... auranya... kayak ada kebencian yang mendalam."

Denza hanya terdiam di balik kemudi, namun matanya terus waspada menatap kaca spion. "Kota ini emang bisa ngerubah orang. Tapi yang lebih penting sekarang, kita harus balik. Kita juga gak tahu situasi sekarang ini. Feeling gua gak enak."

Saat mobil mereka meluncur memasuki area pusat kota, pemandangan di jalanan utama berubah drastis. Biasanya, sore hari di pusat Cikampek adalah waktu yang tenang sebelum "hukum malam" berlaku.

Namun kali ini, ratusan berandalan—para crows dari berbagai faksi kecil—tampak berkumpul di trotoar dan halaman gedung-gedung tinggi mengenakan atribut yang mencolok.

"Gila... rame banget ini para crows," celetuk Gilang sambil menunjuk ke arah kerumunan di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi—Gedung Pusat Administrasi Mahkamah Agung.

Denza terpaksa menghentikan mobilnya karena jalanan tersumbat oleh ratusan motor berandalan. Mereka semua mendongak ke atas, menatap puncak gedung tersebut.

Di sana, pendar lampu sorot yang sangat terang membelah langit sore yang mulai gelap.

"Lihat ke atas, Ka," bisik Denza.

Di puncak rooftop gedung tersebut, terlihat siluet banyak orang berdiri berjejer. Di barisan paling depan adalah para petinggi Mahkamah Agung yang tersisa—Raka Kael, Yugito Bagna, dan Rigurd Lainan.

Di belakang mereka, berdiri tegak para OldGuard 13, jajaran petarung veteran Old Generation yang paling mematikan di Cikampek.

Tiba-tiba, suara menggelegar dari sistem pengeras suara gedung itu membahana ke seluruh penjuru pusat kota, membuat ratusan figuran di bawah langsung bungkam seketika.

Sesosok pria melangkah maju ke tepi pembatas rooftop. Dia adalah Maruken—pria yang dulu pernah melerai duel Ryuka dan Denza. Dia baru saja diangkat menjadi anggota Mahkamah Agung bangku ke-4 yang baru.

"DENGAR, KALIAN PARA BERANDALAN LEMAH!" teriak Maruken, suaranya menggelegar penuh otoritas. "PERANG PUNCAK SEBENTAR LAGI AKAN MELEDAK! BERSIAPLAH PARA CROWS! SEBENTAR LAGI ERA BARU AKAN DIMULAI DAN BERAKHIRNYA ERA LAMA!!"

Teriakan itu disambut sorak-sorai riuh dari ratusan kroco di bawah gedung. Namun, di atas rooftop, suasana justru menjadi canggung.

"Oy, oy... itu sama aja kayak penghinaan terhadap para pendahulu," gerutu Raka Kael sambil melipat tangan di dada, merasa tersinggung dengan kata-kata "era lama berakhir".

Di samping Maruken, Murayama Ken—yang ternyata adalah adik kandung Maruken—berbisik sambil menyikut pinggang kakaknya. "Bang, kalau ngomong disaring dulu napa. Galak amat lu," ucap Murayama Ken dengan nada malas khasnya.

Ryuka yang menonton dari bawah mobil langsung membelalakkan mata. "Woy, Bang Denza! Itu si Murayama?! Ngapain dia di sana?!"

Denza menabok pelan belakang kepala Ryuka. "Woy, jangan-jangan lu nggak tahu kalau Murayama Ken itu adiknya Maruken? Nama aslinya Maruken aja Maruyama Kenichi!"

Ryuka kaget setengah mati. "HAH?! Jadi si orang terkuat di Bayoer itu adiknya Bang Maruken yang dulu pernah ngehentiin pukulan gua ama lu?!"

Kembali ke atas rooftop, Yugito Bagna yang sedang menyesap minumannya mendongak. "Tapi ada benernya juga lu, Ken," ucap Yugito singkat.

Seketika, Ken dan Maruken menoleh barengan ke arah Yugito. "Ke gua?" tanya mereka serempak dengan ekspresi bingung.

Yugito langsung memasang muka kesal, urat di dahinya menonjol. "Bodo amat sialan mau ke siapa aja! Intinya, Cikampek sekarang bener-bener darurat! Bagaimana kalau dua aliansi besar itu hancur karena perang besar nanti dan keseimbangan di kota ini lenyap seperti dulu lagi?"

Yugito menatap ke arah kerumunan di bawah. "Sisa-sisa pecahan dari dua aliansi besar itu 80% kemungkinannya pasti mengamuk karena runtuhnya kekuasaan mereka. Bakal chaos kayak era dulu kala!"

Maruken menghembuskan napas panjang, sambil merokok merapikan jaketnya. "Jadi itu alasan kalian milih gua buat di posisi ini? Hadeh... ya udah deh gua bakal urusin dan mantau sendiri bersama para OldGuard 13 kalau sampai perang besar itu terjadi. Tapi jika ada salah satu aliansi yang menang dan selamat?"

"Maka dia akan semakin dekat dengan Imperial Crows... gelar kaisar yang legendaris itu," sela Yugito dengan nada dalam.

Di bawah, Denza segera memacu mobilnya lagi setelah kerumunan mulai sedikit mencair. Raut wajahnya sangat tegang.

"Ka, lu denger tadi? Oky dari tom dan Friza dari cbc bukan cuma perang biasa doang tadi. Mereka bener-bener sedang serius menguasai seluruh wilayah Barat sepenuhnya. Dan target mereka selanjutnya kemungkinan besar adalah Krajan hal ini bisa memicu perang besar 3 wilayah sekaligus barat utara timur."

Denza menjelaskan bahwa meskipun Krajan masuk wilayah barat, lokasinya sangat dekat dengan Wirasaba di utara. Di sana ada kekuatan yang disebut The Three Big Northern (3 Besar Utara): Fraksi Gamusi dari Wirasaba, Fraksi KRS dari Karangsinom, dan Fraksi Krajan Boys.

"Mereka bertiga ini sangat bermusuhan," lanjut Denza. "Pertempuran mereka buat ngerebutin wilayah Utara nggak terhitung jumlahnya. Kalau aliansi OKOM masuk ke Krajan, itu bakal jadi pemicu perang total di Utara."

Ryuka mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Zela... dia milih Wirasaba karena dia tahu Utara bakal ada perang meledak."

Mobil terus melaju kencang meninggalkan area pusat kota, diiringi teriakan ratusan figuran yang masih bergelora menyambut era baru yang berdarah.

1
DANZ XYZ
/NosePick//NosePick//Applaud/
Arashiii22
keren bangat sialan
Dongo Dipelihara
siapa yang di maksd maruyama abang nya zela kah?
Kazeo24: Yap itu abang nya zela
total 1 replies
Dongo Dipelihara
prolog yang keren
Kada Wijaya
DAMN BROO
Ekaa
/Plusone/
damai kami sepanjang hari
THISS IS PEAK BRO!!
AZIKAZUE
GOKSS PARAH SELAMA INI 22 BAB TERNYATA CMN PROLOG🤭
Kazeo24: BENER SEKALII
total 1 replies
AZIKAZUE
terus bekarya bang✌🏻
Kada Wijaya
OH GITU🤭
Kada Wijaya
👍👍👍
Kada Wijaya
lanjutt perang nya
Kada Wijaya
BADASSS🔥🔥🔥
kaka pelenger
GOKILLL
RezaFitra
/Casual//Casual/
Dongo Dipelihara
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!