"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 029: Malam Sebelum Berangkat
"Dari nol ke tujuh belas miliar lebih dalam sembilan puluh lima hari."
Budi mengucapkan angka itu dengan nada datar seorang auditor, meski mereka sedang makan malam perpisahan.
Hendra mengangkat gelas teh manis.
"Kalau Mas Budi baca sejarah kemerdekaan, mungkin juga nadanya begini. Dingin sekali, rek."
Meja panjang di lantai dua ruko CV Prasetyo penuh makanan. Sate ayam, rawon, tahu tek, nasi kotak dari warung langganan, dan dua piring kue yang dibawa Intan. Pak Gunawan duduk di ujung meja, tertawa pelan melihat Hendra mulai memimpin suasana seolah ia pemilik restoran.
Pak Wiryo datang dengan kemeja batik tua. Ia membawa satu kotak kecil berisi kaca pembesar cadangan.
"Jakarta suka membuat orang lupa melihat detail," katanya kepada Bayu. "Bawa ini. Kalau matamu capek, pakai alat. Jangan sombong pada tubuh sendiri."
Bayu menerima kotak itu dengan dua tangan.
"Terima kasih, Pak."
Gunawan menambahkan sambil mengaduk sambal, "Dan jangan percaya orang yang terlalu cepat bilang 'saya kenal semua orang'. Di Jakarta, kenal semua orang kadang artinya tidak dipercaya siapa pun."
Hendra menunjuknya.
"Nah, itu kalimat mahal. Harus ditempel di pintu kamar hotel Yu."
Makan malam itu sederhana. Namun bagi Bayu, ruko yang dulu kosong kini terasa penuh. Lantai dua yang sebelumnya hanya berisi meja bekas dan kipas angin berisik telah menjadi pusat tim, arsip, serta usaha yang terus tumbuh. Di antara berkas mereka, sebuah peta palsu mengarah ke Jakarta.
Rizal mengangkat map tugas.
"Selama kamu di Jakarta, operasional Surabaya aku pegang. Semua pemeriksaan tetap pakai alur empat tahap. Barang risiko tinggi menunggu jadwal video denganmu atau dikirim ke lab."
"Untuk Martapura," Hendra menyambung, "aku mulai cari orang buat pos kecil. Satu meja dan satu orang yang bisa dipercaya sudah cukup. Di dinding kita pasang tulisan besar: jangan bohong soal asal batu."
Budi menggeser tablet.
"Saya mulai susun pre-assessment untuk upgrade ke PT. Belum sekarang, tapi kalau arus kas dan kontrak makin besar, CV akan terlalu sempit. Struktur hak laba, pajak, audit, dan pemisahan aset harus disiapkan sebelum terlambat."
Bayu memandang mereka satu per satu.
"Jangan tunggu saya untuk keputusan kecil. Tahan segala hal yang membawa risiko hukum atau reputasi; urusan harga dan operasional boleh berjalan sesuai SOP."
Hendra memukul meja pelan.
"Dengar itu. Yu sudah bicara seperti bos sungguhan."
"Dia memang bos," kata Rizal.
"Dulu kita makan Indomie berdua, bro!" Hendra tiba-tiba berdiri. Matanya merah. "Satu bungkus dibagi dua. Telurnya satu, itu pun koen yang kasih aku kuningnya."
Ruangan hening setengah detik.
Lalu Pak Gunawan tertawa paling keras.
"Ini anak sudah mabuk teh manis."
Hendra menunjuk Bayu dengan sendok.
"Aku serius, rek. Kalau besok dia masuk TV dan lupa sama kita, aku akan datang ke studio bawa Indomie."
Bayu mengangkat gelas.
"Kalau aku lupa, bawa dua bungkus. Biar aku ingat lebih cepat."
Tawa pecah.
Di seberang meja, Intan ikut tersenyum. Namun senyumnya tidak penuh. Ada sesuatu yang ia simpan di balik cara ia menunduk melihat piring.
Setelah makan, orang-orang turun untuk memeriksa mobil dan beres-beres. Intan menunggu di balkon sempit lantai dua. Di bawah, lampu jalan memantul di kaca etalase.
"Besok pagi berangkat jam berapa?" tanyanya.
"Penerbangan jam delapan. Tim televisi menjemput di hotel Jakarta sore."
Intan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
"Eyang minta aku memberikan ini."
Di dalamnya ada pena tua berwarna hitam dengan ujung keemasan. Bobotnya pas di jari. Bekas pakainya menunjukkan bahwa pena itu pernah dipakai untuk menandatangani sesuatu yang penting.
"Katanya, untuk kontrak besar," ucap Intan.
Bayu memegang pena itu pelan.
"Saya belum sebesar itu."
"Kalau menunggu merasa besar, kamu tidak akan pernah tanda tangan apa pun."
Angin malam lewat di antara mereka.
Intan terus menatap jalan dan menghindari mata Bayu.
"Jakarta punya permainan berbeda dari Surabaya. Di sini orang masih bisa kamu baca dari siapa yang datang makan malam. Di sana, orang bisa tersenyum di studio dan menusuk lewat dokumen."
"Aku akan hati-hati."
Ia mengangguk.
Ada kalimat lain yang hampir keluar. Bayu bisa melihatnya dari cara jari Intan menyentuh pagar balkon.
Tetapi Intan hanya berkata, "Hati-hati di Jakarta."
"Aku pulang," jawab Bayu.
Mata Intan bergerak sebentar.
"Harus."
Telepon video dari Riani datang saat Bayu turun ke ruang arsip.
Di layar, Riani duduk di ruang kerja Permata Jaya Bandung. Wajahnya lembut seperti biasa, tetapi nada suaranya serius.
"Mas Bayu, Ayah titip pesan."
"Silakan, Neng Riani."
"Jakarta antique circle itu airnya lebih dalam dari laut. Kalau Mas Bayu butuh pegangan untuk barang sejarah, ada satu orang yang layak dicari. Pak Mangatas Situmorang. Mantan kepala Museum Nasional. Keras kepala, matanya lebih keras."
Bayu mencatat nama itu.
"Pak Rachmat kenal beliau?"
"Pernah berbeda pendapat sampai tiga tahun tidak saling menyapa," kata Riani, tersenyum tipis. "Itu justru artinya Ayah percaya beliau. Kalau orang bisa berdebat tanpa menjual prinsip, Ayah hormat."
Hendra yang lewat membawa kardus langsung menyelipkan kepala ke layar.
"Neng Riani, doakan Yu jangan ditipu artis Jakarta."
Riani tertawa kecil.
"Saya lebih khawatir artis Jakartanya yang tidak siap ditatap Mas Bayu."
Budi dari meja sebelah menyahut, "Semua yang ditatap harus tetap ada formulir persetujuan."
"Mas Budi," Riani tersenyum, "Anda benar-benar penjaga pagar."
"Pagar mahal kalau dibangun setelah rumah kemalingan."
Malam makin larut.
Satu per satu orang pulang. Rizal tetap tinggal untuk mengecek daftar kunci. Budi mengirim email terakhir ke kuasa hukum. Hendra tertidur lima menit di sofa, lalu bangun sendiri sambil menyangkal bahwa ia tidur.
Bayu masuk ke ruang kecil yang ia pakai sebagai kantor pribadi.
Koper hitam terbuka di lantai.
Ia memasukkan salinan akta CV, NIB, NPWP, kontrak program televisi, ringkasan 217 barang palsu, flash disk database, salinan hasil lab arca Mahkota, dan fotokopi laporan penilaian Keris Nagasasra serta lukisan Wibowo. Di sisi lain, ia menaruh dua kemeja, jaket, kaca pembesar dari Pak Wiryo, dan pena tua dari Intan.
Terakhir, ia membuka laci paling bawah.
Di sana ada batu kecil dari Pantai Klayar.
Kerikil biasa. Tidak berharga. Tidak bersinar.
Tetapi ketika Bayu memegangnya, ia ingat angin laut, suara ombak, dan hari ketika hidupnya runtuh cukup rendah untuk menemukan mata baru.
Ia memasukkan kerikil itu ke saku dalam jaket.
Rizal berdiri di pintu.
"Sudah siap, bro?"
"Belum sepenuhnya."
"Bagus. Orang yang merasa terlalu siap biasanya lupa kunci."
Bayu tertawa pelan.
Lampu ruko dimatikan satu per satu. Dari luar, Surabaya tampak lembut, seperti kota yang tahu anaknya akan pergi sementara.
Bayu tidak tahu bahwa malam itu di Jakarta, tiga berkas tentang dirinya sudah terbuka di tiga meja berbeda: milik televisi, milik polisi, dan milik sebuah kantor di lantai tertinggi.