Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran di Lembah Gelap
Energi hitam dari menara semakin mengerikan, membungkus seluruh lembah dengan kabut pekat yang membuat pandangan menjadi terbatas. Suara gemuruh dari mesin dan makhluk buatan itu bergema ke segala arah, menyertai angin yang berbisik seperti bisikan jahat.
“Jangan biarkan energi itu mempengaruhi pikiran kalian!” teriak Aldi kepada teman-temannya, sambil merasakan kalung di lehernya yang mulai memancarkan cahaya hangat untuk melawan dinginnya energi negatif. “Tetap fokus pada tujuan kita – kita harus menghancurkan sumber energi di atas menara itu!”
Baru saja mereka melangkah beberapa langkah, tiga makhluk buatan yang menyerupai singa raksasa dengan tubuh besi dan sisik kayu menghadang jalannya. Mata mereka menyala merah pekat, dan dari mulutnya keluar nyala api yang mengeluarkan bau kayu yang terbakar.
Bara segera melesat ke depan, menggunakan kecepatannya untuk menghindari serangan api tersebut. “Saya akan menangani yang ini!” jeritnya sambil mengeluarkan cakar energi yang bersinar putih, menusuk salah satu makhluk di bagian dadanya yang lebih lembut. Suara gesekan logam yang menggelegar terdengar saat cakar tersebut mengenai target, membuat makhluk itu bergetar dan menjerit kesakitan.
Sementara itu, dua makhluk lainnya menyerang Aldi dan anggota kelompok pengintaian lainnya. Aldi mengumpulkan energi alamiah di kedua tangannya, membentuk panah cahaya hijau yang melesat dengan cepat ke arah mata makhluk tersebut. Setiap panah yang mengenai sasaran membuat makhluk itu terpental ke belakang, namun mereka segera bangkit kembali dengan kekuatan yang tidak berkurang.
“Mereka tidak mudah terkalahkan!” teriak salah satu anggota kelompok yang sedang menghindari serangan cakar tajam dari salah satu makhluk. “Kita perlu cara untuk melemahkan mereka secara permanen!”
Aldi melihat bahwa setiap makhluk buatan itu memiliki sebuah batu kecil berwarna hitam di bagian lehernya – sumber energi yang jelas karena terus memancarkan getaran negatif. “Serang batu di leher mereka!” teriaknya kepada semua orang. “Itu adalah sumber kekuatan mereka!”
Dengan arahan itu, kelompok mulai fokus menyerang titik lemah tersebut. Bara dengan cepat menghancurkan batu pada makhluk yang dia tangani, membuatnya langsung roboh dan menyatu kembali dengan tanah. Aldi berhasil menghancurkan batu pada makhluk kedua dengan serangan energi keemasan, sementara anggota kelompok lainnya bekerja sama untuk mengalahkan yang ketiga.
Setelah mengalahkan makhluk-makhluk itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju pangkalan utama. Tapi jalan mereka semakin sulit – dinding tembok yang terbuat dari kayu dan logam muncul tiba-tiba dari tanah, sementara jurang yang dalam terbentuk di depan mereka. Energi negatif dari menara membuat alam sekitarnya berubah bentuk sesuai keinginan kelompok jas hitam.
“Sangat jelas mereka telah menguasai cara untuk mengendalikan energi alamiah dengan cara yang salah,” bisik Aldi dengan marah namun tetap tenang. “Mereka tidak menghargainya – mereka hanya menggunakan sebagai alat untuk kekuasaan.”
Saat mereka mendekati pintu masuk pangkalan, pemimpin kelompok jas hitam muncul berdiri tegak dengan wajah yang penuh kesenangan jahat. Di belakangnya berdiri puluhan anggota kelompoknya, masing-masing membawa senjata buatan dari energi negatif dan logam.
“Kalian benar-benar bodoh untuk datang ke sini,” ucapnya dengan suara yang kasar dan menggelegar. “Sekarang kalian akan menyaksikan kelahiran kekuatan baru yang akan menguasai seluruh dunia – kekuatan yang akan membuat kita menjadi penguasa atas semua makhluk hidup!”
Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, dan energi hitam dari menara mulai mengalir ke tubuhnya. Tubuhnya mulai membesar dan berubah bentuk, menjadi sosok raksasa yang gabungan antara manusia, logam, dan kayu. Matanya menyala merah menyala, dan sayap seperti kulit kayu yang mengkilap tumbuh dari punggungnya.
“Ini adalah hasil dari eksperimen kita yang paling sempurna!” teriaknya dengan suara yang sudah berubah menjadi lebih dalam dan mengerikan. “Saya akan menjadi dewa baru yang akan membangun dunia sesuai keinginan saya!”
Tanpa basa-basi, dia menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, mengeluarkan tenda kayu yang tajam ke arah Aldi dan teman-temannya. Aldi segera membentuk perisai cahaya besar untuk menghalangi serangan itu, namun tenda kayu tersebut cukup kuat untuk membuat perisainya bergetar dan hampir pecah.
“Saya akan menangani dia sendirian!” teriak Aldi kepada teman-temannya. “Kalian harus terus前进 ke menara dan menghancurkan sumber energinya! Itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya!”
Tanpa menunggu tanggapan, Aldi melompat ke udara dan mulai menyerang raksasa yang dulunya adalah pemimpin kelompok jas hitam. Setiap serangan yang dia lemparkan membuat lawannya bergetar, namun raksasa itu dengan mudah menghindari atau memblokir serangan-serangan tersebut. Dia mengeluarkan serangan balik dengan kekuatan yang luar biasa, membuat Aldi terpental ke tanah dan merasakan rasa sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya.
Sementara itu, Bara dan kelompok lainnya berhasil melewati pertahanan anggota kelompok jas hitam dan memasuki area di sekitar menara. Mereka melihat bahwa di bagian atas menara terdapat sebuah kristal hitam raksasa yang terus menyedot energi dari segala arah – dari tanah, udara, bahkan dari makhluk hidup yang masih tertangkap di sekitar pangkalan.
Namun untuk mencapai kristal tersebut, mereka harus melewati lapisan pertahanan energi yang sangat kuat. Setiap kali mereka mencoba mendekat, energi negatif tersebut menyerang tubuh mereka, membuat mereka merasa lelah dan pusing.
“Kita perlu menggabungkan kekuatan kita!” teriak Bara. “Semua orang, kumpulkan energi alamiah yang kalian miliki dan gabungkan menjadi satu perisai!”
Anggota kelompok mulai berkumpul, masing-masing mengeluarkan energi positif dari dalam diri mereka – energi dari cinta terhadap alam, rasa ingin melindungi desa, dan persahabatan yang mereka miliki. Energi tersebut menyatu menjadi sebuah perisai cahaya putih yang besar, melindungi mereka dari serangan energi negatif dan memungkinkan mereka untuk mendekat ke menara.
Saat mereka mulai memanjat menara, Aldi masih berjuang dengan raksasa di bawahnya. Tubuhnya sudah sangat lelah, tapi dia terus berjuang dengan segala kekuatannya. Dia merasakan bahwa kalung di lehernya semakin panas, dan suara bisikan leluhur terdengar di dalam benaknya – “Kamu tidak sendirian. Semua kekuatan alam ada di sisimu.”
Aldi mulai merentangkan kedua tangannya, memanggil energi dari semua arah – dari pepohonan yang masih bertahan hidup di sekitar lembah, dari sungai yang tersisa sedikit airnya, dari tanah yang terluka, bahkan dari hewan-hewan yang menyembunyikan diri namun masih memberikan dukungan energi. Energi tersebut menyatu dengan dirinya, membuat tubuhnya menyala dengan cahaya keemasan yang luar biasa.
“Kita adalah satu dengan alam!” teriak Aldi dengan suara yang penuh kekuatan. “Dan alam tidak akan pernah membiarkan dirinya diperbudak!”
Serangan energi yang luar biasa menyambar dari tangannya ke arah raksasa, membuatnya terpental jauh ke belakang dan tubuhnya mulai kembali ke bentuk semula. Namun pemimpin kelompok jas hitam tidak mau menyerah – dia masih mencoba mengumpulkan energi terakhir untuk menyerang kembali.
Sementara itu, Bara dan kelompok lainnya telah mencapai bagian atas menara. Mereka melihat kristal hitam yang terus memancarkan energi negatif, dan segera mulai menyerangnya dengan semua kekuatan yang mereka miliki. Namun kristal tersebut sangat kuat dan tidak mudah terkalahkan.
“Hanya energi positif yang paling murni yang bisa menghancurkannya!” teriak salah satu anggota kelompok yang memiliki kemampuan melihat energi secara langsung.
Pada saat yang sama, suara-suara dari kejauhan terdengar – suara teriakan dari banyak orang, disertai dengan suara gumaman gajah, mengaum harimau, dan berkicauan burung dalam jumlah besar. Dinda dan Rian telah kembali dengan bantuan dari desa-desa tetangga serta ribuan hewan yang datang untuk membantu.
Energi positif dari ribuan makhluk hidup mulai mengalir ke arah menara, menyatu dengan energi yang sudah ada di perisai Bara dan kelompoknya. Cahaya yang sangat terang menyambar ke kristal hitam, membuatnya mulai bergetar dan berubah warna menjadi merah lalu kuning.
Di bawahnya, Aldi melihat bahwa kekuatan lawannya sudah mulai menipis. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menyerang satu kali lagi, mengarahkan semua energi yang dia miliki ke arah pemimpin kelompok jas hitam. Saat cahaya menyambar, sosok itu akhirnya jatuh ke tanah dan tidak bisa bangun lagi – energi negatif yang menguasainya telah hilang total.
Pada saat yang sama, kristal di atas menara meledak dengan suara seperti kilat, dan energi positif yang luar biasa menyebar ke seluruh lembah. Pohon-pohon yang layu mulai kembali hijau, tanah yang retak mulai menyatu kembali, dan sumber air yang mengering mulai mengalir lagi dengan jernih. Awan gelap di langit mulai menghilang, dan sinar matahari kembali menyinari lembah dengan cahaya hangat.
Semua orang berdiri diam, melihat keajaiban yang terjadi di sekitar mereka. Mereka telah berhasil mengalahkan ancaman yang sangat besar, bukan hanya dengan kekuatan fisik, tapi dengan kekuatan persatuan, cinta, dan rasa hormat terhadap alam yang mereka anut.