NovelToon NovelToon
Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Tak Akan Aku Biarkan Kau Ambil Suamiku, Mbak!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Aryani Ningrum

Laras demi membahagiakan ibunya yang menginginkan cucu, rela menerima suami temannya yang dijadikan barang jaminan agar bisa mendapatkan uang yang banyak.

Seiring berjalannya Waktu, Laras benar-benar jatuh cinta pada suami jaminannya yang bernama Rayyan. Demikian pula Rayyan yang ternyata amnesia karena kecelakaan dan ditemukan oleh istri pertamanya( Naya) ia jatuh cinta pada Laras.

Mengetahui suaminya ternyata kaya raya, Naya ingin kembali pada suaminya dan melakukan berbagai usaha untuk memisahkan Rayyan dan Laras.

Akankah Laras bahagia dengan Rayyan? Siapakah yang akan dipilih Rayyan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Laras berkacak pinggang seraya menghela napas berat, seingatnya ia menaruh dokumen kontrak kerjasama dengan WO internasional sekaligus hasil desain pesanan klien kolega nya itu di laci. Laras tidak mungkin salah taruh, mengingat betapa telitinya dia dengan hasil kerjanya. Jadi, tidak mungkin Laras sampai ceroboh.

"Aku ingat banget loh, aku simpan di laci. Kok bisa tiba-tiba tidak ada, komplit sama hasil desain aku." Laras hampir mau menangis, bagaimana tidak, seharian penuh ia merancang desain gaun pengantin sedemikian rupa terlebih berkas perpanjang kontrak dengan WO internasional hilang semakin membuat Laras frustasi.

Mengurut keningnya yang berdenyut, Laras beranjak duduk di tepi kasur untuk mengingat-ingat berkas yang dia simpan itu.

"Dua jam lagi aku harus ke butik untuk mempersiapkan semuanya, sore ini WO dan klien nya akan datang. Tapi hasil desain nya saja hilang, bisa kacau semuanya." Kedua tangan Laras menutup wajahnya. Ia tampak lelah, tidak mungkin harus bekerja ekstra untuk mengulang kerjaan nya dua kali.

Laras duduk lemas di lantai, Rayyan yang melihatnya pun menjadi kasihan. Rayyan berjalan ke arah Laras dan duduk di sampingnya.

"Laras beneran mau kertas itu?"

"Tentu saja, Mas! Tanpa kertas itu, aku tidak dapat kerja dan tidak bisa membiayai karyawan dan juga rumah tangga kita, Mas!" Lirih Laras menjawab pertanyaan Rayyan.

"Kalau begitu Laras gak usah kerja aja, biar Rayyan yang kerja. Rayyan bisa jualan lagi," ucap Rayyan menatap Laras dengan tatapan penuh harap. Sebagai laki-laki dia juga ingin memberikan uang pada sang istri.

"Mas gak usah aneh-aneh deh, mas baru saja sembuh. Tidak mungkin jualan, apalagi Laras takut mas akan tersesat lagi. Emak pasti marah, apalagi nanti sore emak pulang dari kampung. Lebih baik mas bantu Laras untuk mencari kertas itu. Nanti kalau dapat, Laras akan mengabulkan semua keinginan mas Rayyan," ucap Laras memberi imbalan jika Rayyan membantu mencarikan kertas itu, namun tidak yakin jika kertas itu akan ia temukan dalam waktu yang singkat.

"Laras, sedih? Rayyan bisa bantu Laras, apa yang Laras butuhkan Rayyan pasti bantu, Laras." Rayyan tersenyum manis, berusaha menenangkan istrinya untuk tidak bersedih apalagi sampai frustasi seperti tadi.

Laras menolehkan wajahnya ke samping, bertepatan dengan itu iris nya bersirobok dengan iris Rayyan. Senyum di wajah suaminya membuat Laras tak berkedip sedikitpun, terlalu mubazir menyia-nyiakan kesempatan bertatapan dengan Rayyan terdekat ini.

Fyuh ...

Plak!

"Aduh!" ringis Rayyan saat Laras menampar wajahnya, tidak sakit namun sedikit nyeri.

"Mas maaf, maaf. Kamu juga sih kenapa tiup muka aku, jadinya refleks nampar kamu. Sakit nggak tamparan aku?" Laras meraih pipi Rayyan yang sempat ia tampar, kemudian mengelusnya lembut.

"Maaf," gumamnya sekali lagi, namun Rayyan malah terkekeh kecil melihat betapa lucunya istrinya itu. Niat ingin mengerjai laras karena menamparnya, Rayyan urungkan dan fokus membantu keresahan istirnya.

"Masih ada banyak waktu sampai nanti sore bertemu WO itu kan? Kita siapkan di rumah, kita bisa ke butiknya nanti siang. Rayyan akan membantu Laras, Laras jangan khawatir dan bersedih lagi." Lagi-lagi Rayyan menampilkan senyuman manis, ajaibnya Laras mudah terpanah begitu saja bahkan detak jantungnya benar-benar tidak terkontrol.

"Memangnya kau bisa mas? Maksud aku, kamu memahami soal gaun pengantin? Biasanya lelaki tidak terlalu memahami masalah pakaian wanita apalagi gaun pengantin wanita," ujar Laras tidak bermaksud untuk meragukan Rayyan soal kalimat pertamanya, hanya saja dia takut merepotkan Rayyan jika tidak mengerti soal fashion dan berakhir semakin kacau desain yang dibuatnya.

Alih-alih meyakinkan Laras, justru Rayyan menggeleng seraya menyengir kuda. Tapi ia akan mencoba, demi istri maka akan Rayyan lakukan.

"Rayyan mau mencobanya," ucap Rayyan kemudian yang mana Laras sedikit khawatir jika benar Rayyan tidak bisa. Tapi melihat Rayyan yang ingin membantunya, apa salahnya Laras membangun kepercayaan mulai dari hal-hal kecil pada Rayyan.

"Boleh, mas. Makasih ya udah mau bantu," ucap Laras meskipun pasrah ia tidak akan menyerah, itupun demi karirnya.

Rayyan berdiri dan menyerahkan selembar kerta polos kepada Laras, meminta istrinya untuk mengukir garis-garis yang nantinya membentuk sebuah gaun cantik.

"Mulailah dari awal, Mbak, masih ada waktu banyak," ujarnya. Detik kemudian Laras menerima kertas polos itu dan mulai menggambar desian gaun indahnya.

"Mas ... Sekali lagi aku ingatkan jangan panggil, Mbak. Sudah bagus kayak tadi panggil Laras aja. Takutnya emak tiba-tiba pulang dan pergoki kita," cerocos Laras seraya membuat desain untuk baju yang akan dia ajukan ke WO -- klien baru butik milik Laras.

"Iya, Mbak. Eh ... Laras. Maaf, Rayyan sebenarnya paling suka kalau panggilnya pakai mbak. Tapi gak boleh, ya udah kalau Sayang bagaimana?"

Blush ....

Pipi Laras bersemu merah, baru pertama kalinya dipanggil sayang, apalagi yang memanggilnya adalah seorang lelaki tampan yang saat ini menjadi istrinya.

***

"Kerja bagus sayang!" puji Rayyan tatkala melihat hasil karya Laras. Kertas polos yang dia berikan kini telah jadi sebuah karya menakjubkan, indah dan ukirannya cukup cantik.

"Sekarang kita ke toko butik, masalah kontrak bisa dibikin ulang yang terpenting gaun nya 'kan?" ujar Rayyan dengan perasaan senang saat Laras mulai mengukir senyum di bibir ranumnya itu, Rayyan ingin melahapnya jika saja ia tak hilaf.

"Makasih udah bantu Laras, mas. Kenapa juga ya aku nggak kepikiran ke sini untuk desain ulang daripada cari yang sudah hilang," ujarnya dengan mata berbinar. Ternyata Rayyan mampu menenangkannya dan memberikan solusi terbaik untuknya.

Kini Rayyan tersenyum tipis, merasa bersalah kalau tahu Laras akan sesedih ini karena berkas pentingnya hilang, meski dirinya lah yang menyembunyikan nya. Sekarang Rayyan sudah puas menghabiskan waktu berdua bersama Laras, tanpa disadarinya Rayyan mengambil perhatian Laras sungguhan seperti anak kecil.

Kurang dari 30 menit mobil Laras mendarat di halaman parkir toko butik milik Laras, bersama Rayyan, keduanya memasuki toko butik super megah itu.

WO yang menjalin kerja sama dengan toko butik Laras lebih dulu sampai karena dirinya on time, namun tidak masalah jika pemilik toko datang terlambat karena sejak awal pertemuan Laras sudah menetapkan waktu sore hari.

"Maaf saya terlambat, Nyonya. Apa anda sudah menunggu lama?" tanya Laras datang menyalami wanita yang sudah lama menjadi pelanggan butiknya untuk urusan gaun pengantin yang akan dipakai oleh customernya.

"Tidak masalah, Mbak Laras. Memang saya saja yang datang lebih awal karena menghindari macet di sore hari," jawab owner Wedding organizer itu dengan membalas uluran tangan Laras yang mengajaknya bersalaman dan pindah ke dalam ruangan Laras.

Laras dan owner WO itu mulai berdiskusi mengenai gaun pengantin yang akan digunakan pelanggan WO itu.

"Ada bahan baju yang diinginkan oleh klien anda, Nyonya? Kalau iya biar saya rancang. Kira-kira kapan klien anda datang ke sini untuk fitting gaun nya?" tanya Laras pada seorang wanita — owner WO tersebut.

"Untuk bahannya tidak ada request apa-apa Nyonya. Klien saya terima beres dan percaya dengan kualitas bahan yang anda pakai, kalau untuk fitting baju mungkin besok atau lusa," jawabnya.

Ia menemui Laras hanya untuk memperpanjang kontrak dan mengecek gaun pesanan klien nya.

"Baiklah, Nyonya. Akan segera kami siapkan. Anda bisa melihat rancangan yang sudah saya siapkan sebelumnya. Untuk rancangan yang lain bisa anda lihat di berkas yang saya serahkan tadi," ucap Laras sambil tersenyum.

"Baik, Mbak. Ini sudah cukup. Sepertinya pelanggan saya akan sangat senang melihat gaun pengantin yang begitu indah dan sesuai dengan konsep tema yang mereka inginkan. Untuk pesanan yang sudah saya minta kemarin apakah sudah selesai?" tanya owner itu.

"Sudah, Nyonya. Sebentar saya ambilkan dulu. Masih ada di ruang penyimpanan." Laras sedikit berbohong, karena gaun itu belum selesai ia siapkan gara-gara gambarnya hilang.

Laras lalu masuk ke dalam ruang penyimpanannya bersama Rayyan, menyiapkan gaun pengantin yang akan dirancang sedemikian rupa dan setelah itu akan dijahit oleh karyawan kepercayaan nya.

"Laras udah siapin bahan untuk gaun nya, ini gaun terbaik di butik Laras. Mas Rayyan bantu aku rancangin gaun nya, ya." Laras mengambil manikin untuk ia susun bahan gaun, bersama Rayyan yang membantunya.

"Okey, Rayyan akan bantu Laras. Rayyan ingin Laras tetap tersenyum. Karena kalau Laras tersenyum, Laras cantik sekali!" ucap Rayyan mencubit gemas pipi Laras yang putih itu.

Laras tersenyum malu, merasa hari-hari sepi seorang diri menyiapkan gaun yang dia rancang tanpa ada yang membantunya. Jemari Laras mulai bergerak cepat menggunting kain, menempel sesuai pola di manekin dengan bantuan Rayyan. Pekerjaan Laras menjadi dua kali lebih cepat karena Rayyan sigap membantu Laras.

"Sudah jadi."

"Wah ... Sepertinya ini akan menjadi gaun istimewa, pengantin pria akan semakin jatuh cinta kalau melihat pasangannya mengenakan gaun ini. Apalagi kalau Laras yang memakainya, aku akan terpesona," ujar Rayyan memandang gaun yang dirancang oleh Laras dan dirinya, sembari membayangkan istrinya yang mengenakan gaun itu.

Gaun pertama yang dirancang oleh dirinya dan Laras, rasanya tidak rela jika orang lain yang mengenakannya.

Laras mengulum senyum, dia tidak sanggup sekedar mengeluarkan suara karena saking malu dan tersipu pada gombalan Rayyan.

"Nyonya ... Gaun nya benar-benar indah. Saya akan fotokan gaun ini, dan mengirimnya ke klien, pasti dia akan suka." Wanita--kolega bisnis Laras pun memotret gaun pengantin yang baru saja di rancang pada manekin. Selain gaun utama, gaun yang lain pun juga dipotretnya dan dikirim ke klien nya berharap bisa dijadikan gaun untuk sesi jamuan setelah akad nikah.

Bukan hanya mengirimnya pada Klien, tapi juga memposting di akun media sosial WO internasional untuk mempromosikan gaun-gaun dari toko butik Laras.

Kurang lebih dari lima menit postingan meluncur, kini akun official toko butik Laras mendapat banyak komentar yang menyukai gaun tersebut bahkan tak sedikit dari kalangan memesan gaun dan pakaian pesta dan berbagi macam dress di toko butiknya.

Laras tercengang ketika ponselnya banyak notifikasi dan itu semua berasal dari postingan gaun yang sempat dipotret oleh kolega bisnisnya.

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!