NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma

Gita menggigit bibir bawahnya, matanya menatap Reza dengan tatapan yang penuh hasrat. Ia menarik sedikit tali pakaiannya, memperlihatkan lebih banyak kulit di bahunya. Kemudian ia tertawa kecil, suara yang membuat Reza semakin kehilangan kendali.

Percakapan mereka berubah. Dari obrolan ringan menjadi bisikan-bisikan mesra yang membuat tubuh Reza terasa panas. Gita tahu persis bagaimana membuat pria ini lupa diri. Ia sudah menguasainya sejak lama.

Setelah hampir satu jam, panggilan itu berakhir. Gita mengirimkan ciuman lewat layar, lalu mematikan sambungan. Reza terduduk di kursi dengan dada yang naik turun, tubuhnya terasa terbakar oleh hasrat yang tidak tersalurkan.

Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Tapi tidak ada air sedingin apa pun yang bisa meredam panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pikirannya dipenuhi bayangan Gita—senyumnya, tawanya, tubuhnya yang sedikit terbuka di balik pakaian tipis itu.

Reza keluar dari kamar, berjalan menuruni tangga. Ia perlu air minum. Banyak. Mungkin itu bisa sedikit menenangkannya.

Lampu-lampu di lantai bawah sudah redup. Hanya lampu taman dan lampu sudut ruangan yang masih menyala, menciptakan suasana temaram di seluruh ruang keluarga. Televisi masih menyala dengan volume kecil, menayangkan acara larut malam yang tidak ia pedulikan.

Dan di sofa panjang berwarna abu-abu muda itu, Alya terbaring tertidur.

Reza berhenti di anak tangga terakhir. Matanya tertuju pada sosok mungil yang meringkuk di sofa. Kaus oblong putih longgar yang ia kenakan sedikit naik karena posisi tidurnya yang tidak beraturan, memperlihatkan sedikit kulit di perutnya yang putih mulus. Celana pendek kain katun yang ia kenakan juga naik ke atas pahanya, memperlihatkan kaki yang jenjang dan mulus.

Cahaya televisi yang temaram menyinari wajah Alya yang tertidur. Wajahnya tenang, berbeda dengan saat ia terjaga yang selalu penuh ketakutan dan kekakuan. Dalam tidurnya, ia terlihat polos. Terlihat muda. Terlihat rentan.

Reza mendekat. Langkahnya pelan, hampir tidak bersuara di lantai marmer. Ia berdiri di samping sofa, menatap istrinya yang tertidur.

Hasrat yang sedari tadi ia tahan, yang ia kumpulkan dari panggilan video dengan Gita, kini meledak dengan cara yang berbeda.

Matanya menjelajahi tubuh Alya—bahu yang terbuka karena kerah kaus yang longgar, lekuk leher yang ramping, dada yang naik turun pelan mengikuti napas tidurnya.

Ia ingin membangunkan Alya. Menyuruhnya tidur di kamar. Tapi tangannya tidak bergerak untuk mengguncang bahu itu. Sebaliknya, ia justru membiarkan matanya terus menikmati pemandangan di depannya.

Alya menggeliat dalam tidurnya. Kaus oblongnya semakin naik, memperlihatkan lebih banyak kulit di perutnya yang putih. Celana pendeknya semakin naik ke pangkal paha.

Reza menelan ludah. Kepalanya terasa panas. Tidak ada yang bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia membungkuk, mengangkat tubuh Alya yang ringan dari sofa. Gadis itu tidak terbangun—ia hanya mengerang pelan, lalu kepalanya bersandar di dada Reza, masih terlelap.

Reza membawa Alya menaiki tangga. Setiap langkah, ia merasakan tubuh mungil itu bergerak pelan di gendongannya, hangatnya tubuh Alya merambat ke kulitnya yang terbakar. Ia membawa istrinya ke kamar tidur utama, membaringkannya di ranjang.

Alya masih tertidur. Tubuhnya yang kecil tenggelam di atas kasur empuk, rambutnya tergerai membentuk lingkaran hitam di atas bantal putih. Napasnya pelan, teratur, tidak menyadari bahwa ada bahaya mengintai di sampingnya.

Reza duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah Alya. Wajah yang sama dengan wajah Gita? Tidak. Alya tidak secantik Gita. Tidak seglamor Gita. Tapi ada sesuatu di wajah ini yang membuatnya tidak bisa berpaling. Mungkin kepolosan. Mungkin kerentanan. Mungkin karena Alya adalah satu-satunya wanita yang ada di hadapannya saat ini.

Tangannya terangkat. Jari-jarinya menyentuh pipi Alya dengan lembut. Kulitnya halus, lembut, masih muda. Alya menggeliat lagi, tapi tidak terbangun. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pikirannya terlalu penuh hingga tidurnya terlalu dalam.

Reza menatap leher Alya. Kaus oblongnya yang longgar membuat kerahnya jatuh ke samping, memperlihatkan bahu yang putih dan lekuk tulang selangka yang indah. Tangannya bergerak turun, jari-jarinya menyentuh kulit di bahu itu, perlahan, ragu-ragu.

Alya tidak bergerak.

Reza menarik napas dalam-dalam. Hati nuraninya berbisik sesuatu—tentang malam itu, tentang luka yang ia buat, tentang janji yang ia ucapkan pada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya. Tapi hasrat yang membakar tubuhnya terlalu besar. Dan bisikan itu terlalu lemah dibandingkan gemuruh di dadanya.

Ia mulai melepaskan kaus Alya. Perlahan, satu per satu, ia mengangkat kain itu ke atas, memperlihatkan kulit putih yang mulus di perut, di dada, di bahu. Alya mulai bergerak, tubuhnya merespon sentuhan yang tidak dikenalnya dalam tidur.

"Mas..." gumam Alya setengah sadar, matanya masih terpejam.

Reza tidak menjawab. Tangannya terus bergerak, melepaskan celana pendek yang dikenakan Alya, membiarkan tubuh mungil itu telanjang di hadapannya.

Dan saat itulah Alya terbangun.

Matanya terbuka lebar. Ia melihat langit-langit kamar. Merasakan udara dingin di kulitnya yang telanjang. Merasakan beban tubuh di sampingnya. Dan ia sadar.

"TIDAK!"

Jeritan itu keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Ia mendorong dada Reza dengan kedua tangannya, tubuhnya berusaha berguling menjauh. Tapi Reza terlalu kuat. Tangan pria itu mencengkeram kedua pergelangan tangan Alya, menahannya di atas kepala.

"Lepaskan! LEPASKAN AKU!" teriak Alya, tubuhnya menggeliat, menendang, melakukan apa pun yang bisa ia lakukan. Matanya basah oleh air mata yang belum sempat jatuh, tapi ketakutan sudah membanjiri seluruh tubuhnya.

Reza menekan tubuh Alya dengan berat badannya, membuatnya tidak bisa bergerak. Ia menatap wajah istrinya yang penuh ketakutan, dan untuk sesaat, ada keraguan di matanya.

Tapi itu hanya sesaat.

"Kamu itu istriku," ucap Reza dengan suara yang parau, napasnya berat, matanya merah.

"Kenapa kamu berontak? Apa yang salah? Ini hakku. Ini hak suami."

Alya menggeleng, air matanya mulai mengalir. "Tolong... jangan... aku mohon..."

Reza tidak mendengar. Atau ia memilih untuk tidak mendengar.

Ia melucuti sisa pakaian yang masih menempel di tubuh Alya dengan kasar. Kain-kain itu robek, terlepas, jatuh ke lantai. Tangan-tangan kasarnya menjelajahi setiap sudut tubuh mungil itu tanpa ampun.

Alya terus meronta, menendang, memukul dada Reza dengan tangan-tangan kecilnya yang tidak berdaya. Tapi setiap perlawanan hanya dibalas dengan cengkeraman yang lebih kuat, tekanan yang lebih berat.

"Aku mohon... aku mohon..." suara Alya pecah, tangisnya keluar dalam isakan-isakan yang terputus.

Reza tidak menjawab. Ia membalikkan tubuh Alya, memaksanya menelungkup di atas ranjang. Alya merasakan tubuhnya dihantam dengan keras, berulang-ulang, tanpa ampun. Ia mencengkeram sprei di bawahnya, kuku-kukunya yang pendek menusuk kain sutra itu, berusaha mencari pegangan di tengah badai yang menghancurkannya.

"Mas... sakit... aku mohon..."

Tidak ada jawaban. Hanya gerakan-gerakan kasar yang terus berulang. Sekali. Dua kali. Berkali-kali. Alya kehilangan hitungan. Ia hanya merasakan sakit yang menjalar dari setiap sudut tubuhnya, rasa malu yang membakar kulitnya, dan kepasrahan yang perlahan merayap masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam.

Ia berhenti meronta. Tangannya yang tadinya menendang dan memukul kini hanya menggenggam erat sprei di bawahnya. Matanya terbuka lebar menatap bantal di depannya, tapi tidak melihat apa pun. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi sarung bantal yang putih bersih.

Tubuhnya di bolak-balik. Reza membaliknya, mengubah posisinya, terus bergerak tanpa memperdulikan istrinya yang sudah tidak lagi bersuara. Alya membiarkan semuanya terjadi.

Ia sudah tidak punya energi untuk melawan. Yang tersisa hanya tubuhnya yang terasa seperti bukan miliknya lagi, dan jiwanya yang mengasingkan diri ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun.

Ia pasrah.

Ketika semuanya selesai, Reza bangkit dari ranjang. Napasnya masih berat, tubuhnya masih berkeringat. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Alya yang terbaring telentang dengan mata kosong menatap langit-langit.

Alya tidak bergerak. Ia hanya berbaring di sana, tubuhnya penuh bekas cengkeraman, bibirnya tergigit hingga hampir berdarah, matanya kering karena air mata yang sudah habis.

Reza mengambil handuk, mengeringkan tubuhnya. Ia tidak mengatakan apa pun. Tidak ada maaf. Tidak ada penjelasan. Tidak ada apa pun. Ia hanya berjalan menuju kamar mandi, membiarkan pintu tertutup dengan bunyi klik pelan.

Alya tetap berbaring.

Di luar jendela, langit mulai memutih. Fajar akan segera tiba. Sebuah hari baru yang seharusnya membawa harapan baru. Tapi bagi Alya, setiap hari baru hanya membawa luka yang sama.

Ia memejamkan mata. Dan dalam diam, ia berbisik pada dirinya sendiri.

Aku tidak akan mati di sini. Aku akan keluar. Cepat atau lambat.

Tapi malam ini, ia hanya bisa berbaring. Menunggu pagi. Menunggu waktu berlalu. Menunggu saat-saat ketika ia bisa berdiri lagi.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!