NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 28.

Wanita berpenampilan glamor itu melangkah mendekat dengan senyum tipis di bibirnya. Namun sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.

"Lama tidak bertemu... Liora."

"Maya..."

Senyum Maya semakin tipis.

Di samping Liora, Dewangga diam-diam mengamati setiap gerak-gerik wanita itu. Sementara Keivan menutup tablet yang sedari tadi berada di tangannya, wajah bocah itu berubah dingin.

"Apa kabar?" tanya Maya seolah sedang menyapa kerabat dekat.

Liora tetap diam, tatapannya menyipit tajam ke arah wanita itu. Baginya, Maya bukan sekadar ibu tiri. Wanita itulah yang merebut ayahnya, menghancurkan rumah tangga ibunya, dan menjadi awal dari semua penderitaan yang harus mereka lalui. Karena itu, Liora sama sekali tidak berniat melayani basa-basi tersebut.

Melihat tidak mendapat jawaban, Maya hanya tersenyum tipis. "Ternyata hidupmu benar-benar berubah."

Pandangannya perlahan bergeser ke arah Dewangga, Ia mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki sebelum kembali tersenyum. "Jadi ini suamimu? Sayang sekali. Wajahnya tampan, tapi otaknya tidak normal."

Belum sempat Liora membuka mulut untuk memaki Maya, sebuah suara dingin lebih dulu terdengar.

"Lain kali, jaga ucapan Anda!"

Maya menoleh ke arah sumber suara. Keivan menatapnya tanpa sedikit pun mengubah ekspresi.

Wanita itu justru terkekeh pelan. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Di depan keluarga Salendra, sebaiknya Anda berhati-hati memilih kata." Tatapan Keivan semakin tajam.

Senyum di wajah Maya perlahan memudar, sementara Dewangga langsung bersembunyi di belakang Liora.

"Liora... dia orang jahat."

"Menyingkir dari jalan kami!" Liora menatap Maya dengan dingin.

Maya malah tersenyum. "Kenapa buru-buru? Aku hanya ingin memastikan kabar ibumu. Kasihan juga, sudah bertahun-tahun tidur."

Kalimat itu terdengar seperti simpati, namun di setiap katanya penuh sindiran.

"Liora, kau beruntung. Kau bisa menikah dengan keluarga Salendra. Tapi ingat, keberuntungan tidak selalu bertahan lama."

"Terima kasih sudah mengingatkan," balas Liora dengan senyum tipis. "Tapi aku lebih percaya pada usaha daripada keberuntungan. Dan satu hal lagi... kau tidak punya hak sedikit pun untuk ikut campur dalam hidupku atau mengatur apa yang harus kulakukan."

Tatapan Liora semakin tajam. "Sekarang, minggir! Kalau kau tetap menghalangi jalan kami, aku tidak keberatan meminta para pengawal keluarga Salendra menyingkirkanmu! Jangan memaksaku melakukan itu."

Tanpa menunggu jawaban, Liora menggandeng Dewangga menuju mobil, Keivan ikut masuk.

Mobil perlahan meninggalkan rumah sakit.

Maya tetap berdiri di tempat, tatapannya perlahan berubah dingin. Beberapa saat kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah nomor yang tidak disimpan, ia pun segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Kau sudah bertemu mereka?" Suara berat seorang pria terdengar dari seberang.

"Sudah."

"Bagaimana?"

Maya mendengus pelan. "Gadis itu, hidupnya justru semakin enak. Dia benar-benar menjadi Nyonya Salendra."

"Kalau begitu... lakukan apa yang pernah kuberitahukan."

"Maksudmu menghancurkan rumah tangganya?" Maya mengernyit.

"Benar."

"Tapi kenapa? Kau bahkan baru mengenalku beberapa hari, kenapa begitu ingin menghancurkan pernikahan mereka?"

Pria itu tidak langsung menjawab, beberapa lama kemudian suara dinginnya kembali terdengar.

"Karena jika rumah tangga mereka tetap utuh, akan ada banyak orang yang kehilangan segalanya."

Maya sama sekali tidak mengerti, ia hanya mengenal pria itu beberapa hari lalu. Nama orang itu, Arman Armando. Seorang pengusaha yang mengaku memiliki banyak relasi. Dan Arman berjanji akan membantunya membuka usaha baru, melunasi semua utangnya. Bahkan memberikan sejumlah uang yang tidak sedikit. Sebagai gantinya, ia hanya diminta membuat kehidupan Liora tidak tenang.

Bagi Maya, itu pekerjaan yang sangat mudah. Ia memang tidak pernah menyukai Liora. Tanpa ia sadari, dirinya hanyalah pion kecil dalam permainan yang jauh lebih besar.

Telepon pun berakhir...

...*****...

Di sebuah ruang kerja yang sunyi, Arman Armando perlahan meletakkan ponselnya. Tatapan pria berkacamata itu tetap tertuju ke luar jendela, senyumnya sangat tipis.

Usianya lima puluh dua tahun, jabatan resminya adalah Direktur Operasional Salendra Group. Di mata publik, Arman dikenal sebagai salah satu eksekutif senior paling setia kepada keluarga Salendra. Ia telah bekerja di Salendra Group selama hampir tujuh belas tahun. Bahkan sebelum Dewangga mulai terlibat dalam perusahaan, Arman sudah lebih dulu menjadi salah satu orang kepercayaan Tuan Besar.

Hubungannya dengan keluarga Salendra juga bukan sekadar hubungan profesional. Arman masih memiliki hubungan keluarga yang cukup jauh dengan Nyonya Agatha, bibi Dewangga. Keluarga mereka berasal dari garis kerabat yang sama beberapa generasi sebelumnya.

Karena itulah, Arman cukup sering hadir dalam berbagai acara keluarga Salendra tanpa menimbulkan kecurigaan. Saat Dewangga mulai mengambil alih banyak urusan bisnis keluarga pada usia dua puluh tujuh tahun, Arman perlahan menjadi salah satu orang yang paling sering bekerja bersamanya.

Selama delapan tahun terakhir, mereka memimpin proyek yang sama, menghadiri rapat yang sama, bahkan mengambil banyak keputusan strategis perusahaan bersama-sama.

Dan justru karena itulah tidak ada yang pernah mencurigainya, termasuk Dewangga. Namun itu adalah dulu, sebelum akhirnya Dewangga mengetahui bahwa Arman adalah dalang di balik kecelakaan yang menimpanya setahun lalu.

Kecelakaan yang merenggut nyawa istri pertamanya dan yang membuat Keivan tumbuh tanpa ibu kandung. Dan kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya sendiri, membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual.

"Wanita ini, memang mudah dikendalikan." Gumam Arman.

Baginya, Maya hanyalah alat. Semakin hubungan Dewangga dan Liora terganggu, semakin mudah ia menjalankan rencananya. Namun Arman belum mengetahui satu hal, orang yang ingin ia hancurkan... sudah bukan Dewangga yang sama seperti setahun lalu.

Sementara itu di dalam mobil yang melaju dari rumah sakit, suasana cukup tenang. Liora masih memandang keluar jendela, kedatangan Maya benar-benar merusak suasana hatinya.

Dewangga diam-diam memperhatikan wajah istrinya. "Liora, kok sedih?"

"Nggak kok." Liora tersenyum kecil.

"Bohong."

Liora menoleh dengan wajah terkejut. "Kok tahu, kalau aku sedih..."

"Mata Liora begini." Dewangga menunjuk pelan sudut mata istrinya.

"Kamu peka juga ya." Liora tertawa kecil.

"Hehehe." Dewangga ikut tertawa.

Namun pikirannya sedang bekerja, Maya muncul tepat setelah Arman mulai bergerak. Itu terlalu kebetulan, karena dalam dunia yang sedang ia hadapi... tidak ada yang namanya kebetulan.

Mobil akhirnya memasuki halaman mansion, semua tampak berjalan seperti biasa. Padahal di balik ketenangan itu, bidak pertama di papan permainan telah mulai bergerak.

Malam turun perlahan menyelimuti mansion keluarga Salendra.

Setelah makan malam, suasana rumah kembali tenang. Para pelayan telah menyelesaikan pekerjaannya, Codet memastikan seluruh pintu dan sistem keamanan aktif, sementara Keivan kembali ke kamarnya untuk menyelesaikan kelas daring yang belum selesai.

Di kamar utama, Liora baru saja selesai merapikan beberapa dokumen komisaris yang diberikan Tuan Besar.

"Kenapa jadi banyak sekali yang harus kupelajari..." Ia mengembuskan napas panjang.

Di sofa dekat jendela, Dewangga sedang memeluk boneka anjing kesayangannya sambil pura-pura menonton film kartun di televisi. Sesekali ia melirik ke arah Liora, melihat wanita itu mengerutkan dahi sambil membaca laporan keuangan membuat sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.

Cepat sekali dia belajar, padahal baru beberapa hari menjadi komisaris.

"Liora, capek gak?"

"Lumayan capek..."

"Kalau capek tidur."

"Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Karena kerjaan belum selesai."

"Oh..." Dewangga mengangguk seperti anak kecil yang baru memahami sesuatu.

Namun dalam hatinya, ia justru merasa bangga. Tuan Besar tidak salah memilih, Liora memang belum berpengalaman. Tetapi kemauannya belajar jauh melampaui banyak orang.

Hampir satu jam kemudian, Liora akhirnya menutup map terakhir.

"Fiuh... punggungku pegal." Perempuan itu meregangkan tubuh.

"Dewangga pijet, mau?"

Liora menoleh ke arah suaminya sambil tertawa. "Kamu bisa mijat?"

"Bisa."

"Jangan-jangan nanti tulangku malah geser."

Dewangga langsung cemberut. "Liora jahat."

"Iya, iya... bercanda." Perempuan itu tersenyum lalu mengusap pelan kepala Dewangga. "Aku mau mandi dulu."

"Oke."

Liora mengambil pakaian tidurnya lalu masuk ke kamar mandi, suara air segera memenuhi ruangan.

Dewangga mematikan televisi, ekspresi polos di wajahnya perlahan menghilang. Tatapannya berubah tajam, Ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Kemudian dia bangkit berjalan menuju balkon, pintu kacanya dibuka perlahan. Seketika udara malam langsung menerpa wajahnya.

Dewangga mengeluarkan sebuah ponsel hitam dari balik laci kecil yang tersembunyi di meja balkon, ponsel khusus. Nomornya tidak diketahui siapa pun, termasuk Keivan.

Ia menekan sebuah nomor, hanya satu dering sambungan langsung terhubung.

"Selamat malam, Tuan." Suara seorang pria terdengar dari seberang.

"Laporkan padaku."

"Orang kami mengikuti Arman Armando sejak rapat tahunan. Dua hari terakhir... dia bertemu Dimas sebanyak tiga kali."

"Di mana?" tanya Dewangga sambil memandang halaman mansion.

"Salah satu gudang tua milik anak perusahaan. Mereka selalu datang bergantian, tidak bersamaan."

"Rekaman?" Dewangga menyipitkan mata.

"Sudah kami dapatkan."

"Kirim sekarang."

"*Baik. Tapi a*da satu hal lagi, Tuan." Pria di seberang kembali berbicara.

"Apa?"

"Arman mulai mendekati seorang wanita bernama Maya."

Tatapan Dewangga berubah semakin dingin, pantas saja. Dan kecurigaannya memang benar.

"Tujuannya?"

"Belum diketahui, tapi mereka terlihat beberapa kali bertemu."

"Awasi! Jangan bergerak dulu. Biarkan mereka merasa tidak diawasi."

"Baik, Tuan."

Sambungan telepon terputus.

Dewangga belum masuk ke kamar, Ia justru membuka beberapa berkas di ponselnya. Di dalamnya ada foto, dan transaksi. Bagan hubungan, Arman Armando dan Dimas. Beberapa nama lain yang masih belum ia kenali.

Tatapannya semakin tajam. "Kalian mulai bergerak, berarti waktuku juga sudah tiba."

Namun tepat saat itu...

Klik.

Suara pintu kamar terbuka.

Dewangga refleks mematikan layar ponselnya.

Liora?

Bukan.

Ternyata suara itu berasal dari pintu kamar mandi yang terbuka, Liora keluar sambil mengeringkan rambut.

Ia menguap pelan. "Astaga... haus."

Perempuan itu tidak melihat ke arah balkon, Ia langsung berjalan keluar kamar menuju pantry kecil di ujung lorong untuk mengambil air minum. Melihat pintu kamar kembali tertutup, Dewangga mengembuskan napas lega.

Beberapa menit kemudian, Liora kembali. Namun saat hendak membuka pintu kamar, langkahnya berhenti. Dari balik pintu yang belum tertutup rapat, ia mendengar suara.

"...Terus awasi Arman."

Liora mengernyit.

Suara siapa itu?

Ia tidak langsung masuk, perlahan ia mendorong pintu beberapa sentimeter. Tatapannya mengarah ke balkon, dan saat itulah... Tubuhnya membeku.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!