NovelToon NovelToon
Menikahi Tunangan Kakakku

Menikahi Tunangan Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Asmara / Penikahan Kontrak / Percintaan Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bella

Kirana Wijaya tidak pernah membayangkan hari pernikahan kakaknya akan berakhir dengan dirinya memakai gaun pengantin. Ketika pengkhianatan Laras terbongkar tepat sebelum pesta, keluarga Wijaya memilih cara paling kejam untuk menyelamatkan muka: menyerahkan Kirana sebagai pengganti.
Damar Mahendra, pria dingin yang selama lima tahun ia panggil kakak ipar, menerima pernikahan itu tanpa ragu. Bagi semua orang, Kirana hanya solusi darurat. Namun di rumah baru, di balik sikap tenang dan perintah-perintah singkat Damar, Kirana perlahan menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri: tempat, perhatian, dan keberanian untuk dipilih.
Di antara kakak yang ingin merebut kembali masa lalunya, keluarga yang selalu menuntut Kirana mengalah, dan suami yang semakin sulit ia pahami, Kirana harus memutuskan apakah pernikahan yang dimulai sebagai pengganti bisa menjadi cinta yang benar-benar miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Papa meminta Kamila dibawa keluar.

"Ini diselesaikan dalam keluarga," katanya.

Ketika pintu tertutup, ia menatap Laras.

"Jelaskan."

Laras tidak menangis. Itu mengejutkanku.

"Seperti yang Papa dengar."

"Kamu mengatakan kepada seorang karyawan bahwa Kirana merebut priamu?"

Ia tidak menjawab.

Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

"Kamu mengecewakan Papa," kata Papa. "Kamu tahu kenapa Damar membatalkan pernikahan."

"Tapi Papa tidak seharusnya menikahkan dia dengan Damar!"

"Lalu kamu mau apa? Damar menerimamu setelah semua yang terjadi?"

"Aku mencintainya."

"Pria seperti Damar tidak akan menikahi seseorang yang mempermalukannya sebelum altar. Kalaupun dia mau, keluarga Mahendra tidak akan menerimanya."

Laras mengepalkan tangan.

Papa menunjuk ke arahku.

"Minta maaf kepada adikmu."

Laras menatapku.

"Maaf, Kirana. Aku tidak seharusnya memfitnahmu."

Terdengar kering.

Terpaksa.

Papa mencoba menutup masalah.

"Sudah. Kalian saudara. Kirana, jangan memperbesar ini. Kakakmu sudah mengakui kesalahannya."

Di sana, sesuatu di dalam diriku patah dengan tenang.

"Mudah sekali meminta maaf saat luka itu tidak ada di kulitmu."

Papa terdiam.

Aku menatapnya.

"Sejak kecil, kalau Laras melakukan kesalahan, kalian melindunginya. Kalau aku mengeluh, aku dianggap berlebihan. Kalau dia menginginkan sesuatu, diberikan. Kalau aku menginginkan sesuatu, aku harus menunggu."

Laras menunduk.

"Kalian menikahkanku dengan Damar untuk menyelamatkan Laras," lanjutku. "Kalau aku menerima, keluarga Mahendra tidak bisa menyerang keluarga Wijaya. Perjanjian tetap berjalan, kalian mempertahankan aliansi, dan Laras bisa disembunyikan di belakangku."

Mata Papa melebar.

"Kirana..."

"Aku salah?"

Ia tidak menjawab.

Aku tersenyum hambar.

"Aku dijadikan kambing hitam. Kalian mendorongku untuk menanggung kesalahan Laras, dan sekarang Laras menuduhku mencuri sesuatu yang ia hilangkan sendiri."

Tenggorokanku sakit, tapi aku tidak menangis.

"Aku sudah terbiasa. Kalian selalu memilih dia. Kalian selalu memintaku yang mengerti."

Aku berdiri.

"Kamila harus meminta maaf dan menjelaskan apa yang dia katakan. Itu satu-satunya yang kuminta."

Papa berdiri.

"Papa minta maaf. Papa tidak bermaksud..."

Aku keluar sebelum mendengarnya.

Aku tidak mau lagi mendengar permintaan maaf yang datang terlambat.

Setelah itu, Papa memaksa Kamila meminta maaf di depan staf dan mengakui bahwa ia mengarang versi palsu.

Ia dipecat.

Rumor itu dijelaskan.

Tapi klarifikasi tidak pernah benar-benar menghapus racun.

Aku kembali ke mejaku dan menatap layar tanpa melihatnya.

Aku lelah.

Bukan karena bekerja.

Karena selalu menjadi orang yang harus mengerti.

Beberapa saat kemudian aku membuka WhatsApp. Sofia mengirim foto-foto mobil mewah seolah itu proyek pribadinya.

Aku tertawa pelan.

Lalu muncul pesan dari Damar.

Sebentar lagi kamu pulang. Aku dalam perjalanan.

Jantungku berdentum.

Kupikir jemput pagi tadi hanya kesopanan. Tapi ternyata ia serius.

Sebentar lagi. Aku turun sekarang.

Aku mematikan komputer beberapa menit lebih awal. Di perusahaanku sendiri, tidak ada yang akan memprotes jika aku pulang tepat waktu. Kalau ada, silakan coba.

Di luar ada Bentley.

Aku masuk.

Damar duduk di kursi belakang, memakai setelan hitam, kemeja abu-abu, dan dua kancing teratas terbuka. Ada lelah di matanya, tapi punggungnya tetap tegak, rahangnya bersih, jamnya berkilau samar saat ia menaruh ponsel ke samping.

"Kamu menunggu lama?"

"Baru sampai."

"Terima kasih sudah datang."

"Aku sudah berjanji."

Berjanji.

Ditepati.

Aneh sekali rasanya ketika seseorang melakukan persis apa yang ia katakan.

"Kamu ada urusan?"

"Tidak."

"Kalau begitu kita pulang."

Pulang.

Kata itu menggerakkan sesuatu di dalamku.

"Boleh mampir ke toko kue? Aku ingin kue stroberi."

Damar menatapku sedetik.

"Boleh."

Pemilik toko kue mengenaliku.

"Kue stroberi seperti biasa?"

"Dua, Bu."

"Dua? Sekarang kamu benar-benar lapar?"

"Satu untuk suamiku."

Mata ibu itu melebar.

"Kamu menikah?"

"Baru saja."

"Selamat, Nak. Semoga bahagia."

Aku tersenyum kepadanya.

Aku membeli kuenya dan kembali ke mobil.

"Aku membawakan satu untukmu," kataku kepada Damar.

"Aku tidak makan kue."

"Oh."

Senyumku sedikit turun.

Itu bukan masalah besar. Aku hanya terlalu bersemangat membagi sesuatu yang kusukai.

Damar menyadarinya.

Ia diam, seperti mencari cara memperbaikinya.

Aku lebih dulu berkata, "Pak Ramli, mau kue stroberi?"

Sopir itu gugup.

"Bu, bagaimana mungkin..."

"Sungguh. Aku membeli dua."

"Terima kasih, Bu."

Kuberikan kepadanya.

"Ibu baik sekali."

Aku tersenyum.

Saat menatap Damar, ia sedang memperhatikanku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.

"Apa?"

"Tidak."

Aku membuka kueku. Suapan pertama langsung mengubah suasana hatiku. Manis, lembut, dengan stroberi segar.

Damar tidak makan kue, tapi ia menatapku makan.

Lama.

Matanya mengikuti saat aku membawa sendok ke mulut. Krim menempel di sudut bibirku dan aku merasakan panas di leher sebelum tahu sebabnya.

Aku membersihkan mulut.

"Ada sesuatu?"

"Krim."

Aku menyentuh sudut bibir dengan jari. Benar. Krim putih.

Malu sekali.

Padahal aku sempat berpikir ia menatap karena mungkin aku terlihat cantik.

Saat tiba di rumah, kami turun bersama.

"Sudah memikirkan mobil yang kamu mau?" tanyanya.

"Belum."

"Kalau sudah memutuskan, beri tahu aku."

Ia masuk lebih dulu.

Aku tersenyum.

Ia tidak lupa.

Bu Rosa menerima jasnya.

"Pak Damar, makan malam disiapkan seperti biasa?"

Damar menoleh kepadaku.

"Kirana, beri tahu Bu Rosa apa yang kamu suka makan."

Aku terdiam.

Apa yang kusuka?

Di rumah orang tuaku, tidak ada yang menanyakan itu. Makanan dibuat untuk Laras, untuk Papa, atau untuk Mama. Aku makan apa yang ada.

"Udang pedas berbumbu cabai, ayam saus cabai, dan iga asam manis," kataku.

Damar menatap Bu Rosa.

"Siapkan itu."

"Baik, Pak."

Saat kami duduk makan malam, semua hidangan itu ada di meja.

Sesuatu terasa panas di dadaku.

Ternyata sedikit sekali yang diperlukan untuk membuatku merasa diperhatikan.

"Kenapa tidak makan?" tanya Damar.

"Iya. Ini."

Aku mencoba udangnya.

"Enak sekali."

Mataku berbinar.

Damar mengambil satu.

Begitu mencicipinya, ia batuk.

"Kamu tidak makan pedas?" tanyaku, menahan tawa.

"Sedikit. Bukan ini."

"Justru itu intinya. Harus terasa membakar."

Ia menatapku dengan separuh senyum.

"Kalau begitu kamu yang makan."

Aku ingin menebusnya.

"Coba iganya. Ini manis."

Aku hendak menaruh satu di piringnya, tapi tanganku berhenti di tengah jalan. Damar membuka mulut dan mengambilnya langsung dari garpuku.

Wajahku merah.

Aku tidak bermaksud menyuapinya.

Ia memahaminya begitu.

"Enak," katanya.

"Iya. Itu yang kupikirkan."

Lalu ia mengambil satu lagi sendiri.

Damar sedikit mengernyit. Rasanya tidak sama seperti yang tadi kuberikan.

Makan malam berjalan tenang. Aku makan dua piring nasi, lalu mengantuk.

Aku naik, mandi, dan tertidur lebih awal.

Damar bekerja di ruang kerja sampai larut. Ketika masuk ke kamar, Kirana sudah tidur, memeluk selimut, dengan lampu hangat menyala.

Kamar yang dulu dingin itu terasa berbeda baginya.

Lebih hidup.

Ia mandi tanpa suara dan berbaring.

Kirana ada di tepi ranjang, jauh darinya.

Damar menatap punggung istrinya. Ia ingin mendekat dan memeluknya, tapi tidak melakukannya.

Ia tidak mengerti kenapa ia begitu ragu padahal aku adalah istrinya.

Ia menutup mata.

Lalu, dalam tidur, aku berbalik dan masuk ke pelukannya.

Matanya terbuka.

Aroma Kirana, krim, sabun, dan sesuatu yang manis, menghantamnya sekaligus.

Ia menatap mulutku.

Mengingat ciuman kami.

Dan malam itu, bagi Damar, tidur jauh lebih sulit daripada yang mau ia akui.

1
Zalmah Adiwi
saat bertunangan dg Laras mngkn damar sdh menyukai kirana..
Zalmah Adiwi
konflikx kurang kuat..alur ceritax jg trll lamban bergerak.. 🤭
Zalmah Adiwi
knp mesti minum pil KB.. 🤦‍♀️🤣🤣🤣
Zalmah Adiwi
ibu kirana GILA..pikirx pernikahan ini macam beli bajukah.. 🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!