Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di kota Y.
Feby sudah berada di Apartemen milik Akila, ia menatap 2 Anak yang lucu sekali. Sari sudah cerita banyak hal pada Feby jadi Feby tahu segalanya.
"Aunty, apa Aunty mengenal baik Mommy?" Tanya Athena membuka percakapan membuat Feby tersenyum lalu mengangguk.
"Hmm, Mommy kalian adalah orang yang paling baik. Aunty bahkan tak mengerti kenapa ada manusia sebaik Mommy mu." Ucap Feby membuat Athena tersenyum senang.
"Aku tahu itu. Mommy memang yang terbaik, aku menyayanginya sampai tak bisa melupakan sedetik saja wajahnya. Namun saat ini aku sebal karena Mommy tak ada disisi kami. Entah apa masalahnya, tapi aku rindu." Ucap Athena jujur.
Feby mengusap puncak kepala Athena.
"Aku bertemu dengan Mommy mu. Dia baik-baik saja, bahkan dia berharap kalian juga baik-baik saja. Ada beberapa hal yang sedang dia urus. Dan Aunty tahu bahwa Mommy kalian pasti juga sangat merindukan kalian semua." Ucap Feby.
Athena menarik tangan Feby lalu menggenggamnya erat.
"Apakah Mommy memiliki masalah? Aku cemas, Aunty." Ucap Athena.
Kepala Feby segera menggeleng.
"Tak ada masalah apapun, Mommy kalian hanya sedang melakukan sesuatu. Kelak juga akan kembali dan tinggal bersama dengan kalian lagi. Mommy kalian menitipkan kalian pada Aunty untuk sementara waktu. Aunty janji akan menjaga kalian." Ucap Feby.
Senyum Athena semakin terbit.
"Bolehkah aku diajak bertemu dengan Mommy nantinya? Dimana kalian bertemu? Aku ingin memberi kejutan pada Mommy. Pasti Mommy akan senang jika aku dan Atheos pergi menemui Mommy." Ucap Athena.
Feby terdiam, ia tak bisa menjawab sedangkan Sari langsung cemas.
Menemui Akila artinya menyerahkan diri pada William.
"Aunty." Panggil Athena saat Feby terdiam.
"Hm?" Balas Feby.
"Aku mau bertemu Mommy, dimana Mommy berada?" Tanya Athena lagi.
Feby kembali tersenyum.
"Mommy kalian ada di..."
"Nona Feby." Sela Sari gugup bukan main.
"Ya?" Balas Feby.
Feby baru sadar kalau ia hampir saja membuat Anak-anak Akila mengetahui keberadaan Akila.
"Ada disuatu tempat, itu tak akan lama." Ucap Feby.
Dua Anak itu terdiam. Sebenarnya Feby tak perlu mengatakan hal itu, dua Anak itu juga tetap tahu dimana Akila berada.
Atheos ikut menatap wajah Feby yang saat ini seolah sedang menenangkan pikiran Athena.
"Padahal aku benar-benar ingin menemui Mommy." Ucap Athena menekuk wajahnya dengan sedih.
Ia menarik tangannya dari Feby lalu pergi masuk ke arah kamar miliknya.
Hal itu membuat Atheos menyusul Athena.
Sampai di kamar itu air mata Athena tumpah lagi.
"Aku harus apa? Aku rindu sekali dengan Mommy. William Hartawan merebut Mommy ku! Pria jahat itu mengambil Mommyku! Dia bahkan memeluk, memegang tangan Mommy dan menyakiti Mommy di waktu bersamaan. Akhh! Itu Mommyku!" Jerit Athena naik ke ranjang lalu menendang angin dengan emosinya.
Atheos mendekat.
"Jangan menangis terus, pikirkan cara apa yang bisa membuat kita bisa bertemu Mommy." Gumam Atheos.
Athena menatap Atheos.
"Apa kau punya ide?" Tanya Athena sambil mengusap air matanya.
Atheos berdecak.
"Memangnya permainannya sudah berakhir? Ini belum berakhir, uangnya belum kita keruk sampai habis." Ucap Atheos.
Tiba-tiba Athena berucap.
"Aku lebih tak rela pria itu menguasai Mommy." Ucap Athena.
"Mommy milik kita." Lagi Athena bersamaan berucap.
Atheos menghela nafasnya.
"Jadi kau berpikir apa? Apakah kita ke kota X saja? Itu konyol, bagaimana kalau kita berdua malah menambah masalah untuk Mommy?" Tanya Atheos.
Athena mendadak diam karena ucapan Atheos mungkin ada benarnya.
Namun tak lama setelahnya Atheos bergumam kecil.
"Aku meminta orang melakukan sesuatu... bagaimana jika ternyata pria itu adalah Daddy mu Athena?" Tanya Atheos.
Athena membulatkan matanya.
"Kau bicara apa? Daddy? Tidak, dia tak setampan dan sebaik yang aku bayangkan. Dia musuh yang ingin merebut Mommy dari kita." Ucap Athena yang lebih dulu tak terima.
Atheos mengangguk kecil, ia baru sadar pada ucapan Athena setelah beberapa saat.
"Sebentar, jika dia Daddy ku artinya dia juga Daddy mu! Ah jangan buat aku kesal! Wajah pria itu menyebalkan." Ucap Atheos.
Tak lama setelahnya dua Anak itu malah tertawa bersamaan apalagi saat mengingat William yang frustasi karena ulah mereka yang membuat Perusahaan milik William kacau.
Mereka adalah dua makhluk menggemaskan yang paling Akila sayangi.
---
Di sisi lain - Mansion William
Pagi itu Akila tanpa ragu menggantikan perban di tangan William saat pria itu masih tertidur.
Akila dengan pelan juga sangat lembut memberikan obat merah, setelahnya menutup kembali luka itu dengan perban.
'Aku tidak peduli padanya, tapi wajah William terlalu mirip dengan Putraku. Itulah alasan aku membantu mengganti perban ini.' ucap Akila membatin.
Akila bersiap akan pergi, ia mau meletakkan kotak obat ke tempatnya tapi tangannya malah ditahan oleh William. Rupanya William sudah bangun sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan ini Akila?" Tanya William.
Tatapan mereka jadi bertemu, ia cukup terkejut saat tahu William terbangun.
"Memangnya kau buta? Aku hanya membantumu mengganti perban saja." Ucap Akila.
William duduk dari posisinya, ia tarik tangan Akila hingga tubuh Akila jatuh ke pelukannya. Saat ini posisi Akila duduk di pangkuan William.
Tiba-tiba...
"Hamillah Anakku Akila." Ucap William membuat mata Akila membulat.
"Aku tidak mau!" Tolak Akila langsung.
William menyeringai kecil.
"Aku butuh seorang Anak yang kelak bisa mewarisi semua harta milikku dan terlebih ia harus jadi pemimpin..."
"Tidak! Anakku tak akan mewarisi harta bahkan tingkah golamu. Anakku tidak akan jadi pembunuh apalagi," Akila menggigit bibirnya sendiri.
Ia emosi sampai lupa diri sudah berucap terlalu jauh.
Akila membuang tatapannya dari William.
"Aku tak mau hamil Anakmu, lagi pula aku tak akan bisa hamil." Ucap Akila.
William mengernyitkan dahinya.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya William.
Mendadak Akila punya ide yang bagus.
"Jika kau menikah denganku untuk mencari Anak, maka kau telah salah mencari orang. Aku tak akan bisa hamil karena rahimku bermasalah." Ucap Akila.
Rahang William mengeras.
"Omong kosong." Ucap William.
"Aku tak takut jika kau ingin mengajakku untuk pergi ke rumah sakit, lakukan saja pemeriksaan." Ucap Akila dengan yakin.
William makin emosi, ia mendorong tubuh Akila dari pangkuannya lalu pria itu pergi dari Akila.
Senyum lega Akila terbit.
"Aku harap dia akan menceraikanku setelah ini." Ucap Akila.
Tak lama suara William terdengar.
"Reno, cari Dokter terbaik. Aku mau kau dapatkan Dokter yang bisa memulihkan keadaan rahim bermasalah." Ucap William melalui panggilan telepon.
Akila memutar tubuhnya tak percaya.
William sungguh tak waras! Pria itu terlalu keras kepala.
Tidak!
Akila tak mau hamil Anak William!
'Bagaimanapun caranya aku harus pergi dari sini secepatnya.' ucap Akila membatin.
---
Di sisi lain - Rumah Sakit Kota X
Ben tengah menatap Kiara yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Apa Daddy belum menemukan Akila?" Tanya Kiara.
"Hmm, belum. Namun apapun yang terjadi, Daddy akan membawa Akila kembali lagi. Cepatlah pulih, kau harus sehat dan menikah. Bukankah kau mencintai Kevin?" Tanya Ben seraya mengusap puncak kepala Putrinya itu.
Kiara langsung menggeleng.
"Aku tak akan mengambil Kevin dari Akila. Aku lebih butuh Akila alih-alih Kevin, bagiku Akila segalanya untukku. Dad aku mau kau bawa Akila kembali lagi." Pinta Kiara.
Tangan Kiara menggenggam tangan Ben.
"Aku rela mengakui kesalahanku di masa lalu asalkan Akila bisa pulang bersama kita lagi. Aku rela Dad, aku mau Akila ada bersamaku lagi." Ucap Kiara terdengar memohon.
Ben menghela nafasnya, ia balas menggenggam tangan Putrinya itu.
"Sayang, Feby pergi entah kemana. Tapi menurut Daddy semuanya berkaitan dengan Akila. Sepertinya Akila yang membawa Feby pergi. Mungkin saat ini Akila ada di kota X." Ucap Ben.
Ada kemarahan di wajah Kiara kala mendengar nama Feby.
"Harusnya Feby mati saja sejak lama, dia itu benar-benar mengusik. Keberadaan Feby hanya mengambil Akila dari ku." Ucap Kiara.
Kiara memutar tubuhnya, ia tak bicara lagi. Di wajahnya hanya ada kemarahan.
Ben mengusap lembut puncak kepala Kiara.
"Jika Akila kembali lagi, kau akan menikah dengan Kevin bukan? Kau yang mengatakan bahwa kau suka Kevin. Menikahlah Kiara, Daddy mau..."
"Dad pahamilah aku. Aku lebih butuh Akila alih-alih Kevin." Ucap Kiara lagi.
Tangan Kiara terkepal.
'Kau dimana Akila? Harusnya kau ada bersamaku, lihat aku! Sekarang aku sakit lagi, harusnya kau ada bersamaku dan mengatakan padaku bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku. Bukan aku yang membutuhkanmu tapi kau yang butuh aku.' ucap Kiara membatin.
Pintu di ketuk, tampaklah Kevin muncul disana.
Ben tersenyum, ia membiarkan Kevin dan Kiara ada di ruang rawat itu.
Kevin mendekat.
"Berhenti terobsesi pada Akila, jangan mendesak Uncle untuk mendapatkan Akila lagi. Dia bukan barang yang bisa kau miliki, dia bukan sesuatu yang harus ada dalam hidupmu terus menerus. Akila juga punya kehidupan." Ucap Kevin membuat Kiara tersenyum kecut.
"Jangan memberiku nasehat. Akila ada karena aku ada, dia diciptakan untuk jadi peliharaanku. Dia tak akan bisa hidup tanpaku. Aku sangat menyayanginya Kevin. Aku sangat..." Ucap Kiara.
Kevin menggeleng, namun Kiara terlalu yakin pada pikirannya sendiri. Sejak Akila diadopsi, sejak itulah bagi Kiara sosok Akila adalah kepunyaannya yang tak boleh dimiliki oleh orang lain.
"Orang lain akan berpikir kau sudah gila. Jika orang tuamu tahu bahwa kau memikirkan hal seperti ini, apa mungkin mereka..."
"Mereka akan mendukungku. Mereka menyayangiku lebih dari apapun. Sampai mati Akila hanya boleh ada bersamaku, dia adalah peliharaan paling patuh. Akila hanya lupa bahwa aku yang akan selalu ada padanya, aku yakin dia akan kembali padaku lagi." Ucap Kiara.
Kevin terdiam.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .