Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Pegunungan Maros
"Good afternoon, Arawa Radio. Hercules Zero One inbound from west. Request for landing."
Suara radio komunikasi terdengar berderik, tak lama sebuah balasan masuk.
"Good afternoon, Hercules Zero One. Wind calm, runway available. Clear to land."
Pilot melakukan prosedur pendaratan. Roda mulai diturunkan, kecepatan mulai berkurang, dan moncong pesawat mulai menukik turun. Tak lama pesawat menghentak. Roda menghantam landasan dengan lembut sebelum pesawat akhirnya berhenti sempurna.
"Standby!"
Seluruh prajurit berdiri. Mereka kembali meraih tas masing-masing dan berjalan berjajar menuju pintu keluar.
Baskara mengenakan helmnya. Ia juga memposisikan senjatanya tepat di depan dada seraya berjalan keluar. Angin pegunungan yang sejuk dan lembab segera menerpa tubuh para prajurit. Tidak ada kesibukan lain selain lima orang personil Korps Gerak Cepat Angkatan Udara yang berjaga. Lima buah truk militer yang sudah parkir dekat landasan dan sebuah mobil ambulance tua.
Suara yang menggema dan mendominasi hanyalah deru mesin pesawat hercules. Setelah mesin itu dimatikan, semua terasa begitu sunyi. Tidak ada upacara penyambutan khusus. Personil hanya dikumpulkan sejenak. Dibiarkan berbaris rapi dan memberi hormat pada Komandan Distrik Militer Kabupaten Wamera, Letnan Kolonel Diego Miguel.
"Selamat datang di Kabupaten Wamera. Tetap waspada dan selamat bertugas."
Tidak ada kata sambutan panjang. Tidak ada acara ceremonial, semua dilaksanakan dengan singkat, padat, dan jelas.
Personil berbaris sesuai urutan kelompok sebelum memasuki truk yang akan membawa mereka menuju pos tugas masing-masing. Baskara berjalan bersama tim satgasnya dan mulai naik ke truk satu per satu.
Truk perlahan melaju meninggalkan Bandara Arawa. Bandara perintis satu-satunya di Kabupaten Wamera. Bandara yang menjadi penghubung Kabupaten Wamera dengan dunia luar. Bandara yang menjadi pintu utama personil satuan tugas datang dan pergi.
Tidak ada terminal megah, tidak ada sarana dan prasarana mewah. Hanya sebuah bangunan kecil dengan ruang tunggu sempit dan menara ATC yang sudah usang. Di atapnya tertulis Bandara Arawa dengan cat putih yang sudah mulai pudar.
Truk mulai melaju, memasuki jalan utama Kota Arawa, tapi tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, hanya beberapa orang yang berjalan tanpa alas kaki membawa hasil kebun. Tidak ada lampu pengatur lalu lintas. Beberapa sepeda motor tua dan sepeda melintas membersamai iring-iringan truk militer. Jalanan aspal hanya membentang sepuluh kilometer di pusat kota. Melewati kantor bupati, kodim, kantor polisi, rumah sakit daerah, dan pasar. Selebihnya tanah merah yang dapat berubah menjadi lumpur bila hujan mengguyur.
Hari masih siang, anak-anak sekolah baru saja pulang. Mereka berjalan berkelompok, mengenakan seragam lusuh yang warnanya mulai pudar. Ada yang mengenakan sepatu lusuh dengan lubang dibagian jempol kakinya, ada yang menggunakan sandal jepit yang karetnya sering lepas, dan banyak diantara mereka yang berjalan tanpa alas kaki. Mereka berhenti, bersorak dan melambaikan tangan menyambut gembira truk-truk militer yang melintas.
Baskara tersenyum. Ia dan personil lain membalas lambaian tangan itu. Mungkin Kota Arawa jauh dari suasana hiruk pikuk dan hingar bingar kota pada umumnya, tapi Arawa memiliki penduduk yang ramah dan hangat.
Truk militer mulai memasuki jalan sempit. Tidak lagi ada aspal di sini. Jalanan sempit yang diapit rumah-rumah papan beratap seng. Tak beberapa lama kemudian, truk berpencar menuju lokasi pos masing-masing.
Kini, Baskara mulai memasuki jalanan tanpa penduduk. Di kanan dan kirinya hanya pepohonan dan kabut yang menggantung diatasnya seperti awan jatuh.
"Bersiaplah, kalian memasuki wilayah operasi!" ucap Kapten Aga tegas.
Semua orang menegakkan badan dan mengencangkan pegangan pada senjata masing-masing. Baskara menatap keluar truk, matanya memindai waspada.
Jalanan mulai menanjak, kehidupan sederhana Kota Arawa mulai tidak terlihat, kini yang ada hanyalah pepohonan, bukit, tanah merah yang licin, dan jurang. Truk melaju pelan saat hujan tiba-tiba mengguyur tanpa peringatan. Mereka memasuki wilayah lereng gunung yang cuacanya tidak dapat diprediksi.
Hujan deras membuat kabut yang semula menggantung tipis berubah menjadi semakin tebal.
SREEET!
Truk sedikit oleng. Tanah merah membuat roda menjadi licin dan rawan tergelincir. Jalanan menanjak menambah kesulitan tersendiri. Namun, Simon sang supir truk tidak menyerah. Ia berusaha menanjak perlahan agar truknya tidak semakin oleng dan masuk ke jurang.
Tiba-tiba truk berhenti. Kapten Aga memerintahkan seluruh prajurit untuk turun.
"Semuanya turun!"
Satu per satu personil melompat turun. Kaki mendarat di atas lumpur dan badan diguyur air hujan sedingin es. Tas ransel mereka sudah tertutup mantel khusus, tapi tubuh mereka dibiarkan terguyur hujan.
Di depan sebuah jembatan kayu membentang diatas sungai yang kini sedang banjir. Baskara menatap jembatan yang jauh dari kata layak itu. Ada beberapa lubang di sana yang jika tidak berhati-hati roda dapat terperosok dan terjebak. Hujan semakin deras mengguyur dan kabut semakin tebal membuat jarak pandang terbatas.
"Izin, Komandan saya tidak berani melanjutkan perjalanan. Cuaca tidak memungkinkan. Sangat beresiko," ucap Simon saat menyadari jika jarak pandangnya hanya sekitar dua meter saja.
Kapten Aga mengangguk tegas.
"Kita lanjutkan dengan jalan kaki!" ucap Kapten Aga.
Ia meminta anggotanya untuk berbaris di tengah guyuran hujan yang dingin.
"Siapkan senjata dan peralatan kalian. Kita mulai berjalan kaki dari sini."
"Jangan keluar jalur."
"Jaga jarak antar personil maksimal dua meter."
"Jangan sampai tertinggal!"
Kapten Aga menyiapkan pasukannya. Ia menatap Baskara dengan sorot yang sulit diartikan, tapi Baskara paham jika ia dan timnya mulai memasuki zona bahaya.
"Waspadalah! Perhatikan langkah kalian!" ujar Baskara.
Ia berdiri paling belakang. Menutup rombongan. Matanya bergerilya menatap tajam sekitar. Senjatanya terus ia hadapkan ke depan. Mereka mulai berjalan, perlahan melewati jembatan. Setelahnya jalan setapak yang menanjak dan berlumpur, menuntun pasukan semakin dalam masuk ke hutan.
"Tidak lewat jalan yang lebih lebar, Bang?" tanya Horas yang berjalan tepat di depan Baskara.
"Kita ambil rute tercepat. Jalan truk itu memutar, jika kita lewat sana, terlalu jauh. Bisa sampai ke Pos Pegunungan Maros tengah malam. Sangat beresiko," ucap Baskara.
Derap langkah sepatu lapangan tentara mendominasi. Suara gemericik hujan dan batang ranting kering yang terinjak memberikan irama tersendiri di tengah sunyinya hutan hujan tropis yang menghiasi Pegunungan Maros.
Kapten Aga melangkah. Ia bertanggungjawab membawa rombongan sampai dengan selamat ke pos tempat tugas mereka, tapi tidak dapat dipungkiri bahaya yang mengintai mereka di dalam hutan lebat itu.
Kapten Aga mengepalkan tangan, memberikan kode pada pasukannya agar diam dan berhenti di tempat. Semua orang menatap tajam, memicingkan mata melihat ke dalam kabut tebal. Raka, salah seorang prajurit junior yang baru pertama kali mendapat tugas negara tidak hentinya menelan salivanya susah payah. Tubuhnya gemetar karena dinginnya guyuran hujan dan adrenalinnya yang berpacu maksimal.
Baskara yang bersembunyi dekat Raka itu pun segera menepuk bahu pemuda itu.
"Siap, Danton!" ucapnya.
"Tenang."
Raka mengangguk. Namun, ucapan Baskara tidak juga membuat pemuda itu tenang. Tiba-tiba terdengar suara ranting-ranting yang patah dari kejauhan. Bunyi kraaak-nya menggema karena heningnya lingkungan sekitar. Membuat kewaspadaan Baskara bertambah berkali-kali lipat. Ia siap dengan kemungkinan terburuk.
Kraaak ... kraaak ... BRAAAAK!
Baskara mengarahkan senjatanya. Matanya menajam memeriksa dan memindai musuh di sekitar mereka. Ia harus berhati-hati dalam menggunakan senjatanya, satu letusan saja bisa membuat keberadaannya dan Tim Alpha terancam.
"Apa itu?" tanya Kapten Aga.
Pasukan sudah dalam posisi siaga, siap menembak.
Baskara memicing. Kabut membuat jarak pandangnya sangat terbatas.
"Izin, memeriksa,Komandan."
Kapten Aga diam. Ia tidak bisa membiarkan Baskara keluar dari jalur dan meninggalkan kelompok sendirian. Kondisinya tidak memungkinkan.
"Tidak perlu."
"Tapi, bagaimana kalau ...."
"Saya bilang tidak perlu! Tetap pada posisi!"
Kapten Aga kembali siaga. Ia menodongkan senjata ke depan. Ia masih memerintahkan timnya untuk berhenti, bersembunyi di balik semak dan batang pohon.
"Wiuuu ...wiuuu... wiii..."
Sebuah suara mencuri perhatian dalam kesunyian. Pasukan kian mengencangkan jemari pada senapan masing-masing, bersiap menarik pelatuk mereka.
"Wiuuu ... wiuuu... wiii ...."
Apa itu ... burung? Batin Baskara.
Hujan mulai reda, meskipun kabut tebal belum terangkat. Mata mereka memicing, menatap tajam saat siluet manusia keluar dari balik kabut tebal.
Baskara menahan napas. Senjata sudah disiapkan, siaga menarik pelatuk. Begitu pula dengan Kapten Aga yang memimpin pasukan. Ia nyaris menarik pelatuknya saat lima orang berpakaian serba hitam dengan wajah terkamuflase dan senjata mengarah ke bawah mulai mendekati Kapten Aga dan pasukannya.
"Tahan!" ucap Kapten Aga seraya mengepalkan tangan.
"Merah!" ucap Kapten Aga tegas.
"Putih!" jawab salah seorang dari kelima orang yang mendekat tadi.
Salah seorang maju memberi hormat.
Kapten Aga bernapas lega. Ia berdiri dan menurunkan senjata. Ia membalas hormat itu.
"Selamat datang di Pos Penjagaan Pegunungan Maros, Komandan!" ucap orang itu tegas.
____________________