Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Dipagi Hari
Sinar matahari pagi menyusup halus melalui celah tirai kamar, membiaskan cahaya keemasan di atas lantai kayu. Nindya terbangun dari tidur nyenyaknya, merasa jauh lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh ketukan pelan tapi konstan di pintu kamarnya.
Tok... tok... tok...
Nindya mendudukkan dirinya di tepi kasur, merapikan gaun tidurnya, lalu melangkah menuju pintu. Saat gagang pintu diputar dan diangkat, sosok Haris sudah berdiri di sana.
Pria itu sudah rapi dengan kemeja kerjanya, namun matanya yang sembab dan agak menghitam membocorkan rahasia bahwa ia tak bisa tidur semalaman. Ada keraguan dan rasa canggung di raut wajah Haris saat matanya beradu dengan Nindya.
"Nindya... selamat pagi," sapa Haris singkat, suaranya terdengar sedikit parau.
"Pagi, Mas. Ada apa?" jawab Nindya datar tanpa ekspresi berlebihan.
Haris menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan rasa percaya dirinya kembali. "Nanti malam ada gala dinner tahunan perusahaan. Semua jajaran direksi dan mitra bisnis penting akan hadir bersama pasangan masing-masing." Haris menatap mata istrinya rapat-rapat, ada nada memohon yang terselip halus. "Bisakah kamu ikut dan menemaniku nanti malam?"
Nindya mengerutkan alisnya tipis. Selama dua tahun terakhir, Haris hampir tak pernah membawanya ke acara-acara resmi kantor dengan alasan Nindya "lebih baik fokus menjaga Arka di rumah". Padahal, Nindya tahu betul bahwa di beberapa acara informal, Haris sering kali membawa Siska secara sembunyi-sembunyi.
"Kenapa tiba-tiba aku harus ikut, Mas?" tanya Nindya tenang. "Bukankah selama ini kamu lebih suka datang sendiri?"
Haris menelan ludah, merasa tersindir. "Ini acara resmi, Nindya. Direktur utama dan para komisaris menanyakan keberadaan istriku. Lagipula... aku ingin kamu ada di sampingku nanti malam."
Haris sengaja menekankan kalimat terakhirnya. Pertemuannya dengan Nindya yang serba anggun dan berkelas kemarin siang di tepi jalan telah menyentil egonya. Haris ingin menunjukkan kepada rekan-rekannya bahwa wanita luar biasa itu adalah istri sahnya.
Nindya membisu sejenak. Pikiran kritisnya langsung berputar cepat. Acara pesta kantor tahunan Haris adalah kumpulnya seluruh relasi elit, termasuk Siska yang mungkin saja hadir atau memantau dari jauh. Lebih dari itu, tempat seperti pesta resmi perusahaan sering kali menjadi sarang terbukanya rahasia-rahasia internal.
Ini kesempatan bagus untuk mengamati dan mengumpulkan informasi, batin Nindya. Jika ia menolak, Haris mungkin akan curiga atau mencari alasan lain. Namun jika ia datang, ia bisa menunjukkan posisinya yang sah sebagai nyonya rumah sembari diam-diam memperluas pengamatan demi pengumpulan bukti perselingkuhan.
Nindya menyunggingkan senyum tipis yang sangat sulit diartikan oleh Haris.
"Baik, Mas. Aku akan ikut nanti malam," jawab Nindya singkat. "Jam berapa kita berangkat?"
Binar lega langsung terpancar dari mata Haris. Pria itu mengangguk cepat, merasa seolah mendapatkan kemenangan kecil dalam upayanya mendekati Nindya kembali. "Acara mulai jam tujuh malam. Nanti sore aku akan menyuruh salon langganan datang ke rumah untuk mendandanimu, dan aku akan pulang lebih cepat untuk menjemputmu."
"Tidak perlu salon langgananmu, Mas," potong Nindya halus namun tegas. "Aku bisa dandan dan bersiap sendiri. Kirim saja alamat lokasinya, kita bisa bertemu di sana atau berangkat bersama kalau kamu sempat."
Haris ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk mengalah. "Baiklah. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Tolong titip salam untuk Arka."
Nindya hanya mengangguk tanpa membalas ucapan pamit Haris. Begitu pintu kamar kembali tertutup, Nindya berjalan menuju cermin. Matanya berbinar penuh perhitungan. Pesta nanti malam bukan sekadar gala dinner biasa—melainkan panggung pertama bagi Nindya untuk melangkah di dalam permainan perselisihi ini dengan anggun dan tak terduga.