NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

"Ini bukan pertama kalinya seorang pria melihat tubuhku, kenapa aku harus merasa malu," dengus Davira sambil mengenakan gaun tidur panjang dari sutera yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya.

Di balik pintu, Elliot berdiri tegak. Tubuhnya berat, seolah pintu kayu itu satu-satunya penopang yang masih bisa ia andalkan. Ia bersandar, telapak tangannya menekan dada—jantungnya belum stabil, berdentum keras seakan hendak meloncat keluar.

Baru saja matanya disambar sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan—bukit keindahan seorang wanita, terpahat sempurna dalam balutan cahaya redup lampu minyak. Meski hanya melihat sekejap sebelum Davira menutupinya dengan kedua tangan, tapi itu saja sudah cukup untuk mengguncang ketenangan seorang Duke yang terbiasa menghadapi medan perang.

"Mantra apa yang kau taruh padaku, Davira…?"

Dari dalam kamar, terdengar suara Davira penuh sindiran. “Berhentilah berdiri seperti seorang pengawal. Apakah seorang Duke yang perkasa di medan perang, bisa takut pada mantan ratu?”

Elliot menelan ludah, menguatkan dirinya. “Kalau aku kehilangan kendali, itu karena kau,” jawabnya lirih, hampir pecah oleh emosi.

Sambil menyisir Davira tersenyum geli di depan cermin. “Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Membiarkan dirimu berdiri sepanjang malam atau berani menghadapi kenyataan bahwa istrimu bukan wanita suci yang kau impikan?”

Elliot memejamkan mata sejenak. Entah mengapa, menghadapi seorang wanita ini terasa jauh lebih berat daripada ratusan pertempuran yang pernah ia menangkan di medan perang.

Dengan tarikan napas panjang, ia akhirnya meraih gagang pintu, mendorongnya perlahan. Suara engsel yang berderit mengiringi langkahnya masuk ke dalam kamar.

Davira mengerutkan kening, menatap nampan perak yang tadi saja diletakkan Elliot di atas meja. Ada aroma rempah yang kuat, menusuk namun menggoda. Ia lihat potongan daging burung utuh berwarna keemasan di taruh diatas semacam butir kecil yang mirip jerami.

“Ini… makanan?” tanyanya ragu, jemarinya hanya menyentuh ujung piring tanpa berniat mengambil.

Elliot duduk santai diatas ranjang kecil, mulai membuka sepatu bootnya. “Banyak pedagang asing asal Semeru di kota Alexandria. Mereka membawa berbagai rempah dan hidangan unik. Cobalah, kau akan menyukainya.”

Davira menatapnya sejenak, lalu kembali mengarahkan pandangan pada makanan itu. “Bentuknya… aneh, terlihat seperti rumput kering yang dipaksa menjadi hidangan bangsawan.” gumamnya.

Senyum tipis tersungging di bibir Elliot. “Itu namanya kabsah. Bukan rumput, tapi beras yang dimasak bersama rempah. Daging di atasnya sudah dipanggang dengan minyak zaitun, jauh lebih harum daripada daging panggang di kerajaan Nether.”

Davira mengangkat alisnya, jelas tidak yakin. Dengan hati-hati ia mengambil sejumput beras panjang itu menggunakan sendok, lalu mendekatkannya ke hidung. Aroma tajam kayu manis dan kapulaga langsung menusuk inderanya.

“Bau rempahnya terlalu keras,” keluhnya lirih.

Elliot terkekeh singkat. “Cobalah, itu yang membuatnya istimewa.”

Dengan hati-hati ia mencicipi sedikit. Rasa asin gurih bercampur dengan harum rempah memenuhi lidahnya, membuatnya terkejut. Matanya melebar sejenak, “Enak!” serunya sambil menutup mulut dengan tangan.

Senyum puas melintas di wajah Elliot. Ia berdiri, melepas mantel tebalnya yang basah oleh embun malam. “Nikmatilah. Selagi aku membasuh diri.”

Elliot melangkah ke balik papan penyekat. Ia menanggalkan mantel, lalu berdiri di bawah pancuran air dingin. Guyurannya membuat tubuhnya bergetar, namun perlahan menenangkan bara emosi yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Dari sisi lain sekat, Davira menggenggam roti di tangannya. Suara air yang jatuh berulang-ulang terdengar jelas, tanpa sadar menoleh ke arah bayangan tubuh Elliot di balik papan tipis itu.

"Oh, astaga…" Davira sedikit tercengang. Dari celah papan penyekat, samar terlihat siluet Elliot di bawah pancuran air. Otot-otot punggungnya tegas, setiap lekukan terbentuk sempurna seperti pahatan batu. Namun yang paling mencuri perhatiannya adalah bekas goresan-goresan pedang yang melintang di kulitnya—jejak peperangan yang tak bisa disembunyikan.

Sekilas, Davira terdiam, menelan salivanya beberapa kali, menyadari pikirannya melayang terlalu jauh. Segera ia cepat-cepat menghabiskan makan malamnya, coba menepis bayangan nakal yang baru saja muncul dipikiran.

Selesai membasuh, Elliot kembali ke kamar dengan pakaian santai. Pandangannya langsung jatuh pada Davira yang tiba-tiba menyodorkan cawan perak.

"Ini sari apel untukmu, terima kasih makan malamnya," ucap Davira lirih, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan.

Elliot menerima cawan perak itu, sensasi dingin manis sari apel segar langsung membasahi kerongkongannya yang kering, memberikan kelegaan instan setelah guyuran air dingin tadi.

"Sama-sama," balas Elliot halus. Suaranya terdengar lebih tenang, menyatu dengan harum aroma minyak kayu putih dan kesegaran air dingin yang masih menguar dari tubuhnya.

Davira kembali duduk melipat kakinya, kembali meraih sendok dan memandangi porsi kabsah yang masih melimpah di nampan. Ia mendongak, menatap Elliot yang berdiri menjulang di dekatnya.

"Makanan ini sangat banyak, aku takut tak bisa menghabiskan," ujar Davira sambil menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya, menyiratkan ajakan yang tak terucapkan secara gamblang. "Makanlah bersamaku."

Elliot menatap porsi kabsah itu sejenak, lalu tanpa banyak bicara, ia menyibak bagian bawah jubah santainya dan duduk bersila di samping Davira. Jarak mereka cukup dekat hingga Davira dapat merasakan sisa uap dingin dari kulit pria itu.

Dengan cawan perak masih di genggaman satu tangan, Elliot mengambil sendok lain yang tersisa di tepi nampan. Ia mencicipi beberapa suap nasi rempah beraroma tajam itu, membiarkan kelezatan kabsah menyatu dengan rasa manis asam sari apel yang baru saja diminumnya.

Suasana kamar yang semula canggung perlahan mencair. Terbalut aroma rempah yang memenuhi udara, mereka menikmati makan malam dengan penuh kesederhanaan di tengah kota Alexandria.

*****

“Selamat datang kembali di kota Orion!”

Suara riuh para rakyat Utara menggema, memenuhi udara sepanjang jalan utama. Bendera-bendera lambang bangsawan Orion berkibar, bunga-bunga dilemparkan dari tangan anak-anak kecil, menyambut kepulangan Grand Duke, Elliot, dan pasukan yang menyertai mereka.

Derap langkah prajurit berbaris rapi, baju zirah mereka berkilau diterpa cahaya matahari senja. Sorak-sorai tak kunjung reda, berubah menjadi gelombang teriakan semakin meriah.

Elliot menunggang kudanya di barisan terdepan, menerima penghormatan rakyat dengan wajah cerah, walau matanya menyirat lelah yang belum purna.

Di dalam kereta, Davira duduk berdampingan dengan Noela. Dari balik celah tirai, matanya menangkap lautan manusia—rakyat Utara yang menyemut di sepanjang jalan, melambaikan tangan sembari memekikkan nama Elliot dan sang Grand Duke dengan gelora yang membahana.

"Lihat. Betapa meriahnya penyambutan warga Orion, seakan mereka baru saja pulang dari medan perang.” seru Davira, lumayan terkesima melihat suasana yang meriah diluar sana.

Setelah rombongan melewati jalan utama yang dipenuhi rakyat, sorak-sorai perlahan mereda ketika barisan prajurit memasuki gerbang besar Kastil Orion. Suara derap kuda bergema di antara dinding batu yang menjulang tinggi.

Dari balik jendela kereta, Davira menajamkan pandangannya. Di kejauhan, berdiri dua sosok wanita anggun—itu pasti Grand Duchess Orion dan adik perempuan Elliot, di belakang mereka berderet para dayang wanita.

Rombongan kereta berhenti di pelataran kastil. Grand Duke turun lebih dulu dari atas kuda, disusul Elliot. Begitu menjejak tanah, pandangan mereka langsung tertuju pada dua sosok yang menunggu di pintu utama.

“Ibu…” seru Grand Duke terdengar parau ketika ia menghampiri sang ibu. Dengan sigap ia meraih tangan renta itu, lalu menciumnya penuh hormat.

Di sisi lain, Elliot juga berlutut sebentar di depan neneknya, sebelum berdiri kembali dan memeluknya dengan penuh kasih. Usai itu, matanya langsung tertuju pada gadis yang sudah tak sabar menanti—adik perempuannya.

“Kak Elliot!” serunya dengan tawa kebahagiaan.

“Ekhem.” Tiba-tiba Grand Duke berdehem pelan, seolah memberi kode yang hanya dimengerti oleh putranya.

Elliot menoleh sekilas, lalu segera melepaskan pelukan dari adiknya, ia berdiri tegap, dan berkata dengan suara lantang, “Nana (Sebutan untuk Nenek,Elisabet) ada seseorang yang ingin aku perkenalkan kepada kalian.”

Wajah Elisabeth tampak penasaran, sementara sang nenek menatap dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Tanpa menunda, Elliot melangkah menuju kereta yang berhenti tak jauh di belakang barisan. Ia membuka pintu kereta.

Davira keluar dengan anggunnya dan berdiri di sisi Elliot, halaman kastil seakan terdiam melihat pemandangan itu. Wajahnya Grand Duchess sangat tercengang, seakan sudah mengetahui siapa sosok wanita yang sedang memegang tangan cucunya itu.

“Nana… Perkenalkan ini Davira, istriku.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

1
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Buset... baru pembuka aja udah bikin merinding, kejamnya sang raja 😅
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
ternyata bener selingkuhan Raja itu, dan dia termakan oleh omongan selingkuhannya dan akhirnya Kerajaan Nether mati
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
terlihat anggun, ada typo kak 😁
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
sepertinya Raja ini selingkuh🤔dan memakan hasutan si cewek selingkuhannya 🤔
Asra
Wow, keren kak! Semangat selalu berkarya nya.🙌
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih 🥺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!