NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Alih-alih mendapat hiburan karena bosan mengikuti Marco ke kantor, Liora justru mendapatkan rasa malu yang luar biasa.

'Aku yakin dia akan semakin besar kepala! gerutunya dalam hati.

Liora menutup panggilan telepon dengan wajah masih memerah. Ia menarik napas panjang beberapa kali, berharap rona di pipinya segera memudar. Namun setiap kali mengingat ucapan Karens barusan, jantungnya kembali berdebar tidak karuan.

Di sisi lain, Marco tampak begitu tenang. Bahkan pria itu masih menyimpan senyum tipis yang seolah sulit dihapus dari wajahnya.

"Sudah selesai?" tanyanya santai.

Liora mengangguk singkat tanpa berani menatapnya. "Sepertinya kau melihatnya."

Marco melangkah lebih dulu, ia akan pergi bersama Liora untuk makan siang di luar. Liora hanya bisa mengekor di belakang sambil terus mengomel dalam hati.

Semua gara-gara Karens. Kenapa dia harus mengatakan semua itu?

Baru beberapa langkah berjalan, Marco tiba-tiba menghentikan langkahnya hingga Liora yang sedang melamun nyaris menabrak punggungnya.

"Aduh!"

Liora mengusap ujung hidungnya yang hampir membentur bahu pria itu.

"Hati-hati," ujar Marco tanpa menoleh. "Jangan sampai menabrak paman tampanmu."

Liora langsung membelalak. "Tuh, kan!" serunya kesal. "Aku tahu kau pasti akan menggodaku terus!"

Marco akhirnya tertawa pelan. "Aku hanya mengulang perkataan temanmu."

"Itu bukan perkataanku."

"Benarkah?" Marco meliriknya dengan senyum penuh arti. "Karens terdengar sangat meyakinkan."

Liora mendengus pelan. "Dia pengkhianat."

"Kurasa dia sahabat yang sangat jujur."

Liora memutar bola matanya dengan malas. Percuma saja berdebat. Apa pun yang ia katakan sekarang, Marco pasti akan menemukan cara untuk menggodanya lagi.

Tak lama kemudian, mobil hitam milik Marco melaju meninggalkan kawasan perkantoran menuju pusat kota Amsterdam. Jalanan tampak ramai oleh wisatawan yang menikmati akhir pekan. Deretan bangunan klasik dengan kanal-kanal indah menjadi pemandangan yang memanjakan mata.

Di dalam mobil, suasana kembali tenang.

Liora memilih menatap keluar jendela, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian memalukan beberapa menit lalu. Sementara Marco mengemudikan mobil dengan satu tangan, sesekali melirik gadis di sampingnya yang masih memasang wajah cemberut.

"Apa kau masih marah?" tanyanya.

"Aku tidak marah."

"Kalau begitu, kenapa pipimu masih menggembung seperti itu?"

Liora spontan menyentuh pipinya sendiri.

"Aku tidak menggembung."

Marco terkekeh pelan. "Baiklah. Anggap saja aku salah."

Liora tertegun, dengan sikap Marco beberapa hari ini. Ia bahkan tidak selalu menggodanya lagi. Apalagi mengejeknya dan memanggil gadis culun.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area sebuah kafe bergaya Eropa modern yang berada di pusat kota Amsterdam. Bangunannya didominasi kaca besar dengan teras yang dipenuhi bunga warna-warni. Aroma kopi dan roti yang baru dipanggang langsung menyambut begitu mereka masuk.

Pelayan segera mengantar mereka ke meja dekat jendela yang menghadap kanal.

"Wah..." gumam Liora pelan. "Pemandangannya cantik sekali."

Marco menarik kursi untuknya. "Duduk."

Liora sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya duduk. "Terimakasih."

Marco hanya mengangguk kecil, lalu duduk di hadapannya.

Seorang pelayan datang membawa buku menu.

"Silakan."

Liora membuka menu dengan penuh rasa penasaran. "Semuanya terlihat enak..."

"Pesan apa pun yang kau mau," ujar Marco santai.

Liora menatapnya ragu. "Serius?"

"Apa aku pernah melarangmu makan?"

Liora menggeleng cepat. Akhirnya ia memesan pasta krim jamur, sepotong salmon panggang, serta segelas jus jeruk segar. Marco memilih steak wagyu dengan kentang panggang dan secangkir kopi hitam.

Tak lama kemudian makanan mereka datang.

Liora langsung tersenyum lebar.

"Kelihatannya enak sekali."

Marco memperhatikannya diam-diam.

Senyum gadis itu memang selalu berbeda. Tulus. Tanpa dibuat-buat.

"Kenapa melihatku begitu?" tanya Liora.

"Tidak."

"Kau melihat."

"Aku hanya memastikan kau benar-benar lapar."

Liora mendengus pelan sebelum mulai menikmati makanannya. Sesekali mereka berbincang ringan tentang kampus, pekerjaan Marco, dan beberapa tempat wisata yang ingin dikunjungi Liora selama berada di Amsterdam.

Tanpa terasa hampir dua jam berlalu.

Marco melirik arlojinya.

"Kita pulang."

"Hah? Tidak kembali ke kantor?"

"Tidak."

Liora tampak bingung. "Masih banyak pekerjaanmu, kan?"

"Ada."

"Lalu?"

Marco berdiri sambil mengenakan kembali jasnya.

"Aku akan menyelesaikannya dari mansion."

Liora ikut berdiri.

"Bisa begitu?"

"Bisa. Semua data kantorku tersambung dengan sistem di ruang kerja mansion."

Liora mengangguk pelan. "Ternyata menjadi CEO memang berbeda."

Marco tersenyum tipis. "Bukan karena CEO."

"Lalu?"

"Aku lebih memilih menghabiskan sisa hari ini di rumah."

Tatapan keduanya sempat bertemu beberapa detik. Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat jantung Liora kembali berdetak sedikit lebih cepat.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Marco berjalan lebih dulu menuju pintu keluar kafe. Liora segera menyusul di belakangnya.

Di luar, angin musim panas berembus lembut menyusuri kanal-kanal Amsterdam.

Mobil mereka kembali melaju, meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota menuju mansion keluarga Collins, tempat Marco akan melanjutkan pekerjaannya, sementara Liora kembali menemani hari-harinya dengan cara yang perlahan mulai terasa begitu nyaman.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!