Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Dari Fermentasi Ragi
"Tanah kapur gersang takkan subur mendadak tanpa tumbal penunggu Hutan Jati, camkan omonganku!"
Supri menggebrak meja warung kopi. Asap kreteknya menyapu wajah para petani yang tertunduk lesu. Cangkir-cangkir seng bergetar. Tumpahan kopi hitam menodai taplak plastik kusam. Hawa panas desa menggigit kulit.
Sawah di pusat desa mati menguning. Wereng cokelat melahap habis batang padi. Bau busuk jerami menguar kencang di bawah terik matahari awal tahun 1973. Namun di perbatasan Hutan Jati, kebun Seroja justru menghijau subur. Tomat memerah menggantung di dahan. Sawi tumbuh lebat. Tak ada satu pun daun yang cacat dimakan hama.
"Anak perempuan buangan itu memelihara jin! Kalian pikir kotoran sapi biasa bikin tomat segemuk itu?" Supri menuding lantang. Matanya melotot menyapu wajah kuyu para peladang. "Kalian diam saja melihat desa dikotori klenik? Tanah kita dikutuk wereng karena dosa janda dan anak perempuannya itu! Mereka menumbalkan kesuburan desa demi perut sendiri!"
Kasak-kusuk menyebar. Wajah-wajah memelas itu mengeras. Tatapan curiga membelok tajam ke arah gubuk reyot keluarga Seroja.
Di halaman gubuk, Danu membanting cangkul kayunya ke tanah liat. Dada pemuda kekar itu naik turun. Keringat membasahi kaus oblong lusuhnya.
"Mas mau datangi warung kopi itu sekarang, Ro. Mulut Supri harus dihentikan," geram Danu. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. "Tadi pagi ada ibu-ibu meludah lewat depan kebun. Mereka menolak mengambil air dari sumur kita."
Seroja duduk tenang di lincak bambu. Tangannya mengikat batang sawi segar dengan tali ijuk. Pikiran Kainara di dalam jiwanya berputar cepat. Gosip klenik di tahun tujuh puluhan rawan memicu pembakaran kebun atau pengusiran paksa. Seroja menatap mata sepupunya.
Nenek Warni keluar dari bilik dapur membawa nampan kayu berisi dua gelas wedang jahe. Aroma pedas jahe merah menguar kencang. Perempuan tua itu meletakkan gelas di meja bambu, menyentuh punggung Danu dengan tangan keriputnya.
"Minum dulu, Le," bujuk Nenek Warni pelan. "Fitnah itu seperti debu kapur. Makin keras ditiup pakai amarah, makin buta matamu. Siram air bersih, buktikan lewat kebaikan. Nanti hilang sendiri terbawa tanah."
Otot rahang Danu mengendur. Seroja menatap neneknya lekat.
"Nenek benar, Mas Danu," potong Seroja lugas. Ia meletakkan ikatan sawi dan bangkit. "Melawan Supri pakai otot cuma membenarkan tuduhan mereka. Orang desa kelaparan. Padi mereka mati. Mereka butuh makan, bukan tontonan adu pukul."
Seroja memejamkan mata sesaat. Layar transparan biru muda berkedip di sudut pandangan.
LADANGKU, Level 5
XP: 600/1000
Coin: 250
Seroja membuka menu Gudang virtual. Botol Formula Starter Bakteri Kompos hasil risetnya tersimpan rapi di barisan penyimpanan. Cairan pembunuh larva hama. Ia mengekstrak lima belas botol tambahan dan menukarkan koin emasnya. Udara berdesir pelan. Botol-botol kaca mungil itu mewujud, memenuhi saku dalam kebayanya.
"Mas Danu, kumpulkan kotoran sapi, sekam padi, dan cacahan daun jati kering di balai desa siang ini. Bawa gerobak kita." Seroja menepuk debu di kain luriknya. "Mas Bagas, ambil ontel berkarat itu. Keliling kampung sekarang juga. Umumkan ke kelompok tani yang sawahnya hancur. Bilang, Koperasi Tani Mandiri menggelar pelatihan pupuk penangkal hama gratis siang ini."
Bagas yang baru tiba memanggul air sumur mengerutkan kening. "Kamu mau membagi ilmu kita ke orang-orang yang menuduhmu memelihara jin, Ro?"
"Kita tidak membagi ilmu ke Supri, Mas," Seroja menatap tajam. "Kita memotong lidah Supri di depan orang-orang yang dia hasut. Kita tunjukkan siapa yang mendatangkan makmur, dan siapa yang menjual omong kosong."
Matahari menyengat tajam. Puluhan petani memadati pelataran tanah balai desa. Wajah-wajah kusam terbakar terik itu saling lempar pandang. Supri berdiri di barisan depan, melipat lengan di dada. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan.
Seroja melangkah ke tengah pelataran, menantang puluhan tatapan warga. Di depannya, Danu dan Bagas sudah menumpuk bahan kompos setinggi lutut, memanjang membentuk bedengan.
"Bapak-bapak," suara Seroja menggema lantang. "Banyak omongan menyebut kebun saya subur karena tumbal penunggu Hutan Jati. Hari ini saya tunjukkan di depan mata kepala kalian, tumbal apa yang saya pakai melawan wereng."
Supri mendengus, meludah ke tanah. "Alah, jangan banyak pidato, Nduk. Tunjukkan saja jimatmu biar semua orang lihat kebusukanmu."
Seroja mengabaikan Supri. Ia merogoh saku kebaya dan mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan pekat.
"Ini bukan air mantra." Seroja mengangkat botol itu tinggi-tinggi. "Ini ragi pengurai pertanian. Kerjanya persis ragi tape singkong. Cairan ini memakan sisa daun busuk, mengubahnya jadi pupuk kelas tinggi penyubur tanah."
Seroja menuangkan cairan pekat itu ke dalam ember seng berisi air sumur. Tangannya mengaduk pelan dengan ranting kayu. Aroma asam manis ragi seketika menguar, menepis bau menyengat kotoran ternak. Ia menyodorkan gayung batok kelapa ke petani tua di dekatnya.
"Pak Karso, tolong siramkan air campuran ini ke atas gundukan bahan kompos," pinta Seroja.
Pak Karso melangkah maju dengan ujung kaki terseret. Tangannya gemetar menyiramkan air ragi ke atas gundukan daun jati.
"Mas Danu, tolong dibalik dan ditutup rapat."
Danu mengayunkan cangkul kayu. Ia mengaduk gundukan itu bolak-balik hingga rata, lalu menutupnya rapat dengan terpal biru tebal. Tepi terpal ditindih batu gamping menahan udara masuk.
"Kita tunggu sebentar," ucap Seroja santai.
Lima belas menit berlalu. Supri tertawa mengejek, memecah keheningan. Para petani tak acuh. Mata mereka terpaku pada permukaan terpal yang mengembun basah dan mengembang pelan terdorong tekanan dari dalam.
Seroja melempar anggukan kecil pada Danu. Pemuda itu menyingkirkan batu gamping, menarik ujung terpal lewat sekali sentakan.
Kepulan uap panas membumbung tebal. Bau kotoran ternak musnah. Aroma tanah hutan basah sehabis hujan menguar kencang.
Warga terkesiap mundur. Pak Karso berjongkok, meraba gundukan kompos. Hawa hangat menjalar merata dari sela-sela daun hancur menyentuh telapak tangannya.
"Tanahnya jadi panas, Nduk," gumam Pak Karso. Ia meremas kompos itu. Campuran kotoran lumat menjadi serbuk hitam di telapak tangannya yang berkapalan.
"Hawa panas itu dari fermentasi ragi, Pak," Seroja memecah sunyi. "Panas ini membunuh telur hama dan bibit penyakit sebelum menetas. Taburkan kompos ini besok pagi ke ladang. Tanah kalian akan kembali gembur."
Seroja menoleh lurus menatap Supri.
"Tidak ada sihir penunggu hutan. Wereng mati karena akal sehat, bukan tumbal."