NovelToon NovelToon
Takdir Pada Batu Karang

Takdir Pada Batu Karang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:105
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Di desa Pantai Kelumbayan, Sumatera Barat, berdiri Batu Tujuh Sudut – batu karang legendaris yang dipercaya menyimpan jejak takdir setiap penghuni desa. Salma, cucu ahli warisan budaya, terpaksa menghadapi tekanan keluarga untuk menikah demi kepentingan ekonomi desa. Sementara itu, Yuda – pemuda yang gagal meraih impian di kota – kembali sebagai petugas pemantau ekosistem laut dan menemukan bahwa batu karang serta terumbu di sekitarnya akan dirusak oleh rencana pembangunan pariwisata besar.

Cinta tumbuh di antara mereka saat mereka berjuang bersama untuk melindungi alam dan budaya yang mereka cintai. Namun, beda latar belakang, tradisi yang kaku, dan takdir yang tak terduga menghadang hubungan mereka. Ketika badai besar menghantam dan kapal Yuda tenggelam dalam misi penyelamatan, Salma harus melanjutkan perjuangan sambil merenungkan makna sejati dari legenda batu karang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat yang Memecah

TAKDIR PADA BATU KARANG

Jalan menuju balai desa penuh dengan orang-orang yang bergegas dari berbagai penjuru Pantai Kelumbayan. Beberapa membawa tikar untuk duduk, yang lain membawa botol air dan makanan ringan, seolah mereka siap menghadiri acara besar yang akan berlangsung lama. Suasana di desa terasa tegang – sebagian orang tampak bersemangat, yang lain tampak khawatir dan bingung.

Balai desa yang terbuat dari kayu dan bambu sudah dipenuhi ketika Salma, Yuda, dan Haji Mahmud tiba. Di depan panggung kayu yang menjadi tempat duduk panitia desa, terdapat sebuah papan tulis dengan gambar rencana pembangunan yang besar – kolam renang, hotel bertingkat, dan pusat perbelanjaan yang menggantikan hamparan pasir dan bakau yang ada sekarang.

Bapak Herman dan Joko sudah berada di atas panggung, bersama dengan kepala desa saat ini yang juga merupakan paman Salma, Haji Dahlan. Wajah Haji Dahlan tampak tegas namun juga sedikit tertekan ketika melihat kedatangan Haji Mahmud.

“Mari kita mulai rapat ini,” suara Haji Dahlan terdengar keras melalui megafon yang sudah sedikit berisik. “Sebagaimana sudah diberitahu sebelumnya, perusahaan Pembangunan Pariwisata Nusantara menawarkan kerja sama besar bagi desa kita. Bapak Herman akan menjelaskan detailnya.”

Bapak Herman berdiri dan memberikan senyum yang ramah namun terkesan dipaksakan. “Teman-teman sekalian, dengan kerja sama ini, setiap keluarga di desa akan mendapatkan uang tunai sebesar lima juta rupiah setiap bulan selama lima tahun pertama. Selain itu, kita akan membangun fasilitas yang modern – sekolah baru, rumah sakit, jalan aspal yang menghubungkan desa dengan kota besar.”

Suara sorak dan percakapan ramai terdengar dari sebagian peserta rapat. Banyak orang muda yang mengangguk dengan puas, melihat masa depan yang lebih baik dalam rencana itu. Namun ada juga kelompok lain yang tetap diam, wajahnya penuh keraguan.

“Namun apa yang harus kita berikan sebagai imbalan?” tanya seorang nenek tua yang duduk di barisan depan. “Kita tidak akan memberikan apa-apa dengan murah, bukan?”

“Kita hanya membutuhkan hak penggunaan lahan selama tiga puluh tahun,” jawab Bapak Herman dengan cepat. “Dan tentu saja, kita akan memindahkan Batu Tujuh Sudut ke lokasi yang lebih aman dan mudah diakses oleh wisatawan. Kami akan membuatnya menjadi ikon desa yang terkenal di seluruh Indonesia.”

Haji Mahmud berdiri perlahan, tongkat kayu nya menghentak tanah dengan suara yang jelas terdengar di tengah keramaian. “Batu itu tidak bisa dipindahkan, Pak. Dia adalah bagian dari tanah kita yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Memindahkannya sama saja dengan merobek hati desa ini.”

“Kakek sudah ketinggalan zaman,” ucap Joko dengan nada yang merendahkan. “Sekarang ini yang penting adalah kemajuan dan kesejahteraan ekonomi. Legenda dan tradisi tidak akan memberi kita makanan dan tempat tinggal yang layak.”

“Kamu salah besar, Joko,” balik Salma dengan tegas, berdiri di samping kakeknya. “Tanpa batu karang, ombak akan menghancurkan pantai kita. Tanpa tradisi kita, kita tidak akan memiliki identitas yang membuat kita berbeda dari orang lain.”

Pada saat itu, Yuda berdiri dan mengangkat tangan untuk mendapatkan perhatian. “Izinkan saya bicara sebentar, Pak Kepala Desa. Saya memiliki data tentang kondisi ekosistem laut di sekitar desa ini.”

Dia membawa sebuah papan gambar kecil dan menempelkannya di dinding balai desa. Di sana terlihat foto-foto terumbu karang yang sehat beberapa tahun yang lalu, dibandingkan dengan kondisi sekarang yang sudah banyak mati dan rusak.

“Seperti yang bisa Anda lihat,” ucap Yuda dengan suara yang jelas dan meyakinkan. “Kerusakan terumbu karang sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu akibat aktivitas kapal yang tidak bertanggung jawab. Jika kita membangun kawasan wisata seperti yang direncanakan, kerusakan akan semakin parah hingga tidak bisa diperbaiki lagi. Ikan akan hilang, mata pencaharian nelayan akan terancam, dan akhirnya desa kita akan mati meskipun ada gedung-gedung mewah.”

Beberapa orang mulai mengangguk dengan pemahaman, namun sebagian lagi tetap tidak terpengaruh. “Data itu bisa dibuat-buat saja, kan?” tanya seorang pemuda yang mengenakan kaos perusahaan tersebut. “Bagaimana kita bisa percaya pada orang yang baru datang beberapa hari yang lalu?”

“Karena saya memiliki bukti yang nyata,” jawab Yuda dengan tenang. “Saya telah mengambil sampel air dan tanah di sekitar pantai. Hasil analisis menunjukkan adanya zat kimia berbahaya yang berasal dari limbah industri. Jika kita tidak berhenti sekarang, tidak hanya ekosistem yang akan rusak – kesehatan kita semua juga akan terancam.”

Suara percakapan menjadi semakin ramai, sebagian mendukung Yuda dan Salma, yang lain tetap mendukung rencana pembangunan. Haji Dahlan melihat ke sekeliling dengan wajah yang penuh kebingungan – dia terjebak antara keinginan untuk kemajuan desa dan rasa tanggung jawabnya terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.

“Mari kita putuskan dengan suara mayoritas,” kata Haji Dahlan akhirnya. “Siapa yang setuju dengan rencana pembangunan perusahaan?”

Sekitar separuh peserta rapat mengangkat tangan dengan cepat. Namun sebelum mereka bisa menghitung suara yang menentang, suara keras dari luar balai desa membuat semua orang berhenti berbicara. Mereka melihat keluar dan menemukan bahwa langit sudah penuh dengan awan hitam pekat, dan angin mulai bertiup dengan kekuatan yang luar biasa.

“Angin kencang akan datang!” teriak seorang nelayan yang berlari ke arah balai desa. “Semua orang segera pulang dan lindungi diri kalian! Ombak sudah mulai naik tinggi!”

Kemarahan alam seolah menjadi jawaban bagi semua perdebatan yang terjadi. Orang-orang bergegas keluar dari balai desa, berlari menuju rumah masing-masing. Salma, Yuda, dan Haji Mahmud berjalan dengan cepat menuju pantai – mereka khawatir dengan kondisi Batu Tujuh Sudut yang mungkin akan terkena badai dengan kekuatan penuh.

Ketika mereka tiba di tepi pantai, ombak sudah mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan, menyapu bibir pantai dengan kekuatan yang besar. Batu Tujuh Sudut tetap berdiri kokoh, namun ombak sudah mulai menghantam bagian atasnya dengan keras.

“Kita harus pergi dari sini, Kakek,” ucap Salma dengan suara yang hampir tidak terdengar di tengah gemuruh angin dan ombak.

“Hanya satu lagi hal yang harus kubuktikan,” jawab Haji Mahmud dengan suara yang kuat. Dia berjalan lebih dekat ke tepi pantai, menatap batu karang dengan tatapan yang penuh keyakinan. “Batu ini akan melindungi kita seperti yang dia lakukan selama berabad-abad. Tapi kita juga harus menunjukkan bahwa kita layak untuk dilindungi.”

Badai semakin besar, menyelimuti seluruh desa Pantai Kelumbayan dalam kegelapan dan hembusan angin yang kuat. Salma meraih tangan Yuda dengan erat, dan mereka berdiri bersama-sama di tengah badai yang datang tanpa diundang – seolah menantang takdir untuk menunjukkan apakah cinta dan kepercayaan mereka cukup kuat untuk menghadapi segala rintangan yang akan datang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!