NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Mula Pengabaian

Kamar utama mansion yang megah kembali menjadi tempat yang paling sunyi di dunia.

Hanya dalam hitungan hari, suasana ruangan berlantai marmer hitam ini mengalami perubahan yang kejam.

Kamar yang sempat sewangi lavender, hangat oleh dekapan penuh kasih, dan dipenuhi bisikan janji masa depan itu, kini mendadak kehilangan jiwanya.

Udara di dalamnya kembali terasa dingin, asing, dan penuh akan kecemasan yang mencekik, seolah-olah seluruh kehangatan telah disedot keluar melalui celah jendela yang berembun.

Malam telah larut hingga melewati pukul sebelas.

Alice berbaring menyamping di sisi ranjang king-size mereka, menarik selimut wol tebal hingga sebatas dadanya.

Tubuhnya terasa begitu lelah akibat mual trimester pertama yang menimpanya, namun matanya menolak untuk terpejam.

Fokus sepenuhnya terkunci pada sosok pria yang berada di sisi lain ranjang.

Elvano duduk bersandar pada kepala ranjang yang dilapisi beludru.

Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja santai yang kancingnya terbuka, ia mengenakan kaus hitam legam yang membuatnya tampak semakin berjarak dan tak tersentuh.

Tidak ada lagi lengan kekar yang menyusup ke bawah tengkuk Alice untuk dijadikan bantal.

Tidak ada lagi tangan besar berurat tegas yang mengusap lembut perut ratanya sembari membisikkan kata-kata takjub.

Jarak di antara tubuh mereka di atas kasur itu hanya berkisar satu meter, namun bagi Alice, jarak itu terasa bagai bentangan samudra yang tak mampu ia sebrangi.

Kedua manik cokelat gelap Elvano terkunci mati pada pendaran layar ponsel di genggamannya.

Ibu jarinya bergerak cepat, menggulir barisan pesan teks yang dikirimkan oleh Viona dari hotel pusat kota.

Setiap beberapa menit, rahang Elvano akan mengeras, raut ketegangan tercetak jelas di pelipisnya, menandakan bahwa isi pesan itu berhasil mengobrak-abrik seluruh hatinya.

"Tuan Elvano..." panggil Alice, suaranya begitu lirih, nyaris tenggelam dalam desiran pendingin ruangan.

Elvano tidak menoleh. Ia hanya berdehem pendek, sebuah respons yang begitu datar.

"Ya."

"Ini sudah larut. Dokter Hendra bilang Anda juga harus beristirahat agar tidak stres," ucap Alice mencoba mencairkan suasana, jemari mungilnya bergerak perlahan di atas kasur, berusaha meraih ujung kaos hitam Elvano.

Namun, sebelum jemari Alice sempat menyentuh kain pakaiannya, ponsel di tangan Elvano mendadak bergetar hebat.

Sebuah panggilan masuk dengan nomor tanpa identitas berkedip di layar.

Detik itu juga, Elvano langsung menegakkan tubuhnya. Gerakannya tertutup, seolah-olah ia sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar dari pandangan Alice.

Pria itu melirik sekilas ke arah Alice, sebuah tatapan yang tidak lagi dipenuhi oleh binar rasa ingin, melainkan sebuah tatapan yang dingin, dipenuhi kabut kebimbangan, dan penuh akan penolakan.

"Aku harus menerima telepon ini di luar," ucap Elvano, suaranya terdengar datar, tanpa emosi.

Tanpa menunggu jawaban atau melihat bagaimana binar di mata hazel Alice meredup seketika, Elvano menyibak selimut.

Ia bangkit dari ranjang dengan langkah lebar yang tergesa-gesa, melangkah keluar menuju balkon luar, lalu menutup pintu kaca geser itu dengan rapat hingga menimbulkan suara dentingan halus yang memilukan.

Melalui balik kaca transparan yang buram oleh embun malam, Alice hanya bisa memandangi punggung tegap Elvano yang berdiri membelakanginya di bawah temaram cahaya bulan.

Pria itu mondar-mandir dengan ponsel yang ditempelkan di telinga, gestur tubuhnya tampak begitu frustrasi namun sekaligus penuh perhatian terhadap suara wanita di seberang telepon.

Alice tahu siapa yang menelepon di jam seperti ini.

Viona. Mantan istrinya yang membawa sebuah fakta masa lalu yang kini berhasil menjungkirbalikkan seluruh dunia seorang Elvano.

Rasa sakit yang teramat tajam, dan menghimpit seketika menjalar di ulu hati Alice.

Pengabaian ini terasa jauh lebih menyiksa daripada amukan verbal atau kurungan fisik yang ia terima di awal pertemuannya.

Saat Elvano memperlakukannya sebagai tawanan, Alice tahu di mana ia harus berdiri.

Namun kini, setelah pria itu membuatnya melambung tinggi ke langit dengan janji pernikahan, lamaran resmi, dan memberikannya pemujaan, lalu dijatuhkan kembali ke bumi dengan cara diabaikan secara perlahan seperti ini adalah siksaan mental yang menghancurkan jiwanya.

Air mata yang sejak sore tadi ia tahan dengan sekuat tenaga akhirnya menetes, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.

Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, tidak ingin membuat para pengawal di luar kamar mendengar kerapuhannya.

Perlahan, tangan Alice yang gemetar bergerak turun ke balik selimut.

Ia menempelkan telapak tangan mungilnya di atas perutnya yang masih rata, tempat di mana keajaiban klan Salvatore sedang bertumbuh dalam diam.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisik Alice, suaranya serak dan sesak oleh air mata.

Ia mengelus perutnya dengan gerakan melingkar yang penuh kasih sayang, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri pada janin yang belum bernyawa itu.

"Maafkan Ibu karena tidak bisa memberikan kepastian padamu."

Rasa cemas yang teramat besar merayapi pikiran Alice.

Insting seorang ibu mulai berbicara di dalam dadanya.

Jika Elvano pada akhirnya mempercayai bahwa anak laki-laki berumur tujuh tahun itu adalah darah dagingnya yang sah, maka posisi bayinya tidak akan lagi menjadi yang utama.

Janin di dalam rahimnya ini mungkin hanya akan dipandang sebagai 'anak kedua' yang kehadirannya tidak lagi dinantikan.

Lebih buruk lagi, Viona pasti akan melakukan segala cara untuk menyingkirkannya dari mansion ini demi mengamankan takhta untuk anaknya, Kenzo.

Hampir tiga puluh menit berlalu sebelum pintu kaca balkon kembali bergeser terbuka.

Udara dingin malam luar ikut menyusup masuk ke dalam kamar saat Elvano melangkah kembali ke dalam.

Alice segera memejamkan matanya rapat-rapat, berpura-pura telah tertidur lelap sembari menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di balik lipatan selimut.

Ia tidak ingin Elvano melihat tangisannya, jika pria itu hanya akan menanggapinya dengan keheningan yang mengiris hati.

Elvano berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang terdengar berat dan lelah.

Ia tidak langsung naik ke atas kasur. Selama beberapa menit, pria itu hanya berdiri mematung di sisi ranjang Alice, menatap sosok wanita yang beberapa hari lalu ia banggakan sebagai ratunya.

Di dalam kegelapan kamar, ekspresi wajah Elvano tertutup rapat oleh kabut pikiran, namun desir napasnya yang berat mengindikasikan bahwa perbincangannya dengan Viona baru saja menanamkan racun keraguan yang jauh lebih dalam di kepalanya.

Maafkan aku, Alice... batin Elvano berbisik di dalam hatinya yang mulai goyah, namun egonya sebagai calon pemimpin klan Salvatore menolak untuk dirobohkan oleh perasaan bersalah.

Aku harus memastikan semuanya. Aku tidak boleh membiarkan garis keturunanku terombang-ambing.

Elvano akhirnya naik ke atas ranjang, namun ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di ujung sisi yang berlawanan. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap dengan mata terbuka, membiarkan keheningan malam yang asing itu memisahkan jarak di antara mereka.

Malam itu, di dalam kamar yang sama, dua manusia yang sempat disatukan oleh takdir yang langka kini kembali tidur dalam keterasingan.

Elvano yang tenggelam dalam ego kepemimpinan dan misteri anak masa lalunya, dan Alice yang meringkuk sendirian, memeluk perut ratanya dengan air mata yang terus mengalir, meratapi awal mula dirinya di abaikan oleh sang mafia yang perlahan mulai menghancurkan hatinya yang baru saja terbuka.

1
Mia Camelia
ayo elvano berusaha dong buat hati alice hidup lagi🤣🤣🤣masa nyerah sih😂
Mia Camelia
hahahaa nyesel kan elvano udh menduakan alice dengan anak si ulat bulu🤣🤣🤣🤣
Heny Shae
semoga Alice sdh pergi. biar Vano merasakan kehilangan
Mia Camelia
rasakan kau ulat bulu, elvano udh tau kebusukan yg di rencanakan kau🤣
Mia Camelia
tuh kan baru ketauan🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
semangat kaiven😄
Mia Camelia
pingin bangeet jitak elvano deh😔🤣😂
Nursakimah Awang
kaizen.... tolong bantu sembunyikan alice....
Mia Camelia
elvano kau menyakiti alice dengan sangat sangat tau😔😔😔
Khajidah Khadijah
mafia oon gampang d kibulin.
Mia Camelia
pingin banget ngliat viona ketauan kedok nya😂😂😂
Mia Camelia
semangat kaiven , cari teroooos jejak si ulat bulu viona🤔🤔🤔
Mia Camelia
ayi kaiven bongkar semua siasat busuk viona 🤔🤔🤔
hey elvano kmana insting mafia mu🤣🤣🤣
Mia Camelia
mendingan kabur aja yuk alice🤣🤣🤣
sebel elvano gak peka banget sm taktik licik ulat bulu viona😔🤔
Mia Camelia
makin kasian sama alice, duh elvano belom tentu kenzie anak mu😂😂😂
Mia Camelia
sabar ya alice jangan nanggis mulu😔
Mia Camelia
ehhm kaya nya gak yakin deh klo kenzo anak nya elvano ???
ibu nya aja gak setia, pasti ada rencana jahat nih🤔🤔🤔
Mia Camelia
ehmmm beneran anak nya elvano kah ?? mencurigakan🤔🤔🤔
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!