Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
025
...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞...
Angin siang berhembus cukup kencang di area rooftop gedung perpustakaan kampus. Tempat yang terisolasi dari lalu lalang mahasiswa itu menjadi area terlarang yang jarang tersentuh, tertutup rapat oleh dinding beton tinggi dan deretan unit pendingin udara raksasa yang menderu halus.
Di sudut area yang tersembunyi dari celah pintu masuk, atmosfer panas dan mendesak membakar keheningan.
"Jangan gila, Draco!" desis seorang wanita dengan rambut panjang kecokelatan yang berantakan.
Wanita itu menatap kesal ke arah sosok laki-laki di hadapannya. Manik matanya memancarkan campuran antara amarah, kecemasan yang membakar, dan keputusasaan yang tertahan.
Namun, sosok pria di depannya—Draco Valerio-Desmon—hanya menatapnya dengan pandangan mata yang sangat datar. Tidak ada kilat rasa bersalah, tidak ada keraguan, apalagi ketakutan di dalam iris cokelat gelapnya yang dingin. Wajah tampan pangeran Desmon itu seolah tak menyadari adanya hal yang salah dari situasi gila yang sedang mereka ciptakan.
"Kau lupa perjanjiannya?" jawab Draco, suaranya terdengar begitu berat, rendah, dan penuh kontrol mutlak. "Kau harus menuruti semua kemauanku kalau kau ingin rahasiamu tetap aman."
Laki-laki yang menyandang nama besar Desmon itu sama sekali tidak menghiraukan tatapan kesal dari sang wanita.
Dengan gerakan yang sangat santai dan elegan, Draco merebahkan punggungnya, duduk bersandar pada dinding beton yang dingin. Ia menekuk kedua kakinya yang panjang, lalu dengan gerakan acuh tak acuh menepuk-nepuk pahanya sendiri—memberikan kode yang sangat jelas agar wanita itu segera duduk di atas pangkuannya.
Napas wanita itu memburu. Ia melirik liar ke arah pintu besi rooftop yang terkunci dari dalam.
"Bagaimana jika ada yang datang dan melihat kita nanti? Jangan cari mati, Draco!" cegat wanita tersebut dengan nada berbisik yang tertahan. "Jika kita ketahuan, bukan hanya namaku yang tercoreng, tapi namamu juga!"
Draco berdecak kesal. Kerutan tipis muncul di dahi tegasnya, menunjukkan rasa tidak sabar yang mendalam.
"Kau terlalu banyak bicara," potong Draco dingin, suaranya mengintimidasi tanpa perlu meninggi. "Kalau kau menurut sejak tadi, mungkin kita sudah selesai dan kembali ke kelas. Cepat kemari, Lynzzie!!"
Lynzzie—mahasiswi berprestasi dari fakultas hukum yang selalu tampil sempurna di depan publik—menggerutu kesal di dalam hatinya. Dadanya naik turun menahan gelombang kemarahan yang tak berdaya.
Jika saja bukan karena ia takut rahasia besar keluarga dan dokumen akademisnya disebar oleh Draco ke seluruh papan pengumuman kampus dan media, Lynzzie tidak akan pernah mau menuruti kemauan gila dan liar pria Desmon ini.
"Angkat rokmu dan singkap celana dalammu," ujar Draco datar, tatapannya terkunci lurus tanpa berkedip.
Lagi-lagi, Lynzzie hanya bisa menuruti semua perintah yang keluar dari bibir Draco. Jemarinya yang sedikit gemetar menyusup ke bawah gaun kerjanya, menaikkan lipatan kain hingga ke pinggang, dan menyingkap kain tipis yang menghalanginya.
Sementara Lynzzie melakukan perintahnya dengan kepatuhan yang dipaksakan oleh keadaan, Draco dengan gerakan tenang dan lambat membuka resleting celana bahan mewahnya, membebaskan miliknya yang sudah menegang sempurna sejak awal mereka menginjakkan kaki di atap gedung ini.
Draco mendongak, menatap Lynzzie dengan garis rahang yang kaku seolah memberikan perintah mutlak tanpa suara.
Lynzzie melangkah mendekat tanpa kata, menurunkan tubuhnya secara perlahan untuk duduk tepat di atas pangkuan Draco. Saat ujung kehangatan mereka bertemu dan bersatu dalam satu sentakan halus yang menghujam, Lynzzie menahan napasnya dalam-dalam. Jemari lentiknya mencengkeram erat bahu tegap kemeja hitam Draco.
Hanya satu kata yang memadati seluruh kesadaran Lynzzie saat tubuh mereka menyatu di atas pangkuan pria itu. Satu kata yang bergema berulang kali di kepalanya: GILA.
Hari ini, mungkin Draco memintanya melakukan hubungan intim di atas atap gedung perpustakaan kampus.
Besok, bisa saja pria dengan jiwa yang gelap ini memintanya berhubungan di dalam ruang dosen yang sepi, atau bahkan di balik tribune lapangan sepak bola dan lapangan basket saat pertandingan berlangsung. Pria ini benar-benar gila dan tidak berakal sehat!
Semalam, Lynzzie dan Draco menghabiskan malam penuh bersama hingga dini hari. Dan pagi ini, pria muda itu bertingkah seolah-olah memiliki stamina tanpa batas—tidak kenal lelah, tidak kenal rasa takut, dan selalu lapar akan dominasi fisik yang terlarang.
"Uhh..." Lynzzie menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan lenguhan yang hampir lolos saat Draco mulai menggerakkan pinggulnya dari bawah dengan ritme yang dalam dan konstan.
"Buka matamu, Lynzzie..." bisik Draco tepat di samping telinga wanita itu. Suaranya serak, pekat akan gairah liar yang dipendam rapat dari dunia luar. "Tatap mataku."
Lynzzie membuka matanya yang berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam iris cokelat gelap milik Draco. Di sana, di balik permainan fisik yang tampak begitu panas dan impulsif ini, Lynzzie tidak melihat cinta. Ia bahkan tidak melihat rasa kepemilikan.
Yang ada di dalam mata Draco hanyalah pemberontakan yang pekat.
Di balik topeng pangeran sempurna yang dipajang oleh Braxley dan Aurora di hadapan media, di balik statusnya sebagai pria dingin yang tak pernah menyentuh kekasih resminya—Bianca—Draco menggunakan Lynzzie dan tempat-tempat terlarang ini sebagai rahasia gelapnya.
Nasihat ibunya tentang 'Jangan pernah bawa wanita ke ranjangmu' terngiang ironis di kepala Draco.
Draco memang tidak pernah membawa wanita manapun ke ranjang mewahnya di mansion. Ia tidak pernah membiarkan wanita manapun menginjakkan kaki di area pribadinya. Namun di apartemen hingga Ranjang Lynzzie adalah Saksi—ia meluapkan sisi gelap yang tak pernah diketahui oleh Braxley maupun Aurora.
Penyatuan mereka makin liar di bawah bentangan langit Pagi. Gerakan Draco yang bertenaga membuat Lynzzie memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran kegilaan sang pangeran Desmon yang tak tersentuh oleh hukum dunia luar.
Satu tahun. Selama tiga ratus enam puluh lima hari penuh, Draco menjadikan Lynzzie tak ubahnya pelacur pribadi yang harus selalu siap melayani segala kehendak gilanya.
Sebuah fakta yang terdengar sangat ironis, mengingat di mata publik dan seluruh civitas akademika kampus, Draco adalah pria yang sudah memiliki kekasih cantik dari kalangan sosialita, Bianca.
Di hadapan dunia luar, Draco memajang Bianca sebagai kekasih anggun yang tak tersentuh. Namun di balik layar, pada celah-celah sudut gelap yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, Lynzzie-lah yang menampung seluruh pekatnya gairah liar dan sisi kelam sang pangeran Desmon.
Di atas atap gedung yang sunyi, napas Lynzzie masih memburu pelan saat penyatuan panas itu akhirnya usai.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merapikan kembali rok dan pakaian dalamnya, berusaha secepat mungkin mengembalikan penampilannya agar tampak bermartabat seperti sedia kala.
Lynzzie lalu merogoh ponselnya dari dalam tas tangan. Layar ponselnya menyala, menampilkan beberapa panggilan tak terjawab serta puluhan pesan masuk yang belum sempat dibaca. Itu semua terjadi karena Lynzzie terlalu sibuk memenuhi tuntutan fisik Draco sampai-sampai suara dering ponselnya kalah oleh gemuruh napas dan desakan ketakutan di dalam dadanya sendiri.
"Siapa?" tanya Draco datar. Pria itu sudah merapikan celananya, berdiri tegap sembari menyisir rambut hitamnya ke belakang menggunakan jemari tangan.
"Teman-temanku," sahut Lynzzie cemas, menatap jam digital di layar ponsel. "Aku harus segera kembali ke kelas."
Draco memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita itu dengan binar mata posesif yang dingin. "Ciuman perpisahan," tuntut Draco, tanpa ada niat membiarkan Lynzzie pergi begitu saja.
Lynzzie menarik napas pendek. Mengetahui betul betapa berbahayanya membantah pria ini, ia mendekat. "Aku sudah sangat terlambat," bisik Lynzzie parau sebelum mendaratkan sebuah kecupan cepat di bibir Draco.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, ia berbalik dan dengan terburu-buru melangkah pergi melintasi pintu besi rooftop.
Draco berdiri mematung di tempatnya. Senyuman tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibirnya saat menatap punggung Lynzzie yang menghilang di balik pintu.
Gadis itu sudah ia klaim sebagai miliknya sejak satu tahun lalu, dan tidak ada satu hal pun yang bisa melepaskan cengkeramannya dari wanita tersebut.
Draco melangkahkan kakinya yang jenjang menuju tas punggung hitam miliknya yang tergeletak santai di atas pembatas rooftop.
Dengan seringai lebar yang mengumbar kejahatan terencana, Draco meraih tas tersebut dan mengeluarkan sebuah kamera kecil tersembunyi berlensa mikro yang sengaja ia pasang di balik selipan tali tas.
"Bodoh sekali..." gumam Draco terkekeh dingin sembari memeriksa layar indikator perekaman kamera tersebut.
Rekaman panas baru saja ia dapatkan secara utuh. Video ini akan kembali ia jadikan bahan ancaman mematikan untuk terus mengunci pergerakan Lynzzie.
Gadis malang itu mungkin berpikir bahwa keberuntungan tidak berpihak padanya saat satu tahun lalu Draco memergokinya sedang mencuri dokumen rahasia di ruang arsip kampus—sebuah tindakan terlarang yang tanpa sengaja berhasil terekam oleh kamera ponsel pribadi milik Draco. Namun, gilanya, kejahatan kecil itu ternyata hanyalah puncak gunung es.
Saat Draco menyuruh tim intelijen pribadinya menelusuri latar belakang Lynzzie, ia menemukan rahasia yang jauh lebih mencengangkan: wanita yang dikenal sebagai mahasiswi berprestasi penerima beasiswa penuh itu ternyata adalah anak kandung dari seorang mucikari kelas bawah di pinggiran kota.
Latar belakang kelam dan kotor itu jelas akan merusak seluruh reputasi, masa depan, dan impian akademis Lynzzie jika sampai tersebar ke publik.
Draco memanfaatkan kelemahan fatal itu tanpa ampun. Ia menyeret Lynzzie ke dalam pusaran dosa yang ia ciptakan sendiri. Namun di balik rasa jijik yang sengaja Draco tunjukkan atas asal-usul wanita itu, ada satu fakta tak terbantahkan yang selalu memberi kepuasan tersendiri bagi ego maskulinnya:
Bahwa meskipun Lynzzie lahir dari rahim seorang pelacur dan tumbuh di lingkungan yang kotor, Draco Valerio-Desmon adalah pria pertama yang menyentuh dan memiliki tubuh wanita itu sepenuhnya.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳