Bagaimana rasanya jatuh cinta pada lelaki yang belum bisa melepaskan masa lalunya?
Alexander Henry Salim seorang pria berusia 28 thn dan seorang pengusaha muda yang sukses menjadi seorang petualang wanita setelah dia dicampakkan oleh cinta pertama nya.
Nadia Wirahma adalah anak dari sahabat mama Alex, karena berhutang budi ia rela dijodohkan dengannya namun pada akhirnya Nadia jatuh cinta pada lelaki yang menjadi suaminya itu.
"Jangan katakan kamu jatuh cinta padaku, Nadia. Jangan melakukan hal yang bodoh" Ucap alex seraya menggelengkan kepalanya.
Nadia yang mendengar itu merasakan ngilu dalam hatinya. Ya Alex memang benar, untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai wanita dewasa ia merasakan jatuh cinta. Bila oran lain yang sedang jatuh cinta di hiasi gelembung cinta berwarna merah muda 💗 karena euphoria rasa bahagia, maka gelembung miliknya adalah hitam pekat 🖤 karena sang lelaki tak memiliki rasa yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeeGorjes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Happy reading ❤️
"Astaga ! Aku tak tertarik sedikitpun !" jawab Nadia. Ia segera meletakkan gelasnya di atas meja dan segera pergi dari tempat itu dengan banyak makian yang keluar dari mulutnya.
Dengan penuh emosi Nadia menekan nomor sandi pintu apartemen Alex. "Benci banget sama nomor-nomor ini !" gerutu Nadia dengan mencebikkan bibirnya. Ia membanting pintu ketika berhasil keluar dari apartemen suaminya itu.
"Marah-marah terus, dasar cewek." Alex menyembulkan kepalanya melihat ke arah pintu yang ditutup dengan kerasnya. Ia pun kembali ke kamarnya dan membersihkan diri sebelum pergi ke kantor.
***
Nadia duduk dalam bis kota masih dengan nafas terengah menahan emosi. "Ini baru sehari bagaimana selanjutnya nanti ?" tanya nya pada diri sendiri. Ia mulai merasa frustasi hanya di hari pertama pernikahannya.
Namun... lagi-lagi Nadia membayangkan wajah kedua orangtuanya yang sangat ia cintai. "Aku pasti bisa ! demi kalian apapun akan aku lakukan," ucap Nadia penuh semangat seraya mengepalkan tangannya. Apa yang ia lakukan membuat beberapa orang yang ada dalam bis itu menolehkan kepala padanya. Nadia hanya tersenyum canggung menahan malu.
Setelah beberapa puluh menit berkendara mengarungi kota akhirnya Nadia sampai juga di kantor tempat ia bekerja. Meta yang merupakan sahabatnya sejak dulu sudah menunggu di depan lobby dengan wajah tak sabaran.
"Kenapa gak buka grup ? kita semua nanyain kamu," ucap Meta seraya merangkul pundak Nadia.
"Aww... bentar, Met. Aku sakit badan," keluh Nadia dengan wajah lelahnya sedangkan Meta memandang temannya itu dengan tatapan nakal dan mengulum senyum membayangkan apa yang Nadia lakukan semalam sebagai pengantin baru. Apalagi Nadia adalah temannya yang masih polos.
"Apa ?" tanya Nadia curiga.
"Apa Alex sebuas itu sampai kamu sakit badan begini ?" tanya Meta. Sontak Nadia langsung menutup mulut temannya itu dengan tangannya.
"Sssttttt !! nanti ada yang dengar. Mati aku." ucap Nadia dengan melihat keadaan sekitarnya.
Di kantornya tak ada yang tahu jika dirinya telah menikah. Seperti yang Alex dan dirinya inginkan pernikahan itu hanya di hadiri beberapa orang terdekat saja dan di kantornya ini hanya Meta yang tahu. Ia sendiri melakukan itu karena tak yakin dengan pernikahannya, dirinya tak tahu akan berapa lama bertahan dengan Alex. Yang penting bagi Nadia, ia telah menggugurkan kewajibannya sebagai anak dan bila pada akhirnya harus berpisah setidaknya ia tak merasa bersalah karena telah berusaha untuk melakukan keinginan kedua orangtuanya
"Ah iya aku lupa," jawab Meta seraya menutup mulutnya sendiri.
"Jadi gimana semalam ?" bisik Meta.
"Isi kepalamu itu melulu," kesal Nadia dengan mencebikkan bibirnya.
"Jadi gimana ?" tanya Meta lagi.
"Nothing happened, tak terjadi apapun kita tidur terpisah," jawab Nadia.
"Bohong banget !! kemarin aja kalian terlihat mesra waktu acara akad nikah itu."
"Serius, itu semua drama." jawab Nadia dengan entengnya.
"Ah... karena kalian belum saling jatuh cinta ya ?" tanya Meta lagi.
"Karena dia mencintai wanita lain jadi tak mungkin dia menyentuh aku," jawab Nadia.
"Hah ? apa karena buku hariannya itu ?
"Dia masih mencintainya, kode password pintu apartemennya saja tanggal ulang tahun wanita itu."
"Oohhh... im so sorry," ucap Meta yang merasakan sedih karena sahabatnya itu tengah menghadapi sesuatu yang menyakitkan.
"Gak pa-pa kok, aku baik-baik saja dan akan selalu begitu. Aku kan kuat," ucap Nadia seraya mengangkat tangannya memamerkan ototnya yang tak terlihat kekar itu.
Meta tertawa dan membawa sahabatnya itu pada pelukannya. "Kamu kuat, dan kami akan selalu ada untukmu."
Apa yang Meta ucapkan membuat dada Nadia menghangat. Ia merasa lebih tenang dari sebelumnya.
***
Alex tiba di kantornya tepat waktu, ia adalah seseorang yang perfeksionis jika bersangkutan dengan pekerjaan. Ia memarkirkan mobil mewahnya di tempat biasa dan mulai berjalan menuju lobi kantor tempatnya bekerja.
Ruangannya berada di lantai 17. Meskipun perusahaan yang Alex bangun mulai menapaki kesuksesan namun ia belum memiliki gedung kantor sendiri. Ia masih menyewa tempat pada suatu gedung yang di dalamnya terdapat banyak perusahaan yang sama-sama menyewa.
Cita-cita Alex memiliki gedung kantor sendiri tapi itu bukanlah hal yang mudah karena dibutuhkan dana yang tak kecil jika ingin memilikinya. Mahalnya harga tanah di lokasi strategis dan biaya pembangunannya akan sangat menguras kantongnya. Meskipun begitu Alex merasa bangga karenanya apa yang ia miliki saat ini adalah hasil kerja kerasnya seorang diri tanpa bantuan dana dari keluarga atau kerabatnya.
"Selamat pagi, Pak." Joy yang merupakan sekretarisnya menyambut kedatangan dirinya dengan penuh rasa hormat.
"Pagi," jawab Alex dingin. Seperti biasa di kantornya Alex dikenal seseorang yang dingin dan tak banyak bicara.
"Bagaimana liburan akhir pekan Anda?"
"Biasa saja, tolong bacakan jadwal saya siang ini." ucap Alex.
Alex teringat beberapa hari lalu ia meminta sekretarisnya itu untuk tak menghubunginya selama akhir pekan dengan alasan ingin berlibur padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia melakukan ijab kabul pernikahan.
Seperti halnya Nadia, di kantor Alex pun tak ada yang tahu jika dirinya telah menikah.
"Dan itu kegiatan Anda di hari ini," ucap Joy setelah ia membacakan jadwal kegiatan atasannya itu.
"Panggil Heru untuk menghadap, dan hubungi lagi nomor ini. Katakan saja kamu sekretaris saya." titah Alex seraya menyerahkan sebuah kartu nama.
Joy membaca kartu nama itu, tertera nama jasa dekorasi rumah atau apartemen ternama. Baginya bukan hal yang asing karena perusahaan Alex bergerak dalam bidang properti.
***
"Pihak dekorasi apartemen mengatakan jika barang-barang yang anda pesan mengalami kendala dalam pengirimannya. Mungkin akan tiba dalam 3 atau 4 hari lagi," jelas sekretarisnya ketika Alex kembali menanyakan hal yang tadi ia perintahkan.
"Ah f*ck," maki Alex kesal.
"Setahu saya kita belum membutuhkan dekorasi apartemen karena...,"
"untuk apartemen saya," potong Alex cepat.
"Oh...," Joy ber-oh ria hingga akhirnya ia paham kenapa Alex begitu kesalnya.
***
Waktu menunjukkan pukul 5 sore sudah waktunya Nadia pulang tapi sumpah demi apapun ia sangat malas untuk kembali ke apartemen milik Alex. Apalagi setelah insiden tadi pagi dimana ia melihat Alex dengan aset pribadinya.
"Dasar gak tahu malu," maki Nadia pelan.
"Ya terus mau gimana ? kamu mau nginep di sini atau bagaimana ?" tanya Meta yang masih setia menemaninya.
"Seandainya bisa aku ingin pulang ke kamar kost aja."
"Ya udah bilang dulu biar suamimu gak cemas."
"Apa harus ?" tanya Nadia.
"Ya walau bagaimanapun dia suami kamu sekarang." jawab Meta tanpa Ragu.
Nadia mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya dan menekan tombol agar menyala. Ia menggulir layar dan mencari kontak yang ia tuju.
"bo-cah te-ngik," gumam Nadia mencari nama yang ia tuju dan Meta menampar halus bahu Nadia ketika mendengar nama yang Nadia berikan untuk suaminya.
"Sebaiknya aku kirim pesan saja, dengar suaranya bikin aku mual." Nadia bermonolog.
"Gila Alex belum apa-apa aja udah bikin kamu mual. Jangan-jangan kamu hamil, Nad." Kekeh Meta dan
Nadia memelototkan matanya tak suka.
Nadia : Aku gak pulang, mau tidur di kosan saja
Nadia baru saja mengirimkan pesan namun beberapa detik kemudian kontak yang bernama 'Bocah tengik' itu muncul di layar ponselnya.
Nadia memandangi nama itu tanpa segera menjawab panggilannya. Instingnya mengatakan jika hal buruk akan terjadi. Meskipun ragu, akhirnya ia menerima panggilan itu.
Nadia : Ha- halo.
Alex : Lo dimana ? cepat pulang mama mau sidak !
Alex berbicara dengan nada suara terburu-buru. Nadia yang telah berniat untuk menginap akhirnya mengurungkannya. Ia segera berlari menuju halte untuk pulang ke apartemen suaminya.
***
"Hah...hah...hah...," Deru nafas Nadia masih terdengar dengan jelas ketika ia baru saja sampai di apartemen Alex.
Segera Nadia menekan 6 digit angka yang sangat tak disukainya. Ia mengedarkan pandangannya namun tak ada seorangpun disana. Waktu menunjukkan pukul setengah 7 malam dan jika Alex langsung pulang dari kantornya seharusnya ia yang lebih dulu datang.
Akhirnya Nadia memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian setelah itu ia keluar dari kamar atau gudang lebih tepatnya dan berjalan menuju dapur karena Nadia yakin ada seseorang berada di sana.
"Lo udah mandi ?" tanya Alex yang kini sedang menyiapkan meja makan. Bisa Nadia lihat dengan jelas beberapa tumpuk kemasan kosong bekas makanan, sepertinya suaminya itu baru saja membeli makanan secara online.
"udah, sini aku bantu apa ?" tanya Nadia sembari menatap lapar makanan yang tersaji.
"Gak usah, udah beres. Duduk !" titah Alex dengan matanya yang menunjukkan satu kursi di hadapannya.
Nadia pun menurutinya, ia duduk di salah satu kursi yang Alex tunjuk. Heran untuk sesaat karena hanya ada dua piring nasi di sana padahal Alex katakan sebelumnya jika sang mama akan datang.
"Kok dua ? bukannya mama mau datang?" tanya Nadia terheran.
Alex tak menjawab, yang ia lakukan hanya duduk saling berhadapan dengan istrinya itu.
"Ayo makan, kita butuh energi sebelum bertengkar lagi."
"Hah ?" tanya Nadia tak paham.
Alex segera menyodorkan satu mangkuk sop iga yang begitu menggugah selera dan Nadia yang tengah merasa lapar menyambutnya dengan baik.
"Mama gak jadi datang," ucap Alex.
"Kenapa gak jadi ?"
"Karena emang gak akan datang." jawab Alex dengan entengnya.
"Apa ?" Nadia mulai terpancing emosi.
"oh ya, ini kerupuknya. Kamu suka kan ? ayo makan, udah ini kita baru berantem lagi." jawab Alex seraya menaik turunkan alisnya.
Dengan penuh emosi Nadia menyambar kerupuk itu dan mulai memakannya dengan lahap. Akhirnya ia sadar jika Alex telah berbohong hanya agar ia pulang.
To be continued
Black Card
😍
balik lagi ciniii baca ulang 🤭 kangeen cerita mereka
@meegorjes ga pernah muncul lagi di NT
novel terakhir yg baru bbrp chapter malah hilang🤭