Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Bisnis Baru, Pusing Baru
Suara derit pintu pagar besi tua milik Studio Musik Harmony menjadi pembuka pagi di pinggiran Kelurahan Damai. Cahaya matahari baru saja merekah di ufuk timur, membiaskan garis-garis emas menembus embun pagi yang masih bergelayut di daun-daun pohon mangga.
Di dalam studio yang beraroma campuran cat kayu, busa peredam yang sedikit lembap, dan aroma kopi hitam kental, suasana sudah riuh seperti pasar kaget.
"Bagas! Itu kabel mic jangan diikat simpul mati begitu! Lu kira mau mengikat kambing qurban?!" teriak Daffa dari atas panggung kayu rakitan. Tangannya yang sibuk memegang test-pen dan isolasi hitam terlihat gemetaran karena kurang tidur.
Bagas, yang sedang berlutut di lantai dengan kaos oblong warna army dan topi terbalik, cuma menyengir lebar tanpa dosa. Ia membetulkan letak topinya seraya menepuk-nepuk gulungan kabel.
"Santai, Daf! Ini namanya teknik 'simpul keabadian'. Biar kabelnya nggak kabur pas penyanyi dangdutnya nanti goyang patah-patah di acara bazar!"
"Kabur kagak, konslet iya!" semprot Dave yang baru datang sambil menggeletakkan dua dus air mineral ke lantai hingga menimbulkan suara dentuman kencang.
"Lagian siapa sih yang ACC kita ambil job acara gabungan khitanan massal plus bazar UMKM ini? Manajer kita mana?"
Pintu studio berderit terbuka lebar. Arga Bagaskara melangkah masuk membawa dua kantong plastik besar berisi sepuluh bungkus nasi uduk hangat dan tiga termos es teh manis. Ia mengenakan kaos polos hitam favoritnya dengan celana jeans yang sedikit pudar di bagian lutut.
Wajah Arga yang dulu—belasan tahun lalu—sering digelayuti awan kelam dan ekspresi dingin kaku, kini terlihat jauh lebih matang, hangat, dan hidup. Walau harus diakui, kantung mata di bawah matanya tidak bisa berbohong kalau ia habis bergadang mengurus laporan keuangan.
"Manajer hadir," potong Arga santai sambil menaruh kantong makanan di atas meja kayu.
"ayoooo...semuanya makan dulu. Kalau kalian pingsan pas check sound, aku males menggotong kalian ke puskesmas." ancam Arga
"Nah! Ini baru manajer kesayangan!" seru Bagas langsung menyambar bungkus nasi uduk paling besar tanpa cuci tangan.
Di antara mereka semua, Arga memang mengalami perubahan paling drastis. Sejak menikah dengan Menik Enam tahun lalu dan dikaruniai Nabila—putri kecil mereka yang super aktif—Arga bertransformasi dari cowok pemalu yang suka memendam perasaan menjadi sosok kepala rumah tangga yang sigap, walau kadang suka kebingungan kalau menghadapi kepolosan istrinya di rumah.
"Arga... jujur ya," Daffa mendudukkan diri di samping Arga, mengambil satu bungkus nasi uduk dan menusukkan sedotan ke kantong es teh.
"Usaha Harmony Event Organizer kita ini baru jalan beberapa bulan pasca kamu lepas dari kantor lama. Tapi klien kita minggu ini benar-benar di luar nurul. Pak RT minta panggungnya ada hiasan balon bentuk naga melayang, sementara Pak RW minta lagunya wajib lagu nostalgia era 80-an yang di-remix koplo. Gimana nyambungnya coba?"
Arga terkekeh pelan, menyesap teh hangatnya. Suara tawa Arga sekarang terdengar jauh lebih lepas.
"Ya disambung-sambungin ajalah Daf. Yang penting honornya cair tepat waktu. Menik sebentar lagi mau melahirkan anak kedua, kebutuhan Nabila juga makin banyak. Aku nggak boleh pilih-pilih job."
Bagas menepuk bahu Arga heboh sampai Arga hampir tersedak nasi. "Mantap! Bapak siaga dua anak! Dulu nggebuk drum buat pelampiasan galau gara-gara putus cinta, sekarang digebuk realita kehidupan ya, Ga?"
"Bagas, mau tak lempar stik drum?" ancam Arga bercanda sambil menaikkan sebelah alisnya. Anak-anak band langsung tertawa lepas, memenuhi ruangan studio tua itu dengan kehangatan persahabatan yang tak lekang oleh waktu.
...***...
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana bernuansa Jawa-modern yang asri, aroma tumis kangkung terasi dan tempe goreng renyah membubung hangat dari arah dapur.
Menik, dengan daster batik longgar dan perutnya yang membuncit masuk bulan kedelapan, sedang berdiri di depan kompor. Tangannya yang sigap mengacak-acak bumbu di wajan, sementara sesekali tangannya yang lain mengusap keringat halus di pelipisnya.
Di sudut meja makan, Nabila—putri sulung mereka yang berusia lima tahun—sedang duduk manis mengenakan seragam TK. Tangannya sibuk mewarnai gambar rumah dengan krayon warna-warni yang berantakan di atas meja.
Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari pintu depan. Arga masuk dengan napas sedikit terengah-engah. Begitu melihat istrinya berdiri di depan kompor panas, naluri "suami siaga panik" Arga langsung menyala tingkat tinggi.
"Dek! Ya Allah... kan Mas sudah bilang, kalau masak yang simpel-simpel aja! Atau beli di luar!" Arga dengan cepat merebut sudip kayu dari tangan Menik.
"Kamu itu lagi hamil tua, kaki kamu sudah mulai bengkak. Nanti kalau pusing gimana?"
Menik terkekeh pelan, menatap suaminya dengan pendar mata yang begitu lembut dan penuh kasih sayang. Ia mengusap lengan Arga yang tegang.
"Aduh, Mas Arga ini... Menik cuma tumis kangkung sama goreng tempe kok, bukan bikin pesta perkawinan," tutur Menik halus dengan logat Jawanya yang menenangkan.
"Lagian kalau beli di luar terus, uang belanja dari Mas nanti cepat habis. Kan mau disimpan buat tabungan adik bayi sama biaya masuk sekolah Nabila."
"Tapi kesehatan kamu itu nomor satu, Dek," kata Arga tegas, walau matanya memancarkan rasa khawatir yang amat sangat. Ia menuntun Menik untuk duduk di kursi meja makan.
"Biar Mas yang teruskan goreng tempenya."
Menik menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan punggung suaminya yang sibuk membalik tempe di wajan. Hati Menik berdesir hangat. Siapa yang menyangka, pria yang dulu dikenal sangat kaku, tertutup, dan menyimpan luka mendalam ini, kini menjadi sosok suami dan ayah yang luar biasa protektif dan penuh perhatian.
"Mas..." panggil Menik pelan.
"Iya, Dek?" sahut Arga tanpa menoleh, masih fokus pada minyak goreng.
"Uang modal buat beli peralatan sound system tambahan kemarin... masih cukup kan?"
Arga menghentikan tangannya sejenak. Ia menyunggingkan senyum tipis, lalu menoleh memandangi istrinya.
"Cukup, Dek. Berkat tabungan yang kamu kelola, sama patungan anak-anak band, semua operasional aman. Kamu nggak usah mikirin soal uang ya. Tugas kamu cuma jaga kesehatan dan bahagia."
Menik tersenyum manis, matanya berbinar tulus. Namun kemudian, raut wajah Menik berubah menjadi agak misterius.
"Mas Arga..."
"Dalem, Dek?"
"Menik mendadak ngidam..."
Arga langsung membeku di tempat. Sudip kayu di tangannya hampir saja jatuh ke dalam wajan. Pengalaman ngidam Menik sebelumnya—mulai dari minta dicarikan buah cermai jam tiga pagi sampai minta Arga pakai baju warna-warni—membuat Arga trauma tipis-tipis.
Arga menelan ludah, memutar badannya pelan. "Ng-ngidam apa lagi, Dek? Jangan bilang kamu mau makan durian Musang King yang diterbangkan langsung dari Malaysia jam segini ya?"
Menik menahan tawa sampai bahunya berguncang. Ia memanggil Nabila yang langsung berlari mendekat.
"Bukan, Mas," ujar Menik pelan.
"Menik ngidam... pengin lihat Mas Arga tampil lagi main drum di panggung besok pas bazar. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Arga was-was.
"Tapi pas main drum, Mas Arga harus pakai kostum badut gajah biar Nabila sama anak-anak kecil seneng!"
"Hah?! Dek?!" Arga membelalakkan matanya kaget setengah mati.
Nabila melompat-lompat riang sambil bertepuk tangan. "Setuju! Ayah jadi badut gajah! Ayah jadi badut gajah!"
Arga menepuk jidatnya sendiri. Di luar sana ia boleh jadi Manajer EO yang disegani dan tegas, tapi di dalam rumah, Arga benar-benar tak berdaya menghadapi konspirasi tingkat tinggi antara istri dan anak perempuannya ini!
...***...
Di belahan kota yang lain, suasana di rumah bernuansa modern minimalis milik Kiara dan Dimas terasa jauh lebih tenang, namun ada riak kecemasan yang tersirat di udara pagi itu.
Kiara sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan jilbab segiempat warna biru muda yang membalut wajah cantiknya. Di usianya yang makin matang, Kiara tetap memancarkan keanggunan seorang wanita karir yang cerdas namun penuh kelembutan.
Dari arah belakang, Dimas melangkah mendekat. Pria kemeja rapi itu merangkul pinggang istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya pelan di bahu Kiara.
"Cantik banget istri Mas pagi ini," bisik Dimas lembut, mengecup pipi Kiara gemas.
Kiara tertawa kecil, memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
"Mas Dimas makin tua makin pandai gombal ya. Belajar dari siapa sih? Dari Mas Daffa ya pas ketemu di jalan?"
"Enak aja...Mas belajar sendiri ya....demi menyenangkan hati Bu Pengacara Pribadi Mas," sahut Dimas tak mau kalah, menyunggingkan senyum hangatnya.
Kehidupan rumah tangga Kiara dan Dimas selama bertahun-tahun ini memang menjadi contoh keharmonisan. Rayyan, anak laki-laki mereka yang kini berusia enam tahun, tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan penurut.
...***...
Keesokan hari, Lapangan Kecamatan Damai sudah disulap menjadi area bazar yang sangat meriah. Tenda-tenda kain warna-warni berdiri rapi, aroma makanan dari berbagai stan UMKM membuai udara, dan suara musik dari panggung utama terdengar menggema.
Harmony Event Organizer benar-benar diuji hari ini. Daffa sibuk mengurus daftar lagu, Bagas dan Dave sibuk memegang kabel sound, sementara Arga...
Arga berdiri di belakang panggung dengan napas terengah-engah di dalam kostum badut gajah berwarna biru. Topeng badutnya sengaja dipasang sedikit miring agar ia bisa bernapas. Keringat membasahi seluruh badannya.
"Gila... demi Menik dan Nabila, harga diri gue sebagai manajer EO benar-benar taruhannya," gumam Arga pasrah sambil memegang sekeranjang balon warna-warni.
Tiba-tiba, dari arah pintu masuk bazar, muncul sosok Dimas dan Kiara yang sedang berjalan bergandengan tangan, menikmati suasana bazar UMKM tersebut. Mereka datang untuk memantau stan-stan yang masuk dalam daftar audit dinas.
Mata Arga dari balik lubang topeng badut membelalak kaget. Jantungnya berdegup kencang!
Mati gue! Itu Kiara sama Dimas! kalau mereka tahu gue badut gajah di sini, hancur sudah wibawa gue! batin Arga panik setengah mati.
Arga buru-buru membelakangi mereka, mencoba berjalan cepat menjauh dengan langkah gajahnya yang kaku.
Namun, karena kakinya yang terlalu besar dan pandangannya yang terbatas, kaki Arga tersangkut kabel audio yang melintang!
BRUKKK!
Badut gajah itu tersungkur hebat di atas rumput!
"Aduh! Om Badutnya jatuh!" teriak anak-anak kecil di sekitar tempat itu.
Kiara dan Dimas yang berada tak jauh dari lokasi langsung menoleh kaget.
"Eh, kasihan banget badutnya!" ujar Kiara refleks melangkah mendekat untuk menolong.
"Mas Badut, nggak apa-apa?"
Arga yang panik luar biasa langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan telinga gajah mainan seraya menyamarkan suaranya menjadi sangat cempreng.
"N-nggak apa-apa, Mbak! Aman! Saya cuma lagi akrobat!"
Dimas mengulurkan tangan membantu menepuk debu di lengan kostum badut itu.
"Hati-hati, Mas. Kostumnya kelihatan panas dan berat banget ya?"
"Iya Pak, makasih Pak!" sahut Arga cepat, lalu langsung terbirit-birit lari menjauh menuju belakang panggung dengan gaya lari yang sangat konyol.
Kiara menatap punggung badut gajah yang berlari itu dengan dahi berkerut. Ada rasa familiar yang aneh di hatinya.
"Mas Dimas..." panggil Kiara pelan.
"Kenapa, Ra?"
"Kok... gaya lari badut gajah tadi mirip banget sama gaya larinya Arga ya kalau lagi panik?" gumam Kiara polos.
Dimas terkekeh geli, merangkul bahu istrinya. "Ah, masa sih? Ada-ada aja kamu, Ra. Masa Arga manajer EO mau pakai kostum badut gajah siang-siang bolong begini?"
Di belakang panggung, Arga menyandarkan badannya ke dinding kayu sambil melepas topeng gajahnya. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena panas dan malu, tapi kemudian... Arga tertawa kecil sendirian.