NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Terima kasih

"Apa kaitannya keadaan ayahku denganmu?" tanya Aluna bingung.

"Kamu tidak perlu tahu," sahut Gavin dingin.

Aluna sudah sangat menghafal tabiat pria ini. Setiap kali Gavin tersulut emosi, ia hanya perlu memasang wajah terzalimi dan bersikap manja. Gavin pasti akan langsung luluh.

Karena paham betul trik tersebut, Aluna menenangkan diri. Ia memberanikan diri maju untuk memeluk tubuh Gavin dan bersandar erat di dadanya, mencoba menunjukkan sisi penyayang. "Kak Gavin, aku benar-benar ingin tahu. kau maukan aku mendengarkan penjelasanmu?"

Benar saja, begitu intonasi lembut itu keluar dari bibir Aluna, emosi Gavin langsung runtuh. Meskipun ia tidak langsung memberikan jawaban, ekspresi di wajahnya yang semula sedingin es kini tampak mulai melunak.

"Kak Gavin, kamu..."

Aluna berniat memanfaatkan momen kelonggaran ini untuk terus mengulik informasi. Namun, lampu indikator di atas pintu ruang operasi yang mendadak padam seketika membuat kata-katanya tercekat di tenggorokan.

"Ayah!"

Seluruh fokus Aluna kembali tertuju pada keselamatan sang ayah. Ia menepis segala kekhawatiran lainnya dan langsung berlari cepat menuju pintu ruang operasi.

Cklek.

Pintu ganda itu terbuka. Dokter spesialis yang bertanggung jawab keluar dengan masih mengenakan pakaian bedah lengkap. Ia melepas penutup kepalanya, lalu mengangguk sopan kepada Gavin dari kejauhan. Setelah itu, ia menoleh ke arah Aluna sembari tersenyum ramah. "Nona Aluna, prosedur operasi besar Ayah Anda berjalan dengan sangat sukses."

Air mata kebahagiaan seketika meluncur membasahi pipi Aluna. Ia terisak dengan pelan sembari berucap, "Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih."

"Namun, mengingat adanya potensi komplikasi pasca-operasi, pasien saat ini harus dipindahkan ke ruang ICU terlebih dahulu untuk menjalani observasi ketat selama beberapa waktu. Jika tidak ditemukan indikasi kelainan atau infeksi dalam seminggu ke depan, pasien sudah diizinkan pulang untuk rawat jalan di rumah."

"Komplikasi operasi?" Jantung Aluna kembali berdegup kencang karena cemas. Wajahnya dipenuhi gurat kekhawatiran yang baru. Ia spontan meraih lengan dokter tersebut dan bertanya, "Dokter, apakah potensi komplikasi itu bisa mengancam keselamatan nyawa Ayah saya?"

"Ada kemungkinan ke arah sana."

"Ya Tuhan... lalu apa yang harus kami lakukan?"

Mendapat isyarat instruksi dari pandangan mata Gavin, dokter tersebut segera menjelaskan dengan sabar, "Komplikasi setelah operasi besar adalah hal yang lumrah terjadi dalam dunia medis. Meskipun berisiko mendatangkan bahaya, selama kita bisa mencegah terjadinya infeksi dan pihak keluarga memberikan perawatan pasca-operasi dengan baik, harusnya tidak akan ada masalah besar. Nona Aluna tidak perlu terlalu panik."

"Terlebih lagi, Tuan Gavin sudah memberikan instruksi khusus kepada pihak manajemen. Rumah sakit kami untuk memastikan akan mengerahkan seluruh tim medis terbaik dan sumber daya terkuat untuk mengawal proses pemulihan Ayah Anda secara maksimal."

Aluna spontan menoleh, menatap lurus ke arah Gavin dengan sepasang mata yang dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam. Ternyata, pria itu sudah mengatur dan mengamankan segala hal di belakangnya secara diam-diam sejak awal.

Pandangan mereka saling mengunci di koridor tersebut, menciptakan atmosfer yang mendadak terasa hangat dan intim. Dokter yang menyadari situasi itu melirik mereka sekilas dengan ekspresi penuh arti, sebelum akhirnya berpamitan untuk kembali masuk ke dalam ruang perawatan.

"Terima kasih banyak," bisik Aluna tulus kepada Gavin.

Gavin yang gengsi dan arogan sengaja memalingkan wajahnya sedikit ke samping, lalu menyahut dengan nada menyindir, "Hah, begitulah watak dasar manusia. Sangat cepat berubah."

"Tadi kamu begitu marah dan menuduhku sembarangan, sekarang tiba-tiba sikapmu berubah manis begini. Biar kupertegas, aku bukan pria penyabar yang bisa menerima perubahan sikap instan seperti itu."

Belum sempat Gavin menyelesaikan kalimat ketusnya, sepasang lengan ramping Aluna sudah melingkar erat di pinggangnya. Gelombang kehangatan fisik langsung menyelimuti tubuh Gavin. Ia menundukkan kepala, mendapati Aluna menempel ketat pada tubuhnya layaknya seekor kanguru kecil, seolah ingin menumpukan seluruh bobot tubuhnya pada Gavin.

"Kak Gavin, benar-benar terima kasih banyak atas bantuanmu."

Melihat wajah Aluna yang tersenyum tulus dengan sepasang mata jernih yang menatapnya, apa lagi yang bisa diucapkan oleh seorang Gavin? Sejak awal, ia memang sudah terlanjur kalah dan jatuh cinta terlalu dalam pada gadis ini.

Seluruh sisa amarah di dada Gavin menguap tanpa bekas. Tanpa ragu, ia membuka lebar kedua lengannya, mendekap tubuh Aluna dengan teramat erat ke dalam pelukan, lalu mendaratkan sebuah ciuman dalam yang sarat akan perasaan di dahi gadis itu.

Prosedur operasi Pak Surya terbukti sukses total, dan dalam beberapa hari pengamatan berikutnya, tim dokter sama sekali tidak menemukan adanya indikasi komplikasi medis.

Seminggu kemudian, Gavin diam-diam menghubungi Rendra secara personal. Ia menginstruksikan anak buahnya untuk menyiapkan mobil khusus guna menjemput dan mengantarkan Pak Surya kembali ke rumah lama keluarga mereka agar bisa menjalani pemulihan dengan lebih nyaman.

Suatu sore di kamar tidur mansion.

Aluna perlahan terbangun dari tidur siangnya, masih berada di dalam dekapan Gavin. Sepasang mata gelapnya bergerak pelan, mengamati sekeliling kamar dengan tatapan yang tampak sangat hidup. Begitu tubuh Aluna melakukan pergerakan kecil, Gavin yang sensitif ikut terbangun dari tidurnya. Namun, pria itu memilih tetap diam tanpa membuka mata, menikmati momen istirahat mereka.

Melihat Gavin yang bergeming, Aluna mendadak memajukan tubuhnya. Hembusan napas hangatnya menyapu permukaan telinga Gavin saat ia berbisik lirih, "Kak Gavin... apa kamu sudah bangun?"

Gavin merasakan sensasi geli yang menggelitik di telinganya. Ia langsung bergerak mengeratkan pelukannya pada pinggang Aluna, membuka sepasang matanya yang menggelap, lalu menyahut dengan suara berat yang terdengar serak khas orang baru bangun tidur. "Iya, aku sudah bangun."

Tatapan mata Gavin yang mendadak intens dan sarat akan gairah tersembunyi seketika membuat bulu kuduk Aluna meremang. Usia kandungan Aluna saat ini hampir menginjak tiga bulan, dan fakta bahwa mereka berdua selalu tidur di ranjang yang sama setiap hari membuat Aluna harus selalu menaikkan kewaspadaan. Ia cemas jika sewaktu-waktu Gavin kehilangan kendali atas insting dominannya dan memaksanya melakukan hubungan intim yang bisa membahayakan janinnya.

Aluna berusaha menekan rasa cemasnya. Ia memaksakan sebuah senyuman manis, lalu berucap dengan sangat hati-hati, "Kak Gavin, Ayah kan sudah keluar dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu, dan sampai sekarang aku belum memiliki waktu untuk menjenguk kondisinya secara langsung. Rencananya, aku..."

"Kapan kamu berniat pergi? Aku akan menyuruh sopir pribadi untuk mengantarkanmu ke sana," potong Gavin langsung.

"Iya, tapi..."

Melihat gelagat Aluna yang tampak ragu dan tidak langsung menyetujui, Gavin menaikkan sebelah alisnya dengan kening berkerut. "Kenapa? Kamu masih merasa tidak puas dengan keputusan itu?"

"Bukan begitu, Kak. Sama sekali bukan karena aku tidak mau diantar sopir. Aku hanya..."

"Katakan saja langsung apa yang sebenarnya kamu inginkan." Gavin sudah terlalu mengenal Aluna. Gadis ini pasti akan langsung bicara terbata-bata atau gugup setiap kali sedang merencanakan sesuatu yang ia tahu tidak akan disukai oleh Gavin.

Aluna menatap Gavin dengan pandangan ragu selama beberapa detik, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berbicara dengan sangat pelan, "Aku... aku ingin pulang dan menginap di rumah Ayah selama dua hari."

"Tidak boleh," jawab Gavin mutlak tanpa kompromi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!