Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
Setelah menempuh perjalanan yang membelah keheningan sisa malam pasca-insiden darurat ganda di Senayan, laju motor bebek tua itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi. Rumah mewah bergaya Eropa modern terpampang megah di balik barikade tersebut, memancarkan kemewahan absolut kasta atas Jakarta yang sangat kontras dengan realitas gang sempit Tambora.
Arya menurunkan standar samping motor tuanya dengan satu sentakan kaki yang mantap dan presisi , lalu melepas helm INK butut penuh goresan miliknya. Struktur wajahnya yang tegas, dengan garis rahang kokoh setingkat aktor drama Korea papan atas, tampak sedikit berkilau oleh peluh tipis sisa aspal ibu kota. Di bawah temaram sinar lampu taman yang temaram, ketampanan maskulin alaminya terlihat begitu memikat, sekalipun tubuh bidangnya dibalut oleh jaket premium Anti-Gosong Indestructible berwarna hijau-perak.
Alya Nindita turun dari jok belakang dengan gerakan perlahan, merapikan sedikit pakaiannya sembari memegangi dadanya yang sedari tadi terus berdebar kencang sejak ia kembali duduk berdekatan dengan sang pengemudi ojol legendaris. Jari-jari lentiknya yang biasa memegang buku-buku tebal Fakultas Kedokteran tampak sedikit gemetar ketika melepaskan helm cadangan pemberian Arya. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke arah Arya dengan binar asmara yang begitu pekat dan emosional, sebuah tatapan dari seorang gadis muda yang tengah dilanda kasmaran setengah mati.
"Mas Arya..." panggil Alya dengan nada suara yang lembut, sedikit serak karena sisa ketegangan romantis yang menumpuk di sepanjang jalan. Ia menoleh ke arah rumah mewahnya yang sepi, lalu kembali menatap Arya. "Rumah lagi sepi banget, Mas. Papa sama Mama masih ada urusan bisnis di luar kota sampai besok. Di dalam gak ada siapa-siapa, cuma ada pembantu aja di paviliun belakang. Mampir dulu yuk, Mas? Masuk sebentar... aku bikinin teh hangat ya? Mas pasti capek banget setelah seharian ini."
Mendengar ajakan yang sarat akan implikasi sensitif tersebut, sistem navigasi batin Arya langsung bergejolak hebat. Di dalam hati kecilnya, benteng profesionalisme seorang mitra ojol pekerja keras langsung berteriak waspada. Waduh, ini kode keras macam apa lagi Tuhan?! Pangkalan baru aja kelar dibangun pakai AC, masa akun gua mau dibekukan gara-gara gua berduaan sama anak sultan subuh-subuh begini? Gak bisa, gak bisa. Performa harian gua harus tetap stabil 100 persen, dan Ibu di rumah pasti sudah nungguin beras dari pasar grosir buat jualan nasi timbel nanti siang!.
Kontraskan kepanikan batinnya yang luar biasa dengan tuntutan profesional di luar, Arya langsung memasang senyum ramah yang meneduhkan, mencoba mempertahankan wibawa maskulin alaminya.
"Terima kasih banyak atas tawarannya yang sangat luar biasa berharga, Nona Alya," sahut Arya dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan emosional. "Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya, tugas darurat saya subuh ini sudah selesai dan performa harian saya harus tetap stabil. Saya harus segera kembali ke Tambora karena Ibu saya di rumah keburu nungguin pasokan beras untuk jualan nasi timbel siang nanti. Takutnya kalau saya mampir, antrean pasar grosir sudah mengular panjang."
Mendengar penolakan yang begitu kaku namun super jujur itu, Alya Nindita mendengus pelan. Bibirnya yang tipis sedikit mengerucut, memancarkan kekesalan yang menggemaskan sekaligus rasa tidak puas karena ketidakpekaan asmaranya Arya yang terlampau tinggi. Namun, gejolak emosional di dalam dada gadis mahasiswi kedokteran ini justru kian membara. Rasa kagum, rindu, dan getaran cinta yang tertahan sejak malam tawuran itu menuntut sebuah pelepasan yang nyata. Sebuah rencana jahil mendadak terlintas di dalam benak cerdasnya.
"Eh, Mas Arya! Itu... itu di belakang Mas ada apa?!" seru Alya tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang mendadak kaget luar biasa, matanya membelalak lebar sembari menunjuk ke arah sudut gelap di belakang motor Supra Fit Arya.
Spontan, refleks kedirgantaraan dan stamina tinggi milik Arya yang terlatih langsung merespons. Arya memutarkan tubuh bidangnya, menengok ke belakang dengan pandangan mata elang yang tajam, bersiap menghadapi ancaman fisik atau sabotase oportunis yang mungkin muncul dari balik kegelapan. Namun, nihil. Tidak ada apa-apa di sana selain selembar daun kering yang jatuh ditiup angin subuh.
Sadar bahwa dirinya telah dikerjai, Arya kembali menengokkan wajahnya ke arah Alya dengan kening berkerut heran. "Nona Alya, tidak ada apa—"
Kalimat Arya terputus mutlak di udara. Pada detik yang sama ketika wajahnya berputar kembali, tubuh mungil Alya sudah merangsek maju, memangkas seluruh jarak sosial di antara mereka hingga aroma wangi tubuh khas mahasiswi itu menyergap indra penciuman Arya. Sebelum logika Arya sempat mencerna situasi, Alya sudah berjinjit, mengalungkan satu tangannya di leher tegap Arya, dan langsung mendaratkan bibirnya yang lembut tepat di atas bibir Arya.
CUP.
Sebuah adegan intens yang luar biasa absurd namun penuh gairah kosmik pecah di bawah langit subuh Kebayoran Baru. Waktu seolah berhenti berputar. Sentuhan itu awalnya terasa begitu lembut, seperti sapuan kelopak bunga yang basah oleh embun pagi, namun perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang sarat akan kerinduan yang mendalam, hangat, dan penuh gairah muda yang meletup-letup.
Bagi Arya Prasetya, detik itu terasa seperti ledakan supernova di dalam tempurung kepalanya. Seluruh sistem sarafnya lumpuh seketika. Jiwanya meronta-ronta dalam badai kepanikan dan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. T-Tunggu dulu... ini... ini ciuman pertama gua?! Selama dua puluh empat tahun hidup jadi anak berbakti di Tambora, jangankan dicium cewek spek bidadari begini, disenggol lengannya sama Mbak Sri aja gua udah istighfar! Sistem! Lu gak ngasih skill pelindung bibir apa?! Ini jantung gua mau copot menembus jaket premium gua! Gejolak batinnya berdebar kencang, berontak antara hasrat maskulin alami yang mendamba dan kepolosan seorang pria sejati yang mendadak kehilangan navigasi hidupnya.
Alya menikmati setiap detik dari kehangatan bibir Arya yang kokoh dan jantan. Gairah emosionalnya tersalurkan sepenuhnya dalam pagutan romantis slow-burn yang manis itu. Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian bagi Arya, Alya perlahan menarik kembali wajahnya yang kini sudah merona merah pekat sehangat kepiting rebus. Dengan napas yang sedikit terengah dan mata cokelatnya yang sayu penuh binar asmara, ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Arya yang sudah memanas, lalu berbisik dengan suara serak yang sangat menggoda iman.
"Itu... adalah ucapan terima kasihku yang sempat tertunda, Mas Arya..." bisik Alya penuh dengan getaran emosional yang sakral. "Terima kasih karena waktu itu sudah menyelamatkan nyawaku dari kepungan tawuran warga. Dan... itu juga tanda pengingat, kalau aku gak akan pernah melepaskanmu ke tangan wanita lain."
Tanpa menunggu balapan kata-kata dari Arya yang masih berdiri mematung layaknya monumen batu di pinggir jalan, Alya langsung berbalik, membuka pintu gerbang kecil dengan tawa renyah yang manis, dan berlari masuk ke dalam rumah mewahnya dengan jantung yang berdegup melompat-lompat kegirangan.
Arya Prasetya hanya bisa berdiri terpaku di samping motor bebek tuanya yang spakbor belakangnya miring. Tangan kanannya bergerak gemetar menyentuh bibirnya sendiri yang masih menyisakan kehangatan rasa manis dan aroma mint dari bibir Alya. Otak dewa milik sang driver ojol legendaris benar-benar mengalami blue screen akibat gempuran baper tingkat tertinggi kasta atas Jakarta.
Sementara itu, di belahan dimensi Jakarta yang lain, tepatnya di dalam salah satu kamar asrama atlet elit Pusat Pelatihan Nasional (Platnas) yang terletak tidak jauh dari kawasan Senayan, sebuah pusaran gairah dan emosi yang berbeda tengah melanda satu jiwa yang lain.
Tiara Puspita, sang atlet lari kebanggaan nasional yang baru saja kembali dari agenda kompetisi krusial di Surabaya, terduduk di tepi ranjang single-nya yang rapi. Gadis bertubuh atletis dengan lekuk tubuh yang kencang, padat, dan proporsional itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, sekalipun jarum jam dinding telah bergeser melewati pukul lima subuh. Di bawah balutan tank top olahraga hitam yang ketat dan celana pendek training, kulitnya yang eksotis tampak sedikit berkeringat halus.
Kedua telapak tangannya mencengkeram erat seprai kasur, sementara napasnya naik-turun dengan ritme yang cepat dan tidak stabil. Dadanya terasa begitu sesak oleh sebuah gejolak batin yang sangat pekat. Pikirannya benar-benar telah dimonopoli sepenuhnya oleh satu nama, satu wajah, dan satu memori yang terus berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepalanya: Arya Prasetya.
Setiap kali ia memejamkan mata, memori saat motor Supra Fit tua milik Arya menembus stratosfer rendah ibu kota layaknya peluru kendali kembali terbayang. Namun, bukan sensasi terbang itu yang membuat tubuh Tiara kini gemetar hebat di atas kasurnya. Melainkan memori saat Arya—dengan ketenangan seorang pendekar dan kelembutan seorang pria matang—memberikan pijatan darurat pada otot tendonnya yang cedera parah sebelum balapan dimulai.
Tiara mengingat dengan sangat jelas bagaimana telapak tangan Arya yang kokoh, hangat, dan dipenuhi guratan kasar pekerja keras itu menyentuh kulit kakinya. Sentuhan yang awalnya diniatkan untuk pengobatan medis misterius berkat intervensi sistem itu entah bagaimana telah mengirimkan gelombang sengatan listrik yang luar biasa dahsyat langsung ke pusat saraf paling sensitif di dalam tubuh Tiara. Pijatan lembut namun bertenaga itu tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tetapi juga meruntuhkan benteng pertahanan mentalnya sebagai seorang srikandi olahraga yang terkenal dingin dan angkuh.
"Hahhh... hahhh..." Tiara mengembuskan napas serak melalui bibirnya yang sedikit terbuka, meredam sebuah desahan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya.
Ia memeluk bantal gulingnya dengan erat, menekannya ke dadanya yang berdegup kencang. Seluruh tubuh Tiara mendadak terasa begitu panas. Ada sebuah gairah seksual yang sangat pekat, intens, dan meletup-letup yang kini menjalar di setiap jengkal pembuluh darahnya setelah mengingat kembali keintiman sentuhan fisik Arya kala itu. Sentuhan jantan yang membuatnya merasa begitu dilindungi, dihargai, sekaligus diinginkan sebagai seorang wanita seutuhnya.
Sebenarnya, sejak detik pertama kakinya kembali menginjakkan kaki di tanah Jakarta setelah menyelesaikan tugas negaranya di Surabaya, keinginan terbesar Tiara adalah langsung kabur dari rombongan ofisial. Ia ingin langsung memesan aplikasi ojol, melacak keberadaan driver bernama Arya tersebut, dan langsung menemuinya demi menuntaskan rasa rindu dan gairah yang kian hari kian menebal di dalam sanubarinya. Ia ingin merasakan kembali dekapan punggung lebar Arya saat motor bebek itu membelah angin malam.
Namun, realitas kehidupan sebagai aset berharga negara menguncinya rapat-rapat. Keterbatasan waktu yang teramat ketat, jadwal karantina pasca-kompetisi yang super padat, serta pengawasan melekat dari tim pelatih dalam proses seleksi final Platnas untuk kejuaraan internasional membuatnya terisolasi di dalam kamar asrama ini. Ia terjebak di antara tuntutan profesi dan ledakan hasrat asmara yang belum pernah ia rasakan sepanjang masa mudanya yang habis di lintasan lari.
Tiara meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di samping bantal. Jari-jarinya dengan cepat membuka aplikasi ojol, menatap riwayat perjalanan transaksinya malam itu yang menampilkan nama 'Arya' dengan ulasan Bintang 5 kelap-kelip yang telah diberikannya.
"Arya..." gumam Tiara dengan suara yang pelan namun sarat akan komitmen asmara jangka panjang dan kerinduan yang mendalam. Jari lentiknya mengusap layar ponsel yang menampilkan foto profil driver Arya yang tampak gagah meski dengan latar belakang sederhana. "Tunggu aku kelar dari seleksi final ini... Aku bersumpah, demi medali emas yang kuperjuangkan, aku akan datang ke gang Tambora itu dan merebut seluruh waktumu dari siapa pun wanita yang mencoba mendekatimu."
Di sudut asrama yang sunyi itu, komitmen jangka panjang sang atlet elit resmi terkunci rapat, bersiap untuk meledak dan menambah panas panggung peperangan asmara para dewi ibu kota yang kian hari kian absurd dan sarat akan intrik romansa jalanan!