NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Formasi Waktu Angin Merah

Puncak Pedang tidak lagi terlihat seperti sekte di ujung dunia yang tandus.

Tiga gunung harta yang dijatuhkan Zeng Niu dari dalam Lautan Kesadaran Kaisar Naga telah mengubah lanskap Benua Utara. Qi spiritual yang memancar dari ratusan juta batu roh tingkat puncak, pusaka purba, dan botol pil peninggalan sepuluh ribu tahun, begitu pekat hingga berubah menjadi kabut cair. Hujan gerimis yang turun di sekitar sekte bukanlah air, melainkan tetesan embun spiritual murni!

Namun, kekayaan yang mendadak jatuh dari langit ini tidak selalu membawa kedamaian. Di dunia kultivasi, sumber daya adalah nyawa, dan hukum rimba sering kali membutakan mata, bahkan di antara saudara seperguruan.

Di pelataran luar, dua murid pelataran dalam keduanya baru saja menembus ranah Nascent Soul Awal berkat uap pil purba sedang bertarung mati-matian. Pedang mereka beradu, menciptakan percikan api yang membakar udara beku. Mereka memperebutkan sebuah gulungan Teknik Pedang Ilusi Surga, pusaka tingkat bumi yang tergelincir dari tumpukan gunung harta.

CRAT! JLEB!

Pertarungan itu berakhir dengan keduanya saling menusuk bahu dan perut masing-masing. Darah membasahi salju. Keduanya jatuh berlutut, terengah-engah, tak ada yang mau melepaskan cengkeraman dari gulungan tersebut. Sebuah Pertarungan Seri (Kedua pihak sama-sama terluka) yang didorong oleh keserakahan fana.

Sebelum ada yang berani mengambil keuntungan dari luka mereka, sesosok bayangan raksasa mendarat di antara mereka dengan suara dentuman keras.

Mo Tian, salah satu murid inti terkuat Sekte Angin Merah, berdiri menjulang. Berkat pil purba yang baru saja ia telan, kultivasinya yang berada di Soul Transformation Tahap Akhir kini mendidih beringas, memancarkan fluktuasi yang nyaris menyentuh Puncak dari ranah tersebut. Aura pembantaiannya membuat kedua murid yang terluka itu gemetar ketakutan.

Tanpa belas kasihan, Mo Tian menendang kedua murid itu hingga terpelanting, lalu merampas gulungan tersebut.

"Sampah tak berguna!" raung Mo Tian, suaranya diperkuat dengan Qi hingga menggema ke seluruh pelataran. "Paman Muda Zeng Niu telah mempertaruhkan nyawanya membawa lautan harta ini untuk kita semua, dan kalian berdua malah saling membunuh demi secuil gulungan?! Hukum baru Angin Merah: Siapa pun yang menumpahkan darah sesama saudara seperguruan demi harta, akan dibuang ke Jurang Es Hukuman! Jika kalian ingin bertarung, simpan darah kalian untuk memotong leher anjing-anjing dari Istana Pusat nanti!"

Mendengar ketegasan Kakak Seperguruan mereka, para murid di sekeliling pelataran langsung menundukkan kepala, rasa serakah di mata mereka tergantikan oleh rasa malu dan semangat juang yang benar.

Di atas paviliun utama, Ketua Sekte Jiu Feixue melihat tindakan Mo Tian dan menghela napas lega. Ia menoleh pada Jiu Zui, yang sedang sibuk menyusun ribuan bendera formasi emas di sekeliling tiga gunung harta tersebut.

"Paman Guru, Mo Tian bertindak cepat. Namun jika kita terus membiarkan harta sebesar ini terbuka, Niat Keserakahan bisa menghancurkan sekte dari dalam sebelum musuh sesungguhnya tiba," ucap Jiu Feixue cemas.

"Aku tahu, Gadis Kecil," Jiu Zui meneguk araknya, wajahnya yang biasa santai kini dipenuhi keringat. Ia sedang membakar esensi umurnya sendiri. "Itulah sebabnya aku mengorbankan seratus tahun umurku dan lima puluh juta batu roh ini untuk mengaktifkan [Formasi Waktu: Roda Samsara Terlarang]."

Jiu Zui melemparkan labu araknya ke udara. Labu itu meledak, melepaskan Qi Kaisar Raja yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Bendera-bendera emas itu menyala terang, menciptakan kubah cahaya raksasa yang menyelimuti seluruh area latihan inti sekte, menutupi pegunungan harta beserta puluhan ribu murid di dalamnya.

"Satu hari di luar, setara dengan satu bulan di dalam kubah ini," ucap Jiu Zui dengan mata menyala ambisi. "Zeng Niu memberi kita waktu satu tahun di dunia luar. Artinya, di dalam sana, para murid dan tetua memiliki waktu tiga puluh tahun untuk mencerna gunung harta ini! Persaingan perebutan posisi, sumber daya, dan pencerahan dao akan diselesaikan di dalam dimensi waktu. Yang kuat akan keluar sebagai naga, yang lemah akan mati dalam kultivasi tertutup!"

Roda gigi takdir Sekte Angin Merah mulai berputar dengan kecepatan yang menentang surga. Era di mana mereka bersembunyi telah usai.

Sementara itu, di Benua Tengah — Aula Leluhur Keluarga Kuno Ye

TRANG!

Sebuah plakat giok kehidupan yang terletak di jajaran teratas altar tiba-tiba retak, memancarkan cahaya redup. Ini bukan tanda kematian, melainkan tanda bahwa fondasi Dantian pemiliknya telah hancur total.

Penjaga altar, seorang tetua tingkat Soul Transformation, jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi. Ia segera membunyikan Lonceng Darurat Keluarga.

Di ruang pertemuan rahasia, Patriark Ye Wushuang duduk di singgasana batu giok. Matanya yang setajam pedang menatap retakan giok yang dibawa ke hadapannya.

"Ye Cang... Utusan utama kita, seorang Ascendant Awal Puncak, telah dilumpuhkan di Benua Utara yang tandus," suara Ye Wushuang sangat tenang, namun suhu di ruangan itu turun drastis hingga membekukan embun di udara.

Para tetua agung lainnya saling berpandangan dengan ngeri. Benua Utara selalu dianggap sebagai tempat buangan, tanah para kultivator miskin. Bagaimana mungkin ada eksistensi di sana yang bisa meremukkan seorang Ascendant dengan begitu mudah?

"Patriark, kita harus mengirim Armada Perang Penakluk Surga! Kita ratakan Benua Utara sekarang juga!" teriak salah satu tetua yang panas hati, Niat Pedangnya bergejolak.

Ye Wushuang mengangkat tangannya, membungkam ruangan. Ia bukanlah pemimpin bodoh yang bertindak berdasarkan amarah semata.

"Armada Matahari Darah milik Istana Pusat musnah di sana beberapa bulan yang lalu. Kini, Ye Cang juga dilumpuhkan," Ye Wushuang mengetukkan jarinya ke sandaran kursi. "Musuh ini bukan sekadar sekte kecil yang beruntung. Mereka memiliki monster yang menyembunyikan taringnya. Jika kita mengirim pasukan besar membabi buta, kita mungkin akan masuk ke dalam perangkap formasi kuno, atau lebih buruk, memicu kemurkaan eksistensi tersembunyi yang menjaga wilayah itu."

Ye Wushuang perlahan mengalihkan pandangannya ke arah bayangan gelap di sudut ruangan. "Benua Tengah memiliki alat untuk segala hal. Daripada membuang darah keluarga kita dalam perang yang tidak jelas, biarkan para hantu yang bekerja."

Dari dalam bayangan, sesosok pria kurus berjubah abu-abu tanpa wajah melangkah maju. Fluktuasinya tidak bisa dideteksi oleh indra spiritual; ia seolah tidak ada di sana. Ini adalah utusan dari Paviliun Dunia Bawah, organisasi informasi dan pembunuh bayaran terbesar di Tiga Benua, faksi netral yang bahkan keluarga kekaisaran pun enggan mencari masalah dengannya.

"Keluarga Ye bersedia membayar mahal," desis utusan tanpa wajah itu, suaranya terdengar seperti daun kering yang bergesekan.

"Satu juta batu roh tingkat surga. Kirimkan pembunuh 'Bayangan Pemisah Takdir' kalian ke Benua Utara," perintah Ye Wushuang dingin. "Aku tidak menyuruh kalian membunuh eksistensi yang mengalahkan Ye Cang. Aku menyuruh kalian mengujinya. Cari tahu identitasnya, temukan kelemahannya, culik murid, tetua, atau wanitanya. Jika target terlalu kuat, mundur dan bawa informasinya padaku."

"Kontrak diterima," utusan itu membungkuk, lalu melebur kembali ke dalam bayangan tanpa riak sedikit pun.

Keluarga Ye memilih Menang Karena Strategi. Mereka mendelegasikan risiko pada pihak ketiga, menjadikan organisasi pembunuh sebagai pion untuk memancing musuh keluar dari sarangnya.

Benua Utara — Ruang Rahasia Puncak Pedang

Di kedalaman gua es di bawah gunung, ruang dan waktu terasa melengkung tak wajar.

Zeng Niu duduk bersila di atas ranjang giok purba. Ia tidak ikut masuk ke dalam Formasi Waktu Roda Samsara. Baginya, menyerap energi Qi alam semesta dari batu roh tidak lagi cukup. Ia harus menyelami dan memahami konsep ketiadaan murni.

Di seberangnya, Zhao Ying duduk dengan mata terpejam. Ia sedang menstabilkan Roda Bintang 7-nya yang kini memancarkan cahaya biru Taiyin murni tanpa cacat berkat intervensi ayahnya.

Napas Zeng Niu berat. Tubuhnya memancarkan cahaya emas gelap dari Tulang Emas Asura, namun di sekitar tubuhnya, udara beriak aneh. Ia sedang mati-matian melatih [Otoritas Ketiadaan: Penghapusan Konsep Dasar] yang diberikan oleh sisa jiwa Zhao Xuan.

Di dalam penglihatan batinnya, Zeng Niu menatap Dantiannya. Di sana, Benih Dunia berputar kencang. Namun, yang menjadi fokusnya adalah seutas Benang Emas Merah yang luar biasa tebal. Benang karma itu menembus Dantiannya, memanjang ke arah kehampaan, terhubung menembus ruang dan dimensi langsung menuju Langit Selatan.

Itu adalah Benang Karma dari Kaisar Naga Primal.

Selama benang ini ada, sang Kaisar tidak peduli berada di ujung semesta mana pun akan tahu persis lokasi Zeng Niu dan aroma Sumsum Emas di tubuhnya.

"Kadal purba itu sedang melahap Langit Selatan. Begitu dia merasa cukup kuat, dia akan menyusuri benang ini dan mengunyah Benua Utara bersamaku di dalamnya," batin Zeng Niu, matanya menyipit penuh tekad. "Aku harus memutuskan benang ini!"

Zeng Niu memadatkan Niat Ketiadaannya ke ujung jarinya, mengubahnya menjadi bilah ilusi yang terbuat dari 'kekosongan'. Ia mengarahkan bilah itu ke arah Benang Karma Kaisar Naga.

[Otoritas Ketiadaan: Hapus Konsep Keterikatan!]

Zeng Niu menebas benang karma itu!

TRAAAAAAANG!

Bukan suara daging yang terpotong, melainkan suara dentangan logam kosmik yang beradu langsung dengan jiwanya.

Seketika, rasa sakit yang melampaui siksaan neraka meledak di dalam kepala Zeng Niu. Tiga jiwanya (Iblis, Dewa, Manusia) seolah ditarik paksa dari raga-nya. Memotong benang karma dari seorang Kaisar Bumi menggunakan kultivasi Soul Transformation adalah tindakan menentang tabu tertinggi alam semesta!

"UUUURGH!" Zeng Niu memuntahkan seteguk darah hitam pekat. Kulit Emas Asura-nya retak di beberapa bagian, mengeluarkan uap panas.

Namun, di dalam Dantiannya... sehelai kecil dari akar benang merah emas itu terputus!

Konsep keterikatan dari benang itu dihapus sebagian. Kaisar Naga Primal tidak akan bisa lagi melacak lokasi persis Zeng Niu, melainkan hanya bisa merasakan arah bayangan buram di mana Benua Utara berada.

Zeng Niu berhasil menyembunyikan posisinya untuk sementara waktu, namun Jiwa Dewa-nya terkuras hingga batas kritis. Tubuhnya terhuyung ke depan, hampir pingsan karena kehabisan tenaga mental.

Tiba-tiba, sepasang lengan yang lembut namun sedingin es abadi menangkap tubuhnya.

Zhao Ying telah membuka matanya. Ia bergerak secepat kilat, memeluk Zeng Niu dari depan dan menyandarkan kepala pemuda itu di dadanya. Roda Bintang 7-nya berputar lembut, mengalirkan Qi Taiyin murni ke dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu untuk menyejukkan jiwanya yang terbakar.

"Kau selalu memaksakan diri melakukan hal yang menentang surga," bisik Zhao Ying lembut, tangannya mengelus rambut Zeng Niu yang basah oleh keringat dingin.

Zeng Niu bersandar nyaman di dada Dewi Es itu, senyum lelah namun puas menghiasi bibirnya yang masih berlumuran darah.

"Dunia ini tidak memberikan apa pun secara gratis, Ying'er," gumam Zeng Niu dengan mata setengah terpejam. "Ayahmu bilang aku harus mencapai ranah Dewa Abadi... Jika aku tidak berani memotong karma kaisar fana, bagaimana aku bisa mencapai jalan menuju keabadian?"

Zhao Ying menggelengkan kepalanya pelan, namun ia tidak membantah. Di dunia kultivasi yang dipenuhi intrik monster tua, kepolosan adalah dosa yang dihukum dengan kematian. Kegilaan dan kekejaman prianya inilah yang membuat mereka berdua bertahan hidup sejauh ini.

Namun, ketenangan mereka di ruang rahasia itu tidak berlangsung lama.

Di luar formasi sekte, di padang salju yang berjarak seratus mil dari Puncak Pedang, ruang tiba-tiba beriak halus.

Sesosok pria berjubah abu-abu tanpa wajah melangkah keluar dari kehampaan. Ia tidak memancarkan hawa pembunuhan, dan kakinya sama sekali tidak meninggalkan jejak di atas salju. Fluktuasi kultivasinya benar-benar kosong, menyatu sempurna dengan hembusan angin Utara.

Pembunuh elit dari Paviliun Dunia bawah, sang 'Bayangan Pemisah Takdir', telah tiba.

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!