Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Di sudut ruangannya yang gelap, ujung bibir Lin Ye kembali melengkung ke atas membentuk senyuman tipis saat mendengar julukan baru yang diberikan dunia kepadanya.
"Penakluk Jiwa Kematian... sebuah nama yang cukup puitis untuk kumpulan serangga bodoh yang sedang ketakutan," batin Lin Ye sambil menyesap teh spiritualnya yang mulai dingin.
Tujuan utamanya datang ke tempat ini telah tercapai, ia kini tahu bahwa kehancuran Sekte Pedang Surgawi telah menciptakan riak ketakutan yang sangat besar di seluruh benua.
Kepanikan ini akan membuat kekuatan-kekuatan besar lainnya menjadi lebih waspada dan mungkin saling mencurigai satu sama lain, memberikan ruang yang sempurna bagi Lin Ye untuk bergerak dalam bayangan.
Lin Ye meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dan berniat untuk segera pergi mencari tempat penginapan atau balai lelang untuk melihat barang-barang langka.
Ia mengeluarkan sekeping batu spiritual tingkat menengah dari cincin penyimpanannya untuk membayar harga teh dan daging asap yang sama sekali tidak ia sentuh.
Ia tidak memiliki batu spiritual tingkat rendah karena semua rampasannya dari sekte itu telah dimasukkan ke dalam ruang sistem secara acak, dan ini adalah batu dengan nilai terkecil yang bisa ia temukan saat ini.
Ia meletakkan batu spiritual tingkat menengah yang memancarkan pendaran cahaya kebiruan itu di atas meja kayu yang kotor, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu keluar.
Namun, tindakan ceroboh kecil ini langsung menarik perhatian sekelompok pria berwajah sangar yang sedang duduk tidak jauh dari mejanya.
Batu spiritual tingkat menengah adalah benda yang sangat berharga bagi kultivator pengembara, nilainya setara dengan seratus keping batu spiritual tingkat rendah.
Seorang pemuda yang terlihat miskin dan hanya memiliki kultivasi di tahap ketiga Alam Pengumpulan Qi tidak seharusnya memiliki kekayaan sebesar itu.
Pemimpin kelompok pria sangar itu, seorang pria botak dengan tato kalajengking raksasa di lehernya, langsung menyenggol lengan anak buahnya dan memberikan isyarat dengan dagunya.
Pria botak itu adalah pimpinan dari geng Serigala Gurun, sebuah kelompok preman lokal yang sering merampok kultivator lemah di lorong-lorong sepi Kota Angin Merah.
"Lihat domba gemuk berkepala kosong itu, dia memamerkan hartanya seolah sedang mengundang kita untuk menyembelihnya," bisik pria botak itu dengan senyum serakah yang memamerkan giginya yang kuning.
Kelima anggota geng Serigala Gurun itu langsung berdiri secara bersamaan, meninggalkan tuak mereka dan diam-diam membuntuti Lin Ye dari belakang.
Lin Ye melangkah keluar dari kedai yang bising itu dan kembali menyatu dengan keramaian pejalan kaki di jalanan utama yang bermandikan cahaya matahari siang.
Meskipun ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun, kesadaran spiritual dari Inti Yin Sempurnanya telah dengan mudah mendeteksi niat buruk dari lima ekor lalat yang mengikutinya.
"Dunia ini memang tidak pernah kehabisan manusia-manusia bodoh yang sangat terburu-buru ingin mencicipi dinginnya alam baka," gumam Lin Ye di dalam hatinya dengan nada bosan.
Bukannya menghindar ke tempat yang lebih ramai, Lin Ye justru sengaja mengubah arah langkahnya menuju ke sebuah gang sempit yang sangat sepi dan diapit oleh dua bangunan gudang tinggi.
Langkahnya tetap tenang dan ritmis, seolah-olah ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam sebuah jebakan yang sudah ditunggu-tunggu oleh para perampoknya.
Begitu Lin Ye berada cukup dalam di lorong gelap yang tidak tersentuh cahaya matahari itu, kelima anggota geng Serigala Gurun langsung melesat masuk dan memblokir satu-satunya jalan keluar.
Pria botak bertato kalajengking itu mencabut sebuah pisau lengkung yang tajam dari pinggangnya, memutar-mutar pisau itu dengan gaya sok ahli untuk mengintimidasi mangsanya.
"Hei, bocah cengeng! Langkahmu cepat juga, tapi kau sepertinya salah mengambil jalan pulang," sapa pria botak itu dengan nada mengejek yang sangat kasar.
Keempat anak buahnya menyebar membentuk setengah lingkaran, menyudutkan Lin Ye ke arah dinding gudang batu yang tebal dan berlumut.
Mereka semua memancarkan aura dari tahap kelima Alam Pengumpulan Qi, merasa sangat di atas angin karena mangsa mereka hanya berada di tahap ketiga.
Lin Ye menghentikan langkahnya dan membelakangi mereka berlima, membiarkan angin lorong yang berdebu meniup ujung jubah abu-abunya dengan pelan.
"Apakah kalian tahu pepatah yang mengatakan bahwa keserakahan adalah awal dari sebuah tragedi berdarah?" tanya Lin Ye tanpa menolehkan wajahnya.
Suaranya terdengar sangat tenang, datar, dan tidak memancarkan emosi apa pun, membuat pria botak itu justru merasa semakin terhina.
"Tutup mulutmu dan jangan menceramahiku, dasar sampah! Serahkan seluruh cincin penyimpanan dan batu spiritual yang kau miliki, maka aku mungkin akan menyisakan kedua kakimu untuk berjalan!" bentak pria botak itu sambil meludah ke tanah.
Lin Ye akhirnya memutar tubuhnya secara perlahan, mengangkat wajahnya sedikit hingga sepasang matanya yang sedingin es abadi terlihat dari balik bayangan caping bambu.
Saat pria botak itu menatap langsung ke dalam sepasang mata hitam tersebut, ia merasa seolah-olah jantungnya baru saja digenggam oleh sebuah tangan es yang tak kasat mata.
Hawa membunuh yang sangat murni dan kuno menyusup langsung ke dalam jiwanya, membekukan seluruh keberanian dan kesombongannya dalam hitungan detik.
"K-kau... aura apa ini... siapa kau sebenarnya?!" gagap pria botak itu, pisau lengkung di tangannya kini bergetar hebat tak terkendali.
"Aku hanyalah seorang pengembara yang kebetulan sedang mencari bahan bakar untuk menghidupi pasukanku," jawab Lin Ye sambil menyunggingkan senyuman iblis yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Lin Ye tidak mengeluarkan senjata apa pun, ia bahkan tidak menggerakkan kedua tangannya dari balik jubah abu-abunya.
Ia hanya memberikan sebuah perintah mental yang sangat sederhana kepada sistem di dalam lautan kesadarannya.
"Panggil lima jiwa penasaran tingkat rendah, biarkan mereka bermain-main dengan makanan ringan ini sebelum aku menyerap esensi mereka," perintah Lin Ye dengan dingin.
Seketika itu juga, suhu di dalam lorong sempit itu anjlok puluhan derajat hingga mencapai titik beku absolut.
Embun beku seketika terbentuk di atas dinding-dinding batu gudang, sementara napas kelima preman itu berubah menjadi uap putih tebal yang menyelimuti wajah mereka.
Dari dalam bayangan gelap di bawah kaki Lin Ye, lima gumpalan kabut hitam pekat melesat keluar dengan kecepatan kilat yang tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk menghindar.
Kabut hitam itu langsung bermanifestasi menjadi lima sosok bayangan tengkorak yang melayang di udara, memancarkan aura kebencian dan jeritan penderitaan yang memekakkan telinga.
"I-iblis! Dia adalah kultivator iblis! Lari! Lari dari sini sekarang juga!" teriak pria botak itu dengan kepanikan yang menghancurkan akal sehatnya.
Ia membuang pisau lengkungnya ke lantai dan berbalik arah untuk melarikan diri, sama sekali tidak mempedulikan nasib keempat anak buahnya yang sudah membeku ketakutan.
Namun, melarikan diri dari bayangan kematian adalah usaha yang sangat sia-sia.
Lima roh tengkorak bayangan itu menerjang maju dengan buas, langsung menembus dada kelima pria malang tersebut tanpa ada perlawanan yang berarti.
Jeritan histeris yang sangat menyayat hati bergema di dalam lorong sempit itu, namun suara itu tertelan oleh lapisan energi Yin yang sengaja dipasang oleh Lin Ye untuk menyegel suara.
Roh-roh bayangan itu tidak langsung membunuh mangsanya, melainkan merobek-robek kesadaran spiritual mereka dari dalam, menciptakan rasa sakit yang ribuan kali lebih menyiksa daripada goresan pedang.
Tubuh kelima pria itu kejang-kejang hebat di atas tanah berbatu, mencakar leher mereka sendiri hingga berdarah saat jiwa mereka ditarik paksa keluar dari raganya secara perlahan.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh tarikan napas, jeritan itu akhirnya berhenti sepenuhnya, menyisakan keheningan mematikan di dalam lorong gelap tersebut.
Tubuh geng Serigala Gurun telah berubah menjadi lima buah mumi kering yang sangat mengerikan, mata mereka melotot lebar ke langit menyiratkan penderitaan abadi yang mereka alami.
Lima roh tengkorak bayangan itu kembali melayang mendekati Lin Ye, masing-masing membawa sebuah bola jiwa yang memancarkan cahaya kehidupan redup.
Lin Ye membuka telapak tangan kanannya dan sebuah pusaran energi hitam langsung menelan kelima bola jiwa tersebut ke dalam dantiannya.
Energi kultivasi dari lima pria di tahap kelima Alam Pengumpulan Qi ini sangatlah kecil dan hampir tidak memberikan dampak apa pun pada Inti Yin Sempurna milik Lin Ye.
Namun bagi sang kaisar kematian, sekecil apa pun energi yang diserap tetaplah merupakan anak tangga menuju kekuasaan yang mutlak.
"Bahkan serangga yang paling kotor sekalipun memiliki kegunaannya di dunia ini," gumam Lin Ye sambil mengibaskan lengan jubahnya.
Ia tidak membuang waktu untuk memeriksa mayat-mayat kering itu karena ia tahu preman rendahan seperti mereka tidak akan memiliki barang berharga yang pantas untuk ia ambil.
Lin Ye kembali memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari lorong gelap yang kini dipenuhi oleh bau anyir darah dan kematian tersebut.
Ia menyatu kembali dengan keramaian jalanan utama Kota Angin Merah, melangkah di bawah sinar matahari siang yang hangat seolah-olah ia hanyalah seorang pengembara biasa yang sedang menikmati pemandangan kota.
Tidak ada satu pun pejalan kaki yang menyadari bahwa sosok pemuda pucat yang berjalan melewati mereka adalah badai maut yang baru saja menghancurkan sekte raksasa di timur dan siap untuk menenggelamkan seluruh benua ini ke dalam lautan darah.
Legenda hitam dari sang Penakluk Jiwa Kematian baru saja menancapkan cakar pertamanya di jantung dunia kultivasi, dan mimpi buruk yang sesungguhnya baru saja dimulai.