Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Memilih Melangkah
Mobil taksi yang membawa Jena akhirnya berhenti tepat di depan lobi Apartemen Blue Residence.
Jena membayar ongkos perjalanan, lalu turun sambil membawa kotak berisi barang-barang pribadinya. Ia mendongak sejenak menatap bangunan apartemen yang selama dua tahun terakhir menjadi tempatnya pulang setelah bekerja. "Terima kasih, Pak," ucapnya kepada sopir.
"Sama-sama, Mbak."
Jena mengangguk pelan, lalu melangkah masuk ke dalam lobi.
"Mbak Jena kok udah pulang? Ini kan baru jam sembilan," tanya Grace heran.
Jena tersenyum kecil. Ia sudah menduga Grace akan bertanya seperti itu. "Iya, Mbak Grace. Ada urusan mendadak. Jadi saya pulang lebih cepat."
"Oooh."
"Saya ke atas dulu ya."
"Silakan, Mbak."
Jena berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai tempat unit apartemennya berada. Setelah pintu terbuka, ia segera masuk.
Tak lama kemudian, lift sampai di lantai lima belas, Jena melangkah keluar, berjalan menyusuri koridor yang begitu dikenalnya. Langkahnya berhenti di depan pintu unit 1507. Ia menempelkan kartu akses. Pintu terbuka perlahan.
Begitu masuk, suasana apartemen langsung menyambutnya dengan keheningan yang begitu akrab.
Jena meletakkan kotak kardus di atas meja ruang tamu. Ia melepas sepatu dan mengembuskan napas panjang. "Akhirnya sampai rumah ..." gumamnya lirih. "Eh, bukan." Ia tersenyum pahit. "Sekarang tempat ini bukan rumahku lagi." Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih, lalu meminumnya hingga tandas. Tenggorokannya terasa jauh lebih lega.
Setelah itu, Jena masuk ke kamar. Ia membuka lemari pakaian yang menyisakan kaus berwarna krem, cardigan rajut warna hitam dan celana jeans warna biru tua. Ia mengambilnya dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Lima menit kemudian, Jena keluar dari kamar mandi dengan outfit baru. Pakaian formal tadi sudah ia tanggalkan dan kini dimasukan ke dalam koper.
Rambut Jena yang semula tergerai, kini sudah diikat rapi.
Jena memandang sekeliling kamar. Lalu ia pun keluar. Tatapannya perlahan beralih ke seluruh penjuru apartemen. Kakinya melangkah mendatangi satu per satu ruangan. Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Banyak sekali kenangan di sini." Jemarinya menyentuh sandaran sofa. Lalu meja makan. Kemudian bingkai lukisan di dinding. "Terima kasih ..." bisiknya pelan. "Terima kasih sudah menjadi tempatku berteduh selama dua tahun ini." Jena kembali masuk ke kamar dan berjalan menuju balkon. Angin pagi menerpa wajahnya dengan lembut. "Mulai hari ini ... aku juga harus berpamitan dengan tempat ini."
Beberapa detik kemudian, Jena menutup pintu balkon dan kembali ke dalam kamar. Ia membuka aplikasi pemesanan transportasi di ponselnya. "Semoga cepat dapat sopir," gumamnya.
Tak sampai semenit, notifikasi masuk.
Driver ditemukan.
Jena melihat nama yang tertera di layar.
Sesaat ia terdiam. "Mas Toto." Tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya. Bayangan sopir muda nan tampan dan jenaka itu langsung muncul di kepalanya.
Ia kemudian menghela napas panjang, menarik keluar dua koper yang telah ia siapkan sejak tadi malam. Satu per satu barang terakhir yang masih tersisa dimasukkannya ke dalam tas yang ia sampirkan di bahu. Tak ada lagi yang tertinggal.
Jena memandang kamar itu untuk terakhir kalinya. "Sudah waktunya pergi." Ia menggenggam gagang kedua koper, menyampirkan tas di bahunya, lalu membawa semuanya keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang tamu, langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh perlahan ke seluruh ruangan. "Terima kasih untuk semua kenangannya." Tak ada lagi air mata yang jatuh. Yang ada hanyalah senyum kecil penuh ketegaran.
Jena meraih gagang pintu. Membukanya pelan. Ia melangkah keluar sambil menarik kedua kopernya. Pintu ditutup pelan.
Sesaat kemudian, Jena menoleh sekali lagi ke arah unit apartemen yang selama ini ditempatinya dan menjadi tempatnya menghabiskan kebersamaan dengan pria yang pernah menjadi pusat dunianya. "Selamat tinggal semua kenangan." Bersamaan dengan itu, berakhir pula babak kehidupan Jena di apartemen milik Jovian Ardhana.
Tanpa menoleh lagi, Jena berjalan menyusuri koridor menuju lift. "Aku pasti bisa melupakan semuanya," ucapnya sambil menekan tombol dan pintu lift terbuka. Jena segera masuk dan menyandarkan punggungnya di dinding lift. Mata Jena terpejam, dan terbuka lagi saat lift sampai di lantai dasar. Ia menarik kedua kopernya keluar. Tas berukuran sedang bertengger di bahunya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa jam yang lalu.
Belum sempat melangkah jauh, suara Grace kembali menyapa. "Mbak Jena mau ke mana, kok bawa koper sebanyak itu?"
Jena tertawa kecil sambil menghampiri meja resepsionis. "Saya mau liburan, Mbak Grace."
"Oh ..." Grace mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Jadi ini alasan Mbak Jena pulang lebih awal dari kantor. Ternyata mau berangkat liburan ya?"
Jena hanya membalas dengan senyum tipis. "Iya, Mbak."
"Saya kira tadi mau pindah, Mbak?" timpal rekan Grace.
"Sejujurnya saya memang mau pindah," batin Jena mengiyakan. Sedetik kemudian suaranya keluar. "Nggak pindah kok, Mbak." Jena merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah dompet kecil seukuran KTP berwarna hitam. "Mbak Grace."
"Iya, Mbak?"
"Kalau nanti Mas Jovian datang ke sini ..." Jena menyodorkan dompet kecil itu. "Tolong berikan ini ke dia, ya. Bilang saja titipan dari Jena."
Grace menerimanya tanpa curiga. "Siap, Mbak. Nanti saya akan berikan ke Mas Jovian."
"Terima kasih." Jena melempar senyum manis.
"Memangnya Mas Jovian nggak ikut liburan, Mbak?" Grace bertanya lagi.
"Nggak. Dia lagi sibuk banget."
Angguk-angguk kepala Grace, kemudian ia tersenyum hangat. "Semoga liburannya menyenangkan ya, Mbak."
Jena mengangguk pelan. "Aamiin. Terima kasih, Mbak." Ia menatap Grace dan rekannya secara bergantian. "Selama dua tahun ini, terima kasih sudah selalu membantu saya. Maaf ya kalau saya pernah merepotkan atau punya salah sama Mbak Grace dan Mbak Novia."
Grace langsung menggeleng. "Ya ampun, Mbak. Jangan bilang begitu. Justru kami senang kenal sama Mbak Jena."
"Iya, Mbak," sahut Novia sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan."
Jena membungkukkan badan sedikit.
"Terima kasih. Semoga kalian selalu sehat." Setelah itu ia melangkah menuju pintu utama.
Dua orang satpam yang sedang berjaga langsung membuka pintu untuknya. "Lho, Mbak Jena mau pergi ke mana?"
"Saya mau liburan, Pak."
"Wah, semoga liburannya menyenangkan."
"Aamiin." Jena kembali tersenyum. "Terima kasih ya, Pak. Saya juga minta maaf kalau selama tinggal di sini pernah merepotkan atau ada sikap yang kurang berkenan."
Kedua satpam itu saling berpandangan, sebelum akhirnya menanggapi ucapan Jena.
"Mbak Jena tidak pernah merepotkan kami."
"Iya, Mbak. Pokoknya Mbak itu penghuni yang paling baik."
Jena menganggukkan kepala untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar dari lobi. "Kalau begitu saya permisi, Pak."
"Iya, hati-hati, Mbak Jena!" seru kedua satpam itu kompak.
"Iya." Akhirnya Jena benar-benar keluar dan di depan pintu masuk, sebuah mobil berwarna hijau sudah terparkir rapi.
Toto berdiri di samping mobil sambil melambaikan tangan dengan senyum lebar. "Selamat pagi menjelang siang, Mbak Jena!"
Jena langsung terkekeh. "Iya, Mas Toto."
Namun senyum ceria Toto perlahan berubah menjadi heran ketika menyadari dua koper besar di tangan Jena. "Lho ... Mbak Jena mau ke mana? Kok bawa koper segala? Dua lagi."
Jena tersenyum santai. "Mau liburan, Mas."
"Oh ..." Toto mengangguk, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit rasa tidak percaya. Tanpa banyak bertanya lagi, ia segera mengambil kedua koper dari tangan Jena. "Biar saya saja yang masukan, Mbak."
"Terima kasih, Mas."
Dengan sigap Toto memasukkan kedua koper ke dalam bagasi. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, ia menutup bagasi lalu berjalan membukakan pintu belakang. "Silakan, Mbak."
"Terima kasih, Mas Toto." Jena masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, Toto kembali ke kursi kemudi. "Sudah siap, Mbak?"
"Siap."
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan Apartemen Blue Residence.
Melalui kaca jendela, bangunan apartemen itu perlahan semakin menjauh.
Jena tidak lagi menoleh ke belakang. Ia hanya memandang lurus ke depan. "Selamat tinggal semua kenangan. Hari ini, aku memilih melangkah untuk memulai hidupku yang baru," lirih Jena dalam hatinya.
Mobil terus melaju, membawa Jena meninggalkan tempat yang pernah menjadi saksi kebahagiaan sekaligus luka terdalam dalam hidupnya.
yg di incer sifa buat jihan...
.cocok kan
q gk sekuat itu...sempat terpuruk,masih ada cinta didasar hati tp udah iklas...mesti rmh tgg mereka hancur datang ingin kembali,bagi q cukup kita bkn barang dibuang lalu mo dipungut mending sendiri menikmati sendiriqn...aaa jd ingat deh
😥🤭 moga ttp pd pendirian menjauh💪Authour...Alhamdulillah panjang banget salam sehat🙏