NovelToon NovelToon
Akar Yang Menembus Langit

Akar Yang Menembus Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: cldazxx

Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Keputusan Pergi

Keesokan paginya, berita tentang Lin Mo yang mengangkat batu seberat lima ratus jin hingga ke puncak bukit menyebar ke seluruh penjuru desa. Tidak ada lagi yang menertawakan atau menghinanya secara terang-terangan. Namun keheningan itu bukan karena hormat—sebagian besar orang justru merasa curiga dan takut.

Di balai desa, Kepala Desa yang berwajah serius memanggilnya. Ruangan itu sunyi, hanya ada suara gesekan jari Kepala Desa di atas meja kayu tua.

"Lin Mo," ucapnya pelan namun tegas. "Aku tahu kau anak yang baik. Tapi apa yang kau lakukan itu... tidak wajar. Tidak ada orang berinti kacau yang bisa mengangkat beban seberat itu dalam waktu singkat. Apakah kau mempelajari teknik terlarang?"

Lin Mo menunduk sejenak, lalu menjawab jujur: "Aku hanya melatih tubuhku sekuat tenaga, Kakek. Tidak ada teknik aneh."

Kepala Desa menghela napas panjang. "Aku ingin percaya. Tapi kau tahu aturan di wilayah ini. Setiap orang yang berlatih di luar ajaran resmi Sekte Akar Batu akan dianggap pembawa bahaya. Jika hal ini sampai terdengar ke telinga pengawas kota, mereka tidak akan segan membawamu pergi untuk diperiksa—dan kau tahu sendiri betapa kejamnya cara mereka."

Ia menatap Lin Mo dengan tatapan sedih namun sungguh-sungguh. "Desa ini terlalu kecil untukmu. Dan sekaligus... desa ini terlalu rapuh untuk menahan masalah yang mungkin datang bersamamu. Lebih baik kau pergi ke Kota Batu Tengah. Di sana ada akademi yang menerima murid dari berbagai latar belakang, dan mungkin kau bisa menemukan jawaban yang kau cari."

Kata-kata itu seperti pukulan lembut namun berat. Lin Mo tahu Kepala Desa berkata benar. Ia tidak ingin masalah yang ia bawa menimpa warga desa yang sudah membesarkannya.

"Baik," jawab Lin Mo mantap akhirnya. "Aku akan pergi."

Sore itu, Lin Mo berkemas. Ia tidak membawa banyak barang: sepasang baju ganti, sedikit beras, uang koin tembaga yang ia tabung selama setahun, dan tentu saja batu hitam peninggalan orang tuanya yang disimpan rapat di dalam kantong kain.

Saat ia berjalan menuju gerbang desa, seseorang berlari mengejarnya. Itu Qing Shan—anak tukang kayu yang selalu bersikap baik padanya. Wajahnya merah padam karena terengah.

"Kau benar-benar mau pergi sendirian?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. "Jalan ke Kota Batu Tengah berbahaya, ada perampok dan binatang buas!"

Lin Mo tersenyum tipis, menepuk bahu temannya itu. "Aku harus pergi. Aku tidak bisa selamanya bersembunyi di sini. Dan aku berjanji... suatu hari nanti aku akan kembali, dengan mengetahui kebenaran tentang orang tuaku."

Qing Shan mengangguk kuat, lalu menyodorkan sebilah belati kayu yang sudah dihaluskan dengan indah. "Ini buatan ayahku. Tidak sekuat senjata besi, tapi cukup untuk menangkis serangan kecil. Jaga dirimu baik-baik."

Lin Mo menerima belati itu dengan hati terharu. "Terima kasih. Jaga desa ini sampai aku kembali."

Ia melangkah keluar dari gerbang Desa Akar Kering, tidak menoleh ke belakang. Di dadanya tidak ada kesedihan, melainkan tekad yang semakin mengeras seperti batu.

Perjalanan menuju Kota Batu Tengah memakan waktu setidaknya sepuluh hari berjalan kaki. Jalanannya berliku, melewati hutan lebat dan bukit berbatu. Di sepanjang jalan, Lin Mo tidak menyia-nyiakan waktu. Setiap kali berhenti beristirahat, ia melatih teknik pernapasan akar, membiarkan kesadarannya menyusup ke tanah di sekitarnya, merasakan aliran energi yang berbeda di setiap tempat.

Ia menyadari satu hal menarik: di tanah yang tandus dan keras, kekuatannya tumbuh lebih lambat namun lebih padat; di tanah yang subur dan lembap, kekuatannya menyebar lebih luas namun lebih lunak. Seperti akar sungguhan, ia harus menyesuaikan diri dengan apa pun yang ada di depannya.

Pada hari kelima, saat ia sedang melewati hutan pinus yang gelap, suara rintihan terdengar dari balik semak-semak. Lin Mo berhati-hati mendekat, dan melihat seorang pedagang tua tergeletak di tanah, kakinya terluka parah, sementara barang-barang dagangannya berserakan di tanah.

"Tuan! Apa yang terjadi?" tanya Lin Mo segera berlari mendekat.

Pedagang tua itu tersenyum pahit. "Perampok... baru saja merampok uang dan barang berhargaku. Mereka mematahkan kakiku agar aku tidak bisa mengejar."

Lin Mo tidak ragu. Ia segera merobek bagian bajunya untuk membalut luka kaki pedagang itu, lalu menyalurkan sedikit kekuatan akar yang lembut untuk mengurangi rasa sakitnya.

"Terima kasih, anak muda," kata pedagang itu berterima kasih. "Namaku Pak He. Aku berniat ke Kota Batu Tengah untuk menjual obat-obatan. Jika kau juga ke sana, bolehkah aku ikut berjalan bersamamu? Aku tahu jalan persembunyian di hutan ini yang bisa mempersingkat waktu."

"Tentu saja," jawab Lin Mo setuju.

Bersama Pak He, perjalanan menjadi lebih ringan. Pak He menceritakan banyak hal tentang Kota Batu Tengah: tentang persaingan ketat di Akademi Batu Langit, tentang kekuasaan Keluarga Meng yang menguasai sebagian besar kota, dan tentang kabar aneh yang belakangan ini terjadi—banyak orang yang mencari benda kuno berwarna hitam di pegunungan sekitar.

Mendengar hal itu, Lin Mo menyembunyikan batu hitam di pelukannya lebih rapat lagi. Tampaknya benda ini bukan sekadar peninggalan biasa, dan ada orang lain yang juga mengincarnya.

Sore harinya, saat mereka berjalan menyusuri jalan tersembunyi di antara tebing, lima orang bertopeng tiba-tiba meloncat menghadang jalan. Mereka memegang senjata tajam, matanya tajam menatap Lin Mo dan Pak He.

"Ternyata ada teman baru," ucap pemimpin perampok dengan suara serak. "Serahkan semua barang dan uang kalian, atau jangan salahkan kami jika berdarah-darah!"

Pak He gemetar ketakutan, menyembunyikan diri di belakang Lin Mo. Lin Mo justru melangkah maju satu langkah, berdiri tegak menghadang mereka.

"Kalian sudah merampok orang tua ini sekali. Jangan serakah," ucapnya tenang.

Perampok itu tertawa keras. "Anak kecil berani mengajari kami? Hajar dia!"

Dua orang berlari maju, parang diayunkan mengarah ke bahu Lin Mo. Lin Mo tidak mencabut belatinya. Ia hanya menggeser tubuh sedikit, menangkis gagang parang dengan lengannya.

Duk!

Perampok itu terkejut—rasanya seperti menghantam dinding batu. Saat mereka hendak menarik senjatanya kembali, Lin Mo sudah menginjak kaki mereka dengan tenaga berat. Tanpa banyak gerakan, ia menjatuhkan keduanya ke tanah dengan lembut namun tak bisa bergerak.

Pemimpin perampok mengerutkan kening, menyadari bahwa anak muda di hadapannya tidak biasa. Ia memberi isyarat, dan ketiga temannya menyerang serentak dari tiga arah berbeda.

Lin Mo memejamkan mata sejenak. Ia merasakan tanah di bawah kakinya seolah menjadi perpanjangan tubuhnya. Setiap gerakan lawan terasa lambat dan jelas. Ia berputar perlahan, menepuk bahu, menendang perut, dan menekan lengan—setiap sentuhan tepat sasaran, menggunakan berat tubuh dan kekuatan bumi, bukan sekadar tenaga kasar.

Kurang dari sepuluh tarikan napas, kelima perampok sudah terbaring di tanah, tidak berdaya namun tidak terluka parah.

"Pergilah," kata Lin Mo singkat. "Jangan lagi merampok orang yang lemah. Jika aku melihat kalian lagi, aku tidak akan sebaik ini."

Perampok itu ketakutan setengah mati, bangkit serempak lalu lari secepat mungkin meninggalkan hutan itu.

Pak He menatap Lin Mo dengan mata terbelalak kagum. "Anak muda... kekuatanmu itu bukan milik orang biasa. Kau pasti akan mencapai hal besar di kota nanti."

Lin Mo hanya tersenyum. Ia tahu ini baru permulaan. Kota Batu Tengah pasti jauh lebih rumit dan berbahaya daripada desa maupun hutan ini. Tapi ia sudah siap. Karena akarnya sudah tertanam kuat, badai sebesar apa pun tidak akan membuatnya tumbang.

Di kejauhan, tembok tinggi Kota Batu Tengah mulai terlihat samar di balik kabut pagi esok hari. Tujuan akhirnya sudah di depan mata.

 

1
Anime aikō-kā
Akar Yang Menembus Langit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!