NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama

Langit pagi ibu kota berhias awan tipis ketika sebuah taksi online berhenti di depan sebuah toko perhiasan tradisional yang terletak di kawasan komersial tua, jauh dari gemerlap pusat perbelanjaan modern tempat Pratama Tower berdiri. Dari dalam mobil, Kirana turun mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap dan kacamata hitam berukuran besar yang menutupi sebagian wajahnya.

Sejak ia meletakkan kartu kredit hitam Arka di atas meja kerja suaminya kemarin sore, Kirana telah membulatkan tekadnya secara mutlak. Ia tidak akan lagi bergantung pada fasilitas apa pun yang berbau keluarga Pratama. Prinsip hidupnya kini telah berubah menjadi batu karang yang kokoh: kemandirian total, sekecil apa pun itu, jauh lebih mulia daripada hidup bergelimang kemewahan di atas penderitaan batin yang tiada bertepi.

Dengan langkah mantap, ia mendorong pintu kaca toko perhiasan tersebut hingga bunyi lonceng kecil berderincing nyaring menyambut kedatangannya.

Suasana di dalam toko tampak tenang dan sepi. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal yang bertindak sebagai pemilik toko mendongak dari balik meja etalase kaca, menyambut pelanggannya dengan senyuman ramah.

"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pemilik toko sopan.

Kirana melepas kacamata hitamnya perlahan, meletakkannya di atas meja etalase, lalu menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang tenang dan tanpa ragu.

"Pagi, Pak. Saya ingin menjual beberapa perhiasan," ucap Kirana to the point, suaranya terdengar datar namun tegas.

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Kirana membuka tas tangan kulit hitam berukuran sedang miliknya. Dari dalam tas tersebut, ia mengeluarkan sebuah kotak velvet berwarna merah tua yang tampak mewah dan terawat dengan sangat baik. Kotak itu ia buka perlahan di atas etalase, memperlihatkan isinya yang berkilau di bawah lampu toko: satu set perhiasan emas putih bertatahkan berlian kecil—sebuah kalung elegan dengan liontin berbentuk bunga dan sepasang anting senada.

Itu adalah mahar pernikahan yang diberikan Arka kepadanya pada hari pernikahan mereka beberapa tahun lalu. Perhiasan mewah yang dulunya dibeli dengan harga fantastis sebagai simbol status dan ikatan suci di hadapan para tamu undangan yang megah.

Pemilik toko mencondongkan tubuhnya ke depan, mengamati set perhiasan berlian itu dengan mata berbinar penuh kagum. Ia tahu betul kualitas barang di hadapannya; emas murni dengan potongan berlian berkualitas tinggi yang tidak mungkin dibeli oleh orang sembarangan.

"Wah... ini barang berkualitas tinggi, Nyonya. Dan kondisinya masih sangat mulus, sepertinya jarang sekali dipakai," puji sang pemilik toko sambil mendongak menatap Kirana penuh selidik. "Kalau boleh tahu, kenapa perhiasan sebagus ini ingin dijual? Biasanya barang-barang mahar seperti ini disimpan sebagai kenang-kenangan."

Kirana tidak berkedip. Wajahnya tetap dingin, tanpa menyiratkan sedikit pun rasa nostalgia atau penyesalan.

"Kenang-kenangan tidak bisa digunakan untuk menyambung hidup, Pak," jawab Kirana singkat, suaranya begitu dingin hingga membuat sang pemilik toko menelan ludah kelat dan mengangguk paham tanpa berani bertanya lebih jauh. "Tolong taksir harganya. Saya ingin semuanya dicairkan dalam bentuk tunai hari ini."

Dua jam kemudian...

Kirana kembali ke rumah besar keluarga Pratama dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal berisi tumpukan uang tunai di dalam tasnya. Langkah kakinya terasa ringan namun pasti saat ia menuruni anak tangga menuju kamar pojok di lantai bawah.

Bagi orang lain, menjual mahar pernikahan mungkin dianggap sebagai sebuah tindakan putus asa atau memalukan. Namun bagi Kirana, setiap lembar uang tunai di dalam amplop itu adalah lambang kebebasan—sebuah bukti nyata bahwa ia mampu bernapas, bertahan, dan berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus memohon belas kasihan dari seorang Arka Pratama.

Begitu tiba di depan pintu kamar pojoknya, Kirana membuka kunci pintu dan melangkah masuk. Namun, sebelum ia sempat menutup pintu tersebut, sebuah suara parau dan berat menghentikan gerakannya.

"Dari mana kamu, Kirana?"

Kirana menegang sejenak. Ia memutar tubuhnya perlahan.

Di ujung koridor lantai bawah, beberapa meter dari kamarnya, Arka berdiri tegak dengan penampilan yang tampak sangat berantakan. Kemeja kerjanya dikeluarkan dari celana, rambut hitamnya acak-acakan, dan lingkaran hitam tebal membingkai kedua matanya—bukti nyata bahwa pria itu sama sekali tidak tidur semalaman akibat dihantam rasa bersalah yang teramat berat.

Arka melangkah mendekat perlahan, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, menatap Kirana dengan pandangan sarat akan kekhawatiran dan rasa sakit.

"Aku mencarimu sejak pagi tadi," lanjut Arka dengan suara serak, napasnya terdengar sedikit memburu. "Bi Inah bilang kamu keluar rumah sendirian tanpa sopir, tanpa pengawalan. Kirana... kamu baru saja pulih dari kecelakaan parah! Kenapa kamu pergi begitu saja? Kalau kamu butuh sesuatu, kenapa tidak bilang padaku?"

Kirana menatap suaminya dengan sorot mata yang sedingin es. Ia merapatkan pegangannya pada tas tangan kulit hitam di sisi tubuhnya, merasakan amplop cokelat berisi uang hasil penjualan mahar itu tersimpan aman di dalamnya.

"Saya tidak butuh pengawalan, dan saya tidak butuh izin Anda untuk keluar rumah, Arka," jawab Kirana tajam, suaranya bagaikan hembusan angin malam yang menusuk tulang. "Dunia di luar sana jauh lebih jujur daripada rumah ini. Setidaknya, orang-orang di luar sana tidak berpura-pura peduli padahal mereka adalah alasan utama kehancuran hidup saya."

Setiap kata yang meluncur dari bibir Kirana kembali menghujam ulu hati Arka tanpa ampun. Pria itu tertegun, mundur selangkah dengan dada sesak. Matanya menangkap gelagat tertutup dari cara Kirana mendekap tas tangannya, seolah wanita itu sedang melindungi sesuatu yang sangat berharga dari jangkauan sang suami.

"Tas itu... apa yang kamu bawa, Kirana?" tanya Arka curiga, matanya menatap tajam ke arah tas tangan hitam tersebut. Sebuah firasat buruk mendadak merayap di dadanya. "Apa yang baru saja kamu beli... atau kamu bawa dari luar?"

Kirana tersenyum sinis—sebuah senyuman tipis tanpa nyawa yang justru membuat Arka semakin merasa ngeri.

"Itu bukan urusan Anda," balas Kirana dingin. "Dan demi kenyamanan bersama, saya sarankan Anda tidak perlu repot-repot mencari tahu atau mencemaskan keberadaan saya. Waktu saya di rumah ini tinggal menghitung hari, dan setiap detik yang saya habiskan di sini hanya saya manfaatkan untuk mempersiapkan diri melangkah keluar selamanya dari kehidupan Anda."

Deg!

Kalimat itu bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Arka. Keluar selamanya?

Sebelum Arka sempat membuka mulut untuk memohon atau membantah, Kirana dengan cepat membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam kamar pojok, dan menutup pintu rapat-rapat di depan hidung suaminya.

Klek.

Suara kunci pintu yang diputar dari dalam terdengar begitu tegas, menandakan bahwa benteng pertahanan Kirana telah ditutup rapat-rapat.

Arka berdiri seorang diri di koridor yang sepi. Kepedihan yang teramat sangat meremukkan dadanya, sementara kenyataan pahit menghantam keras kesadarannya: istrinya tidak sedang ngambek atau mencari perhatian—Kirana benar-benar sedang mempersiapkan diri untuk pergi meninggalkannya untuk selamanya, membawa serta seluruh kenangan manis yang telah ia nodai dengan keangkuhannya sendiri.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!