NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:102.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29.Saat Fitnah Diadili

Sore itu, Vira, Arvin, Yanti, Mirna, dan Daril datang ke balai desa sesuai panggilan.

Di dalam balai desa sudah berkumpul Pak Kades beserta istrinya, Hartato, perangkat desa, para ketua RT dan RW, beberapa ibu-ibu, serta beberapa pemuda yang diminta menjadi saksi.

Suasana terasa tegang. Tak seorang pun berani memulai percakapan.

Pak Kades berdiri dari kursinya, lalu memandang seluruh warga yang hadir.

"Baik. Karena semua yang dipanggil sudah hadir, kita mulai saja."

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Sengaja saya memilih sore hari agar tidak mengganggu aktivitas bapak dan ibu sekalian dalam mencari nafkah."

Semua orang mendengarkan dengan saksama.

"Pertemuan ini membahas satu persoalan yang beberapa waktu terakhir meresahkan desa kita."

Pak Kades mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

"Sebagian orang mungkin menganggap gosip hanyalah omongan biasa. Padahal, satu gosip bisa menghancurkan nama baik seseorang, merusak mata pencahariannya, bahkan memecah hubungan antar sesama warga."

Nada suaranya terdengar semakin tegas.

"Sebagai kepala desa, saya tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi."

Ruangan semakin terasa sunyi.

"Adapun gosip yang akan kita bahas ada tiga."

Beliau membuka berkas yang berada di atas meja.

"Pertama, gosip yang menyebut Vira sudah tidak perawan."

Mendengar kalimat itu, wajah Mirna langsung memucat. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku-bukunya memutih.

"Tenang... belum tentu ketahuan," batinnya berusaha menenangkan diri.

Tapi jelas hatinya tidak tenang karena melihat beberapa ibu-ibu yang pertama kali ia jadikan sebagai tempatnya bergosip menyebarkan fitnah.

Pak Kades melanjutkan.

"Kedua, gosip yang menyebut hubungan Vira dan Daril saat masih berpacaran telah melewati batas."

Rahang Daril langsung mengeras. Tenggorokannya terasa tercekat, tetapi ia tetap berusaha memasang wajah tenang.

"Dan yang ketiga..."

Tatapan Pak Kades beralih ke arah Yanti.

"Gosip yang menyebut Vira sering membawa laki-laki masuk ke dalam rumah."

Tubuh Yanti refleks menegang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

"Jangan... jangan sampai..."

Pak Kades menutup map di hadapannya.

"Selama beberapa hari terakhir, pihak desa telah meminta bantuan para ketua RT untuk menelusuri asal-usul ketiga gosip tersebut."

Beliau memandang satu per satu orang yang hadir.

"Kami juga telah meminta keterangan dari beberapa saksi."

Suasana di dalam balai desa semakin mencekam.

"Berdasarkan hasil penyelidikan, keterangan para saksi, serta bukti yang telah kami kumpulkan..."

Pak Kades menarik napas pelan.

"...kami menyimpulkan bahwa orang-orang yang pertama kali menyebarkan ketiga gosip tersebut adalah..."

Beliau menatap lurus ke arah tiga orang.

"Bu Mirna."

Mirna langsung menundukkan kepala.

"Daril."

Rahang Daril mengeras. Tinjunya mengepal di atas paha.

"Dan..."

Tatapan Pak Kades berhenti pada Yanti.

"...Yanti, sepupu Vira."

Ruangan seketika dipenuhi suara bisik-bisik para warga.

"Ternyata benar mereka."

"Pantas saja gosipnya cepat menyebar."

Vira memandang ketiga orang itu secara bergantian. Sebenarnya ia sudah menduga. Namun, saat dugaan itu benar-benar terbukti, dadanya tetap terasa sesak.

Selama ini ia memperlakukan Mirna seperti ibu sendiri. Ia membantu memenuhi kebutuhan mereka tanpa banyak bertanya.

Daril adalah pria yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Sedangkan Yanti...

Ia telah memberikan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan menganggapnya sebagai keluarga.

Namun, ketiga orang itulah yang justru berusaha menghancurkan nama baik dan sumber penghidupannya.

Di samping Vira, Arvin mengepalkan kedua tangannya.

Tatapannya tajam mengarah kepada Mirna, Daril, dan Yanti.

Ia tidak menyangka orang-orang yang selama ini menerima begitu banyak kebaikan dari Vira justru menjadi pihak yang paling tega menusuknya dari belakang.

Mirna menelan ludah. Wajahnya mulai kehilangan warna.

Pak Kades kembali angkat bicara. "Baik. Supaya tidak ada yang merasa difitnah, saya akan memanggil saksi satu per satu."

Ia membuka sebuah map berisi beberapa lembar kertas.

"Kita mulai dari gosip pertama, yaitu tuduhan bahwa Vira sudah tidak perawan."

Pak Kades mengangkat pandangannya.

"Bu Rini, silakan maju."

Seorang ibu paruh baya berdiri dengan ragu, lalu berjalan ke depan.

"Bu Rini, di mana pertama kali Ibu mendengar gosip itu?"

Bu Rini melirik sekilas ke arah Mirna sebelum menjawab.

"Di warung, Pak."

"Siapa yang menyampaikannya?"

Bu Rini menarik napas pelan. "Bu Mirna."

Wajah Mirna langsung menegang.

Pak Kades mengangguk. "Coba ceritakan dengan jelas."

Bu Rini mengingat-ingat sejenak. "Waktu itu kami lagi ngobrol biasa di warung. Tiba-tiba Bu Mirna datang."

Ia menoleh ke arah beberapa ibu yang hadir.

"Beliau bilang..." Bu Rini menirukan ucapan Mirna yang masih diingatnya. "Yang kelihatan itu belum tentu yang sebenarnya. Awalnya kami bingung maksudnya apa."

"Lalu?" tanya Pak Kades.

"Pemilik warung sempat bertanya. Setelah itu Bu Mirna bilang sebenarnya beliau tidak ingin membuka aib orang."

Ruangan mulai semakin tegang.

"Tapi karena katanya Daril terus dijelek-jelekkan, akhirnya beliau mengaku tidak tega kalau hanya diam."

Bu Rini kembali menatap Mirna.

"Lalu Bu Mirna bilang..."

Suara Bu Rini terdengar jelas memenuhi balai desa. "Vira itu sebenarnya sudah gak perawan lagi."

Ruangan langsung dipenuhi gumaman pelan.

"Beliau bahkan bilang..." lanjut Bu Rini. "Itu terjadi jauh sebelum Vira pacaran sama Daril."

Pak Kades mengangguk. "Setelah mendengar itu, apa yang terjadi?"

"Semua orang kaget, Pak," jawab Bu Rini.

"Apakah Bu Mirna menunjukkan bukti?"

Bu Rini menggeleng. "Tidak ada."

"Hanya cerita seperti itu?"

"Iya."

Pak Kades kembali bertanya. "Apakah Ibu percaya begitu saja?"

Bu Rini tampak malu. "Awalnya iya, Pak. Soalnya yang bicara calon mertua Vira sendiri."

Ucapan itu membuat beberapa warga saling berpandangan.

Pak Kades lalu menoleh kepada Mirna.

"Bu Mirna."

Mirna langsung menegakkan badan.

"Apakah Ibu membantah kesaksian Bu Rini?"

Mirna membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar. Tangannya mulai meremas ujung bajunya.

Pak Kades menunggu jawaban Mirna tanpa sedikit pun memotong kesunyian yang mulai menekan suasana.

Namun, suasana balai desa mendadak riuh. Beberapa ibu saling berpandangan. Ada yang menggeleng pelan, ada pula yang menghela napas kecewa.

Pak Kades mengangkat tangan memberi isyarat agar semua kembali tenang.

"Bu Mirna," ujarnya tegas. "Apa kesaksian Bu Rini itu benar?"

Mirna tampak gugup. Jemarinya saling meremas ujung kerudung.

"S-saya..." Ia menelan ludah. "Saya cuma dengar dari orang lain."

"Orang lain siapa?" tanya Pak Kades.

Mirna terdiam.

"Sebutkan namanya," titah Pak Kades.

Lagi-lagi Mirna tidak menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, "Saya... sudah lupa."

"Lupa?" ulang Pak Kades dengan nada datar.

"Iya. Waktu itu cuma obrolan biasa."

Bu Rini langsung menyela. "Maaf, Pak Kades. Waktu itu Bu Mirna tidak bilang dengar dari orang lain."

Mirna spontan menoleh.

"Bu Mirna sendiri bilang..." lanjut Bu Rini menirukan ucapan Mirna, "...'Saya sebenarnya gak mau membuka aib orang, tapi karena anak saya terus dijelek-jelekkan, saya jadi gak tega kalau cuma diam.'"

Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik.

"Itu benar."

"Saya juga dengar."

"Iya, saya ingat kalimatnya."

Mirna mulai panik. "Bukan... maksud saya bukan begitu...."

"Lalu bagaimana maksudnya?" tanya Pak Kades.

 

...✨"Fitnah mungkin mampu berlari lebih cepat daripada kebenaran, tetapi pada akhirnya ia akan kehabisan tempat untuk bersembunyi ketika bukti dan saksi berbicara."...

..."Orang yang mengira kebohongan akan melindunginya sering lupa bahwa setiap kebohongan selalu meninggalkan jejak."...

..."Pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari orang asing, melainkan dari mereka yang pernah menerima kebaikanmu."✨...

.

To be continued

1
Kyky ANi
kasian Vira,,karna gosip macam macam, tokonya,, jadi sepi,,,
Kyky ANi
jahat banget,ayah kamu Arvin,,tega sekali sama anak dan istrinya,,
Karo Karo
bagus aku suka banyak pelajaran di cerita ini
Kyky ANi
Daril sama Mirna sama aza,,, ngak tahu diri,,
Kyky ANi
dasar,,tukang ngutil kamu Yanti,,
Kyky ANi
ya,,ampun,,Yanti,, malah nambahin fitnah,,,
Kyky ANi
Yanti, ini memang licik ya,,,
Kyky ANi
jahat banget,kamu Mirna,, menyebarkan fitnah,,
Kyky ANi
akhirnya kamu bisa membantu Arvin,,Ra,, kasian dia,,,
Kyky ANi
apakah Mirna juga akan menyuruh Daril,untuk melamar Vira,,
anonim
Arvin ini suami idaman. Bikin sarapan masak nasi goreng. Hari pertama setelah menikah coba.

Juga sudah terbiasa memasak dan meladeni Ibunya.

Vira melihat Arvin meladeni Ibunya, menuangkan air minum ke dalam gelas, mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ibunya. Berkata lembut pada Ibunya.

Lalu mengambilkan nasi goreng untuk Vira juga.

Apa yang dilakukan Arvin yang baru sehari menjadi suaminya, Vira jadi ingat Daril lagi dengan segala perlakuan buruknya.
anonim
Arvin anak yang berbakti kepada Ibunya. Ibunya sedang haid dia yang mengurusnya.

Jadi tak ada kata jijik terucap ketika tahu Vira haid, Arvin yang mau membereskan tempat tidur dengan mengganti sprei yang ada noda haid.

Vira keluar dari kamar mandi tersenyum melihat sprei sudah berganti baru.

Vira jadi ingat masa lalu ketika Daril yang menjadi suaminya. Mana mau mengganti sprei. Melihat noda jijik langsung pergi.
Kyky ANi
si Yanti,,, emang kucing garong,,kamu,,,
Kyky ANi
benar itu kata ibumu Daril,, kerja,, jangan jadi pemalas,,,
anonim
Daril kapan tertangkapnya. Masih berani berkeliaran di desanya.

Arvin dan Vira menikah kenapa Daril merasa mereka bahagia di atas penderitaannya

Daril sendiri yang berulah, malah menyalahkan Vira dan Arvin.
anonim
Arvin dan Vira melangsungkan akad nikah di rumahnya Vira.

Hartato datang bersama kedua orang tuanya.

Ijab kabul dimulai, penghulu sebagai wali nikah mengucapkan ikrar kabul sampai selesai.

Arvin mengucap kabul dengan mantap.

Kata "Sah" dari para saksi terdengar hampir bersamaan.

Ibunya Arvin kambuh trauma diusir dari rumahnya.
Kyky ANi
kamu memang baik Vira,mau bantuin Arvin,,
Kyky ANi
ada gosip lagi,,nih ibu ibu,,
Kyky ANi
beritahu aza Ra,, kamu bisa melihat masa depan,,
Kyky ANi
jangan harap Vira, mau membantu kamu Daril,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!