NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Bayangan Vanya

Keisha menyimpan foto lama itu selama dua hari sebelum menunjukkan kepada Arya.

Ia memilih waktu setelah makan malam, ketika Bu Yati sudah masuk ke dapur dan Arya sedang memeriksa jadwal obat. Ponsel pengganti diletakkannya di tengah meja dengan layar menghadap ke atas.

"Aku ingin bertanya sekali saja," kata Keisha. "Siapa perempuan ini?"

Wajah Arya mengeras saat melihat foto tersebut.

"Vanya."

Satu nama itu membuat perut Keisha terasa kosong.

"Mantan pacarmu?"

"Kami pernah bersama saat kuliah. Sudah berakhir lama."

"Dia bilang kalian belum selesai."

"Dia tidak berhak bicara atas namaku."

Arya mengambil ponsel, memeriksa nama akun dan waktu pengiriman, lalu meneruskan semua tangkapan layar ke penyimpanan bukti. Gerakannya terlalu tenang, tetapi otot di rahangnya menonjol.

"Kenapa hubungan kalian berakhir?" tanya Keisha.

"Karena kepercayaan hilang."

"Itu saja?"

"Itu cukup untuk mengakhiri hubungan."

Keisha menyilangkan tangan. "Dia mengkhianatimu?"

"Dia berbohong tentang sesuatu yang memengaruhi hidupku dan menggunakan kedekatannya dengan keluargaku agar aku menerima keputusannya." Arya berhenti, jelas memilih batas yang tidak ingin dilampaui. "Aku tidak akan menceritakan seluruh kesalahan orang lain hanya untuk membuat diriku terlihat benar. Tapi aku juga tidak akan membiarkan masa lalu itu masuk ke pernikahan kita."

"Pernikahan kita," ulang Keisha tanpa sengaja.

"Iya. Pernikahan kita."

Nada Arya tidak mengandung kata kontrak. Hal kecil itu menghangatkan Keisha sekaligus membuatnya lebih takut kehilangan.

"Kalau dia menghubungimu?"

"Aku akan memberitahumu."

"Kalau dia meminta bertemu?"

"Aku tidak akan menemuinya sendirian."

Arya menggeser kursinya lebih dekat. "Dan aku ingin kamu melakukan hal yang sama. Tidak ada lagi menghadapi ancaman sendirian hanya karena takut merepotkanku."

Keisha mengangguk. Kesepakatan baru itu tidak tertulis di hadapan notaris, tetapi terasa lebih nyata daripada banyak pasal yang pernah mereka tandatangani.

Jawaban tersebut benar, tetapi masih menyisakan pintu tertutup. Keisha menatap foto itu lagi. Arya tampak jauh lebih muda, tanpa garis keras di sekitar mata. Vanya tersenyum seolah lengan yang dipeluknya adalah sesuatu yang telah dimiliki selamanya.

"Bunda pernah ingin kamu menikah dengannya."

"Bunda pernah berpikir kami cocok. Aku menolak."

"Kalau aku tidak datang, apa kamu akan kembali?"

Arya meletakkan ponsel. "Tidak."

"Cepat sekali jawabannya."

"Karena tidak ada yang perlu kupikirkan."

Keisha mengangkat mata. Tatapan Arya tetap lurus, tanpa ragu. Bagian dadanya yang sesak sedikit melonggar.

"Aku akan meminta orang melacak akun ini melalui prosedur yang benar," lanjut Arya. "Jangan balas."

"Aku tidak takut padanya."

"Aku tahu. Tapi orang yang memakai banyak akun tidak sedang mencari percakapan. Dia mencari reaksi."

"Dan kalau dia datang langsung?"

Arya terdiam sesaat. "Telepon aku. Jangan hadapi sendiri."

Keisha hampir menjawab bahwa ia mampu menghadapi perempuan dari masa lalu. Namun ucapan Arya di bawah hujan kembali teringat: mampu berdiri sendiri tidak berarti harus selalu sendirian.

"Baik," katanya.

Malam itu, setelah Arya masuk ke ruang kerja, Keisha berdiri di depan cermin. Ia bukan perempuan yang dipilih dari lingkaran keluarga besar, bukan mantan yang memiliki sejarah bertahun-tahun, dan belum memahami seluruh dunia Arya. Pernikahan mereka bahkan dimulai dari kesepakatan yang memiliki batas waktu.

Namun akad mereka nyata. Janji di bawah hujan juga nyata. Ciuman itu bukan foto lama yang bisa dipotong dan dikirim untuk menakuti seseorang.

"Kalau ini hanya kontrak sekalipun," bisiknya kepada bayangan sendiri, "aku tidak akan mundur karena ancaman anonim."

***

Di Jakarta, Vanya Puspita menatap tanda centang yang menunjukkan pesan terakhirnya telah diterima.

Ia baru selesai latihan tari. Rambut panjangnya masih diikat, tubuhnya dibungkus jaket tipis di atas pakaian latihan. Di depan cermin studio, wajahnya tampak tenang. Hanya kuku yang menekan telapak tangan menunjukkan kemarahan yang ditahan.

Foto pernikahan Arya dan Keisha sudah menyebar di beberapa akun keluarga. Upacaranya tidak besar, tetapi cincin, buku nikah, dan cara Arya memandang perempuan di sebelahnya tidak bisa disalahartikan.

Bertahun-tahun lalu, Ratna pernah mengajak Vanya memilih kain untuk acara keluarga dan menyebutnya calon menantu dalam lingkaran terbatas. Eyang Menur pernah memuji tarinya. Para kenalan mereka sudah terbiasa melihat Vanya berdiri di sisi Arya.

Vanya menyimpan semua momen itu seperti sertifikat kepemilikan. Ia mengabaikan fakta bahwa Arya telah mengakhiri hubungan, menolak pertemuan, dan tidak pernah menjanjikan akan menunggu. Menurutnya, penolakan itu hanya kemarahan yang suatu hari akan lewat.

Lalu Keisha muncul dan mendapat akad yang dulu dibayangkan Vanya sebagai miliknya.

Nama dokter itu terasa seperti penghinaan pribadi.

Vanya menelepon Ratna.

"Bunda," sapanya lembut ketika panggilan tersambung. "Vanya baru dengar Mas Arya menikah."

Suara Ratna di seberang terdengar hati-hati. "Iya. Arya memilih sendiri."

"Dengan dokter yang baru dikenalnya?"

"Itu urusan rumah tangga mereka. Bunda harap kamu menghormatinya."

"Dulu Bunda bilang Vanya yang paling memahami Arya."

"Dulu kalian masih bersama. Keadaan berubah."

Vanya menatap foto lama di layar lain. "Apa Bunda yakin perempuan itu tidak memanfaatkan Mas Arya?"

"Jangan menilai orang yang belum kamu kenal. Keisha sudah menjadi istri Arya."

Panggilan berakhir tanpa undangan yang diharapkan Vanya.

Ia meletakkan ponsel dengan perlahan. Penolakan Ratna justru membuat kemarahannya lebih tajam. Seorang dokter dari keluarga bermasalah telah masuk, mengambil tempat yang selama ini dianggap Vanya hanya menunggu dirinya kembali.

"Arya milikku," bisiknya. "Perempuan itu cuma pengganti yang datang saat dia marah."

Ia memasukkan pakaian ke koper, mengambil sebuah tas kecil berwarna merah muda dari kursi, lalu memesan kendaraan ke Bandung. Seseorang yang berada di luar bingkai mengulurkan tangan kepadanya. Vanya menggenggamnya tanpa menoleh.

Ia tidak berniat kembali ke Jakarta sebelum Arya melihat siapa yang menurutnya benar-benar pantas berdiri di sisinya.

Perjalanan malam memakan waktu lebih lama karena hujan. Menjelang larut, mobil memasuki Dago dan berhenti di depan gerbang Griya Prawira.

***

Keisha sedang membaca hasil pemeriksaan Anindita ketika bel rumah berbunyi.

Bu Yati mendatangi interkom, berbicara singkat dengan penjaga gerbang, lalu kembali dengan wajah tegang.

"Bu Keisha, ada tamu," katanya. "Dia bilang namanya Vanya."

Jantung Keisha berdetak keras, tetapi ia bangkit tanpa menunjukkan ragu.

"Mas Arya masih di ruang kerja?"

"Baru saja dipanggil keluar lewat gerbang samping."

Keisha mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan sesuai janji: Vanya datang ke rumah.

Lalu ia berjalan ke pintu depan bersama Bu Yati.

Pintu terbuka setengah.

Di bawah lampu teras berdiri perempuan dari foto itu. Rambutnya tertata sempurna, riasannya lembut, dan senyumnya tidak mencapai mata. Satu tangannya berada di belakang tubuh, seolah sedang menggenggam sesuatu yang belum terlihat dari celah pintu.

Vanya mengangkat wajah.

Tatapannya langsung mengunci Keisha.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!