NovelToon NovelToon
The Porch Light

The Porch Light

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.

Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.

Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.

Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.

Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.

Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.

Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Pagi di Chicago International High School diawali dengan antrian panjang mobil-mobil mewah yang mengular di depan gerbang utama.

Kendaraan kelas atas seperti Bentley, Rolls-Royce, hingga Mercedes-Maybach saling bergantian menurunkan para siswa yang mengenakan seragam berdesain eksklusif.

Namun, di antara hiruk-pikuk kedatangan para siswa berpenampilan rapi dan segar itu, sesosok pemuda tegap berjalan terseok-seok menyusuri koridor sekolah.

Reagen Vale-Knight melangkah dengan kedua tangan terbenam di saku celana seragamnya. Langkah kakinya berat, matanya menyipit layaknya orang yang belum sepenuhnya sadar dari mimpi buruk.

Kaos kaki putihnya agak melorot, dan tas punggung mewahnya diseret begitu saja di sebelah bahunya.

"Ugh... aku tidak menyangka hari pertama yang spesial ini akan jadi hari pertama paling menyebalkan dalam hidupku," gumam Reagen dengan suara serak yang penuh kekesalan.

Bagaimana tidak? Reagen yang baru bisa memejamkan mata pada pukul dua dini hari tadi, mendadak harus terbangun secara paksa pada pukul lima pagi tepat!

Dan penyebabnya bukan bunyi alarm ponsel atau bisikan lembut Mommy Rossi yang biasa membangunkan dan memanjakannya di Los Angeles.

Bugh!

Satu pukulan telak dari telapak tangan tegap Opa Xander-Hayes Stone tepat di dadanya pagi tadi hampir saja membuat nyawa Reagen terbang melayang karena terkejut!

Pria tua legendaris itu rupanya sengaja menyambangi mansion lebih awal untuk memeriksa cucu tunggal dari putri kesayangannya, Suzzy.

Tak berhenti di penderitaan bangun pagi, bencana berikutnya menghantam saat Reagen hendak mengenakan kemeja seragam. Kerah bajunya yang sedikit melorot tak sengaja mengekspos guratan tinta hitam di leher kirinya—tato tulisan "Unbroken" yang baru ia buat semalam.

Oma Alceena yang melihat hal itu langsung mengomel panjang lebar.

Tanpa ampun, wanita paruh baya berwibawa itu memberinya hukuman instan: menyapu dan membersihkan seluruh dedaunan kering di taman belakang mansion sebelum diizinkan berangkat ke sekolah!

Akibatnya? Reagen terlambat tiba di sekolah.

Begitu menginjakkan kaki di gerbang High School, seorang guru pria bertubuh tegap dengan kacamata tebal dan raut wajah setajam elang sudah menunggunya.

Tanpa mendengarkan satu pun alasan, sang guru langsung menghukum Reagen untuk melakukan push-up sebanyak 20 kali di atas lantai semen yang dingin sebelum diperbolehkan masuk ke koridor!

"Sialan..." maki Reagen dalam hati sembari mengusap otot lengannya yang masih terasa pegal.

"Ikuti aku, Tuan Vale-Knight," tegur guru tersebut—Pak Harrison—dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.

Pria itu menyapu pandangan pada penampilan Reagen yang berantakan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di sekolah ini, aturan adalah hal mutlak. Tidak peduli sehebat apa latar belakang keluargamu."

Reagen hanya mendengus pelan, memutar bola matanya malas sembari mengekor di belakang Pak Harrison.

Mereka menyusuri koridor berlantai kayu mengkilap, melintasi jajaran loker besi dan deretan piala kejuaraan yang tertata rapi di dalam lemari kaca.

Hingga akhirnya, langkah Pak Harrison terhenti di depan pintu ganda sebuah ruang kelas di ujung koridor lantai dua.

Kelas 12-A. Kelas paling prestisius di seluruh tingkatan sekolah.

Tok, tok, tok.

Pak Harrison menggeser pintu kelas. Suasana di dalam ruangan yang tadinya dipenuhi dengan diskusi tenang para siswa seketika hening total. Seluruh pasang mata menoleh ke arah pintu.

Pak Harrison melangkah masuk, diikuti oleh Reagen yang berjalan santai dengan gaya angkuh dan tengilnya.

Pemuda itu berdiri di samping meja guru, menyilangkan kedua tangan di dada sembari menatap sekeliling ruangan dengan pandangan menilai yang meremehkan.

Gila. Reagen benar-benar tidak menyangka bahwa Opanya akan memasukkan dirinya ke dalam kelas unggulan seperti ini!

Isi ruangan ini adalah kumpulan anak-anak berprestasi berotak genius, dan jangan tanya dari kalangan mana—tentu saja mereka semua berasal dari keluarga konglomerat dan dinasti kelas atas yang menguasai berbagai sektor di benua ini.

Namun, di antara jajaran siswa yang duduk rapi tersebut, sebuah tatapan mata terbelalak lebar penuh syok tertuju lurus pada Reagen.

Di barisan tengah dekat jendela, Chelsea Lambert membeku di kursinya. Jarinya yang sedang memegang pena mendadak kaku, matanya membelalak tak percaya menatap pemuda tinggi yang berdiri di depan kelas.

Wah, sialan... Dia anak baru?! jerit Chelsea dalam hati, nafasnya tertahan.

Gadis itu mengenali dengan sangat jelas rahang tegas, tatapan mata yang menyebalkan, serta gaya angkuh pemuda yang semalam ia tabrak di bandara! Pria yang mengatakan bahwa ia 'tidak perlu mata untuk berjalan karena memiliki kaki'!

Di samping Chelsea, Reese—yang duduk anggun berseragam rapi—ikut menoleh, sementara Olivia menaikkan satu alisnya penasaran melihat raut wajah Chelsea yang mendadak pucat dan emosional.

"Perhatian semuanya," ujar Pak Harrison memecah keheningan kelas. "Hari ini kita kedatangan siswa pindahan baru dari Los Angeles. Mengingat ini adalah semester terakhir kalian, kuharap kalian bisa membantunya beradaptasi."

Pak Harrison menoleh pada Reagen, memberi isyarat dengan kepalanya. "Silakan perkenalkan dirimu."

Reagen menghela napas panjang. Dengan gaya yang sangat santai dan tidak berbeban, ia maju satu langkah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, menyunggingkan senyum miring yang teramat tengil dan memikat.

"Perkenalkan, nama saya Reagen Vale-Knight," ucap Reagen dengan suara baritonnya yang mantap dan menggema pelan di dalam kelas.

Ia sengaja menghentikan kalimatnya sejenak, menatap anak-anak genius di depannya satu per satu, sebelum memungkasinya dengan nada meremehkan yang amat jelas:

"Kuharap kalian tidak sekaku yang kelihatannya."

Deg.

Sontak, seisi kelas 12-A terdiam seribu bahasa! Beberapa siswa laki-laki yang duduk di barisan belakang langsung menatap Reagen dengan pandangan bermusuhan, sementara beberapa siswi perempuan menyunggingkan senyum kagum sekaligus tertantang melihat ketampanan dan keberanian anak baru tersebut.

Di kursinya, Chelsea meremas penanya hingga memutih. Gigi gadis itu bergelut menahan kekesalan yang membakar dadanya.

"Pria arogan menyebalkan..." desis Chelsea sangat pelan melalui celah giginya.

Reagen yang tidak sengaja menangkap tatapan membunuh dari Chelsea di dekat jendela justru makin melebarkan senyum miringnya.

Alisnya terangkat sebelah ke arah Chelsea, seolah memberi gestur ejekan yang sengaja memancing emosi gadis itu di hari pertamanya di Chicago International High School.

...°°°...

Ketegangan yang mengudara di Kelas 12-A seolah terbagi menjadi dua energi yang bertolak belakang.

Di satu sisi, udara dipenuhi percikan api permusuhan yang menyala antara Reagen dan Chelsea. Tatapan menantang dari pemuda Vale-Knight itu dibalas dengan dengusan napas tajam dari Chelsea yang siap meledak kapan saja.

Namun, di tengah dinamika emosional itu, ada satu sosok yang bergeming total.

Di barisan paling depan dekat meja guru—posisi terhormat bagi siswa berprestasi tertinggi—Reese duduk dengan punggung tegak sempurna.

Seragam sekolahnya terpasang sangat rapi tanpa kerut sedikit pun.

Jika Chelsea dipenuhi aura dominan berapi-api dan siswa lain memandang Reagen dengan rasa iri atau ketertarikan dangkal, Reese menatap pemuda tegap di depan kelas itu tanpa ekspresi apa pun.

Wajahnya anggun bagaikan porselen, tenang dan tak tersentuh. Sebagai kapten tim debat utama dan perwakilan ballerina sekolah, Reese dikenal sebagai sosok yang amat terkontrol. Ia adalah tipe gadis yang tidak akan membuang energi untuk percakapan sia-sia; suaranya hanya akan menggema tajam dan mematikan saat ia memegang mikrofon di mimbar debat.

Namun, di balik binar matanya yang tampak dingin dan jernih seperti air danau di musim dingin, jantung Reese berdetak dengan ritme yang liar tak menentu.

Dada Reese bergemuruh hebat, mengikis seluruh ketenangan murni yang selama ini menjadi benteng pertahanannya.

Reagen... Vale-Knight...? bisik suara di dalam benak Reese, bergetar ketakutan sekaligus tak percaya.

Mata indahnya tak berkedip sedikit pun saat menelusuri garis rahang tegas, pendar mata hitam yang pekat, serta cara berdiri angkuh yang begitu familier dari pemuda itu.

Nama yang selama bertahun-tahun ini hanya bisa ia sebut dalam doa-doa rahasianya, nama dari pria yang menjadi alasan utamanya berjuang keras demi bisa melangkah ke universitas impian di Los Angeles... kini berdiri membentang hanya beberapa meter di hadapannya.

Apa ini nyata? batin Reese, meremas jemari tangannya yang saling bertaut di bawah meja, menyembunyikan getaran halus di ujung jemarinya. Kau ada di sini? Di sekitarku? Di kelas yang sama... di kota yang sama?

Dunia seolah bergerak lambat di mata Reese. Logikanya yang biasa dipakai untuk mematahkan argumen lawan di arena debat seketika lumpuh.

Pemuda Los Angeles yang selama ini bagaikan bintang jauh di langit malam, kini tiba-tiba runtuh dan mendarat tepat di ruang napas yang sama dengannya.

"Reagen," suara tegas Pak Harrison memecah keheningan yang sempat tercipta. "Karena hanya ada dua kursi kosong tersisa... kau bisa duduk di barisan paling depan, tepat di sebelah Reese."

Pak Harrison menunjuk meja kosong yang berada persis di samping tempat duduk Reese.

Sontak, Olivia membelalakkan matanya, menoleh cepat pada Chelsea yang juga ikut terkejut. Olivia menyenggol lengan Chelsea sembari berbisik sangat pelan dengan mata berbinar-binar gila, "Chels... kau dengar itu? Dia duduk di samping Reese! Pria Los Angeles itu..."

Chelsea memutar bola matanya, menyenderkan punggungnya ke kursi sembari berbisik balik pada Olivia, "Pria menyebalkan itu? Biarkan saja. Kalau dia berani mengganggu Reese, aku yang akan mematahkan kakinya."

Sementara itu, Reagen yang mendengar instruksi gurunya hanya mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk. Matanya sekilas bersibobrok dengan mata Reese yang sedang menatapnya tenang.

Reagen mengaitkan satu tali tasnya di bahu, melangkah santai menyusuri lorong antar meja.

Langkah kakinya terasa mantap dan percaya diri. Ia menarik kursi di sebelah Reese, menyebarkan aroma parfum kayu cendana dan citrus yang begitu memikat saat ia mendudukkan tubuh jangkungnya di sana.

Sret.

Reagen menjatuhkan tas mewahnya di lantai, menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu menoleh sekilas ke arah gadis di sampingnya yang tampak begitu tenang dan tak terganggu oleh kehadirannya.

"Hai," sapa Reagen pelan dengan suara bariton rendahnya yang khas, menyunggingkan senyum tipis—sapaan singkat khas anak baru yang formal.

Reese menoleh pelan. Tidak ada rona merah liar yang meluap di pipinya, tidak ada kebingungan yang nampak di wajahnya.

Dengan kontrol diri yang luar biasa tinggi khas seorang putri diplomat, Reese menyunggingkan senyum tipis yang amat anggun dan sopan—senyuman yang begitu simetris dan indah.

"Selamat datang di Kelas 12-A, Reagen," balas Reese halus. Suaranya terdengar begitu lembut, tenang, dan tertata, seolah-olah nama itu sudah ratusan kali terlatih di bibirnya.

Reagen sempat tertegun sejenak. Nada suara gadis di sampingnya ini memiliki frekuensi yang anehnya sanggup menenangkan kekesalan di dadanya akibat hukuman pagi tadi.

Namun, Reagen yang dasarnya acuh tak acuh hanya mengangguk pelan, kembali menghadap ke depan meja tempat Pak Harrison mulai membuka buku pelajaran.

Di balik wajah anggun dan tatapan lurusnya ke papan tulis, Reese mengambil napas dalam-dalam. Setiap helaan napasnya kini terisi oleh aroma tubuh Reagen yang berada tepat di sebelah kirinya.

Gadis yang biasanya selalu menjadi pembicara paling dominan dan tak terkalahkan di panggung debat itu kini hanya bisa duduk terdiam, mendengarkan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang—menyadari bahwa semester terakhirnya di Chicago baru saja berubah menjadi alur cerita yang paling tidak pernah ia duga sebelumnya.

1
Mia Camelia
hahaa rasaiin ketauan ,rowan ngumpetin anak gadis🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkww🤣
total 1 replies
alunanfiksimalam
Wanita jahat
nayla tsaqif
Uhh,, marathon bacanya thor,, tp nyampe jg bab 20🤭
Rosdianah 🌷: Waaah luar biasa kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Rossi 😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
Rosdianah 🌷: siap kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Huwaa😭 knp q ketinggalan notifnya,, tau2 udah bab 20 ajahh,,! Semangat 30 menit pasti selesai baca💪
Rosdianah 🌷: Huhuhu semangat kak reader 🥰🫶
total 1 replies
Mia Camelia
so sweet banget sih mereka brdua🥰🥳
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mia Camelia
aduh ngenes banget ngliat rowan nanggis ky bgitu🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahaha🤣
total 1 replies
Mia Camelia
cathez gak tau diri banget cowo sekelas rowan di sia sia kan😔
Rosdianah 🌷: huhuhu
total 1 replies
Mia Camelia
rowan jahat banget sih cuma mau ngambil anak nya doang🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: perlu digampar anak Daddy satu itu🤣
total 1 replies
Mia Camelia
rosi polos banget yaa, cocok nih sama rowan🥰🥰🥰
Mia Camelia
semua nya mudah klo rowan udh niat 😂🤣
Mia Camelia
hehe rowan kebelet banget pingin anak🤣🤣
Rosdianah 🌷: bisa bayangin lah ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pertemuan yg tak terduga😂
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
Mia Camelia
horeee 🥳 akhir nya kisah rowan publish juga🥰😄😂😂
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰
Rosdianah 🌷: Huhuhu terharu, Ma'aciww kak, Semoga suka sama ceritanya.
Happy Reading 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!