“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 31.
Liora segera menarik tangannya begitu menyadari perubahan reaksi Dewangga. Meski sempat berniat mengerjai suaminya, ia tetap tidak ingin melewati batas yang membuat keduanya sama-sama tidak nyaman.
"Wah..." gumamnya pelan sambil berdehem, lalu buru-buru mengambil gayung dan menyiramkan air hangat ke bahu Dewangga. "Sudah bersih."
Dewangga masih membeku di tempat, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Pagi ini, karena ulah Liora seluruh ketenangannya seolah menghilang.
"Liora... kita... selesai mandinya?"
"Kenapa? Mau lanjut berendam?" Liora menoleh dengan wajah polos.
"Nggak." Dewangga buru-buru menggeleng.
"Kalau begitu diam, aku mau bilas."
"Oke."
Pria itu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas.
Melihat Dewangga yang mendadak pendiam, Liora menggigit bibir bagian dalam agar tidak tertawa. Dan ternyata... rasanya cukup memuaskan melihat pria yang selama ini terus mengerjainya akhirnya kehilangan kendali.
Beberapa menit kemudian, Liora selesai membilas tubuh Dewangga. Ia mengambil jubah mandi, lalu memakaikannya dari belakang dengan gerakan rapi.
"Nah, sekarang berdiri."
Dewangga mengangguk patuh sebelum bangkit perlahan dari dalam bathtub. "Makasih Liora..."
"Tunggu disini, aku panggil Codet buat bantu pakaikan baju."
"Iya."
Liora sengaja membalikkan badan, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.
Klik.
Pintu pun tertutup.
Begitu memastikan Liora benar-benar pergi, Dewangga langsung mengembuskan napas panjang.
"Astaga..." Ia mengusap wajahnya berkali-kali sambil bersandar di dinding kamar mandi. "Ada apa sebenarnya dengan Liora hari ini?"
Bayangan kejadian beberapa menit yang lalu terus berputar di kepalanya. Biasanya Liora selalu salah tingkah setiap kali harus membantunya mandi. Namun hari ini, wanita itu justru tampak begitu tenang. Sebaliknya, dirinya yang berkali-kali dibuat gugup hingga nyaris kehilangan kendali. Bahkan, istrinya itu berani memegang 'barangnya'.
"Jangan-jangan? Nggak mungkin!" Dewangga menggeleng keras.
Kalau Liora benar-benar tahu dirinya sudah pulih dan selama ini hanya berpura-pura, wanita itu pasti sudah membongkar sandiwaranya, bukan malah diam-diam mengerjainya seperti tadi.
Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
"Tuan, saya masuk?" suara Codet terdengar dari luar.
"Iya."
Codet masuk sambil membawa pakaian yang sudah disiapkan. Seperti biasanya, ia membantu Dewangga mengenakan pakaian satu per satu, sesuai peran idiot yang selama ini dijalankan Tuan-nya itu.
Sementara Codet sibuk memakaikan kemeja, pikiran Dewangga masih dipenuhi satu pertanyaan yang sama.
Apa Liora benar-benar belum tahu... atau justru sedang mempermainkanku?
Di luar kamar mandi, Liora duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya perlahan. Bayangan wajah Dewangga yang tadi terlihat salah tingkah kembali muncul di kepalanya, dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
"Baru segitu saja sudah gugup?" Ia meletakkan sisir, lalu menopang dagunya. "Padahal selama ini... aku yang terus kamu kerjai."
Semakin mengingat semua tingkah Dewangga—merengek minta dipeluk, minta disuapi, minta dipakaikan baju—semakin besar keinginannya untuk membalas sedikit demi sedikit.
"Tunggu saja, suamiku. Jika sandiwaramu belum selesai, mulai sekarang... aku juga ikut bermain."
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dewangga keluar dengan pakaian yang sudah rapi, kembali memasang senyum polos yang selama ini menjadi ciri khasnya.
"Liora... aku lapar."
Liora menoleh, lalu tersenyum manis. "Iya, kita sarapan."
Keduanya berjalan keluar kamar berdampingan. Yang satu berpura-pura masih menjadi pria bermental lima tahun, satunya lagi berpura-pura tidak mengetahui kebohongan suaminya.
Mereka turun menuju ruang makan, Keivan sudah lebih dulu duduk sambil membaca berita ekonomi di tablet.
"Pagi."
"Pagi."
Liora duduk di samping Keivan, sedangkan Dewangga otomatis memilih kursi di sebelah Liora.
Pelayan mulai menyajikan sarapan, ada roti panggang, telur bacon. Buah-buahan, dan kopi hangat untuk Liora.
Liora mengambil selai, lalu mengoleskannya di atas roti. Biasanya Dewangga akan merengek minta disuapi.
Dan benar saja...
"Liora.. suapin."
Keivan langsung menghela napas, ayahnya mulai lagi.
“Boleh." Liora tersenyum manis.
Dewangga ikut tersenyum. Nah... istriku akhirnya kembali normal.
Liora menyobek sedikit roti, lalu mengangkatnya. "Nih."
Dewangga membuka mulut, namun tepat sebelum roti masuk, Liora menarik kembali tangannya.
"Eits."
"Hah?"
"Anak baik harus bilang apa dulu?"
"......" Dewangga bengong, lalu dia membuka mulutnya kembali bicara. "Tolong?"
"Nah, anak pinter. Harus biasakan mengatakan tolong, ya."
"To... tolong. Dewangga mau lagi...“ Pria itu menurut, meski merasa tingkah Liora semakin aneh saja.
Liora kembali menyodorkan roti itu, dengan wajah puas. "Bagus."
Baru kali ini roti itu benar-benar masuk ke mulutnya, Keivan yang melihat pemandangan itu perlahan menaikkan sebelah alis.
Kenapa rasanya, Mama tiri-ku ini... mulai mengendalikan Papa?
Sementara Dewangga mengunyah roti sambil memandang Liora, dia yakin ada sesuatu yang berubah dalam diri istrinya.
Tapi apa? pria itu belum bisa menjelaskannya.
Yang jelas, sejak pagi ini... Dewangga merasa justru dirinya yang sedang dimainkan oleh istrinya sendiri.
Dan tanpa mereka sadari, permainan kecil di antara keduanya baru saja dimulai. Di balik tingkah lucu dan saling mengerjai itu, bahaya yang disusun Arman Armando perlahan bergerak mendekat, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan keluarga kecil yang mulai tumbuh di antara Dewangga dan Liora.
sabar yx ,, harap di maklumi ,, ibu hamil ini 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semua penghuni rumah bisa kena sasaran🤣🤣
hidup , mati , Susah , senang bukan si Rafael yg atur ,, tp Tuhan ,, 😁😁😁😁😁😁