Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bayangan di Balik Jeruji dan Tanda Datangnya Hari Penebusan
Kertas yang berisi ancaman itu masih tergenggam erat di tangan Erlan, kertas yang tulisannya sama persis dengan tulisan tangan Paman Haris—pria yang kini seharusnya sudah terkunci rapat di balik jeruji besi penjara negara, tidak memiliki akses ke dunia luar sedikit pun. Napasku tertahan di tenggorokan saat menyadari makna yang tersirat di balik kertas itu: baik Paman Haris memiliki sekutu yang masih bebas dan berani menyusup hingga ke kediaman kami yang dijaga ketat, maupun... pria itu memiliki kemampuan yang jauh lebih besar daripada yang kami duga—kemampuan yang bahkan tidak bisa dibendung oleh tembok beton setebal apa pun.
"Kertas ini baru saja dilempar masuk dari luar," ucap Dimas sambil melangkah cepat menuju jendela dan mengintip ke arah halaman yang luas. "Tidak ada jejak kaki, tidak ada bayangan yang berlari. Seolah-olah kertas itu terbang sendiri masuk ke ruangan ini." Dia berbalik menghadap kami dengan wajah tegang, matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Apakah mungkin kekuatan yang dimiliki Paman Haris ternyata tidak sepenuhnya dirampas saat ia ditangkap? Atau ada orang lain yang sejak awal menyembunyikan diri di balik bayangannya dan kini muncul ke permukaan?"
Erlan meletakkan kertas itu perlahan di atas meja, lalu menatap kami berdua dengan pandangan yang tenang namun penuh ketegasan. "Siapa pun pengirimnya, pesan itu memiliki satu tujuan: menanamkan rasa takut dan keraguan di hati kita. Mereka ingin kita terjebak dalam kecemasan sehingga lupa menyatukan kekuatan dan pikiran kita. Tapi kita tidak akan membiarkan mereka berhasil. Mulai detik ini, tidak ada satu pun dari kita yang pergi sendirian ke mana pun. Keamanan di dalam rumah dan di luar akan diperketat berkali-kali lipat. Dan kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Paman Haris dari kita—bahkan jika harus menemuinya langsung di tempat tahanan."
Siang itu, Erlan mengurus segala perizinan yang diperlukan agar kami bisa menemui Paman Haris di ruang tahanan khusus. Perjalanan menuju penjara terasa jauh lebih lama dari biasanya. Di sepanjang jalan, pikiranku terus berputar pada kalimat ancaman terakhir itu: "Penebusnya bukanlah hati kalian. Melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kasih sayang." Apa yang lebih berharga daripada kasih sayang? Nyawa? Kebebasan? Atau... masa depan yang sedang kami bangun dengan susah payah?
Sesampainya di ruang pertemuan yang dingin dan pengap, kami menunggu di balik sekat kaca tebal yang memisahkan pengunjung dan tahanan. Tak lama kemudian, Paman Haris berjalan masuk. Penampilannya tampak berantakan, rambutnya kusam dan wajahnya pucat, namun matanya yang tajam masih memancarkan sorot kebencian dan kesombongan yang tak kunjung pudar. Saat melihat kami, bibirnya melengkung membentuk senyum miring yang mengerikan. Dia duduk perlahan di hadapan kami, lalu menatapku lekat-lekat seolah ingin menembus ke dalam jiwaku.
"Kalian akhirnya datang juga," suaranya terdengar berat dan pelan namun cukup terdengar melalui lubang suara di kaca. "Kalian pasti sedang bertanya-tanya... bagaimana aku bisa mengirimkan pesan hingga ke tempat yang dijaga ketat itu, bukan?" Dia tertawa pelan, suaranya terdengar parau namun penuh kemenangan. "Kalian berpikir dengan mengurung tubuhku maka segalanya akan berakhir? Kalian terlalu naif. Tubuhku memang terkurung, namun ikatan yang sudah terjalin selama puluhan tahun tidak bisa diputus begitu saja oleh jeruji besi atau hukum manusia."
"Siapa yang kau kirimi pesan itu?" tanya Erlan langsung pada intinya, suaranya terdengar dingin dan penuh ancaman. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Dan apa yang kau maksud dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kasih sayang?"
Paman Haris menatap Erlan sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali kepadaku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku meremang. "Kau pikir kekuatan kuno itu diuji oleh ketulusan hati? Itu hanyalah dongeng yang ditulis agar keturunan kalian terus menjaga benda-benda itu dengan baik tanpa curiga sesungguhnya apa yang dituntut. Keseimbangan itu tidak peduli pada cinta atau pengorbanan yang tulus. Ia hanya menuntut apa yang menjadi haknya—sesuatu yang sejak awal memang miliknya dan hanya dipinjamkan sementara kepada keturunan kalian."
Dia mendekatkan wajahnya ke kaca, menatapku tajam seolah ingin menyampaikan pesan yang paling mengerikan: "Nyawa bukanlah penebusannya. Harta pun bukan. Yang diminta adalah... masa depan yang telah kalian ubah dengan kembali ke masa lalu. Setiap kejadian yang kalian ubah, setiap nyawa yang kalian selamatkan, setiap kebahagiaan yang kalian renggut dari takdir yang seharusnya terjadi... semuanya harus dikembalikan. Dan penebusnya adalah keberadaan kalian berdua di dunia ini—keberadaan yang seharusnya tidak pernah ada jika kalian tidak melawan arus waktu."
Darah seketika terasa mendidih di pembuluh darahku sekaligus membeku karena ketakutan. Jadi bukan salah satu dari kami yang harus dikorbankan... melainkan seluruh kehidupan yang kami jalani sejak kembali ke masa lalu ini? Semua kebahagiaan, semua pertemuan, semua perubahan yang kami lakukan... semuanya akan dihapus sepenuhnya? Seolah-olah kami tidak pernah kembali, seolah-olah kami tidak pernah bertemu, seolah-olah kisah kami tidak pernah ada sama sekali?
"Itu tidak masuk akal!" seru Erlan berusaha menahan amarah dan kepanikannya. "Jika kami dikembalikan atau dihapus dari keberadaan, maka semua orang yang kami selamatkan akan kembali terancam bahaya. Kejahatan Paman Dika dan kelompokmu akan kembali terjadi. Dunia akan kembali ke jalur yang seharusnya penuh kehancuran."
"Memang begitu adanya," jawab Paman Haris tenang seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini. "Takdir tidak boleh diubah sesuka hati. Kalian mencampuri urusan yang bukan ranah kalian. Dan tiga hari lagi... tepat saat matahari terbenam di puncak bukit tempat kalian menyatukan benda itu... gerbang penebusan akan terbuka. Dan pilihan akan diserahkan kepada kalian: biarkan dunia kembali ke jalurnya semula dengan menghapus keberadaan kalian berdua, atau biarkan dunia ini hancur perlahan karena ketidakseimbangan yang terus memburuk."
Kami keluar dari ruang pertemuan itu dengan perasaan hancur berkeping-keping. Selama ini kami berpikir bahwa perjuangan kami adalah untuk mempertahankan hidup kami bersama. Namun ternyata pilihan yang sesungguhnya jauh lebih kejam: membiarkan diri kami lenyap demi menyelamatkan orang-orang yang kami cintai, atau tetap hidup namun menyaksikan dunia perlahan runtuh karena ketidakseimbangan yang kami ciptakan sendiri.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada yang berani bersuara, seolah kata-kata apa pun yang terucap hanya akan menambah beban yang tak tertahankan di pundak masing-masing. Sesampainya di rumah, Erlan langsung memerintahkan agar seluruh keluarga besar—orang tuaku, kerabat dekat, dan semua orang yang kami sayangi—dipindahkan ke tempat aman yang dijaga ketat, jauh dari jangkauan siapa pun maupun dampak apa pun yang mungkin terjadi tiga hari lagi.
Saat malam tiba dan seluruh rumah perlahan menjadi sunyi, aku duduk sendirian di tepi balkon memandang langit yang bertabur bintang. Tiga hari lagi... waktu yang begitu singkat untuk memutuskan hal yang begitu besar. Aku merasakan tangan hangat Erlan melingkar di bahuku dari belakang, menarikku perlahan hingga bersandar pada dadanya yang kokoh. Dia tidak berkata apa-apa pada awalnya, hanya membiarkan kehangatan itu menyusup ke dalam hatiku yang sedang kedinginan karena ketakutan.
"Kita tidak akan menghapus keberadaan kita," ucapnya pelan namun tegas, seolah membaca isi hatiku. "Dan kita juga tidak akan membiarkan dunia ini hancur. Selama ini kita selalu diberi pilihan yang menyakitkan, seolah-olah tidak ada jalan lain. Tapi bukankah kita sudah membuktikan bahwa ada jalan yang tidak tertulis di mana pun? Jalan yang dibangun oleh ketulusan dan kebersamaan kita?"
Aku berbalik menatapnya, mataku berkaca-kaca. "Tapi Paman Haris berkata bahwa ketulusan hanyalah dongeng. Bahwa takdir tidak peduli pada cinta kita."
Erlan mengangkat tangannya perlahan, menyentuh wajahku dengan penuh kasih sayang yang tak terlukiskan. "Maka kita buktikan bahwa dia salah. Kita buktikan bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukanlah kekuatan yang dimiliki batu atau logam kuno, melainkan kekuatan hati yang mampu menahan segala cobaan sekalipun dari takdir itu sendiri. Tiga hari lagi kita akan kembali ke bukit itu. Kita akan menghadapi apa pun yang datang. Dan kali ini... kita tidak akan memilih untuk berkorban sendirian. Kita akan memilih untuk tetap berdiri berdampingan, apa pun yang terjadi."
Malam itu, di bawah cahaya remang bulan, kami berjanji satu sama lain. Jika harus lenyap, maka kami akan lenyap bersama. Jika harus menderita, maka kami akan menderita bersama. Tidak ada lagi pengorbanan diam-diam, tidak ada lagi pilihan yang disembunyikan. Karena kami menyadari satu hal yang paling berharga: kebersamaan kami adalah hal yang paling tidak boleh dikorbankan, bahkan demi dunia sekalipun.
Namun jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebuah pertanyaan masih terus menghantui: Apakah keteguhan hati kami benar-benar mampu menandingi hukum alam yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu? Atau janji tulus kami itu hanyalah secercah harapan terakhir yang akan hancur berkeping-keping saat matahari terbenam di puncak bukit itu nanti? Dan apa sebenarnya yang akan menanti kami di sana... saat gerbang waktu terbuka lebar dan menuntut penebusan yang tak terelakkan?